Jumat, 10 Januari 2014

SINAR DALAM AKHIR LUKA #4

SINAR DALAM AKHIR LUKA

Mungkin kini adalah waktu yang tepat untuk mengakhiri cerita luka ini. Mengakhiri segala kisah tentang Bony. Saatnya aku mengakhiri semua khayalanku dan harapan-harapanku yang telah membawaku terbang jauh dalam bahagia semu yang penuh luka. Aku harus membuka mata lebar-lebar melihat realita yang ada, keadaan yang senyatanya jika Bony memang tak lagi membutuhkanku. Terlalu sakit untuk kembali membuka lembaran kisah tentang Bony dalam arsip memori. Aku harus mulai bangun dari mimpi buruk ini, aku harus mulai bangkit dalam keterpurukan ini, karena aku sadar dunia ku terlalu indah jika hanya untuk menikmati luka yang ditabur Bony, perjalanan ku terlalu sia-sia jika hanya untuk memikirkan orang yang telah melupakanku. Aku tak ingin diam dalam perangkap luka yang menjebakku menjadi seorang yang rapuh akan terpaan. Aku ingin menjadi wanita yang kuat, wanita yang mampu berdiri sendiri meskipun tidak berada disamping Bony. Namun betapa bodohnya aku, masih saja mengharapkan Bony kembali. Hadir untuk mewarnai hidupku. Mungkin luka yang berkali-kali Bony goreskan adalah warna hitam yang turut mewarnai dalam coretan lembar perjalanan asmaraku. Aku memang bukan wanita yang pandai dalam hal asmara, aku memang bukan orang yang kuat dalam menghadapi badai dalam hal bercinta. Dalam senyum yang kuhadirkan setiap hari ada kerapuhan hati. Ada satu titik dimana aku benar-benar lemah tak berdaya, menyerah pada keadaan dan perasaan. Berkali-kali mengingat kenangan bersama Bony,  berkali-kali pula hati ini menjerit kesakitan. Air mata tak mampu terbendung lagi, mengalir deras seakan menjadi bukti betapa besar sakit yang Bony goreskan pada hati ini. Mungkin kini Bony telah merasa bahagia bersama Vani, bersama kekasihnya dan bersama semangat barunya. Semakin sakit ketika aku mendapati kata-kata Vani dalam sosial medianya yang dengan jelas memberikan suntikan semangat untuk Bony dan terlihat jelas pula Bony meresponnya dengan baik.
Seketika aku meyakinkan hati ini bahwa Bony telah bahagia bersama Vani. Bony menemukan kenyamanannya pada diri Vani, bukan pada diri seorang Luluk yang hanya bisa terus menggantungkan harapan agar Bony bisa kembali. Berulang kali aku meyakinkan diri ini bahwa aku bukanlah yang terbaik untuk Bony. “Hey Luluk, sadar diri kamu itu jelek, bego, lemah, rapuh, dan banyak kekuranganmu. Mana mungkin Bony akan lebih memilihmu dibanding Vani. Hallo Luluk, kamu harus tahu diri, kamu itu siapa, kamu tak lebih dari seorang wanita yang tak pantas disayangi, wanita yang tak layak mendapatkan kasih sayang dari seorang Bony. Bony terlalu sempurna hanya untuk seorang Luluk sepertiku yang banyak kekurangan. So move on Luk, Move on”. Kataku dalam hati ini. Namun hati kecilku ini selalu berkata “Luluk, Allah akan memberikan keputusan yang memang terbaik pada waktu yang tepat bagi hamba-NYA, dan itu termasuk kamu Luluk, bersabarlah semua masih menunggu waktu itu tiba”. Jika Bony memang tertakdirkan untukku pasti Allah akan mempertemukan, tapi jika Bony bukan untukku, InsyaAllah akan ada orang lain yang Allah kirimkan untukku.
Keyakinan hati ini untuk Move on sangatlah kuat. Ingin beranjak dari segala keterpurukan hati. Bangkit dari luka lama yang terlalu perih untukku rasakan dalam hati ini. Melepas bayang-bayang sosok Bony yang tak henti menghantui perjalanan kisah asmaraku. Melepas semua harapan semu yang hanya akan membawaku terbang dalam bias kebahagiaan maya. Aku ingin pergi dari jejak-jejak luka yang hanya mengingatkan betapa perih luka yang digoreskan Bony. Mungkin kini Bony merasa menjadi lebih baik jika bersama Vani, bukan bersama Luluk sepertiku. Aku ikut berbahagia jika memang begitu adanya. Bony dan Vani bersatu karena hati yang menautkan mereka. Jarak yang mendekatkan mereka. Dan segala kelebihan-kelebihan mereka yang menjadi ornamen dalam bingkai hubungan mereka. Bukan bersamaku bersama Luluk yang penuh akan kekurangan, bukan bersama Luluk yang dipisahkan akan jarak, dan bukan bersamaku yang jelas hati kita tak mungkin menyatu, mungkin bisa dikatakan bertepuk sebelah tangan. Memang menyedihkan jika terus mengingat betapa besar harapanku terhadap Bony, namun realita berbicara mengungkap semua bahwa Bony memang tak mungkin kembali kepadaku.
Maka Move on adalah kata yang tepat untuk menjadi langkahku yang selanjutnya. Mulai merangkai serpihan hati untuk menjadi semangat baruku menyusuri perjalanan asmaraku. Aku ingin memulai perjalanan asmaraku dengan langkah penuh dengan senyum, penuh dengan semangat baru, dengan hati yang memang belum sepenuhnya kembali utuh. Tetapi yakin semua akan kembali baik-baik saja. Mulai melangkah dengan segala harapan pasti, harapan dengan kebahagiaan nyata. Aku ingin memulai merangkai kata untuk kujadikan sebuah cerita cintaku. Cerita baru dengan tokoh-tokoh yang protagonis, yang mampu menghadirkan suasana menjadi lebih indah. Cerita baru dengan alur cerita yang penuh intrik, intrik yang tentu bahagia yang akan mewarnai dalam ceritaku. Alur cerita yang meminimalisir peran antagonis yang hanya akan melukis luka. Cerita yang baru dengan setting yang berbeda yang selalu memberikan nuansa yang indah penuh dengan tawa bahagia tidak lagi pilu yang menyakitkan. Aku ingin menulis cerita baru itu dalam lembaran kertas baru. Lembaran kertas putih yang lebih bersih, belum ada coretan hitam dalam lembar baruku. Aku ingin menulis ceritaku dengan penuh warna-warni yang bersinergi menjadi kombinasi yang indah. Aku ingin ceritaku tak hanya kulukis dengan tinta hitam yang kelam, menginginkan cerita yang penuh warna indah, dan semoga warna itu akan indah pada waktunya, mungkin setelah adanya hujan layaknya pelangi.
***
Seiring berjalannya waktu aku mulai menata serpihan hatiku sendiri. Aku melewati hari-hariku dengan senyum yang lebih lebar, dengan tawa yang lebih terbahak dibanding sebelumnya. Perlahan serpihan-serpihan hati ini mulai kurapikan kembali, aku ingin merajut mimpi indah bersama kenangan luka yang kujadikan pengalaman agar tak terulang kembali. Aku ingin melangkahkan kaki menuju gerbang bahagia. Aku ingin membuka hati untuk menerima orang lain sekedar sebagai pelipur lara mungkin akan ada seseorang yang mampu menata kembali serpihan luka yang telah hancur berkeping. Aku ingin membuka kembali hati ini untuk lelaki lain yang mungkin akan lebih baik dari Bony. Aku mengharapkan akan hadir sosok yang mampu membantuku menata kembali serpihan hati yang sempat hancur.
Aku menjalani hidupku dengan menatap kedepan, hanya sesekali menengok kebelakang. Aku memiliki tujuan yang lebih baik untuk kedepan. Aku ingin menjadi Luluk yang selalu penuh senyum penuh semangat dalam menjalani hari-hari. Aku tak ingin menjadi Luluk yang mudah rapuh dalam menghadapi masalah, Luluk yang mudah tumbang dalam menahan luka.
Dan entah apakah ini sebuah kebetulan ataukah memang sudah rencana Tuhan. Kini hadir sosok teman baik yang selalu memberikanku masukan untuk kujadikan lem perekat hatiku hingga tak mudah untuk dihancurkan hanya dengan bualan semu lelaki. Dia adalah Sinar, nama yang unik seunik tingkahnya yang sering membuatku geli dan tertawa sendiri melihat kekonyolan tingkahnya. Namun terlepas dari kekonyolan tingkahnya, Sinar adalah sosok lelaki yang baik, yang mampu menghadirkan tawa bahagia padaku. Seperti namanya, Sinar hadir bagaikan setitik cahaya yang datang menyinari gelapnya hati ini pasca terluka karena Bony. Sinar datang menjadi cahaya penerang yang mampu memberi sedikit warna dalam awal ceritaku. Sinar seolah menjadi lelaki yang mampu memberiku sugesti untuk bangkit dari keterpurukan tentang Bony.
Sinar mampu memberikanku warna baru dalam awal kisah ceritaku, Sinar mampu membangunkanku dari lubang kesakitan dengan uluran tangannya. Sinar memberikanku obat penawar hati ini, sehingga luka yang teramat perih mampu tersamar dengan hadirnya Sinar. Dan semoga hadirnya Sinar mampu member cahaya yang akan mengindahkan hariku.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar