Kamis, 23 Januari 2014

LINGKARAN SETAN HATIKU #8



LINGKARAN SETAN HATIKU
Pada titik keraguan ini aku mencoba meyakinkan hatiku. Meyakinkan bahwa apapun yang terjadi aku harus menentukan langkah, harus memberikan keputusan baik kepada Sinar maupun kepada Bony. Aku tidak ingin terkesan aku menggantungkan mereka, namun apapun keputusan yang aku ambil berharap akan menjadi keputusan yang memang terbaik untuk semuanya, untukku, Sinar, Bony dan semuanya. Berharap keputusanku nanti dapat diterima oleh semua pihak pula. Aku tak ingin tindakanku nanti akan menimbulkan sebuah masalah baru yang akan memperkeruh suasana hatiku dan hati mereka. Yang jelas aku akan merasa bersalah ketika keputusanku nanti hanya akan menjadi sebuah keputusan penghalang. Penghalangku untuk move on, penghalangku untuk tetap melangkah, penghalang hubungan komunikasiku baik dengan Sinar maupun Bony, dan penghalang bagi kelangsungan hubungan diantara kami kedepan.
Terlepas dari semua harapan yang aku inginkan itu ada hal yang tak lupa ingin kusampaikan diawal kepada mereka. Namun aku tak kuasa untuk mempertemukan keduanya untuk duduk bersama, membangun sebuah komunikasi dalam sebuah cengkrama sore. Aku merasa perlu mempertemukan Sinar dan Bony dalam waktu dekat ini. Hal itu ingin aku lakukan karena ingin memberikan pemahaman kepada Bony bahwa selama ini sosok Sinarlah yang selalu hadir menemani kesedihanku. Sinar yang berperan penting hingga aku mampu dengan lapang dada menerima semua yang dilakukan Bony. Namun aku juga perlu menunjukkan siapa Bony sebenarnya kepada Sinar. Bony yang menjadikan hatiku sakit, dan menjadikanku terjebak dalam suasana keraguan seperti ini. Sinar perlu tahu siapa Bony yang selama ini menjadi tokoh utama perbincangan dalam curahan hatiku kepada Sinar. Namun keinginan itu tak kunjung aku lakukan, aku masih takut untuk mempertemukan mereka, aku masih ingin menjaga perasaan baik Sinar maupun Bony. Tapi langkah awal yang ingin aku lakukan belum terlaksana menjadikanku semakin berada pada kebimbangan yang tak terkira. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?
***
Malam ini, malam sabtu, minggu kedua untuk bulan ini, ya bulan penuh kasih sayang bagi segelintir orang, karena bulan ini adalah bulan februari yang identik sekali dengan valentine. Entah apa makna sebenarnya dari sebuah hari valentine yang menjadi hari special bagi sebagian orang yang menjalin hubungan special. Oke kembali lagi, pada malam sabtu ini Sinar kembali melakoni rutinitasnya sebagai teman semalamku, teman telpon semalam suntuk lebih tepatnya. Sinar kembali menelponku, tapi kali ini dengan suasana yang berbeda, suasana yang agak canggung dan aneh. Entah keanehan apa yang terjadi diantara aku dan Sinar, ada hal yang sulit tergambarkan dalam sebuah kata-kata mengapa ada kecanggungan yang tidak biasa ini hadir dalam percakapanku dengan Sinar. Sapaan serta celetukan komunikatif antara dua sahabat dekat yang selalu hadir dalam percakapan kami tiba-tiba tidak tercipta sama sekali dalam percakapan telepon malam itu. Percakapan kita mendadak menjadi percakapan garing yang menjadi sangat aneh kedengarannya. Sinar yang biasanya lancar bercerita tentang ini itu, mendadak menjadi terkesan speechless, mungkin Sinar tidak punya bahan cerita yang matang yang akan diceritakan kepadaku, karena memang aku sudah tahu hal yang sebenarnya.
Selain itu aku merasa Sinar tahu bahwa Bony sosok lelaki yang pernah singgah dihatiku kini hadir kembali. Meskipun aku belum menceritakan hal itu kepada Sinar, mungkin dia tahu dari semua pernyataanku serta semua curahanku dalam sebuah sosial mediaku. Ya aku memiliki sebuah blog tempat dimana aku mencurahkan semua hal yang terjadi padaku, entah cerita itu fiksi ataupun non fiksi. Namun bukan Sinar, jika tidak mengetahui mana cerita yang fiksi mana yang non fiksi yang kutulis diblog. Karena Sinar tahu persis bagaimana tipe cerita fiksiku maupun cerita non fiksiku. Selain itu mungkin Sinar merupakan pengamat sosial media yang amat kritis, apalagi terhadap akunku, maklum selain menjadi tugasnya sebagai mahasiswa Psikologi yang harus mengamati kepribadian seseorang melalui akun sosial media, mengamati akun sosial media memang menjadi salah satu sumber informasi akurat untuk tahu apa yang sedang seseorang rasakan, terutama aku.
Mungkin dengan kembalinya Bony yang diketahui Sinar menjadikan percakapan kami menjadi aneh, penuh dengan kecanggungan. Dan ternyata pikiranku tentang hal itu benar. Tepat pada pukul 21.00 WIB malam itu tepat disaat Sinar akan mengakhiri percakapan Sinar menanyakan suatu hal. Hal yang dirasa penting bagi Sinar, dengan nada percakapan yang serius Sinar mulai menanyakan hal itu.
“Luk, bolehkah aku Tanya sesuatu?”
“Boleh, kok Tanya aja, hehe..”
“Cowok yang melukis luka dihatimu kembali hadir ya? Iya maksudku Bony sekarang hadir dikehidupanmu lagi ya? Kok kamu gak cerita lagi? Wah maen rahasia yaahh hehe..”
“Ehh bukan begitu, Sinar.. aku pengen cerita sebenarnya tapi kamu sih gak pernah ajak aku maen lagi, jadi belum sempet cerita deh, hehehe..”
“Luk, aku tahu kok kamu masih sayang sama Bony, aku tahu juga mungkin kamu belum bisa buka hati kamu untuk orang lain termasuk aku, tapi tenanglah tidak perlu kamu pikirkan aku, cukup kamu mempedulikan perasaan dan hatimu saja. Luk, jika hatimu memilih Bony karena aku tahu memang sayangmu kepada Bony memang sayang yang tulus, jadi tidak mudah bagi kamu untuk lepas dari bayang Bony dalam waktu yang singkat. Aku rela, aku akan lebih ikhlas kamu bahagia bersama orang lain yang benar-benar kamu sayang, bukan dengan aku yang belum tentu mampu menyayangimu sebesar sayangmu kepada Bony. Aku akan mundur teratur perlahan menjauh dari kehidupan hatimu bersama Bony. Tentukan langkahmu sesuai kata hatimu. Yakinlah semua akan baik-baik saja, Luk. Dan kamu tak perlu ragu untuk memilih, jika kamu akan kembali pada Bony aku akan tetap mendukungmu, bahkan aku tidak akan pernah menutup kemungkinan untuk kamu bisa curhat lagi kepadaku. Kita akan tetap menjadi sahabat selamanya, tidak pernah ada kata mantan sahabat. Hehe.. oke Luk?”
Air mata ini tak mampu tertahan lagi, hingga perlahan menetes butir demi butir membasahi pipi ini. Tak mampu mengeluarkan kata-kata yang mampu merespon pertanyaan Sinar itu. Rasa bersalah tiba-tiba datang menyelimuti keraguanku, menyelimuti semua perasaanku yang carut marut. Entah apa yang harus aku lakukan dengan pernyataan Sinar itu, hanya isak tangis yang mungkin terdengar disudut telepon. Malam semakin terdengar hening ketika percakapan tiba-tiba terhenti dengan pernyataan Sinar, dan isak tangisku yang tak tertahankan.
“Luk? Kamu nangis? Kenapa? Ayolah kamu cerita, kenapa kamu nangis gini? Apa aku salah ngomong? Atau aku melakukan kesalahan apa? Please jangan buat aku semakin merasa bersalah karena membuatmu menangis seperti ini, tapi aku juga tidak tahu alasannya kenapa kamu menangis, Luk?”
Dengan terbata-bata dan selingan isak tangis mulai aku mengeluarkan kata-kata “Enggak kok, aku nangis karena aku merasa tidak enak hati dengan kamu Sinar. Kamu sudah sangat baik sekali kepadaku, kamu selalu ada untukku baik senang maupun sedih. Tapi justru aku yang seolah tidak tahu terima kasih, aku hanya menganggapmu sebagai sahabat, ketika kamu telah memiliki perasaan yang lebih dari seorang sahabat kepadaku. Aku mohon maaf kepadamu Sinar, jika selama ini aku tidak peka dengan semua perhatianmu kepadaku, bukan bermaksud untuk mengabaikan semua perasaanmu kepadaku, hanya saja aku takut, aku takut untuk memulai. Sekalipun nanti aku memilih kembali kepada Bony, itu bukan berarti kamu tidak lebih baik, justru kamu adalah sahabat yang baik, tak pernah menemukan sahabat sepertimu Sinar. Kamu akan selalu menjadi sahabatku selamanya”
“Iya Luk, tenang saja hilangkan semua rasa bersalahmu, tidak ada yang salah dalam hal perasaan, tidak ada yang salah dalam hal hati. Sayang yang tulus itu akan muncul dengan sendirinya tanpa perlu dikomando. Aku akan turut bahagia seiring kebahagiaanmu juga, sahabat mana yang tidak bahagia ketika sahabatnya bahagia, termasuk aku sebagai sahabatmu, Luk. Sudah sekarang hapus air matamu, sudah jangan menangis lagi, senyum akan membawamu menuju hal yang lebih baik. Semoga kamu bisa segera memutuskan dan memilih keputusan yang akan kamu jalankan. Ayolah, mana senyumnya, anak manis tidak boleh cemberut begitu.. hehe”
“Hehe.. terima kasih ya Sinar, kamu memang sahabat yang pengertian sahabat yang luar biasa, doakan saja ya, aku mampu memilih keputusan yang benar-benar tepat dan terbaik untuk semuanya, hehehe..”
“Nha.. kalo senyum gitu kan jadi tambah manis, ahhaha… okedeh aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu Luluk.., yaudah ini sudah jam 21.30 WIB, waktunya tepat sekali, tepat untuk mengakhiri telpon ini hehe.. selamat tidur Luluk mimpi indah, cepet dapet pencerahan hahaha..”
“Hehe.. okedeh, selamat tidur juga Sinar”
“Oke, aku matiin yaahh.. Assalamualaikum..”
“Okesip, Waalaikumsalam..”
Tttuuutttt. Akhir dari percakapan malam itu. Rasa bersalahku kepada Sinar tak kunjung menuai jalan terang. Merasa sakit hati sendiri ketika mengingat apa yang aku lakukan kepada Sinar. Sinar yang begitu baik kepadaku. Sinar terlalu baik ketika harus menerima semua yang aku lakukan kepadanya.
***
Akan sangat bersalahnya aku ketika aku mengambil langkah dalam waktu dekat ini. Selain langkah yang aku ambil tentu langkah yang masih penuh dengan keraguan, tapi juga langkah yang hanya memikirkan satu pihak, sehingga pihak lain merasa dirugikan. Sulit memang berada dalam posisi yang seperti ini, posisi yang cukup membuatku merasa dilema dengan semuanya. Pertanyaan klasik kembali hadir, aku harus bagaimana? Selalu itu yang muncul dalam benakku. Aku ingin melangkah untuk mengakhiri masa dilema ini. Sudah cukup lama berada dititik keraguan ini. Aku ingin bangkit dari titik ini, ingin keluar dari pusaran keraguan, keluar dari zona ragu yang benar-benar membuatku berada dalam dilema.
Apa yang aku tentukan? Langkah apa yang harus aku jalankan? Aku menghargai semua yang dilakukan Sinar, tapi apa daya hatiku masih memiliki rasa sayang kepada Bony. Tapi kembali lagi hatiku masih ragu untuk memulai hubungan. Semakin pelik keraguan ini, hanya berada dalam satu lingkaran setan yang menjebakku untuk tetap berada dalam keraguan. Bagaimana caranya aku terbebas dari lingkaran itu, jika hati ini tak mau terbebas, justru hatiku sendiri yang menciptakan lingkaran yang menjebakku sendiri. Ya memang bisa dikatankan seperti itu. Lingkaran setan hatiku menjadikan semua menjadi semakin rumit, semakin sulit ditarik benang merahnya. Lagi-lagi aku menemui masalah yang tak kunjung menemui titik terang. Semuanya  karena lingkaran setan hatiku.
***

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar