SINAR DALAM AKHIR LUKA
Mungkin kini adalah waktu yang tepat untuk mengakhiri cerita
luka ini. Mengakhiri segala kisah tentang Bony. Saatnya aku mengakhiri semua khayalanku
dan harapan-harapanku yang telah membawaku terbang jauh dalam bahagia semu yang
penuh luka. Aku harus membuka mata lebar-lebar melihat realita yang ada,
keadaan yang senyatanya jika Bony memang tak lagi membutuhkanku. Terlalu sakit
untuk kembali membuka lembaran kisah tentang Bony dalam arsip memori. Aku harus
mulai bangun dari mimpi buruk ini, aku harus mulai bangkit dalam keterpurukan ini,
karena aku sadar dunia ku terlalu indah jika hanya untuk menikmati luka yang
ditabur Bony, perjalanan ku terlalu sia-sia jika hanya untuk memikirkan orang
yang telah melupakanku. Aku tak ingin diam dalam perangkap luka yang menjebakku
menjadi seorang yang rapuh akan terpaan. Aku ingin menjadi wanita yang kuat,
wanita yang mampu berdiri sendiri meskipun tidak berada disamping Bony. Namun
betapa bodohnya aku, masih saja mengharapkan Bony kembali. Hadir untuk mewarnai
hidupku. Mungkin luka yang berkali-kali Bony goreskan adalah warna hitam yang
turut mewarnai dalam coretan lembar perjalanan asmaraku. Aku memang bukan
wanita yang pandai dalam hal asmara, aku memang bukan orang yang kuat dalam
menghadapi badai dalam hal bercinta. Dalam senyum yang kuhadirkan setiap hari
ada kerapuhan hati. Ada satu titik dimana aku benar-benar lemah tak berdaya,
menyerah pada keadaan dan perasaan. Berkali-kali mengingat kenangan bersama
Bony, berkali-kali pula hati ini
menjerit kesakitan. Air mata tak mampu terbendung lagi, mengalir deras seakan
menjadi bukti betapa besar sakit yang Bony goreskan pada hati ini. Mungkin kini
Bony telah merasa bahagia bersama Vani, bersama kekasihnya dan bersama semangat
barunya. Semakin sakit ketika aku mendapati kata-kata Vani dalam sosial
medianya yang dengan jelas memberikan suntikan semangat untuk Bony dan terlihat
jelas pula Bony meresponnya dengan baik.
Seketika aku meyakinkan hati ini bahwa Bony telah bahagia
bersama Vani. Bony menemukan kenyamanannya pada diri Vani, bukan pada diri
seorang Luluk yang hanya bisa terus menggantungkan harapan agar Bony bisa
kembali. Berulang kali aku meyakinkan diri ini bahwa aku bukanlah yang terbaik
untuk Bony. “Hey Luluk, sadar diri kamu itu jelek, bego, lemah, rapuh, dan
banyak kekuranganmu. Mana mungkin Bony akan lebih memilihmu dibanding Vani.
Hallo Luluk, kamu harus tahu diri, kamu itu siapa, kamu tak lebih dari seorang
wanita yang tak pantas disayangi, wanita yang tak layak mendapatkan kasih
sayang dari seorang Bony. Bony terlalu sempurna hanya untuk seorang Luluk
sepertiku yang banyak kekurangan. So move on Luk, Move on”. Kataku dalam hati
ini. Namun hati kecilku ini selalu berkata “Luluk, Allah akan memberikan
keputusan yang memang terbaik pada waktu yang tepat bagi hamba-NYA, dan itu
termasuk kamu Luluk, bersabarlah semua masih menunggu waktu itu tiba”. Jika
Bony memang tertakdirkan untukku pasti Allah akan mempertemukan, tapi jika Bony
bukan untukku, InsyaAllah akan ada orang lain yang Allah kirimkan untukku.
Keyakinan hati ini untuk Move on sangatlah kuat. Ingin
beranjak dari segala keterpurukan hati. Bangkit dari luka lama yang terlalu
perih untukku rasakan dalam hati ini. Melepas bayang-bayang sosok Bony yang tak
henti menghantui perjalanan kisah asmaraku. Melepas semua harapan semu yang
hanya akan membawaku terbang dalam bias kebahagiaan maya. Aku ingin pergi dari
jejak-jejak luka yang hanya mengingatkan betapa perih luka yang digoreskan
Bony. Mungkin kini Bony merasa menjadi lebih baik jika bersama Vani, bukan
bersama Luluk sepertiku. Aku ikut berbahagia jika memang begitu adanya. Bony
dan Vani bersatu karena hati yang menautkan mereka. Jarak yang mendekatkan
mereka. Dan segala kelebihan-kelebihan mereka yang menjadi ornamen dalam
bingkai hubungan mereka. Bukan bersamaku bersama Luluk yang penuh akan
kekurangan, bukan bersama Luluk yang dipisahkan akan jarak, dan bukan bersamaku
yang jelas hati kita tak mungkin menyatu, mungkin bisa dikatakan bertepuk
sebelah tangan. Memang menyedihkan jika terus mengingat betapa besar harapanku
terhadap Bony, namun realita berbicara mengungkap semua bahwa Bony memang tak
mungkin kembali kepadaku.
Maka Move on adalah kata yang tepat untuk menjadi langkahku
yang selanjutnya. Mulai merangkai serpihan hati untuk menjadi semangat baruku
menyusuri perjalanan asmaraku. Aku ingin memulai perjalanan asmaraku dengan
langkah penuh dengan senyum, penuh dengan semangat baru, dengan hati yang
memang belum sepenuhnya kembali utuh. Tetapi yakin semua akan kembali baik-baik
saja. Mulai melangkah dengan segala harapan pasti, harapan dengan kebahagiaan
nyata. Aku ingin memulai merangkai kata untuk kujadikan sebuah cerita cintaku.
Cerita baru dengan tokoh-tokoh yang protagonis, yang mampu menghadirkan suasana
menjadi lebih indah. Cerita baru dengan alur cerita yang penuh intrik, intrik
yang tentu bahagia yang akan mewarnai dalam ceritaku. Alur cerita yang
meminimalisir peran antagonis yang hanya akan melukis luka. Cerita yang baru
dengan setting yang berbeda yang selalu memberikan nuansa yang indah penuh
dengan tawa bahagia tidak lagi pilu yang menyakitkan. Aku ingin menulis cerita
baru itu dalam lembaran kertas baru. Lembaran kertas putih yang lebih bersih,
belum ada coretan hitam dalam lembar baruku. Aku ingin menulis ceritaku dengan
penuh warna-warni yang bersinergi menjadi kombinasi yang indah. Aku ingin
ceritaku tak hanya kulukis dengan tinta hitam yang kelam, menginginkan cerita
yang penuh warna indah, dan semoga warna itu akan indah pada waktunya, mungkin
setelah adanya hujan layaknya pelangi.
***
Seiring berjalannya waktu aku mulai menata serpihan hatiku
sendiri. Aku melewati hari-hariku dengan senyum yang lebih lebar, dengan tawa
yang lebih terbahak dibanding sebelumnya. Perlahan serpihan-serpihan hati ini mulai
kurapikan kembali, aku ingin merajut mimpi indah bersama kenangan luka yang
kujadikan pengalaman agar tak terulang kembali. Aku ingin melangkahkan kaki
menuju gerbang bahagia. Aku ingin membuka hati untuk menerima orang lain sekedar
sebagai pelipur lara mungkin akan ada seseorang yang mampu menata kembali serpihan
luka yang telah hancur berkeping. Aku ingin membuka kembali hati ini untuk
lelaki lain yang mungkin akan lebih baik dari Bony. Aku mengharapkan akan hadir
sosok yang mampu membantuku menata kembali serpihan hati yang sempat hancur.
Aku menjalani hidupku dengan menatap kedepan, hanya sesekali
menengok kebelakang. Aku memiliki tujuan yang lebih baik untuk kedepan. Aku ingin
menjadi Luluk yang selalu penuh senyum penuh semangat dalam menjalani hari-hari.
Aku tak ingin menjadi Luluk yang mudah rapuh dalam menghadapi masalah, Luluk yang
mudah tumbang dalam menahan luka.
Dan entah apakah ini sebuah kebetulan ataukah memang sudah
rencana Tuhan. Kini hadir sosok teman baik yang selalu memberikanku masukan
untuk kujadikan lem perekat hatiku hingga tak mudah untuk dihancurkan hanya
dengan bualan semu lelaki. Dia adalah Sinar, nama yang unik seunik tingkahnya
yang sering membuatku geli dan tertawa sendiri melihat kekonyolan tingkahnya.
Namun terlepas dari kekonyolan tingkahnya, Sinar adalah sosok lelaki yang baik,
yang mampu menghadirkan tawa bahagia padaku. Seperti namanya, Sinar hadir
bagaikan setitik cahaya yang datang menyinari gelapnya hati ini pasca terluka
karena Bony. Sinar datang menjadi cahaya penerang yang mampu memberi sedikit
warna dalam awal ceritaku. Sinar seolah menjadi lelaki yang mampu memberiku
sugesti untuk bangkit dari keterpurukan tentang Bony.
Sinar mampu memberikanku warna baru dalam awal kisah
ceritaku, Sinar mampu membangunkanku dari lubang kesakitan dengan uluran
tangannya. Sinar memberikanku obat penawar hati ini, sehingga luka yang teramat
perih mampu tersamar dengan hadirnya Sinar. Dan semoga hadirnya Sinar mampu member
cahaya yang akan mengindahkan hariku.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar