Rabu, 15 Januari 2014

LUKA LAMA YANG HADIR KEMBALI #6


LUKA LAMA YANG HADIR KEMBALI
Ketika hati ini telah merasakan setitik rasa bahagia dengan terungkapnya perasaan Sinar kepadaku, hal itu cukup membuatku berpikir panjang. Apakah yang layak untuk aku lakukan saati ini. Haruskah aku melangkah dalam keraguan ataukah melangkah untuk berjalan sendiri menyusuri perjalanan atau bahkan tetap diam di tempat tanpa ada langkah yang aku pilih. Sebenarnya aku mulai memahami apa yang hati ini inginkan, aku juga ingin memulai menjalani lembar baru dalam menjalin hubungan asmara, namun hati kecilku tak bisa dibohongi, masih ada sedikit rasa harap dalam hati ini untuk Bony, serta luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Bodoh, memang kata yang tepat untuk aku sandang, karena masih saja menaruh rasa harap pada Bony, setelah sekian luka yang telah digoreskan Bony dalam hati ini. Setelah dengan mudah meninggalkan dan mungkin melupakanku, kenapa masih saja aku belum bisa menghapus bayang Bony dalam memori dan hati ini. Begitu kuat gejolak hati ini untuk menolak ingatan tersebut, karena aku ingin kembali pada tekad awalku untuk mulai melupakan Bony, dan mulai menjalani perjalanan baru. Ingin memulai petualangan baru dan berharap petualangan yang lebih seru dibandingkan bersama Bony. Begitu kuat tekadku untuk lepas dari bayang Bony, namun kenyataan dengan hadirnya Sinarpun belum mampu menghapus bayang Bony seluruhnya, masih ada samar-samar bekas kenanganku bersama Bony, yang terlalu berkesan untuk dilupakan begitu saja, sekalipun kesan itu sungguh membekas di hati dan bekasnya berupa luka, ya luka yang teramat dalam.
Ketika rasa bahagia yang berbuntut pada keraguan datang menghampiri hati ini, entah badai apa yang datang hingga mampu melemparkan sosok Bony hadir kembali dalam ceritaku kali ini. Ya sebuah kebetulan yang sangat tepat hadir dalam intrik ceritaku. Tepat dimana kehadiran Bony sesungguhnya tidak diharapkan. Kehadiran Bony justru hanya akan membawa keraguan yang lebih besar pada hati ini. Kehadiran Bony tepat dimana aku akan memulai langkahku untuk sebuah petualangan besar, dan mulai melangkah meninggalkan bayang tentang Bony. Belum genap satu langkah kaki ini melangkah, Bony sudah menghalangi langkahku untuk pergi melupakannya. Bony datang tepat saat kehadiran Bony akan menjadi sebuah pohon besar yang tumbang tepat di depanku yang akan menghalangi petualanganku menuju puncak tertinggi sebuah keindahan. Mau tidak mau aku harus melewati pohon itu untuk mencapai puncak keindahan, namun entah bagaimana caranya aku harus melewatinya, mungkinkah dengan menyingkirkan pohon itu. Secara logika jelas kemampuanku tidak mungkin bisa melakukan hal itu, atau mungkin aku harus melewati dengan cara melangkahi atau bagaimana akupun bingung untuk melewatinya.
Kini kehadiran Bony dalam cerita baruku menjadikan cerita seolah ingin kuhentikan, aku tidak ingin dalam ceritaku tertulis cerita penuh luka seperti halnya kisah yang telah lalu. Terlepas dari itu, kini Bony menghubungiku setelah sekian lama Bony tertawa bahagia bersama Vani sang kekasihnya diatas perih luka hati goresannya. Bony memberitahuku bahwa keberadaannya kini tidak jauh denganku, dia mengatakan sudah berada di sekitar kampus, dimana aku menghabiskan hariku untuk mengais ilmu-ilmu dari para kaum intelektualitas. Bony memintaku untuk menemuinya, Bony ingin berbicara kepadaku ada hal yang harus dia jelaskan dan perlu dibicarakan denganku, itu kata Bony. Namun perasaan tidak enak dalam hati ini kembali muncul, ada hal yang entah apa arti dari perasaan tidak enak ini. Ada keraguan yang muncul, akankah aku menemuinya, ataukah aku tega membiarkan Bony yang telah jauh-jauh menemuiku hanya mendapatkan kesia-siaan semata. Ketika aku memutuskan untuk menemuinya aku harus siap untuk menghadapi segala resiko yang harus aku rasakan, termasuk mengingatkan kembali luka-luka yang pernah tergores dalam hati, dan memori akan bekerja lebih cepat untuk memunculkan hal-hal yang hanya akan membuat hati ini semakin sakit. Ketika keteguhan hati untuk memulai kata Move on menjadi sebuah langkah awal, justru cerita lama hadir kembali. Padahal aku tidak ingin mengorek kembali luka lama itu, aku tak ingin kembali merasakan luka yang kini telah tertata. Dan ketika aku memutuskan untuk tidak menemuinya, merasa bersalah jika hal itu aku lakukan, karena bagaimanapun Bony telah mengorbankan materi dan waktunya yang seharusnya dapat digunakan untuk hal lain yang lebih penting. Begitu berdosanya aku ketika pengorbanan Bony tidak aku hargai sama sekali, setidaknya dengan aku menemuinya merupakan itikad baikku terhadap Bony, bahwa aku menghargai beberapa pengorbanannya. Meskipun tak dipungkiri bahwa hati ini menolak untuk menemui Bony, takut jika gejolak hati ini tak tertahankan lagi. Dan kemudian akhirnya aku memutuskan untuk menemui Bony, mungkin dengan perasaan yang cukup bimbang, namun apapun harus aku jalani keputusanku itu.
“Hey, Bony udah lama nunggu?”
“Enggak kok, baru setengah jam, hehe.., Luk gimana kabarmu? Rasanya udah lama banget kita tidak ada komunikasi yaahh..”
“Alhamdulillah, aku baik”.
“Luk, aku kesini berniat untuk membicarakan sesuatu, aku mau minta maaf jika selama ini aku tidak memberikanmu informasi ataupun sedikit penjelasan mengenai hubunganku dengan Vani. Mungkin sebenarnya kamu juga udah tahu, kala itu Vani memang mantan kekasihku, dan kemarin kedekatanku sama Vani memang menjadi sebuah hubungan special, tapi jujur aku takut untuk memberitahumu tentang hal ini. Jadi selama ini aku memilih diam, dan menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan ini kepadamu. Dan aku pikir sekaranglah waktu yang tepat untuk itu, waktu dimana kamu sudah cukup lama terdiam dan merenung, saat dimana aku dan Vani kini telah menjadi teman biasa lagi. Dan sekarang waktu yang tepat pula untuk aku mengungkapkan semua yang aku rasa. Aku ingin memperbaiki hubungan kita yang sempat lost contact, aku ingin menebus semua rasa bersalahku yang telah aku lakukan padamu. Mari kita perbaiki kesalahan yang kemarin bersama-sama, mari kita melangkah berjalan bersama untuk membuka lembaran baru untuk menulis cerita baru dalam hubungan kita. Toh selama ini belum pernah ada kata yang resmi ‘Putus’ diantara kita kan? Aku tahu mungkin aku salah membiarkan komunikasi kita tidak berjalan dengan baik, kemarin tidak ada komunikasi lagi diantara kita, tapi yakinlah, tidak ada maksud untuk memutuskan komunikasi kita, hanya saja aku ingin memberimu waktu untuk memahami semua keadaan yang terjadi saat itu, aku ingin memberimu waktu untuk menenangkan diri, sekadar memahami hati. Mungkin kamu juga merasa sakit hati dengan semua yang aku lakukan, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya atas apa yang aku lakukan. Tidak pernah ada niat untuk membuatmu sakit hati dengan ini semua, aku hanya memohon kepadamu untuk memaafkan aku, Luk. Aku ingin menjalani hubungan kita tanpa rasa sakit hati diantara salah satu pihak. Luk, sekali lagi aku memohon maaf, apa kamu mau untuk memaafkanku?”
Dengan begitu mudah Bony mengeluarkan kata-kata seenak jidatnya sendiri. Aku tak ingin berbicara yang tak sepantasnya, namun emosi yang tak tertahankan memaksaku untuk mengatakan hal itu. Dengan tanpa merasa berdosa, tanpa memikirkan apa yang aku rasa, Bony mengatakan semua hal itu kepadaku. Bony bisa mengatakan hal itu karena dia tidak pernah berada diposisiku. Posisi dimana keadaan hati ini menjadi sakit, perih dan penuh pilu melihat realita bahwa orang yang selama ini aku sayang bahagia bersama kekasih barunya didalam sebuah ikatan pacaran denganku. Betapa sakit hati itu sehingga dunia khayalpun tak mampu membayangkan betapa sakitnya yang aku rasakan. Sakit yang tak mampu dideskripsikan dengan sebuah ungkapan, sakit yang tak mampu dilihat dengan mata telanjang, sakit yang tak mampu didengar dengan telinga, sakit yang tak mampu diraba, dan sakit yang hanya mampu dirasa oleh perasaan, dirasa oleh hati ini. Bahkan sakit ini sama sekali tidak mampu untuk dijangkau dengan logika.
