LINGKARAN SETAN HATIKU
Pada titik keraguan ini aku mencoba meyakinkan hatiku. Meyakinkan
bahwa apapun yang terjadi aku harus menentukan langkah, harus memberikan
keputusan baik kepada Sinar maupun kepada Bony. Aku tidak ingin terkesan aku
menggantungkan mereka, namun apapun keputusan yang aku ambil berharap akan
menjadi keputusan yang memang terbaik untuk semuanya, untukku, Sinar, Bony dan
semuanya. Berharap keputusanku nanti dapat diterima oleh semua pihak pula. Aku tak
ingin tindakanku nanti akan menimbulkan sebuah masalah baru yang akan
memperkeruh suasana hatiku dan hati mereka. Yang jelas aku akan merasa bersalah
ketika keputusanku nanti hanya akan menjadi sebuah keputusan penghalang. Penghalangku
untuk move on, penghalangku untuk
tetap melangkah, penghalang hubungan komunikasiku baik dengan Sinar maupun
Bony, dan penghalang bagi kelangsungan hubungan diantara kami kedepan.
Terlepas dari semua harapan yang aku inginkan itu ada hal
yang tak lupa ingin kusampaikan diawal kepada mereka. Namun aku tak kuasa untuk
mempertemukan keduanya untuk duduk bersama, membangun sebuah komunikasi dalam
sebuah cengkrama sore. Aku merasa perlu mempertemukan Sinar dan Bony dalam
waktu dekat ini. Hal itu ingin aku lakukan karena ingin memberikan pemahaman
kepada Bony bahwa selama ini sosok Sinarlah yang selalu hadir menemani
kesedihanku. Sinar yang berperan penting hingga aku mampu dengan lapang dada
menerima semua yang dilakukan Bony. Namun aku juga perlu menunjukkan siapa Bony
sebenarnya kepada Sinar. Bony yang menjadikan hatiku sakit, dan menjadikanku
terjebak dalam suasana keraguan seperti ini. Sinar perlu tahu siapa Bony yang
selama ini menjadi tokoh utama perbincangan dalam curahan hatiku kepada Sinar. Namun
keinginan itu tak kunjung aku lakukan, aku masih takut untuk mempertemukan
mereka, aku masih ingin menjaga perasaan baik Sinar maupun Bony. Tapi langkah
awal yang ingin aku lakukan belum terlaksana menjadikanku semakin berada pada
kebimbangan yang tak terkira. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?
***
Malam ini, malam sabtu, minggu kedua untuk bulan ini, ya
bulan penuh kasih sayang bagi segelintir orang, karena bulan ini adalah bulan
februari yang identik sekali dengan valentine.
Entah apa makna sebenarnya dari sebuah hari valentine
yang menjadi hari special bagi
sebagian orang yang menjalin hubungan special.
Oke kembali lagi, pada malam sabtu ini Sinar kembali melakoni rutinitasnya
sebagai teman semalamku, teman telpon semalam suntuk lebih tepatnya. Sinar
kembali menelponku, tapi kali ini dengan suasana yang berbeda, suasana yang
agak canggung dan aneh. Entah keanehan apa yang terjadi diantara aku dan Sinar,
ada hal yang sulit tergambarkan dalam sebuah kata-kata mengapa ada kecanggungan
yang tidak biasa ini hadir dalam percakapanku dengan Sinar. Sapaan serta
celetukan komunikatif antara dua sahabat dekat yang selalu hadir dalam percakapan
kami tiba-tiba tidak tercipta sama sekali dalam percakapan telepon malam itu. Percakapan
kita mendadak menjadi percakapan garing
yang menjadi sangat aneh kedengarannya. Sinar yang biasanya lancar bercerita
tentang ini itu, mendadak menjadi terkesan speechless,
mungkin Sinar tidak punya bahan cerita yang matang yang akan diceritakan
kepadaku, karena memang aku sudah tahu hal yang sebenarnya.
Selain itu aku merasa Sinar tahu bahwa Bony sosok lelaki
yang pernah singgah dihatiku kini hadir kembali. Meskipun aku belum
menceritakan hal itu kepada Sinar, mungkin dia tahu dari semua pernyataanku
serta semua curahanku dalam sebuah sosial mediaku. Ya aku memiliki sebuah blog
tempat dimana aku mencurahkan semua hal yang terjadi padaku, entah cerita itu
fiksi ataupun non fiksi. Namun bukan Sinar, jika tidak mengetahui mana cerita
yang fiksi mana yang non fiksi yang kutulis diblog. Karena Sinar tahu persis
bagaimana tipe cerita fiksiku maupun cerita non fiksiku. Selain itu mungkin
Sinar merupakan pengamat sosial media yang amat kritis, apalagi terhadap akunku,
maklum selain menjadi tugasnya sebagai mahasiswa Psikologi yang harus mengamati
kepribadian seseorang melalui akun sosial media, mengamati akun sosial media
memang menjadi salah satu sumber informasi akurat untuk tahu apa yang sedang
seseorang rasakan, terutama aku.
Mungkin dengan kembalinya Bony yang diketahui Sinar
menjadikan percakapan kami menjadi aneh, penuh dengan kecanggungan. Dan ternyata
pikiranku tentang hal itu benar. Tepat pada pukul 21.00 WIB malam itu tepat
disaat Sinar akan mengakhiri percakapan Sinar menanyakan suatu hal. Hal yang
dirasa penting bagi Sinar, dengan nada percakapan yang serius Sinar mulai
menanyakan hal itu.
“Luk, bolehkah aku Tanya sesuatu?”
“Boleh, kok Tanya aja, hehe..”
“Cowok yang melukis luka dihatimu kembali hadir ya? Iya maksudku
Bony sekarang hadir dikehidupanmu lagi ya? Kok kamu gak cerita lagi? Wah maen
rahasia yaahh hehe..”
“Ehh bukan begitu, Sinar.. aku pengen cerita sebenarnya tapi
kamu sih gak pernah ajak aku maen lagi, jadi belum sempet cerita deh, hehehe..”
“Luk, aku tahu kok kamu masih sayang sama Bony, aku tahu
juga mungkin kamu belum bisa buka hati kamu untuk orang lain termasuk aku, tapi
tenanglah tidak perlu kamu pikirkan aku, cukup kamu mempedulikan perasaan dan
hatimu saja. Luk, jika hatimu memilih Bony karena aku tahu memang sayangmu
kepada Bony memang sayang yang tulus, jadi tidak mudah bagi kamu untuk lepas
dari bayang Bony dalam waktu yang singkat. Aku rela, aku akan lebih ikhlas kamu
bahagia bersama orang lain yang benar-benar kamu sayang, bukan dengan aku yang
belum tentu mampu menyayangimu sebesar sayangmu kepada Bony. Aku akan mundur
teratur perlahan menjauh dari kehidupan hatimu bersama Bony. Tentukan langkahmu
sesuai kata hatimu. Yakinlah semua akan baik-baik saja, Luk. Dan kamu tak perlu
ragu untuk memilih, jika kamu akan kembali pada Bony aku akan tetap
mendukungmu, bahkan aku tidak akan pernah menutup kemungkinan untuk kamu bisa
curhat lagi kepadaku. Kita akan tetap menjadi sahabat selamanya, tidak pernah
ada kata mantan sahabat. Hehe.. oke Luk?”
Air mata ini tak mampu tertahan lagi, hingga perlahan
menetes butir demi butir membasahi pipi ini. Tak mampu mengeluarkan kata-kata
yang mampu merespon pertanyaan Sinar itu. Rasa bersalah tiba-tiba datang menyelimuti
keraguanku, menyelimuti semua perasaanku yang carut marut. Entah apa yang harus
aku lakukan dengan pernyataan Sinar itu, hanya isak tangis yang mungkin
terdengar disudut telepon. Malam semakin terdengar hening ketika percakapan
tiba-tiba terhenti dengan pernyataan Sinar, dan isak tangisku yang tak
tertahankan.
“Luk? Kamu nangis? Kenapa? Ayolah kamu cerita, kenapa kamu
nangis gini? Apa aku salah ngomong? Atau aku melakukan kesalahan apa? Please jangan buat aku semakin merasa
bersalah karena membuatmu menangis seperti ini, tapi aku juga tidak tahu
alasannya kenapa kamu menangis, Luk?”
