Entah apa yang ada dalam pikiran Bony, mungkin menyakiti
hatiku ini adalah misi yang akan diberikan untukku, tanpa mempedulikan seberapa
besar sayangku untuk Bony. Mungkin Bony cukup puas dengan apa yang Bony lakukan
untuk ku. Dalam keadaan seperti ini aku tak mengerti kenapa perasaanku tak
berubah sedikitpun terhadap Bony, entah apa yang ada pada diri Bony hingga
membuat rasa sayang ini tak kunjung pudar meskipun penuh dengan pengkhianatan.
Aku sadar awal kehadiran memang tidak tepat, Bony masih menjalin hubungan
dengan Vani, yang dibilang hanya teman. Namun keraguanku semakin kuat, dan setelah
aku mencari tahu dari beberapa sumber, memang benar jika Vani adalah bukan sekedar
teman lama, tetapi mantan kekasihnya. Kini kebersamaan Bony bersama Vani jauh
lebih dekat dibandingkan dulu saat Bony baru mengenalku. Keakraban terjalin
lebih intensif dibandingkan denganku. Bahkan dalam sebuah acara secara khusus
Vani hadir dalam acara tersebut, untuk membantu mensukseskan acara yang
dipanitiai Bony, dengan berpartisipasi menjadi peserta. Sungguh sakit hati ini
ketika harus melihat realita dibalik bualan-bulanan semu dari Bony. Entah aku
harus menyebut apa hubungan yang kami jalani ini. Belum ada kata resmi putus,
namun tidak pernah ada komunikasi diantara kami lagi, tidak pernah ada
perhatian yang diberikan Bony untukku lagi. Mungkin Bony telah sibuk membenahi
hubungan lamanya bersama Vani yang jelas memiliki kelebihan yang lebih dibanding
aku. Aku menerima realita ini meski tak bisa membohongi hati kalau ternyata
perih melihat senyum bahagia Bony berada disamping Vani. Meskipun itu kutahu
hanya lewat dunia maya. Namun semuanya sudah jelas tak perlu ada penjelasan aku
sudah mampu mengartikan semua ini. Bagi Bony aku hanya diposisikan sebagai
pengganti dikala Vani sibuk dengan kesibukannya. Aku hanya diperlukan untuk
memberi perhatian kepada Bony ketika hal itu tidak didapatkannya dari Vani.
Berkaca dari luka yang lalu, ternyata semua itu benar, dan entah aku sudah
menyadari itu, tapi mengapa perasaan ini tidak berubah. Ada sebuah keyakinan
yang aku sendiri tidak bisa mendiskripsikan dalam sebuah kata-kata. Hanya perasaan
ini yang bisa merasakan keyakinan itu. Betapa bodohnya aku masih saja
mempertahankan perasaan ketika realita tak mampu dijangkau logika. Air mata ini
yang mampu melukiskan betapa perih hati ini ketika semua yang dilakukan Bony
termampang nyata dalam sebuah dunia maya.
***
Andai aku bisa memutar kembali waktu, ingin aku percaya pada
awal keraguanku saat menerima Bony sebagai pacarku. Mungkin egoku yang lebih
menguasai perasaanku hingga kini aku terjerumus dalam lubang perih yang sama.
Dengan luka yang sama oleh orang yang sama. Begitukah seorang Bony yang sesungguhnya?,
dibalik segala kelebihan Bony yang selama ini ada di depan mataku, ada hal yang
tak terduga. Kenapa Bony tega melakukan hal ini kepadaku? Apa maksud dari semua
ini? Bukankah Bony yang mengawali adanya hubungan ini? Bukankah Bony yang menyatakan
ketertarikannya padaku diawal kita berkomunikasi? Apa arti semua ini? Jika
hanya luka yang kau beri selama ini.
Mungkin sekarang ketika Vani datang dalam kehidupan Bony,
aku menjadi tiada artinya lagi bagi Bony. Aku hanya sebagai pelengkap hidup
yang suatu saat dibuang karena sudah ada yang lain. Dan saat dimana aku dibuang
karena sudah ada yang lain adalah saat ini saat dimana Vani hadir kembali mewarnai
hidup Bony, mungkin dengan warna yang lebih indah hingga Bony lupa akan diriku.
Berkali-kali aku menguatkan hati ini, untuk selalu tegar, untuk selalu kuat
dalam menjalani ini, namun berkali-kali juga hati ini menangis berkali-kali
juga mata ini tak mampu menahan aliran air mata yang menggambarkan aku yang sebenarnya.
Sungguh ingin sekali rasanya kau mengungkapkan hal ini pada Bony, aku ingin
mengatakan betapa perihnya hati ini pada Bony. Aku hanya ingin sebuah kepastian,
jika memang Bony tidak bisa membalas sayangku untuknya aku rela, tapi aku ingin
memohon kepada Bony untuk memberi kepastian ini semua. Aku rela jika aku harus
melepaskan Bony kembali dalam pelukan Vani, asalkan Bony tetap bahagia. Aku
akan lebih rela mebiarkan sayang ini tumbuh tak berbalas dihati ini tanpa ada
pengkhianatan dibalik semua ini.
Aku memang orang yang tak pandai mengkondisikan hati, namun
bagaimana caranya aku bisa mengkondisikan hatiku agar stabil jika banyak hal
yang membuat hati ini menjadi tidak stabil. Banyak luka yang tergores dihati
ini namun, bukannya disembuhkan tapi justru semakin disakiti. Bony yang hadir
kembali dengan sikap yang lebih baik, aku pikir mampu menyembuhkan luka yang ia
goreskan dulu, namun nyatanya bukannya disembuhkan tapi justru dia goreskan
kembali luka yang lebih sakit, lebih perih di hati ini. Mungkin kehadiranku ini
salah bagi Bony, kehadiranku justru memberikan pengaruh negatif bagi Bony, tapi
jika memang begitu kenapa Bony memberikan respon dan perhatian lebih kepadaku?
Andai aku bisa tahu apa yang sebenarnya ada dihati Bony, bagaimana perasaannya
terhadapku, dan banyak pertanyaan yang ingin aku lontarkan kepada Bony, namun sekali
lagi hanya air mata yang tak henti mengalir bersama tanda tanya ini.
Hari-hari kulewati dengan segala sepinya hati, namun kucoba
tersenyum meskipun dibalik senyuman aku menyimpan luka yang dalam. Bahkan
pelukis luka hatinya pun tak memiliki kepekaan akan hal ini. Aku bukanlah tipe
orang yang bersikap murung ketika menghadapi masalah dihadapan teman-teman.
Canda tawa teman-teman mampu membuatku tertawa lepas, sehingga setidaknya mampu
mengurangi sedikit beban hati ini. Kulewati hari-hari ini dengan canda bersama
teman, penuh dengan keceriaan. Dan perlahan kucoba lupakan apa yang telah
kualami saat ini. Tidak ada yang tahu apa yang kurasa saat ini, hanya aku, dan
perasaanku yang tahu apa yang kurasa saat ini. Aku menyimpan sakit ini dengan
rapi.
***
Tanpa menunggu kata resmi putus dari Bony, aku anggap semua
hubungan ini sudah menjadi bagian dari masa lalu. Aku ingin menata hatiku
kembali yang telah pecah berkeping-keping. Aku ingin mengobati hatiku yang
terluka. Aku bosan menahan rasa sakit dan perih ini. Aku lelah menanti harapan
kosong dari Bony. Aku ingin terbang bersama harapan-harapan baru. Aku ingin
menggapai semua harapan bersama orang yang mampu menyayangi aku dengan tulus
bukan dengan penkhianatan. Aku ingin merajut harapan itu kembali dengan orang
yang mampu meyakinkan aku bahwa dia mampu menyembuhkan luka ku. Mampu menutup
luka, mampu menata kembali kepingan hati ini dan mampu membiarkan hati ini
menikmati bahagia yang nyata bukan bahagia semu yang hanya meninggalkan luka
dihati.
Teruntuk Bony, terima kasih atas semua yang kau beri padaku.
Terima kasih telah menyempatkan diri untuk memberi perhatian yang lebih
untukku, terima kasih untuk semua hal yang telah kau berikan untukku. Terima kasih
juga untuk semua goresan luka yang kau lukis dihatiku. Aku tak membencimu, aku
hanya berterima kasih, karena dengan goresan luka ini semakin membuka mataku
bagaimana kamu yang sebenarnya, Bony dengan segala kelebihannya yang mampu
memberikan kecewa dan luka yang tak terkira. Aku tidak akan membencimu karena
aku tidak bisa membohongi diriku bahwa sesungguhnya perasaan ini belum berubah,
sayang ini masih tulus untukmu, namun aku akan lebih rela sayang ini tak
terbalas jika hanya akan menimbulkan luka yang semakin dalam. Thanks a lot for
All.
Aku ingin terbang dengan harapan-harapan baru bersama orang
yang memang mau tulus padaku bukan dengan bualan-bualan semu. Bualan yang hanya
melukis luka, bualan yang hanya memberi harap semata, namun berbeda dengan
realita yang senyatanya. Selamat berbahagia bersama orang yang kau pilih,
jangan lagi kau melukis luka ditempat yang sama kepada orang yang berbeda. Asal
kamu tau goresan luka ini aku selalu terpatri ditempat yang bernama hati.
***




