Selasa, 25 Februari 2014

PERASAAN YANG SALAH #10



PERASAAN YANG SALAH
Valentine telah berlalu dengan setitik sinyal pilihan yang memberiku cahaya penerang dalam menentukan langkah, aku sempat merasa bahwa sinyal ini benar-benar sinyal yang kuat, sinyal yang mampu membawa hatiku menuju perasaan yang sebenarnya, perasaan tulus yang selama ini aku jaga. Kebulatan keputusan telah aku pertimbangkan dengan matang sebelum aku mengutarakan baik kepada Bony maupun kepada Sinar.
Awalnya hatiku tetap bersikukuh dengan pendirianku, aku ingin bertahan untuk Bony, namun banyak hal yang perlu aku pikirkan untuk berani memutuskan itu. Banyak pertimbangan yang membuat keputusanku menjadi goyah. Bukan berarti hatiku menjadi tidak stabil atau plin-plan, namun realita bahwa berharap kepada Bony untuk kesekian kalinya adalah sebuah kesalahan besar. Benar, kesalahan yang teramat besar, akan ada banyak hati yang terluka ketika aku mempertahankan egoku untuk tetap menyayangi Bony.  Aku tidak bisa menjadi orang yang munafik yang tidak mau mengakui betapa tulusnya sayangku kepada Bony, aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri dengan apa yang hatiku ini rasakan kepada Bony, tetapi kembali lagi aku juga tidak boleh egois dengan keputusanku yang mungkin akan terlihat baik untukku, tapi tidak untuk orang lain. Akan menjadi indah dirasakan oleh hati ini tetapi tidak dengan hati yang lain. Ingin rasanya memberikan penjelasan apa yang aku rasakan ini kepada Bony secara langsung, tapi apa daya jarak yang memisahkan kita menjadi sebuah penghalang tersendiri bagiku untuk bisa menjelaskan apa yang kurasakan. Sempat aku mencoba menjelaskan hal ini lewat pesan singkat, namun ternyata justru aku yang merasa bersalah, aku menjadi tersudut dengan kata-kataku sendiri, seolah aku berada dalam posisiku yang selalu menjadi salah dimanapun itu.
Sebenarnya aku tidak ingin berada di posisi yang seperti ini, tidak ingin memberikan luka pada hati yang lain, tetapi ketika aku menjaga hati orang lain, terlintas pertanyaan; Apa kabar dengan hatiku sendiri? Akankah aku menjaga hati orang lain dengan mengorbankan hatiku sendiri? Mungkin memang seperti itu yang terbaik, untuk menjadi orang yang berada di posisi yang tidak salah memang tidak mudah, mungkin dengan mengorbankan hati dan perasaan diriku sendiri akan menggeser posisiku berada di posisi yang tidak salah lagi. Mungkin ini yang terbaik untuk keberlangsungan silaturahmi antara aku, Bony dan juga Sinar.
***
Sosok Vani yang menjadi seseorang special yang tak pernah hilang dari bayang Bony lah yang menjadi salah satu faktor goyahnya pendirianku. Tak habis pikir dengan sikap Bony yang super manis dihadapanku ternyata kembali menabur luka dihatiku. Memang aku akui aku telah mewaspadai dengan semua perhatian Bony kepadaku akhir-akhir ini, aku tidak mau menaruh harap terlalu tinggi seperti waktu dulu, karena aku takut jika hanya luka yang akan Bony tabur. Dan ternyata benar, tidak berselang lama dengan moment pengiriman coklat waktu itu, Bony mengindikasikan menjalin hubungan kembali dengan Vani, mantan pacarnya beberapa waktu lalu. Ketika mengetahui itu semua sakit memang, tetapi sakitnya tidak separah waktu dulu, karena aku tidak berharap terlalu tinggi. Aku masih selalu memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan Bony perlakukan untukku. Bukan bermaksud aku menge-cap Bony adalah seorang lelaki yang jahat yang selalu menyakiti, sama sekali tidak. Justru aku selalu berpikiran bahwa Bony melakukan ini semua pasti ada alasan yang kuat, sebagai pembenar perlakuannya. Aku selalu berpikiran bahwa Bony tidak pernah salah, hanya saja kesalahan ada padaku, karena aku yang terlalu menaruh harapan yang tinggi. Mungkin itu adalah sebuah kesalahan besar yang menjadikan Bony terkesan jahat dimata orang yang tau akan kisahku ini.
Mungkin ada orang lain kecuali aku, Bony dan Sinar yang mengetahui kisahku ini, hingga menilai bahwa Bony adalah lelaki yang tak pantas untuk aku pertahankan. Namun entah kenapa penilaian itu tidak berlaku bagiku, tidak berlaku bagi pandanganku terhadap Bony, dan sangat tidak benar menurut hatiku. Entah apakah ini karena pengaruh rasa sayangku terhadap Bony yang memang sudah terlanjur sayang dan tulus, atau karena aku tidak tega terhadap Bony yang telah memberikanku semangat kebaikan ataukah karena alasan lain, aku juga tidak menyadarinya. Yang jelas tidak ada sedikitpun pikiran bahwa Bony adalah orang yang jahat kepadaku, meskipun secara factual telah beberapa kali hati ini menjadi perih dengan semua perlakuan Bony. Bony tetap saja menjadi sosok yang special dihatiku, dengan semua yang telah dilakukan Bony kepadaku aku masih ragu untuk mengatakan bahwa aku tidak sayang lagi kepada Bony. Tidak semudah itu melupakan Bony dengan semua kenangan yang telah kita jalin, tidak mudah untuk memposisikan hatiku menjadi kembali ke posisi awal ketika belum mengenal sosok Bony. Dan itu tidak mungkin bisa, apapun usahaku yang harus aku lakukan adalah bagaimana caranya aku memperbaiki kondisi hatiku ini menjadi lebih baik, dengan perlahan mundur teratur menjauh dari sosok Bony. Karena aku berpikir bahwa kedekatanku dengan Bony justru akan menimbulkan beberapa masalah yang sangat tidak diharapkan, bukan lagi sebuah kebermanfaatan.
***
Semakin aku tau hubungan Bony dan Vani yang kembali membaik, semakin membuka mata untuk menatap realita, bahwa apapun yang terjadi Bony belum bisa melupakan Vani. Bony masih saja menjalin komunikasi yang baik dengan Vani, bertolak belakang dengan apa yang dikatakan Bony terhadapku. Bony mengaku telah jaga jarak dengan Vani, hubungan mereka tidak seharmonis kemarin-kemarin, tapi semua itu terbantahkan dengan kenyataan yang terpampang nyata melalui pernyataan Bony dan pernyataan Vani dalam sebuah sosmednya. Perih memang menghadapi kenyataan ini, tapi sungguh bersalahnya diriku ketika aku mempertahankan egoku untuk menuruti kemauan hati, tanpa memikirkan bagaimana perasaan Vani maupun perasaan Bony. Aku tahu bahwa Bony tidak sanggup untuk melepaskan Vani begitu saja, mengingat telah banyak kenangan yang Bony rajut bersama Vani. Aku juga mengerti bagaimana posisi Vani, bagaimana perasaan Vani ketika dia tahu ada aku diantara hubungannya bersama Bony. Aku dan Vani adalah sama-sama seorang wanita, memiliki perasaan yang lebih sensitive, menghadapi segala sesuatu dengan perasaan dengan mengesampingkan logika, jika dia tahu ada aku ditengah hubungannya bagaimana perasaan Vani, pasti sakit yang tak terkira. Aku tidak tega ketika Vani merasakan sakit seperti apa yang aku rasakan, biarkan hanya aku yang merasakan sakit ini jangan Vani, dan membiarkan Bony menaruh bahagia pada hati Vani tanpa ada aku sebagai penghalang dalam hubungan mereka.
“Bony aku mohon maaf, mungkin lebih baik kamu meninggalkanku, kembalilah bersama Vani yang bisa memberimu bahagia setiap saat, bukan bersamaku yang terpisahkan jarak, seperti ini. Aku sadar diri, aku bukan siapa-siapa bagi kamu, mungkin posisiku tidak berarti dalam hidupmu, aku tidak berarti dalam kehidupanmu, posisiku saat ini berada pada titik kesalahan, aku berada diantara hubunganmu bersama Vani, dan alangkah baiknya ketika aku mundur teratur, dan menyarankanmu kembali pada Vani, perbaikilah hubunganmu bersama Vani, aku turut berdoa semoga kamu dan Vani diberikan jalan untuk tetap meraih bahagia bersamamu.”
Mungkin kata-kata itu yang mampu terucap dalam percakapan singkat melalui telepon malam ini, mungkin sebuah pukulan berat bagi Bony namun semua itu aku lakukan demi kebaikan bersama, bukan hanya untukku tetapi untuk Bony dan Vani juga. Sesungguhnya akupun merasa tidak siap untuk mengatakan dan mejalani hal itu, karena aku tidak bisa membohongi perasaanku. Tetapi aku ingat, bahwa posisiku kali ini tidak tepat, ada sebuah perasaan yang salah dengan keadaan seperti ini. Betapa jahatnya ketika aku membiarkan perasaan Vani tercabik-cabik dengan keegoisanku. Dan betapa merasa bersalahnya aku ketika aku tahu rasa sakit yang Vani rasakan, tetapi justru aku yang menyebabkan Vani menjadi sakit hati. Sebuah dilemma tersendiri, apa yang harus aku pertahankan, menjaga hati orang lain dengan mengorbankan hatiku sendiri ataukah bertahan dengan egoku tanpa memikirkan perasaan orang lain. Aku akan terkesan munafik ketika aku harus merelakan Bony kembali dalam pelukan Vani, jika senyatanya aku memang masih menyayangi Bony. Namun apapun itu mungkin dengan mengorbankan perasaanku sendiri adalah keputusan bijak yang menjadi solusinya.
“Luk, jangan pernah memintaku untuk menjauhimu atau bahkan meninggalkanmu, aku tidak bisa meninggalkanmu, itu hal berat bagiku. Kamu memiliki arti tersendiri dalam kehidupanku, kamu memiliki posisi tersendiri di hatiku, jangan pernah kamu memintaku untuk menjauhimu. Aku mengenalmu dalam perjalanan panjang, aku mengenalmu tidak secara kebetulan, karena aku yakin kita dipertemukan karena ada sebuah rencana dari Tuhan. Bukan hal yang mudah untuk serta merta menjauhimu atau meninggalkanmu. Aku mengagumimu bukan sekedar sebagai gadis ceria, aku mengagumimu lebih dari sekedar pengagum, entah bagaimana aku harus mendiskripsikan kekagumanku terhadapmu. Terlalu bodoh jika aku harus melakukan hal konyol dengan meninggalkanmu, karena kamu terlalu hebat dimataku.”
Sebuah pernyataan ambigu bagiku. Aku mendengar kata-kata itu terucap dari ujung telepon disana, bukan secara langsung, aku tidak bisa mengartikan apakah kata-kata itu keluar secara tulus ataukah hanya sebuah kata yang menjadi upaya untuk meluluhkan hatiku lagi. Namun kali ini aku merasa bahwa aku harus benar-benar menjauh dari Bony, aku tidak ingin mengusik kehidupan antara Bony dan Vani. Aku ingin memberikan ruang kepada Bony untuk kembali menunjukkan perhatiannya kepada Vani. Mungkin langkah itu yang bisa aku lakukan. Semua harapanku akan sia-sia, sekalipun aku perjuangkan, karena memang keadaan yang memaksaku untuk perlahan menarik diri dari kehidupan sosok Bony. Segala kemungkinan masih bisa terjadi esok hari, mungkin akan lebih buruk atau justru semakin buruk, tidak ada yang tahu. Menjalani kehidupan dengan keputusan yang muncul dari hati mungkin akan lebih baik, meskipun hati terasa perih. Namun setidaknya ada upaya untuk saling menjaga hati orang lain meski terkadang hati sendiri harus rela terkorbankan. Harus menyadari bahwa dalam hati yang terkorbankan ada perasaan yang salah yang singgah.
***