Rabu, 20 Januari 2016

Adalah...

Adalah... 

Adalah hal yang aku benci, ketika sudah berusaha sekuat hati melupa, begitu saja sirna dengan sapaan sederhana. 
Tidak semudah itu juga hatiku berbalik rasa, kembali seperti semula.
Namun tak perlu mengelak bahwa semua secara seketika menjadi berbeda.
Bukan bermaksud memiliki keinginan untuk mengulang hal yang sama.
Aku hanya merasa bahwa mau tidak mau hal ini harus terjadi. Membiasakan diri untuk kembali bersilaturahmi tanpa mempermasalahkan hati.

Bukankah indah persahabatan tanpa saling merugikan apapun. Sekalipun berkonflik sahabat sejati akan kembali seperti sedia kala.

Andai pilihan itu datang sebelum adanya kejadian. Akupun akan tetap memilih cerita ini untuk kujalani. Meskipun semua di luar ekspektasi, namun ada pengalaman yang membelajarkan. Bahwa untuk bahagia tidak perlu merebut kebahagiaan orang lain. Ada banyak cara untuk menjadi bahagia tanpa ada orang lain yang tersakiti.

Dengan kisah itu, aku menjadi mengerti apa arti nasehat dari seorang sahabat.
Arti komunikasi dengan orang tua tentang masalah hati.
Mengerti bahwa hati tak selamanya harus dituruti.
Karena apa yang dirasakan hati justru terkadang menyakiti.

Bukan hal yang disengaja memang, tapi begitulah cara Tuhan mengingatkan, bahwa ada hal lain yang harus diprioritaskan. Ada tanggung jawab yang mesti dikerjakan.

Aku bersyukur dengan kisah selama ini. Terus berdiam diri menyibukkan diri, berkreasi sesuka hati, menyelesaikan apa yang harus segera dituntaskan. Memainkan skala prioritas untuk mendesain langkah kedepan. Meskipun kesibukan diri yang kulakukan adalah dalam rangka melupakan suatu hal. 

Aku merasa keadaan seperti ini adalah keadaan yang membahagiakan tanoa suatu hal permasalahan.
Ketika kawan sejawat galau masalah percintaan aku justru tak pernah merasakan hal demikian.

Permasalahan terbesarku di waktu kecil adalah PR yang tak terselesaikan. Begitu juga dengan masa sekarang, permasalahan terbesarku adalah revisi yang tak kunjung usai.

Aku merasa bahagia dengan apa yang kualami saat ini, karena dengan ini aku merasa bahwa otak dan hatiku tidak tersita oleh masalah-masalah yang tak menjadi prioritas hidupku.

Bukankah membahagiakan ketika aku berhasil membuat bahagiaku dengan cara bahagiaku sendiri???