Jumat, 20 Desember 2013

LUKA YANG SEMAKIN DALAM #3

LUKA YANG SEMAKIN DALAM

Entah apa yang ada dalam pikiran Bony, mungkin menyakiti hatiku ini adalah misi yang akan diberikan untukku, tanpa mempedulikan seberapa besar sayangku untuk Bony. Mungkin Bony cukup puas dengan apa yang Bony lakukan untuk ku. Dalam keadaan seperti ini aku tak mengerti kenapa perasaanku tak berubah sedikitpun terhadap Bony, entah apa yang ada pada diri Bony hingga membuat rasa sayang ini tak kunjung pudar meskipun penuh dengan pengkhianatan. Aku sadar awal kehadiran memang tidak tepat, Bony masih menjalin hubungan dengan Vani, yang dibilang hanya teman. Namun keraguanku semakin kuat, dan setelah aku mencari tahu dari beberapa sumber, memang benar jika Vani adalah bukan sekedar teman lama, tetapi mantan kekasihnya. Kini kebersamaan Bony bersama Vani jauh lebih dekat dibandingkan dulu saat Bony baru mengenalku. Keakraban terjalin lebih intensif dibandingkan denganku. Bahkan dalam sebuah acara secara khusus Vani hadir dalam acara tersebut, untuk membantu mensukseskan acara yang dipanitiai Bony, dengan berpartisipasi menjadi peserta. Sungguh sakit hati ini ketika harus melihat realita dibalik bualan-bulanan semu dari Bony. Entah aku harus menyebut apa hubungan yang kami jalani ini. Belum ada kata resmi putus, namun tidak pernah ada komunikasi diantara kami lagi, tidak pernah ada perhatian yang diberikan Bony untukku lagi. Mungkin Bony telah sibuk membenahi hubungan lamanya bersama Vani yang jelas memiliki kelebihan yang lebih dibanding aku. Aku menerima realita ini meski tak bisa membohongi hati kalau ternyata perih melihat senyum bahagia Bony berada disamping Vani. Meskipun itu kutahu hanya lewat dunia maya. Namun semuanya sudah jelas tak perlu ada penjelasan aku sudah mampu mengartikan semua ini. Bagi Bony aku hanya diposisikan sebagai pengganti dikala Vani sibuk dengan kesibukannya. Aku hanya diperlukan untuk memberi perhatian kepada Bony ketika hal itu tidak didapatkannya dari Vani. Berkaca dari luka yang lalu, ternyata semua itu benar, dan entah aku sudah menyadari itu, tapi mengapa perasaan ini tidak berubah. Ada sebuah keyakinan yang aku sendiri tidak bisa mendiskripsikan dalam sebuah kata-kata. Hanya perasaan ini yang bisa merasakan keyakinan itu. Betapa bodohnya aku masih saja mempertahankan perasaan ketika realita tak mampu dijangkau logika. Air mata ini yang mampu melukiskan betapa perih hati ini ketika semua yang dilakukan Bony termampang nyata dalam sebuah dunia maya.
***
Andai aku bisa memutar kembali waktu, ingin aku percaya pada awal keraguanku saat menerima Bony sebagai pacarku. Mungkin egoku yang lebih menguasai perasaanku hingga kini aku terjerumus dalam lubang perih yang sama. Dengan luka yang sama oleh orang yang sama. Begitukah seorang Bony yang sesungguhnya?, dibalik segala kelebihan Bony yang selama ini ada di depan mataku, ada hal yang tak terduga. Kenapa Bony tega melakukan hal ini kepadaku? Apa maksud dari semua ini? Bukankah Bony yang mengawali adanya hubungan ini? Bukankah Bony yang menyatakan ketertarikannya padaku diawal kita berkomunikasi? Apa arti semua ini? Jika hanya luka yang kau beri selama ini.
Mungkin sekarang ketika Vani datang dalam kehidupan Bony, aku menjadi tiada artinya lagi bagi Bony. Aku hanya sebagai pelengkap hidup yang suatu saat dibuang karena sudah ada yang lain. Dan saat dimana aku dibuang karena sudah ada yang lain adalah saat ini saat dimana Vani hadir kembali mewarnai hidup Bony, mungkin dengan warna yang lebih indah hingga Bony lupa akan diriku. Berkali-kali aku menguatkan hati ini, untuk selalu tegar, untuk selalu kuat dalam menjalani ini, namun berkali-kali juga hati ini menangis berkali-kali juga mata ini tak mampu menahan aliran air mata yang menggambarkan aku yang sebenarnya. Sungguh ingin sekali rasanya kau mengungkapkan hal ini pada Bony, aku ingin mengatakan betapa perihnya hati ini pada Bony. Aku hanya ingin sebuah kepastian, jika memang Bony tidak bisa membalas sayangku untuknya aku rela, tapi aku ingin memohon kepada Bony untuk memberi kepastian ini semua. Aku rela jika aku harus melepaskan Bony kembali dalam pelukan Vani, asalkan Bony tetap bahagia. Aku akan lebih rela mebiarkan sayang ini tumbuh tak berbalas dihati ini tanpa ada pengkhianatan dibalik semua ini.