Dengan terbata-bata dan selingan isak tangis mulai aku
mengeluarkan kata-kata “Enggak kok, aku nangis karena aku merasa tidak enak
hati dengan kamu Sinar. Kamu sudah sangat baik sekali kepadaku, kamu selalu ada
untukku baik senang maupun sedih. Tapi justru aku yang seolah tidak tahu terima
kasih, aku hanya menganggapmu sebagai sahabat, ketika kamu telah memiliki
perasaan yang lebih dari seorang sahabat kepadaku. Aku mohon maaf kepadamu
Sinar, jika selama ini aku tidak peka dengan semua perhatianmu kepadaku, bukan
bermaksud untuk mengabaikan semua perasaanmu kepadaku, hanya saja aku takut,
aku takut untuk memulai. Sekalipun nanti aku memilih kembali kepada Bony, itu
bukan berarti kamu tidak lebih baik, justru kamu adalah sahabat yang baik, tak
pernah menemukan sahabat sepertimu Sinar. Kamu akan selalu menjadi sahabatku
selamanya”
“Iya Luk, tenang saja hilangkan semua rasa bersalahmu, tidak
ada yang salah dalam hal perasaan, tidak ada yang salah dalam hal hati. Sayang yang
tulus itu akan muncul dengan sendirinya tanpa perlu dikomando. Aku akan turut
bahagia seiring kebahagiaanmu juga, sahabat mana yang tidak bahagia ketika
sahabatnya bahagia, termasuk aku sebagai sahabatmu, Luk. Sudah sekarang hapus
air matamu, sudah jangan menangis lagi, senyum akan membawamu menuju hal yang
lebih baik. Semoga kamu bisa segera memutuskan dan memilih keputusan yang akan
kamu jalankan. Ayolah, mana senyumnya, anak manis tidak boleh cemberut begitu..
hehe”
“Hehe.. terima kasih ya Sinar, kamu memang sahabat yang
pengertian sahabat yang luar biasa, doakan saja ya, aku mampu memilih keputusan
yang benar-benar tepat dan terbaik untuk semuanya, hehehe..”
“Nha.. kalo senyum gitu kan jadi tambah manis, ahhaha…
okedeh aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu Luluk.., yaudah ini sudah
jam 21.30 WIB, waktunya tepat sekali, tepat untuk mengakhiri telpon ini hehe..
selamat tidur Luluk mimpi indah, cepet dapet pencerahan hahaha..”
“Hehe.. okedeh, selamat tidur juga Sinar”
“Oke, aku matiin yaahh.. Assalamualaikum..”
“Okesip, Waalaikumsalam..”
Tttuuutttt. Akhir dari percakapan malam itu. Rasa bersalahku
kepada Sinar tak kunjung menuai jalan terang. Merasa sakit hati sendiri ketika
mengingat apa yang aku lakukan kepada Sinar. Sinar yang begitu baik kepadaku.
Sinar terlalu baik ketika harus menerima semua yang aku lakukan kepadanya.
***
Akan sangat bersalahnya aku ketika aku mengambil langkah
dalam waktu dekat ini. Selain langkah yang aku ambil tentu langkah yang masih
penuh dengan keraguan, tapi juga langkah yang hanya memikirkan satu pihak,
sehingga pihak lain merasa dirugikan. Sulit memang berada dalam posisi yang
seperti ini, posisi yang cukup membuatku merasa dilema dengan semuanya. Pertanyaan
klasik kembali hadir, aku harus bagaimana? Selalu itu yang muncul dalam
benakku. Aku ingin melangkah untuk mengakhiri masa dilema ini. Sudah cukup lama
berada dititik keraguan ini. Aku ingin bangkit dari titik ini, ingin keluar
dari pusaran keraguan, keluar dari zona ragu yang benar-benar membuatku berada
dalam dilema.
Apa yang aku tentukan? Langkah apa yang harus aku jalankan? Aku
menghargai semua yang dilakukan Sinar, tapi apa daya hatiku masih memiliki rasa
sayang kepada Bony. Tapi kembali lagi hatiku masih ragu untuk memulai hubungan.
Semakin pelik keraguan ini, hanya berada dalam satu lingkaran setan yang
menjebakku untuk tetap berada dalam keraguan. Bagaimana caranya aku terbebas
dari lingkaran itu, jika hati ini tak mau terbebas, justru hatiku sendiri yang
menciptakan lingkaran yang menjebakku sendiri. Ya memang bisa dikatankan
seperti itu. Lingkaran setan hatiku menjadikan semua menjadi semakin rumit,
semakin sulit ditarik benang merahnya. Lagi-lagi aku menemui masalah yang tak
kunjung menemui titik terang. Semuanya karena lingkaran setan hatiku.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar