Rabu, 29 Januari 2014

SINYAL DIBALIK PILIHAN #9



SINYAL DIBALIK PILIHAN
Ketika hatiku masih berkutat dengan keraguan, logikaku mulai bekerja membantu perasaanku. Otakku mulai berpikir langkah apa yang harus aku pilih. Sekian lama aku termenung dalam keraguan, sekian lama aku mengutuk hatiku yang masih saja berkutat dalam dilema, dan sekian lama pula aku membuat Bony dan Sinar menunggu dalam sebuah harap. Rasa bersalah memang tak terhindarkan, namun apa boleh buat semua itu aku lakukan agar tidak ada kesalahpahaman diantara kami semua, agar keputusanku tidak menyakiti salah satu pihak, dan yang paling penting aku memutuskan sebuah keputusan dengan pikiran dan hati yang tenang. Dalam keadaan tenangpun aku masih diselimuti keraguan untuk melangkah, aku masih dihantui rasa takut, jika akan menyakiti pihak yang bersangkutan, tapi apapun resiko itu bagaimanapun aku harus memutuskan, aku harus berani mengambil semua konsekuensi yang harus aku terima kelak. Aku yakin baik Sinar maupun Bony akan mampu menerima semua keputusan yang aku buat, apapun itu. Meskipun mungkin mereka berpikir kenapa aku tega melakukan hal itu. Tak tega rasanya menggoreskan luka kepada Sinar yang telah begitu baik. Tak tega pula aku membohongi perasaanku sendiri, bahwa kenyataannya memang aku masih sayang dengan Bony. Tapi demi kebaikan semuanya aku harus menentukan pilihan. Bahkan pilihan sulit sekalipun.
***
Tepat ditanggal 14 Februari ini, tepat dimana hari yang penuh kasih sayang, hari yang special, dan hari yang tepat untuk mengungkapkan perasaan, bagi beberapa orang. Tak kusangka setiba aku di rumah, ada seorang kurir yang mengetuk pintu rumahku. Dengan ragu aku membuka pintu, ada kotak kecil yang menarik berada di tangan kurir itu, dengan pandangan yang sedikit bingung aku bertanya;
“Maaf, mau cari siapa ya?”
“Maaf mbak, apa benar ini rumah LuLuk? Luluk Purnamasari tepatnya?”
“Iya pak, benar saya sendiri Luluk, kalo boleh tahu ada apa ya?”
“Oh, kebetulan mbak, ini atas nama mbak Luluk Purnamasari mendapat kiriman dari saudara Bony. Silahkan untuk tanda bukti mbak bisa tanda tangan disini ya.”
“Baik pak, Terima kasih”
“Iya sama-sama mbak, kalo begitu saya pamit. Selamat sore”
“Iya sore, Terima kasih pak”
Kututup kembali pintu rumah, bergegas kubawa lari kotak kecil yang membuat hatiku semakin berdebar untuk segera membukanya. Tapi sebelum aku membuka kotak ini, aku berpikir sejenak, ada apa dengan Bony? Kenapa Bony mengirimkan kotak ini? Apa maksud dari kiriman ini? Ataukah Bony ingin memperoleh simpatiku dengan melalui kiriman ini? Atau? Banyak tanda tanya di dalam benakku, sekian menit aku hanya memandangi kotak ini, kotak yang berada di tanganku ini ragu untuk aku buka. Aku takut jika aku membuka kotak ini ada hal yang menyebabkan keraguan dalam menentukan keputusanku menjadi timbul lagi. Tapi rasa penasaran ini mengalahkan semua ketakutanku, dan akhirnya aku membuka kotak itu.
Tidak kusangka, kotak itu berisi aneka coklat yang terlihat lezat untuk disantap, terlihat menarik, dan lucu hingga sayang jika harus memakannya. Terselip sebuah kertas kecil bertulis tangan, sepertinya itu adalah tulisan Bony yang indah, sebuah kartu ucapan yang dia tulis khusus untukku. Dalam kartu ucapan itu tertulis indah sebuah kata sederhana namun penuh makna.
            Teruntukmu, Luluk
Mungkin hari ini tepat hari Valentine, tapi aku tidak bermaksud untuk merayakannya, hanya saja aku merasa bahwa hari ini adalah hari yang tepat untuk memberimu coklat. Lama sekali rasanya aku tidak membuatmu tersenyum dengan sebuah coklat. Semoga coklat itu kamu suka, dan kamu bisa tersenyum dengan coklat itu. Mungkin aku hanya bisa melakukan itu untuk membuatmu tersenyum dengan jarak yang memisahkan kita ini. Senyumu yang akan menenangkanku disini. 
Bony
Kata itu terlihat sebuah ungkapan yang biasa bagi orang lain, tetapi sungguh ungkapan itu adalah sebuah ungkapan yang luar biasa bagiku, ungkapan yang tidak pernah aku lupakan, sebuah ungkapan yang penuh makna untuk hati yang pernah terluka. Aku yakin sekali bahwa ungkapan itu dibuat oleh Bony dengan segala ketulusannya. Bony bukan tipe orang yang mampu menulis kata-kata tanpa sebuah ketulusan. Aku merasa bahwa Bony yang sekarang telah berubah menjadi Bony yang sungguh-sungguh, Bony yang tidak lagi mempermainkan perasaan. Aku merasa dibawa terbang kembali bersama ungkapan kata-kata yang ditulis Bony. Aku merasa kini Bony telah menunjukkan kesungguhan dan keseriusannya. Terlepas dari semua keyakinanku terhadap Bony, tetap saja terselip ketakutan yang dulu muncul dalam benak. Aku tetap harus selalu waspada dengan luka yang sama, aku harus lebih berhati-hati menanggapi semua yang dilakukan Bony. Tapi jujur untuk kali ini aku merasa bahwa Bony memang benar-benar tulus, Bony memang benar-benar serius dengan perasaannya terhadapku. Kali ini aku percaya dan yakin bahwa tidak ada unsur negatif dalam kiriman coklatnya kali ini.
Kutatap lekat-lekat, coklat-coklat yang menarik dan lucu itu, senyam-senyum sendiri di kamar menjadi ekspresi yang  tak bisa aku tahan. Anganku terbang bersama kenangan-kenangan indah bersama Bony dulu. Harapku kepada Bony semakin besar. Aku ingin mengulang masa-masa indah bersama Bony. Seketika dunia khayalku muncul, menampung semua imajinasi-imajinasiku yang mulai kubayangkan. Semua menjadi indah ketika imajinasiku berkerja dengan Bony yang menjadi tokoh utama, dengan setting cerita yang mendukung dan menjadikanku semakin lama menikmati hidup dalam khayal, hingga terlupa pada kenyataan bahwa aku harus memutuskan pilihan, sebuah pilihan yang fair sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan ataupun merasa tersakiti. Terlalu bahagia terbang bersama angan itu, hingga aku tak sadar berapa lama waktu yang telah kuhabiskan hanya untuk tersenyum memandangi coklat itu, sampai-sampai tidak mendengar pintu rumah diketuk beberapa kali.
Terkejut melihat Sinar berada dibalik pintu rumah sore itu. Dengan senyum yang merekah Sinar menyodorkan kotak mungil yang hampir mirip dengan kiriman Bony, namun kali ini Sinar juga membawakanku setangkai mawar merah yang indah, wanginya yang merebak menjadikanku kehilangan kata-kata sekalipun hanya untuk mengucapkan terima kasih kepada Sinar.
Happy Valentine.., ehh bukan, maksudku bukan untuk merayakan Valentine kok, cuma lagi pengen memberi kamu itu, itung-itung buat menebus salahku, karena semalam udah bikin kamu nangis, hehe.. maaf ya Luk”
“Ohh, iya Sinar kamu tidak perlu repot-repot memberikan ini semua untukku, dan kamu juga tidak perlu merasa bersalah, kan semalam aku nangis bukan karena kamu, hehe.. tapi terima kasih ya atas semua ini, gak tau lagi aku harus bilang apa ke kamu, hehe sekali lagi terima kasih. Oh iya, Sinar masuk dulu yuk”
“Enggak Luk, terima kasih, aku mau langsung cabut aja, aku ditunggu temenku, biasa mau nongkrong bareng, hehe.. yaudah aku pergi dulu yah, semoga kamu suka dengan itu”
“Iya, terima kasih banyak ya Sinar, hati-hati di jalan, hehe..”
Kembali kututup pintu rumah, dan mulai melangkahkan kaki ku menuju kamar, kali ini dengan perasaan yang biasa saja, entah mengapa perasaan senangku menjadi datar, berbeda ketika menerima kiriman dari Bony. Padahal Sinar tidak kalah tulus, tidak kalah sungguh-sungguh, bahkan Sinar memberikannya secara langsung, dengan kata-kata yang diucapkan secara langsung pula. Tapi aku tak memungkiri bahwa hatiku tidak sebahagia ketika menerima dari Bony, meskipun hanya lewat pos tetapi setidaknya inilah salah satu bukti kesungguhan dan keseriusan Bony.
Dengan perlahan mulai kubuka kotak pemberian Sinar, dan ternyata sama berisi aneka coklat yang indah, lucu dan menarik hingga merasa sayang untuk dimakan. Namun tidak ada kartu ucapan yang terselip diantara coklat itu, karena mungkin ucapan sudah diungkapkan secara langsung. Meskipun coklat pemberian Sinar jauh lebih menarik, jauh lebih indah, tetapi entah apa maksud hati ini, aku merasa lebih senang, lebih bahagia dengan pemberian Bony, yang mungkin lebih sederhana tapi penuh makna. Aku melihat dari kesederhanaan ini yang justru menjadi daya tarik, justru yang lebih mengena dihati. Aku tidak melihat dari seberapa indah atau seberapa mahal nilai pemberian, tetapi yang aku tangkap ada keseriusan, ada ketulusan dari Bony dengan kirimannya. Berbeda dengan pemberian Sinar, yang mungkin dengan keseriusan dan ketulusan yang sama bahkan pemberiannya lebih bagus, tapi aku tidak merasakan hal yang special dari pemberian Sinar itu.
***
Sama sekali tidak ada maksud untuk membanding-bandingkan pemberian Bony ataupun Sinar, tidak ada maksud untuk tidak menghargai pemberian. Namun aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Jujur berkesan sekali ada orang yang mau memberikan aku sesuatu yang sangat aku suka, baik itu dari Bony maupun Sinar. Namun dengan pemberian itu, aku ingin mencari tahu bagaimana perasaanku kepada dua orang ini. Apakah hatiku masih benar-benar memiliki rasa sayang terhadap Bony, ataukah sudah berpaling kepada Sinar. Dengan pemberian ini, setidaknya aku mendapatkan sinyal keputusan apa yang akan aku pilih. Aku akan kembali kepada Bony atau memulai perjalanan baru dengan Sinar. Dengan sinyal ini keraguan hatiku semakin mendapatkan jalan terang, jalan yang kemungkinan akan aku ambil untuk menentukan keputusan secepatnya. Agar aku tidak membiarkan orang lain menunggu dalam sebuah harap. Semoga sinyal ini memberikanku kemudahan jalan, jalan yang memang terbaik untuk semuanya, sehingga memunculkan keputusan yang bijak, keputusan yang memang terbaik untuk semuanya. Semoga ini menjadi sinyal dibalik sebuah pilihan.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar