LUKA LAMA YANG HADIR KEMBALI
Ketika hati ini telah merasakan setitik rasa bahagia dengan
terungkapnya perasaan Sinar kepadaku, hal itu cukup membuatku berpikir panjang.
Apakah yang layak untuk aku lakukan saati ini. Haruskah aku melangkah dalam
keraguan ataukah melangkah untuk berjalan sendiri menyusuri perjalanan atau
bahkan tetap diam di tempat tanpa ada langkah yang aku pilih. Sebenarnya aku
mulai memahami apa yang hati ini inginkan, aku juga ingin memulai menjalani
lembar baru dalam menjalin hubungan asmara, namun hati kecilku tak bisa
dibohongi, masih ada sedikit rasa harap dalam hati ini untuk Bony, serta luka
lama yang belum sepenuhnya sembuh. Bodoh, memang kata yang tepat untuk aku
sandang, karena masih saja menaruh rasa harap pada Bony, setelah sekian luka
yang telah digoreskan Bony dalam hati ini. Setelah dengan mudah meninggalkan
dan mungkin melupakanku, kenapa masih saja aku belum bisa menghapus bayang Bony
dalam memori dan hati ini. Begitu kuat gejolak hati ini untuk menolak ingatan
tersebut, karena aku ingin kembali pada tekad awalku untuk mulai melupakan
Bony, dan mulai menjalani perjalanan baru. Ingin memulai petualangan baru dan
berharap petualangan yang lebih seru dibandingkan bersama Bony. Begitu kuat
tekadku untuk lepas dari bayang Bony, namun kenyataan dengan hadirnya Sinarpun
belum mampu menghapus bayang Bony seluruhnya, masih ada samar-samar bekas
kenanganku bersama Bony, yang terlalu berkesan untuk dilupakan begitu saja,
sekalipun kesan itu sungguh membekas di hati dan bekasnya berupa luka, ya luka
yang teramat dalam.
Ketika rasa bahagia yang berbuntut pada keraguan datang
menghampiri hati ini, entah badai apa yang datang hingga mampu melemparkan
sosok Bony hadir kembali dalam ceritaku kali ini. Ya sebuah kebetulan yang
sangat tepat hadir dalam intrik ceritaku. Tepat dimana kehadiran Bony
sesungguhnya tidak diharapkan. Kehadiran Bony justru hanya akan membawa
keraguan yang lebih besar pada hati ini. Kehadiran Bony tepat dimana aku akan
memulai langkahku untuk sebuah petualangan besar, dan mulai melangkah meninggalkan
bayang tentang Bony. Belum genap satu langkah kaki ini melangkah, Bony sudah
menghalangi langkahku untuk pergi melupakannya. Bony datang tepat saat
kehadiran Bony akan menjadi sebuah pohon besar yang tumbang tepat di depanku
yang akan menghalangi petualanganku menuju puncak tertinggi sebuah keindahan.
Mau tidak mau aku harus melewati pohon itu untuk mencapai puncak keindahan,
namun entah bagaimana caranya aku harus melewatinya, mungkinkah dengan
menyingkirkan pohon itu. Secara logika jelas kemampuanku tidak mungkin bisa
melakukan hal itu, atau mungkin aku harus melewati dengan cara melangkahi atau
bagaimana akupun bingung untuk melewatinya.
Kini kehadiran Bony dalam cerita baruku menjadikan cerita
seolah ingin kuhentikan, aku tidak ingin dalam ceritaku tertulis cerita penuh
luka seperti halnya kisah yang telah lalu. Terlepas dari itu, kini Bony
menghubungiku setelah sekian lama Bony tertawa bahagia bersama Vani sang
kekasihnya diatas perih luka hati goresannya. Bony memberitahuku bahwa
keberadaannya kini tidak jauh denganku, dia mengatakan sudah berada di sekitar
kampus, dimana aku menghabiskan hariku untuk mengais ilmu-ilmu dari para kaum
intelektualitas. Bony memintaku untuk menemuinya, Bony ingin berbicara kepadaku
ada hal yang harus dia jelaskan dan perlu dibicarakan denganku, itu kata Bony.
Namun perasaan tidak enak dalam hati ini kembali muncul, ada hal yang entah apa
arti dari perasaan tidak enak ini. Ada keraguan yang muncul, akankah aku
menemuinya, ataukah aku tega membiarkan Bony yang telah jauh-jauh menemuiku
hanya mendapatkan kesia-siaan semata. Ketika aku memutuskan untuk menemuinya
aku harus siap untuk menghadapi segala resiko yang harus aku rasakan, termasuk
mengingatkan kembali luka-luka yang pernah tergores dalam hati, dan memori akan
bekerja lebih cepat untuk memunculkan hal-hal yang hanya akan membuat hati ini
semakin sakit. Ketika keteguhan hati untuk memulai kata Move on menjadi sebuah
langkah awal, justru cerita lama hadir kembali. Padahal aku tidak ingin
mengorek kembali luka lama itu, aku tak ingin kembali merasakan luka yang kini
telah tertata. Dan ketika aku memutuskan untuk tidak menemuinya, merasa
bersalah jika hal itu aku lakukan, karena bagaimanapun Bony telah mengorbankan
materi dan waktunya yang seharusnya dapat digunakan untuk hal lain yang lebih
penting. Begitu berdosanya aku ketika pengorbanan Bony tidak aku hargai sama
sekali, setidaknya dengan aku menemuinya merupakan itikad baikku terhadap Bony, bahwa aku menghargai beberapa
pengorbanannya. Meskipun tak dipungkiri bahwa hati ini menolak untuk menemui
Bony, takut jika gejolak hati ini tak tertahankan lagi. Dan kemudian akhirnya
aku memutuskan untuk menemui Bony, mungkin dengan perasaan yang cukup bimbang,
namun apapun harus aku jalani keputusanku itu.
“Hey, Bony udah lama nunggu?”
“Enggak kok, baru setengah jam, hehe.., Luk gimana kabarmu?
Rasanya udah lama banget kita tidak ada komunikasi yaahh..”
“Alhamdulillah, aku baik”.
“Luk, aku kesini berniat untuk membicarakan sesuatu, aku mau
minta maaf jika selama ini aku tidak memberikanmu informasi ataupun sedikit
penjelasan mengenai hubunganku dengan Vani. Mungkin sebenarnya kamu juga udah
tahu, kala itu Vani memang mantan kekasihku, dan kemarin kedekatanku sama Vani
memang menjadi sebuah hubungan special,
tapi jujur aku takut untuk memberitahumu tentang hal ini. Jadi selama ini aku
memilih diam, dan menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan ini kepadamu. Dan
aku pikir sekaranglah waktu yang tepat untuk itu, waktu dimana kamu sudah cukup
lama terdiam dan merenung, saat dimana aku dan Vani kini telah menjadi teman
biasa lagi. Dan sekarang waktu yang tepat pula untuk aku mengungkapkan semua
yang aku rasa. Aku ingin memperbaiki hubungan kita yang sempat lost contact,
aku ingin menebus semua rasa bersalahku yang telah aku lakukan padamu. Mari
kita perbaiki kesalahan yang kemarin bersama-sama, mari kita melangkah berjalan
bersama untuk membuka lembaran baru untuk menulis cerita baru dalam hubungan
kita. Toh selama ini belum pernah ada kata yang resmi ‘Putus’ diantara kita
kan? Aku tahu mungkin aku salah membiarkan komunikasi kita tidak berjalan
dengan baik, kemarin tidak ada komunikasi lagi diantara kita, tapi yakinlah,
tidak ada maksud untuk memutuskan komunikasi kita, hanya saja aku ingin
memberimu waktu untuk memahami semua keadaan yang terjadi saat itu, aku ingin
memberimu waktu untuk menenangkan diri, sekadar memahami hati. Mungkin kamu
juga merasa sakit hati dengan semua yang aku lakukan, aku mohon maaf yang
sebesar-besarnya atas apa yang aku lakukan. Tidak pernah ada niat untuk membuatmu
sakit hati dengan ini semua, aku hanya memohon kepadamu untuk memaafkan aku,
Luk. Aku ingin menjalani hubungan kita tanpa rasa sakit hati diantara salah
satu pihak. Luk, sekali lagi aku memohon maaf, apa kamu mau untuk memaafkanku?”
Dengan begitu mudah Bony mengeluarkan kata-kata seenak
jidatnya sendiri. Aku tak ingin berbicara yang tak sepantasnya, namun emosi
yang tak tertahankan memaksaku untuk mengatakan hal itu. Dengan tanpa merasa
berdosa, tanpa memikirkan apa yang aku rasa, Bony mengatakan semua hal itu
kepadaku. Bony bisa mengatakan hal itu karena dia tidak pernah berada
diposisiku. Posisi dimana keadaan hati ini menjadi sakit, perih dan penuh pilu
melihat realita bahwa orang yang selama ini aku sayang bahagia bersama kekasih
barunya didalam sebuah ikatan pacaran denganku. Betapa sakit hati itu sehingga
dunia khayalpun tak mampu membayangkan betapa sakitnya yang aku rasakan. Sakit
yang tak mampu dideskripsikan dengan sebuah ungkapan, sakit yang tak mampu
dilihat dengan mata telanjang, sakit yang tak mampu didengar dengan telinga,
sakit yang tak mampu diraba, dan sakit yang hanya mampu dirasa oleh perasaan,
dirasa oleh hati ini. Bahkan sakit ini sama sekali tidak mampu untuk dijangkau
dengan logika.
Tak habis pikir dengan semua sikap Bony, tak habis pikir
dengan semua kata-kata Bony, apa dia tidak mengingat berapa banyak luka yang ia
goreskan dihatiku, apa dia tidak tahu berapa kali aku harus menanggung luka
yang ia tabur, dan berapa kali juga aku harus memaafkan untuk peluang luka yang
sama, bahkan luka yang lebih sakit. Sebegitu teganya Bony dengan semua ini,
hingga air mataku habis untuk menangisi semua yang terjadi padaku. Aku
mengasiahani diriku sendiri, kenapa aku yang harus merasakan sakit ini, apa
yang pernah aku perbuat, hingga aku mendapat karma yang begitu pedih seperti
ini.
Aku mencoba menahan amarahku yang kian memuncak, menahan
bulir air mata yang tak rela kuteteskan dihadapan Bony. Air mataku mengumpul
penuh berdesak ingin menetes dan tertahan dipelupuk mataku, hampir saja bulir
demi bulir ini menetes, namun sekuat hati aku menahannya, merunduk terdiam
sejenak, sedikit menenangkan hati, menata hati untuk bisa mengungkapkan sebuah
ungkapan sebagai respon. Mencoba menahan dan mengusap air mata yang hampir saja
membasahi pipi ini. Aku merasa terlalu sia-sia air mata ini berjatuhan hanya
untuk seorang Bony, yang bahkan dia tidak tahu betapa sakit yang kuderita
selama ini. Sudah cukup banyak air mata ini terbuang sia-sia hanya untuk
menangisi seorang Bony. Aku menahan ini bukan karena menahan egoku, bukan
karena dendamku atau bukan karena gengsiku. Namun aku tidak ingin terlihat
lemah dihadapan Bony, aku ingin membuktikan bahwa tanpa Bony, aku justru mejadi
lebih baik, justru menjadi lebih kuat, lebih tegar dalam menghadapi masalah,
dan lebih bisa mengontrol diri dalam keadaan yang telah didramatisir sekalipun.
“Luk, kamu mau memaafkan aku kan?”, kali ini dengan nada
penegasan. Bony mencoba merangkulku, seolah menunjukkan simpatinya kepadaku,
seolah memberiku isyarat agar aku memaafkannya, namun sebelum tangan itu sampai
aku mengelak terlebih dulu. Kini kuangkat wajahku yang memerah, kumencoba memperkokoh
hati ini agar terlihat benar-benar tegar dihadapan Bony.
Ketika permohonan maaf yang dengan mudah dilontarkan Bony,
tanpa memikirkan bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Tanpa mengkonfirmasi apa
yang saat itu aku rasakan, saat dimana Bony meninggalkanku tanpa kepastian,
tanpa kejelasan status, dan Bony tertawa bahagia bersama mantan kekasihnya,
bersama Vani dengan segala kelebihannya, dan bersama Vani yang lebih baik dari
seorang Luluk sepertiku. Tanpa perlu pikir panjang, Vani yang ada dihadapan
mata mampu membutakan Bony, bahkan hingga membutakan hatinya, sampai-sampai
buta akan kenyataan bahwa Bony meninggalkan aku tanpa kabar yang jelas. Ketika Bony
berjalan dalam kebutaan ingin sekali aku menuntunnya menuju terang, agar Bony
sadar apa yang telah dilakukan dibelakang, siapa orang yang dia tinggal. Namun apa
daya, realita berbicara, tuntunan tangan Vani lebih mampu membawa Bony menuju
jalan yang menurut Bony benar, tangan Vani mampu merangkul Bony dalam gelap,
tangan Vani mampu menjadi arah mata angin yang dijadikan pedoman dikala Bony
tersesat. Intinya Bony tetap mempertahankan Vani daripada Luluk (aku). Aku hanyalah
manusia yang memang tidak pantas mendapatkan apa yang didapat Vani dari Bony,
aku hanyalah manusia bodoh yang masih saja menyayangi Bony dengan setulus hati,
sekalipun realita telah menyakiti.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar