PERASAAN YANG SALAH
Valentine telah berlalu dengan setitik sinyal pilihan yang memberiku
cahaya penerang dalam menentukan langkah, aku sempat merasa bahwa sinyal ini
benar-benar sinyal yang kuat, sinyal yang mampu membawa hatiku menuju perasaan
yang sebenarnya, perasaan tulus yang selama ini aku jaga. Kebulatan keputusan
telah aku pertimbangkan dengan matang sebelum aku mengutarakan baik kepada Bony
maupun kepada Sinar.
Awalnya hatiku tetap bersikukuh dengan pendirianku, aku
ingin bertahan untuk Bony, namun banyak hal yang perlu aku pikirkan untuk
berani memutuskan itu. Banyak pertimbangan yang membuat keputusanku menjadi
goyah. Bukan berarti hatiku menjadi tidak stabil atau plin-plan, namun realita
bahwa berharap kepada Bony untuk kesekian kalinya adalah sebuah kesalahan
besar. Benar, kesalahan yang teramat besar, akan ada banyak hati yang terluka
ketika aku mempertahankan egoku untuk tetap menyayangi Bony. Aku tidak bisa menjadi orang yang munafik
yang tidak mau mengakui betapa tulusnya sayangku kepada Bony, aku juga tidak
bisa membohongi diriku sendiri dengan apa yang hatiku ini rasakan kepada Bony,
tetapi kembali lagi aku juga tidak boleh egois dengan keputusanku yang mungkin
akan terlihat baik untukku, tapi tidak untuk orang lain. Akan menjadi indah
dirasakan oleh hati ini tetapi tidak dengan hati yang lain. Ingin rasanya
memberikan penjelasan apa yang aku rasakan ini kepada Bony secara langsung,
tapi apa daya jarak yang memisahkan kita menjadi sebuah penghalang tersendiri
bagiku untuk bisa menjelaskan apa yang kurasakan. Sempat aku mencoba
menjelaskan hal ini lewat pesan singkat, namun ternyata justru aku yang merasa
bersalah, aku menjadi tersudut dengan kata-kataku sendiri, seolah aku berada
dalam posisiku yang selalu menjadi salah dimanapun itu.
Sebenarnya aku tidak ingin berada di posisi yang seperti
ini, tidak ingin memberikan luka pada hati yang lain, tetapi ketika aku menjaga
hati orang lain, terlintas pertanyaan; Apa kabar dengan hatiku sendiri? Akankah
aku menjaga hati orang lain dengan mengorbankan hatiku sendiri? Mungkin memang
seperti itu yang terbaik, untuk menjadi orang yang berada di posisi yang tidak
salah memang tidak mudah, mungkin dengan mengorbankan hati dan perasaan diriku
sendiri akan menggeser posisiku berada di posisi yang tidak salah lagi. Mungkin
ini yang terbaik untuk keberlangsungan silaturahmi antara aku, Bony dan juga
Sinar.
***
Sosok Vani yang menjadi seseorang special yang tak pernah hilang dari bayang Bony lah yang menjadi
salah satu faktor goyahnya pendirianku. Tak habis pikir dengan sikap Bony yang super manis dihadapanku ternyata kembali
menabur luka dihatiku. Memang aku akui aku telah mewaspadai dengan semua
perhatian Bony kepadaku akhir-akhir ini, aku tidak mau menaruh harap terlalu tinggi
seperti waktu dulu, karena aku takut jika hanya luka yang akan Bony tabur. Dan
ternyata benar, tidak berselang lama dengan moment
pengiriman coklat waktu itu, Bony mengindikasikan menjalin hubungan kembali
dengan Vani, mantan pacarnya beberapa waktu lalu. Ketika mengetahui itu semua
sakit memang, tetapi sakitnya tidak separah waktu dulu, karena aku tidak berharap
terlalu tinggi. Aku masih selalu memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan yang
akan Bony perlakukan untukku. Bukan bermaksud aku menge-cap Bony adalah seorang
lelaki yang jahat yang selalu menyakiti, sama sekali tidak. Justru aku selalu
berpikiran bahwa Bony melakukan ini semua pasti ada alasan yang kuat, sebagai
pembenar perlakuannya. Aku selalu berpikiran bahwa Bony tidak pernah salah,
hanya saja kesalahan ada padaku, karena aku yang terlalu menaruh harapan yang
tinggi. Mungkin itu adalah sebuah kesalahan besar yang menjadikan Bony terkesan
jahat dimata orang yang tau akan kisahku ini.
Mungkin ada orang lain kecuali aku, Bony dan Sinar yang
mengetahui kisahku ini, hingga menilai bahwa Bony adalah lelaki yang tak pantas
untuk aku pertahankan. Namun entah kenapa penilaian itu tidak berlaku bagiku,
tidak berlaku bagi pandanganku terhadap Bony, dan sangat tidak benar menurut
hatiku. Entah apakah ini karena pengaruh rasa sayangku terhadap Bony yang
memang sudah terlanjur sayang dan tulus, atau karena aku tidak tega terhadap
Bony yang telah memberikanku semangat kebaikan ataukah karena alasan lain, aku
juga tidak menyadarinya. Yang jelas tidak ada sedikitpun pikiran bahwa Bony
adalah orang yang jahat kepadaku, meskipun secara factual telah beberapa kali hati ini menjadi perih dengan semua
perlakuan Bony. Bony tetap saja menjadi sosok yang special dihatiku, dengan semua yang telah dilakukan Bony kepadaku
aku masih ragu untuk mengatakan bahwa aku tidak sayang lagi kepada Bony. Tidak
semudah itu melupakan Bony dengan semua kenangan yang telah kita jalin, tidak
mudah untuk memposisikan hatiku menjadi kembali ke posisi awal ketika belum
mengenal sosok Bony. Dan itu tidak mungkin bisa, apapun usahaku yang harus aku
lakukan adalah bagaimana caranya aku memperbaiki kondisi hatiku ini menjadi
lebih baik, dengan perlahan mundur teratur menjauh dari sosok Bony. Karena aku
berpikir bahwa kedekatanku dengan Bony justru akan menimbulkan beberapa masalah
yang sangat tidak diharapkan, bukan lagi sebuah kebermanfaatan.
***
Semakin aku tau hubungan Bony dan Vani yang kembali membaik,
semakin membuka mata untuk menatap realita, bahwa apapun yang terjadi Bony
belum bisa melupakan Vani. Bony masih saja menjalin komunikasi yang baik dengan
Vani, bertolak belakang dengan apa yang dikatakan Bony terhadapku. Bony mengaku
telah jaga jarak dengan Vani, hubungan mereka tidak seharmonis kemarin-kemarin,
tapi semua itu terbantahkan dengan kenyataan yang terpampang nyata melalui
pernyataan Bony dan pernyataan Vani dalam sebuah sosmednya. Perih memang
menghadapi kenyataan ini, tapi sungguh bersalahnya diriku ketika aku
mempertahankan egoku untuk menuruti kemauan hati, tanpa memikirkan bagaimana
perasaan Vani maupun perasaan Bony. Aku tahu bahwa Bony tidak sanggup untuk
melepaskan Vani begitu saja, mengingat telah banyak kenangan yang Bony rajut
bersama Vani. Aku juga mengerti bagaimana posisi Vani, bagaimana perasaan Vani
ketika dia tahu ada aku diantara hubungannya bersama Bony. Aku dan Vani adalah
sama-sama seorang wanita, memiliki perasaan yang lebih sensitive, menghadapi segala sesuatu dengan perasaan dengan
mengesampingkan logika, jika dia tahu ada aku ditengah hubungannya bagaimana
perasaan Vani, pasti sakit yang tak terkira. Aku tidak tega ketika Vani
merasakan sakit seperti apa yang aku rasakan, biarkan hanya aku yang merasakan
sakit ini jangan Vani, dan membiarkan Bony menaruh bahagia pada hati Vani tanpa
ada aku sebagai penghalang dalam hubungan mereka.
“Bony aku mohon maaf, mungkin lebih baik kamu
meninggalkanku, kembalilah bersama Vani yang bisa memberimu bahagia setiap
saat, bukan bersamaku yang terpisahkan jarak, seperti ini. Aku sadar diri, aku
bukan siapa-siapa bagi kamu, mungkin posisiku tidak berarti dalam hidupmu, aku
tidak berarti dalam kehidupanmu, posisiku saat ini berada pada titik kesalahan,
aku berada diantara hubunganmu bersama Vani, dan alangkah baiknya ketika aku
mundur teratur, dan menyarankanmu kembali pada Vani, perbaikilah hubunganmu
bersama Vani, aku turut berdoa semoga kamu dan Vani diberikan jalan untuk tetap
meraih bahagia bersamamu.”
Mungkin kata-kata itu yang mampu terucap dalam percakapan
singkat melalui telepon malam ini, mungkin sebuah pukulan berat bagi Bony namun
semua itu aku lakukan demi kebaikan bersama, bukan hanya untukku tetapi untuk
Bony dan Vani juga. Sesungguhnya akupun merasa tidak siap untuk mengatakan dan
mejalani hal itu, karena aku tidak bisa membohongi perasaanku. Tetapi aku
ingat, bahwa posisiku kali ini tidak tepat, ada sebuah perasaan yang salah
dengan keadaan seperti ini. Betapa jahatnya ketika aku membiarkan perasaan Vani
tercabik-cabik dengan keegoisanku. Dan betapa merasa bersalahnya aku ketika aku
tahu rasa sakit yang Vani rasakan, tetapi justru aku yang menyebabkan Vani
menjadi sakit hati. Sebuah dilemma tersendiri,
apa yang harus aku pertahankan, menjaga hati orang lain dengan mengorbankan
hatiku sendiri ataukah bertahan dengan egoku tanpa memikirkan perasaan orang
lain. Aku akan terkesan munafik ketika aku harus merelakan Bony kembali dalam
pelukan Vani, jika senyatanya aku memang masih menyayangi Bony. Namun apapun
itu mungkin dengan mengorbankan perasaanku sendiri adalah keputusan bijak yang
menjadi solusinya.
“Luk, jangan pernah memintaku untuk menjauhimu atau bahkan
meninggalkanmu, aku tidak bisa meninggalkanmu, itu hal berat bagiku. Kamu memiliki
arti tersendiri dalam kehidupanku, kamu memiliki posisi tersendiri di hatiku,
jangan pernah kamu memintaku untuk menjauhimu. Aku mengenalmu dalam perjalanan
panjang, aku mengenalmu tidak secara kebetulan, karena aku yakin kita dipertemukan
karena ada sebuah rencana dari Tuhan. Bukan hal yang mudah untuk serta merta
menjauhimu atau meninggalkanmu. Aku mengagumimu bukan sekedar sebagai gadis
ceria, aku mengagumimu lebih dari sekedar pengagum, entah bagaimana aku harus
mendiskripsikan kekagumanku terhadapmu. Terlalu bodoh jika aku harus melakukan
hal konyol dengan meninggalkanmu, karena kamu terlalu hebat dimataku.”
Sebuah pernyataan ambigu bagiku. Aku mendengar kata-kata itu
terucap dari ujung telepon disana, bukan secara langsung, aku tidak bisa
mengartikan apakah kata-kata itu keluar secara tulus ataukah hanya sebuah kata
yang menjadi upaya untuk meluluhkan hatiku lagi. Namun kali ini aku merasa
bahwa aku harus benar-benar menjauh dari Bony, aku tidak ingin mengusik
kehidupan antara Bony dan Vani. Aku ingin memberikan ruang kepada Bony untuk
kembali menunjukkan perhatiannya kepada Vani. Mungkin langkah itu yang bisa aku
lakukan. Semua harapanku akan sia-sia, sekalipun aku perjuangkan, karena memang
keadaan yang memaksaku untuk perlahan menarik diri dari kehidupan sosok Bony. Segala
kemungkinan masih bisa terjadi esok hari, mungkin akan lebih buruk atau justru
semakin buruk, tidak ada yang tahu. Menjalani kehidupan dengan keputusan yang muncul
dari hati mungkin akan lebih baik, meskipun hati terasa perih. Namun setidaknya
ada upaya untuk saling menjaga hati orang lain meski terkadang hati sendiri
harus rela terkorbankan. Harus menyadari bahwa dalam hati yang terkorbankan ada
perasaan yang salah yang singgah.
***