Aku memang orang yang tak pandai mengkondisikan hati, namun bagaimana caranya aku bisa mengkondisikan hatiku agar stabil jika banyak hal yang membuat hati ini menjadi tidak stabil. Banyak luka yang tergores dihati ini namun, bukannya disembuhkan tapi justru semakin disakiti. Bony yang hadir kembali dengan sikap yang lebih baik, aku pikir mampu menyembuhkan luka yang ia goreskan dulu, namun nyatanya bukannya disembuhkan tapi justru dia goreskan kembali luka yang lebih sakit, lebih perih di hati ini. Mungkin kehadiranku ini salah bagi Bony, kehadiranku justru memberikan pengaruh negatif bagi Bony, tapi jika memang begitu kenapa Bony memberikan respon dan perhatian lebih kepadaku? Andai aku bisa tahu apa yang sebenarnya ada dihati Bony, bagaimana perasaannya terhadapku, dan banyak pertanyaan yang ingin aku lontarkan kepada Bony, namun sekali lagi hanya air mata yang tak henti mengalir bersama tanda tanya ini.
Hari-hari kulewati dengan segala sepinya hati, namun kucoba tersenyum meskipun dibalik senyuman aku menyimpan luka yang dalam. Bahkan pelukis luka hatinya pun tak memiliki kepekaan akan hal ini. Aku bukanlah tipe orang yang bersikap murung ketika menghadapi masalah dihadapan teman-teman. Canda tawa teman-teman mampu membuatku tertawa lepas, sehingga setidaknya mampu mengurangi sedikit beban hati ini. Kulewati hari-hari ini dengan canda bersama teman, penuh dengan keceriaan. Dan perlahan kucoba lupakan apa yang telah kualami saat ini. Tidak ada yang tahu apa yang kurasa saat ini, hanya aku, dan perasaanku yang tahu apa yang kurasa saat ini. Aku menyimpan sakit ini dengan rapi.
***
Tanpa menunggu kata resmi putus dari Bony, aku anggap semua hubungan ini sudah menjadi bagian dari masa lalu. Aku ingin menata hatiku kembali yang telah pecah berkeping-keping. Aku ingin mengobati hatiku yang terluka. Aku bosan menahan rasa sakit dan perih ini. Aku lelah menanti harapan kosong dari Bony. Aku ingin terbang bersama harapan-harapan baru. Aku ingin menggapai semua harapan bersama orang yang mampu menyayangi aku dengan tulus bukan dengan penkhianatan. Aku ingin merajut harapan itu kembali dengan orang yang mampu meyakinkan aku bahwa dia mampu menyembuhkan luka ku. Mampu menutup luka, mampu menata kembali kepingan hati ini dan mampu membiarkan hati ini menikmati bahagia yang nyata bukan bahagia semu yang hanya meninggalkan luka dihati.
Teruntuk Bony, terima kasih atas semua yang kau beri padaku. Terima kasih telah menyempatkan diri untuk memberi perhatian yang lebih untukku, terima kasih untuk semua hal yang telah kau berikan untukku. Terima kasih juga untuk semua goresan luka yang kau lukis dihatiku. Aku tak membencimu, aku hanya berterima kasih, karena dengan goresan luka ini semakin membuka mataku bagaimana kamu yang sebenarnya, Bony dengan segala kelebihannya yang mampu memberikan kecewa dan luka yang tak terkira. Aku tidak akan membencimu karena aku tidak bisa membohongi diriku bahwa sesungguhnya perasaan ini belum berubah, sayang ini masih tulus untukmu, namun aku akan lebih rela sayang ini tak terbalas jika hanya akan menimbulkan luka yang semakin dalam. Thanks a lot for All.
Aku ingin terbang dengan harapan-harapan baru bersama orang yang memang mau tulus padaku bukan dengan bualan-bualan semu. Bualan yang hanya melukis luka, bualan yang hanya memberi harap semata, namun berbeda dengan realita yang senyatanya. Selamat berbahagia bersama orang yang kau pilih, jangan lagi kau melukis luka ditempat yang sama kepada orang yang berbeda. Asal kamu tau goresan luka ini aku selalu terpatri ditempat yang bernama hati.

***

Kamis, 19 Desember 2013

GORESAN LUKA DITEMPAT YANG SAMA #2

GORESAN LUKA DITEMPAT YANG SAMA

Masih dalam cerita tentang Bony. Belum sembuh luka yang ku derita (Luluk) atas apa yang dilakukan Bony kepadaku, kembali Bony muncul dengan perubahan drastis hingga aku pun tak menyangka mengapa Bony menjadi seperti itu. Namun begitu besar ketertarikanku  kepada Bony untuk saling mengenal lebih jauh tak menghiraukan perubahan itu. Aku  telah mencoba bersikap biasa dengan Bony, namun keakraban semakin terjalin dalam komunikasi akhir-akhir ini.
Bony muncul dengan sikap baiknya dengan sikap care yang ditunjukkannya menjadikanku semakin tak mengerti apa yang harus kulakukan. Inginku perlahan mundur teratur, menjalin hubungan hanya sebatas teman biasa, namun gejolak hati ini tak bisa kupadamkan. Niat untuk menganggap perhatian Bony hanya sebatas perhatian teman seketika runtuh dengan keakraban yang semakin terjalin. Perlahan suasana hatiku kembali seperti semula, tetap bersama harapan yang mungkin itu hanya harapan kosong, yang suatu saat nanti akan memberi luka yang lebih dalam. Namun entah mengapa ada keyakinan tersendiri yang aku rasakan, entah keyakinan apa akupun tak mampu mengungkapkannya.
Berjalannya hari semakin memberi kejelasan bahwa Bony memberikan sinyal-sinyal hatinya telah terbuka untukku. Namun sekali lagi aku meyakinkan diriku untuk tidak terlalu mengharap lebih dari seorang Bony. Aku sadar diri betapa banyak sekali kekurangan pada diriku yang membuatku tak pantas bersanding dengn Bony dengan segala kelebihannya.
***
Ketika malam menampakkan sinar terang dari rembulan yang cukup indah, bersanding dengan beberapa kerlip bintang yang turut menghiasi indahnya langit ciptaan Tuhan, Bony menghubungiku melalui telepon. Dengan hati berdebar kuangkat telepon dan percakapan dimulai.
“halo, Assalamualaikum..” sapaku dengan degup jantung yang kencang.
 “waalaikumsalam.. lagi apa Luk?”
“lagi santai hehe, kenapa kok tumben telepon??”
“enggak lagi pengen denger suaramu aja, haha..”
Banyak percakapan telah kami perbincangkan, yang tidak ada arah dan tujuannya. Dalam sela perbincangan kami, ada beberapa penyataan yang cukup mencengangkanku
“Luk, aku boleh jujur ke kamu gak?”
“yaa jujur aja to, kan jujur itu baik, hehe..”
“sebenernya aku memendam rasa suka ke kamu, hanya saja kemarin masih ada hal yang belum terselesaikan, sehingga aku belum bisa mengungkapkan hal ini ke kamu, dan sekarang kesempatan itu hadir, dan aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh dalam sebuah hubungan yang sering dibilang pacaran. Dan malam ini aku ingin mendengar jawaban dari kamu, maukah kamu jadi pacarku?..”
Seketika suasana hening tercipta, ada sesuatu yang menusuk dihati yang entah itu apa. Aku sendiri juga tidak mengerti mengapa aku seperti ini. Bukankah ini yang selama ini aku harapkan, bukankah ini yang selama ini aku nanti, tapi mengapa justru timbul keraguan dalam hati ini?, mengapa justru disaat Bony telah menyatakan, keraguan ini muncul? Aku tak mengerti aku harus bersikap seperti apa.. yang jelas aku bingung.
“Luluk?? Kok diem, kenapa? Kamu ragu? Kamu belum bisa menjawab sekarang?,, atau…”
“hah enggak kok, iya aku mau menjadi pacarmu, hehe..”
Entah setan apa yang telah merasuk dalam tubuh ini hingga mulut ini tak terkontrol sampai memberikan respon yang aku sendiri juga belum yakin. Tapi tak apa, perjalanan masih panjang, aku ingin mencoba menjalani perjalanan ini perlahan-lahan, siapa tau ada kecocokan yang aku temukan pada diri Bony.
“oke terima kasih Luk, sudah menerimaku menjadi pacarmu,, yaudah kita lanjutkan perbincangan kita kapan-kapan yaa hehe sudah malam, sana kamu tidur, hehe.. Assalamualaikum..”
“ohh iya, sama-sama… waalaikumsalam..”
***
Waktu telah berlalu, moment yang terjadi semalam seolah belalu tanpa kesan berarti dalam perjalanan hidupku, dilema menghantui malam pengantar tidurku. Namun berkali-kali aku meyakinkan hatiku semua akan baik-baik saja, yakin bahwa Tuhan akan memberikan kebahagiaan dan keindahan pada  waktunya tiba. Hari-hari kini kujalani dengan komunikasi cukup lancar dan lebih intensif. Setiap malam minggu Bony selalu menelponku, maklum hubungan kami terpisahkan jarak. Namun kami senang menjalani ini. Perlahan kenyamanan tumbuh dalam hati ini, entah nyaman dalam arti apa yang jelas aku senang, aku bahagia dan terpenting aku nyaman dengan keadaan yang seperti ini. Tak ingin rasanya aku beranjak dari zona kenyamanan ini. Aku ingin menikmati nyaman ini lebih lama lagi, aku ingin merealisasikan harapan-harapan yang selama ini membawaku terbang dalam zona kenyamanan ini.
Hari demi hari berlalu dengan penuh kenyamanan yang aku ciptakan bersama Bony. Tak jarang Bony memberikan perhatian lebih hingga membuatku semakin merasa kenyamanan ini semakin kuat. Minggu-minggu kami lalui dengan beberapa kali pertemuan, menghabiskan waktu hanya untuk berbincang-bincang tanpa tujuan jelas, Bony merelakan waktu dan materinya hanya untuk sekedar bertemu dan berbincang denganku. Merasa special jika Bony melakukan hal itu hanya untuk bertemu denganku, padahal jarak kami cukup memakan waktu sekitar 3jam perjalanan kereta. Namun hal itu tak dijadikannya halangan untuk Quality time kami berdua. Selama sebulan kami menjalani hubungan ini untuk saling mengenal lebih dalam, saling memberi perhatian, dan saling menunjukkan kepedulian. Hal ini semakin mebuatku nyaman bersama Bony, merasa bahwa Bony adalah orang yang tepat, orang yang selama ini aku nanti. Tak sia-sia rasanya berusaha meyakinkan hati yang sempat dilema.
***
Namun Tuhan berkehendak lain, realita memaksaku untuk beranjak dari zona kenyamanan ini. Kenyamanan yang baru aku rasakan dalam sebulan ini sirna ketika sebuah fakta terungkap. Hanya karena media social yang seharusnya mendekatkan hubungan aku dan Bony yang terpisah jarak, tetapi justru menjadi batu kerikil dalam hubungan kami. Kerikil itu kecil namun tajam jika mengenai hati. Kerikil itu adalah seorang teman lama Bony, yaitu Vani. Dia adalah sosok idaman pria, cantik: secara kasat mata Vani memiliki paras yang cantik, pintar terbukti kuliah di universitas ternama, dan solehah. Dan hadirnya Vani dalam hubungan kami cukup membuat hubungan kami memanas. Aku yang mulai curiga dengan hubungan antara Vani dan Bony, karena terdapat beberapa kejanggalan dengan Bony. Mulai dari salah sebut nama di sms, sering chattingan, sering online, dan jarang berkomunikasi dengan aku. Awalnya aku berpikiran positif kepada Bony, mungkin kesibukan yang membuat dia jarang berkomunikasi denganku. Tapi setelah semua itu jelas terlihat di social media, seketika hati ini perih seperti tergores pecahan kaca dan tersiram air garam. Tidak begitu menyakitkan tapi perih. Penjelasan dari Bony tak cukup meyakinkan aku. Hati ini sudah terlanjur perih, sudah terlanjur kecewa. Kenyamanan yang telah kurajut seketika pudar berubah menjadi kekecewaan. Tak menyangka Bony tega melakukan hal itu lagi. Salah apa yang aku lakukan hingga membuat Bony tega melakukan ini padaku. Aku sadar aku memang manusia penuh dengan keterbatasan, aku memang bukan wanita yang cantik secara fisik, aku bukan sosok yang solehah seperti Vani, aku juga bukan orang yang pintar, yang mampu menyeimbangkan perasaan dan rasionalitas. Nyatanya aku tidak mampu menghapus rasa sayangku kepada Bony meskipun telah dua kali Bony memberikan luka dihati ini. Perasaanku tak bisa menyesuaikan dengan realitas yang terjadi. Entah apa yang kurasa saat ini, yang jelas apa yang kurasa saat ini hanya mampu kudeskripsikan dengan air mata. Rasa sakit yang dulu belum sepenuhnya sembuh kini harus merasakan luka ditempat yang sama lagi.
Ketika kenyamanan perlahan terlindas dengan kekecewaan yang dalam, maka kekecewaan itu telah terpatri dalam hati ini. Tidak mudah untuk menghapus kecewa yang telah kau goreskan tak hanya sekali. Tak menyangka sayangku yang tulus kau balas dengan goresan luka yang sama ditempat yang sama. Tak pernahkah kau sadar betapa perihnya hati ini ketika sayang ini kau khianati. Tak pernahkah kau sadar kau telah melukai hati yang menyayangimu. Entah ungkapan apa yang ingin aku katakan, yang jelas kau telah menggoreskan luka ditempat yang sama, yaitu hati.


***

Senin, 16 Desember 2013

DIARY HARIAN BERNAMA HATI #1

DIARY HARIAN BERNAMA HATI

Pertemuan tak terduga adalah awal dari kisah perjalanan hatiku yang penuh liku. Hanya dalam waktu beberapa hari semua kisah tertulis dalam diary bernama hati. Tak pernah menyangka sebelumnya akan tercipta suasana seperti ini. Dalam pembukaan sebuah acara kami memerankan tugas masing-masing. Dia (Bony) menjadi peserta dalam sebuah acara dan aku (Luluk) menjadi panitia dalam acara tersebut. Hanya sebatas peserta dan panitialah yang kami jalankan dalam acara tersebut. Tak terbayangkan akan mendapatkan hal lebih sebagai bonus dalam kepanitiaan ini. Dalam benak hanya terpikir bagaimana acara ini lancar dan sukses. Sebagai panitia memuaskan peserta dan melayani dengan sepenuh hati adalah hal mutlak yang harus dilakukan panitia untuk pesertanya.
Malam pertama dengan suasana penuh keakraban kami lewati makan malam dengan istilah dinner bersama seluruh panitia dan peserta. Canda tawa turut mewarnai malam usai makan malam. Tak lupa ritual anak muda jaman sekarang yang selalu dilakukan dalam setiap kegiatan menjadi pelengkap keakraban malam itu. Eksen di depan kamera yang biasa disebut foto-foto adalah hal yang tak bisa dilupakan anak muda jaman sekarang terutama dalam sebuah moment tertentu. Dalam luang nya waktu kami manfaatkan untuk saling tegur sapa, bersenda gurau dan kembali saling mengenal, menjalin keakraban dengan peserta. Entah sebuah kebetulan ataukah rencana Tuhan yang menjadikan aku dan Bony memperbicangkan hal dengan begitu akrab. Padahal tidak pernah sebelumnya kami saling kenal, namun kami merasa perbincangan ini adalah hal tepat untuk mengisi kekosongan agenda malam tersebut. Perbincangan tak berlangsung lama, peserta kembali melanjutkan agendanya meskipun hanya agenda yang tak terduga.
***
Pagi buta kembali menjadi panitia yang harus siap siaga membantu peserta dalam memulai aktivitas, termasuk membangunkan juru kunci yang tengah terlelap dalam mimpinya untuk membuka pintu. Kesibukan panitia dalam mempersiapkan agenda berikutnya diiringi kesibukan peserta untuk mempersiapkan diri untuk mengikuti agenda seharian, cukup menyita waktu hingga mengabaikan perbincangan semalam. Namun tak begitu menjadi masalah untukku karena memang aku hanya menganggap sebagai sebuah perbincangan tak berarti dalam sebuah forum kecil antara peserta dan panitia. Dan lupakanlah.
Agenda berikutnya setelah menyantap makan pagi adalah mengikuti sebuah forum nasional yang bertempat tidak jauh dari penginapan. Dengan segala persiapan yang telah diusahakan panitia kami telah memberikan fasilitas untuk peserta dalam menempuh perjalanan menuju lokasi. Tak lupa lagi ritual anak muda untuk berfoto-foto dilakukan di lokasi dimana forum tersebut dilakukan. Kami panitia cukup menghadapi dengan senyum meskipun sebenarnya pengkondisian peserta harus segera dilakukan.
Forum nasional berjalan sebagaimana yang telah dirancang jauh-jauh hari oleh segenap panitia. Forum tersebut berakhir dengan segala ekspresi keceriaan dan kepuasan tersendiri dari pihak panitia. Dan tibalah peranku kini dibutuhkan untuk melayani peserta, membagikan makan siang adalah peranku untuk melayani peserta. Dengan penuh senyum kubagi makan siang kepada peserta, dan tak kuduga sapaan dari Bony menyita beberapa detik perhatianku. “Luluk mari, kamu juga makan”, kalimat sederhana yang masih ku anggap sebagai perhatian sebagai seorang peserta terhadap panitia. Hanya senyum yang ku sunggingkan untuk merespon kalimat tersebut, karena akupun tersadar tidak ada jatah makan siang untuk panitia siang itu.
Perpindahan lokasi kegiatan menuju sebuah gedung yang tak asing bagiku, tempat dimana aku menuntut ilmu sehari-hari. Sebuah forum kecil yang kami namai diskusi menjadi kelanjutan agenda hari itu, dan tiba saatnya sholat ashar, berhubung tepat yang masing asing bagi peserta kami dari panitia siap untuk mengantarkannya, dan kebetulan Bony memintaku untuk mengantarkannya. Berhubung mau tidak mau aku harus menjadi panitia yang mau melayani peserta, aku mengantarkan gerombolan Bony menuju Mushola dan menungguinya hingga kembali lagi dalam ruangan semula. Dalam agenda selanjutnya adalah keliling mengenal tempat sekitar dan kembali lagi peran panitia sangat dibutuhkan untuk ikut mendampingi peserta jalan-jalan.
Ketika mentari telah menghilang bertukar tempat dengan rembulan yang menggantikan cahayanya untuk menerangi kami partisipan acara yang tak kenal lelah. Makan malam dalam suasana hangat kembali hadir dalam ruangan tersebut, suasana keakraban penuh senda gurau kembali tercipta dalam cerahnya malam itu. Agenda selanjutnya adalah menikmati alunan melodi yang tercipta dari jemari-jemari kreatif persembahan anak bangsa dalam pekat malam dengan cahaya manis dari sang rembulan. Namun persembahan tidak bisa dinikmati sampai akhir, karena peserta harus kembali ke penginapan mengingat masih terdapat agenda yang cukup melelahkan dihari esok.
***
Dihari terakhir kami panitia dan peserta membaur menghabiskan hari kami dalam perjalanan wisata sederhana. Rasa bahagia tak terelakkan dalam raut muka baik panitia maupun peserta, semua kebersamaan singkat akan berakhir dihari itu. Tapi cukup membuat kami tenang dengan tetap menjaga komunikasi antar sesama peserta dan panitia. Malam penuh keakraban, penuh senda gurau, dan celotehan konyol akan hilang dalam hari perpisahan itu. Cukup berat memang berpisah dengan sahabat yang baru saja kami temui dalam sebuah acara tak terduga ini. Namun perpisahan kami akhiri dengan salam persahabatan, salam persaudaraan, serta senyum yang mengiringi perpisahan ini. Lambaian tangan pertanda pasti akan bertemu lagi dilain kesempatan kami lambaikan dari panitia kepada peserta dalam perjalanan pulangnya.
***
Hari-hari pasca acara telah berlalu bersama bayang-bayang kebersamaan penuh kekeluargaan antar panitia dan peserta. Tiba-tiba sinyal komunikasiku dengan Bony berlanjut. Entah radar apa yang mampu menghubungkan aku dengan Bony dalam sebuah komunikasi meskipun hanya sekedar pesan singkat. Aku tak pernah mengartikan hal itu sebagai sesuatu yang lebih, hanya berpikir kelanjutan silaturahmi pasca acara, karena memang sesungguhnya memang tidak hanya Bony yang menghubungiku. Komunikasi bertahan cukup singkat, hanya dalam beberapa hari saja. Namun aku masih merasa tidak ada masalah.
Setelah sekian lama komunikasi terputus, tiba-tiba Bony menghubungiku lagi. Lebih intesif dalam berkomunikasi, lebih dari sekedar silaturahmi pasca acara semata. Tapi mungkin itu hanya perasaanku saja. Namun semakin kesini semakin jelas arah dan maksud tujuan dari komunikasi ini. Semakin lama rasa berharap ini semakin menjadi-jadi, entah pertanda apa yang terjadi pada hati ini. Yang nyatanya akupun tak mampu mendiskripsikan apa yang kurasakan saat ini. Aku merasa telah terbang bersama harapan-harapan yang entah apakah itu harapan kosong atau apa. Yang jelas akupun tak mampu menjelaskan harapan apa yang aku maksud itu. Ketika bayang sosok Bony selalu hadir, ada hal yang aku sendiri sulit untuk menyebutnya, namun yang jelas ada hal yang berbeda dengan diriku saat ini. Entah perbedaan apa yang aku maksud.

Namun semakin aku terbang bersama harapan-harapan semakin terlihat kenyataan-kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang berada dalam imajiku selama ini. Ketika terbang bersama harapan, kenyataan perih itu muncul hingga menjatuhkanku menghempaskanku tanpa memikirkan betapa sakitnya jatuh dalam kenyataan yang menyakitkan bernama kenyataan. Sempat berpikir berkali-kali jika aku belum terbangun dari mimpiku, namun berkali-kali juga kenyataan itu menyakinkanku bahwa ini adalah kenyataan, meski menyakitkan semua harus kuterima. Semua perjalanan hidup pasti ada resikonya, termasuk terjerumus dalam lubang sakit penuh pilu yang kini kurasakan. Karena dalam perjalanan pasti ada catatan-catatan untuk dibuka kembali dimasa mendatang. Catatan yang tersimpan rapi dalam sebuah buku harian diary bernama hati. 

Minggu, 15 Desember 2013

PERLU TANGIS UNTUK TERSENYUM

PERLU TANGIS UNTUK TERSENYUM
Aku adalah Maya, anak yang terlahir dari Rahim seorang wanita special dalam hidup. Wanita tegar yang mampu menghidupiku selama belasan tahun dengan tulang punggungnya sendiri, dengan tekad demi putrinya. Aku memang satu- satunya alasan dalam benaknya untuk terus bertahan dalam gerusan kejamnya dunia.
Caci maki serta cibiran tak henti mengalir untuknya mengiringi perjalanan hidupnya selama ini. Penderitaan Ibu memang tak berhenti pada beban hidup yang harus dipikul selama ini sendirian. Beban mental yang selama ini hanya tertahan dalam sunggingan senyum yang selalu beliau rekahkan dalam balutan wajah mungilnya.
Tak kenal lelah untuk berjuang demi aku, meski banyak yang harus dikorbankan untuk kenikmatan orang lain. Malam disulap siang, waktu dimana Ibu harus bertaruh malu merelakan raga dan martabatnya untuk sesuap nasi sarapan pagiku.  Membiarkan kesuciannya direnggut pria hidung belang hanya dengan beberapa lembar bernilai rupiah. Namun itu satu-satunya pekerjaan yang dianggap Ibu yang bisa beliau lakukan, dalam rangka pemenuhan hidupku dan hidupnya sendiri.
Menyakitkan memang setelah realita mengungkapkan bahwa aku terlahir tanpa identitas ayah yang jelas. Aku adalah korban kenakalan pria tak bertanggung jawab yang memberikan beban pada Ibu.
Pil pahit kehidupan harus Ibu telan kembali. Beban hidup atas aku belum kunjung menemui solusi, kembali Ibu harus merasakan derita ketika cacian menghantui hidupnya, mengiringi langkah kaki kemana Ibu melangkah. Tak tega hati ini melihat realita berbicara, ingin rasanya membungkam dunia untuk memberikan penjelasan bahwa Ibuku tak seperti yang kalian nilai, Ibuku tak sekotor yang kalian lihat dan Ibuku tak sehina yang kalian pandang.
Cercaan tak hanya untuk Ibu tetapi akupun harus mendengar kata- kata yang menyakitkan dari beberapa kawanku sekolah. Ingin rasanya berteriak sekeras- kerasnya untuk mereka, agar membuka mata melihat realita kehidupan yang kejam, tak hanya tersenyum lebar menikmati berlimpah rupiah di gedongan indah, karena terlahir dari keluarga kaya. Namun Ibu selalu menahanku dan selalu mengatakan, “Maya, cacian orang diluar sana jadikan itu cambukan untuk kamu sukses, jangan ikuti jejak kelam Ibumu. Ibu yakin putriku akan membawa Ibu keluar dari lubang hitam yang menjerumuskan ini, Ibu hanya menunggu waktu itu tiba”; ketika butir- butir pesan itu terucap hanya air mata yang bisa menjadi respon. Tak sepatah kata mampu memberikan jawaban akan pesan itu. Namun aku bertekad tak akan aku biarkan Ibu tenggelam dalam lubang hitam ini untuk waktu yang lebih lama lagi.
Rupiah hasil kerja keras Ibu mengantarkanku menjadi sarjana muda. Tekad bulat dan ketangguhan menghadapi tantangan, menjadi motivasiku untuk segera bangkit dalam keterpurukan hidup yang selama ini membebani Ibu. Kata- kata mutiara Ibu yang selalu terucap dalam setiap langkah perjuanganku menjadi sebuah motto hidup yang harus segera aku wujudkan. Tak ingin mengecewakan bidadari utusan Tuhan yang rela mempertaruhkan jiwa raganya untuk seorang anak malang tanpa pertanggungjawaban seperti aku ini. Seolah ingin membalas semua yang telah beliau berikan, namun aku sadar tak ada materi yang bernilai rupiah tinggi, apapun wujudnya yang mampu menggantikan seluruh pengorbanan Ibu untukku. Hanya kata terima kasih yang mampu terucap ketika langkah kaki mendampingiku menjadi seorang sarjana muda dengan predikat cumlaude. Sujud syukur dalam kaki beliau menjadi ungkapan mengharukan dalam panggung penghargaan waktu itu. Air mata tak henti mengalir mengiringi kebahagiaan yang menghampiri.
Dalam bahagia kelulusan, terselip bahagia ganda ketika aku diterima sebagai PNS, telah banyak planning dalam benak untuk merancang kebahagiaan dimasa mendatang. Bangkit dari keterpurukan hidup dan meninggalkan lubang hitam penuh jejak kelam telah terwujud. Kami mencoba merajut bahagia dalam sebuah istana mungil hasil jerih payah kami berdua.

Tak selamanya apa yang dilihat kasat mata adalah benar, tak selamanya melakukan perbuatan salah adalah kotor. Karena hidup tak selalu mulus perlu jalan kelam untuk menuju terang. Perlu cacian untuk menjadi cambukan. Dan perlu tangis untuk tersenyum.

TINTA LARA

TINTA LARA 

Tergores indah dalam lembar kertas putih
Terrangkai manis dalam sebuah memori
Berawal dari huruf menjadi kata
Perlahan kata menjadi sebuah kalimat
Melukiskan siluet hati yang mulai memudar
            Kabur perlahan menghilang dari pelupuk mata
            Bayang keindahan menjadi bias semata
            Hingga hatipun tak mampu untuk peka
Kini jemari mulai meliuk-liuk menari
Menerjemahkan isi pilunya hati
Sebuah goresan dengan setitik tinta
Yang berujung pedih dan lara
                        Warna-warni goresan tak lagi menghiasi
                        Indahnya seni tak mampu ternikmati
                        Oleh hati yang perlahan teriris sepi
                        Hingga diri ini tak mungkin beranjak pergi
Tinta lara yang mampu bicara
Mengungkap semua realita yang ada
Menegaskan bahwa cinta tak selalu sempurna
Karena dia telah menjadi milik-Nya
Diam bertahan kuatkan diri
Berjuang melawan gemuruh gejolaknya hati
Tak terhitung berapa kali merintih
Menikmati sakit yang tak bertepi
Goresan tinta dalam lembar putih
Bersinergi indah dalam simfoni
Berbisik dalam kesunyian malam
Menggantungkan harap dalam diam
Tersadar tak ada lagi kata dalam untaian

Hanya sebaris doa yang bisa kulantunkan