Tak habis pikir dengan semua sikap Bony, tak habis pikir dengan semua kata-kata Bony, apa dia tidak mengingat berapa banyak luka yang ia goreskan dihatiku, apa dia tidak tahu berapa kali aku harus menanggung luka yang ia tabur, dan berapa kali juga aku harus memaafkan untuk peluang luka yang sama, bahkan luka yang lebih sakit. Sebegitu teganya Bony dengan semua ini, hingga air mataku habis untuk menangisi semua yang terjadi padaku. Aku mengasiahani diriku sendiri, kenapa aku yang harus merasakan sakit ini, apa yang pernah aku perbuat, hingga aku mendapat karma yang begitu pedih seperti ini.
Aku mencoba menahan amarahku yang kian memuncak, menahan bulir air mata yang tak rela kuteteskan dihadapan Bony. Air mataku mengumpul penuh berdesak ingin menetes dan tertahan dipelupuk mataku, hampir saja bulir demi bulir ini menetes, namun sekuat hati aku menahannya, merunduk terdiam sejenak, sedikit menenangkan hati, menata hati untuk bisa mengungkapkan sebuah ungkapan sebagai respon. Mencoba menahan dan mengusap air mata yang hampir saja membasahi pipi ini. Aku merasa terlalu sia-sia air mata ini berjatuhan hanya untuk seorang Bony, yang bahkan dia tidak tahu betapa sakit yang kuderita selama ini. Sudah cukup banyak air mata ini terbuang sia-sia hanya untuk menangisi seorang Bony. Aku menahan ini bukan karena menahan egoku, bukan karena dendamku atau bukan karena gengsiku. Namun aku tidak ingin terlihat lemah dihadapan Bony, aku ingin membuktikan bahwa tanpa Bony, aku justru mejadi lebih baik, justru menjadi lebih kuat, lebih tegar dalam menghadapi masalah, dan lebih bisa mengontrol diri dalam keadaan yang telah didramatisir sekalipun.
“Luk, kamu mau memaafkan aku kan?”, kali ini dengan nada penegasan. Bony mencoba merangkulku, seolah menunjukkan simpatinya kepadaku, seolah memberiku isyarat agar aku memaafkannya, namun sebelum tangan itu sampai aku mengelak terlebih dulu. Kini kuangkat wajahku yang memerah, kumencoba memperkokoh hati ini agar terlihat benar-benar tegar dihadapan Bony.
Ketika permohonan maaf yang dengan mudah dilontarkan Bony, tanpa memikirkan bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Tanpa mengkonfirmasi apa yang saat itu aku rasakan, saat dimana Bony meninggalkanku tanpa kepastian, tanpa kejelasan status, dan Bony tertawa bahagia bersama mantan kekasihnya, bersama Vani dengan segala kelebihannya, dan bersama Vani yang lebih baik dari seorang Luluk sepertiku. Tanpa perlu pikir panjang, Vani yang ada dihadapan mata mampu membutakan Bony, bahkan hingga membutakan hatinya, sampai-sampai buta akan kenyataan bahwa Bony meninggalkan aku tanpa kabar yang jelas. Ketika Bony berjalan dalam kebutaan ingin sekali aku menuntunnya menuju terang, agar Bony sadar apa yang telah dilakukan dibelakang, siapa orang yang dia tinggal. Namun apa daya, realita berbicara, tuntunan tangan Vani lebih mampu membawa Bony menuju jalan yang menurut Bony benar, tangan Vani mampu merangkul Bony dalam gelap, tangan Vani mampu menjadi arah mata angin yang dijadikan pedoman dikala Bony tersesat. Intinya Bony tetap mempertahankan Vani daripada Luluk (aku). Aku hanyalah manusia yang memang tidak pantas mendapatkan apa yang didapat Vani dari Bony, aku hanyalah manusia bodoh yang masih saja menyayangi Bony dengan setulus hati, sekalipun realita telah menyakiti.
***
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar