Kamis, 23 Januari 2014

TITIK KERAGUAN #7



TITIK KERAGUAN
“Tanpa harus kesini, tanpa harus menemuiku, dan tanpa harus kamu meminta, aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu meminta maaf Bon. Aku tidak memiliki rasa dendam sedikitpun denganmu. Tapi jika boleh jujur, mungkin rasa sakit hatiku ini terlalu besar untuk kembali merajut hubungan denganmu secepat ini. Aku tidak bisa membohongi hatiku, sesungguhnya aku juga masih mengharapkanmu untuk kembali, tapi maaf juga kalau untuk saat ini aku belum ingin menjalin hubungan. Aku masih ragu dengan semuanya. Aku takut jika nanti aku akan terluka lagi. Belum cukup waktu untuk menjadikan hatiku kembali utuh seperti semula. Aku masih ragu untuk mengambil resiko yang cukup besar, resiko yang mengharuskan aku siap untuk terluka lagi. Jujur luka yang kemarin belum benar-benar sembuh. Tapi tenang saja, aku sudah memaafkanmu Bony”.
Mungkin hanya kata-kata itu yang mampu terucap dari bibirku. Mengungkapkan ungkapan yang berat untuk kuucap sembari menahan sesak dalam dada, mengontrol emosi agar tetap dibawah kendaliku, dan sekuat tenaga menahan air mata ini untuk tidak jatuh menetes. Aku ingin mengatakan apa yang sebenarnya aku rasakan kepada Bony, tapi aku tak kuasa untuk mengatakannya. Aku takut jika hal itu akan menyakiti Bony, yang jelas perlu berpikir dua kali ketika harus menjalin hubungan bersama Bony lagi. Meskipun tak bisa dipungkiri bahwa hati ini masih mengharapkan Bony, masih memberikan sedikit ruang untuk ditempati Bony, namun kehadiran Sinar juga menempati sebagian ruang hatiku, ruang yang memang tidak biasa di hatiku.
***
Semenjak pertemuanku dengan Bony kala itu, kini Bony yang dulu seolah hadir kembali. Bony kembali menjadi sosok yang hangat, sosok yang selalu perhatian, sosok yang selalu care denganku. Tak henti Bony mengirimkan sms sebagai wujud perhatiannya, bahkan ketika beberapa kali sms tidak aku respon, masih saja Bony memberikan perhatiannya itu. Mungkin ini merupakan upaya Bony untuk merebut kembali hati ini, hati yang sempat meragu dengan Bony. Mungkin Bony benar-benar ingin menebus semua kesalahannya kepadaku, kepada hati yang telah terlanjur terluka. Bony benar-benar ingin memulai lembar baru dalam cerita hubungan kita, namun hati kecil ku masih ragu akan kesungguhan Bony, tetapi apapun keraguan itu, aku tetap mengapresiasi usaha Bony yang merusaha meyakinkanku, meyakinkan hati ini untuk kembali percaya pada ketulusan Bony.
Keraguanku semakin memuncak ketika berkali-kali aku mendapati Bony masih saja menjalin komunikasi yang jauh lebih baik dengan Vani. Aku memang tidak melihat secara nyata, tetapi aku mengetahui semuanya dari teman dekat Bony yang mengatakan dalam sebuah komentar dalam sosial media. Secara jelas aku menangkap bahwa masih ada rasa yang tidak biasa yang dirasakan Bony kepada Vani. Selain itu dalam sosial medianya masih saja terlihat pernyataan yang mengindikasikan bahwa mereka masih memiliki komunikasi yang cukup baik, masih memiliki perasaan yang memang tidak bisa disembunyikan antara keduanya, meskipun hanya terlihat dalam pernyataan dunia maya. Namun aku cukup peka dengan pernyataan-pernyataan tersebut, aku cukup bisa mengartikan semua pernyataan itu. Bukan berarti dalam hal ini aku menjadi berpikiran negatif, tetapi aku hanya mengamati realita yang ada. Aku tak mau lagi mengulang kesalahan yang sama, tak mau lagi terjerumus dalam lubang yang sama, yang hanya sekedar percaya akan semua kata-kata dalam bualan semu Bony. Tak mau lagi hanya percaya semua wujud perhatian Bony dalam sebuah pesan singkat semata. Tak mau lagi begitu cepat memberikan keputusan yang nanti hanya akan terjadi sebuah kata penyesalan.
Terlepas dari semua itu, mungkin Bony juga tidak mengetahui kehadiran sosok Sinar yang telah menempati ruang hati ini. Kehadirannya yang mampu memberikan sebuah semangat untuk bangkit dari Bony, yang mampu membawaku melangkah mengarungi perjalanan baru tanpa Bony. Namun kembali lagi hati kecilku masih berkata keraguannya, apa yang harus aku lakukan dengan keadaan ini. Aku harus memutuskan apa dengan pilihan ini, dan aku harus bagaimana dengan semua ini. Bingung, bingung, dan bingung yang mengelilingiku dalam segala keraguanku. Memutuskan hal yang memang membuatku berada dalam sebuah dilema, disatu sisi Sinar hadir dengan cahaya penerangnya, yang menerangi hatiku dalam gelap, yang selalu membawaku menuju dunia yang lebih indah lebih berwarna dan lebih bahagia, namun untuk menjalani hubungan bersama Sinar, hati ini belum cukup yakin, hati ini masih saja berada dalam lingkar keraguannya. Disisi lain kembalinya Bony dengan cahaya lilin kecilnya yang memberikan setitik cahayanya dalam gelap hati ini. Namun tidak lupa bahwa lilin kecil itu pernah membakar hati ini, hingga luka bakarnya masih membekas jelas dihati ini. Bony yang hadir bersama memori yang mengingatkan luka lama, dengan membawa cahaya lilinnya masih saja memiliki tempat dihati ini meskipun bukan tempat yang cukup special. Karena memang sesungguhnya tidak ada yang special dihati ini. Hatiku cukup sakit untuk memberikan ruang special untuk seseorang yang mampu merebut hati ini. Meskipun luka yang ditabur Bony belum sembuh sempurna, namun rasa harapku kepada Bony masih saja belum berubah. Entah keyakinan apa yang ada pada hatiku hingga sebegitu yakinnya aku terhadap Bony, sebegitu berharapnya aku pada Bony. Namun jika untuk kembali memulai hubungan bersama Bony, tetap saja masih ada keraguan yang sulit untuk dijelaskan.
Aku memang terlihat bodoh ketika menuruti perasaan yang aku rasakan. Ketika hati ini sudah benar-benar hancur tak tentu wujudnya, masih saja aku mengharapkan Bony. Ketika hati ini telah mengalami luka yang parah masih saja aku memberikan maaf yang tulus, dan hal yang dirasa paling bodoh adalah dengan kenyataan yang ada masih saja rasa sayangku terhadap Bony belum berubah, masih sama ketika Bony masih seperti dulu. Bahkan ditengah keraguan hatiku ini aku masih sering merasa bahwa saat inilah yang aku tunggu, saat dimana Bony kembali memberikan perhatiannya, saat Bony mengakui semua salahnya, saat Bony menginginkan untuk merajut hubungan kembali. Namun ketika pikiran itu merasuki otakku yang tidak stabil, aku mulai berpikiran lain, bahwa tidak semudah itu kembali menjalin hubungan dengan Bony, mengingat semua yang terjadi pada hati ini, mengingat semua luka yang ditabur Bony. Bukan bermaksud untuk menjadikan semua itu dendam hanya saja aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, ya berkali-kali aku meyakinkan bahwa aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, kesalahan yang cukup untuk kujadikan pelajaran berharga dalam sebuah perjalanan cinta.
Aku berada pada titik dilema yang sangat membingungkan, menjadikan kebimbangan yang cukup memuncak. Seolah aku berada dipersimpangan jalan yang sulit untuk menentukan kearah mana aku harus melanjutkan perjalananku. Keraguan hati yang tak mampu ditoleransi, serta realita yang memang telah ada didepan mata, menjadikan semua bersatu menjadi satu dan menjadi tidak jelas. Mencoba untuk tenang, terdiam dipersimpangan, duduk merunduk sendiri untuk merenungkan, dan mencoba berpikir kemana sebaiknya kaki ini akan kulangkahkan. Maju bersama Sinar ataukah kembali menengok kebelakang, menunggu Bony melangkah menyusulku dan melangkah bersama kedepan dengan perjalanan baru. Ataukah aku akan duduk terdiam dipersimpangan tanpa sebuah tindakan.
***
Pelangi yang aku rindukan tak kunjung menampakkan diri, sekalipun hujan lebat telah reda. Pelangi yang akan membawa warna-warni kebahagiaan, tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Justru hujan yang mulai reda masih saja terlihat murung karena langit tak kunjung cerah, langit masih saja diselimuti dengan warna murung sang mendung. Mungkin seperti itu juga suasana hatiku saat ini. Ketika hatiku reda dari hujan air mata, karena ada Sinar, kini tetap saja hatiku diselimuti mendung dengan kembalinya Bony. Memang mendungnya hati ini sedikit memberikan warna bagi hatiku, meskipun warna penuh kekalutan warna yang justru begitu tidak kuinginkan hadir mewarnai lembar baruku. Namun biar bagaimanapun mendung ini adalah mendung yang sebenarnya aku rindukan, mendung yang tak kuharapkan mewarnai ceritaku, tetapi mendung yang kurindukan hanya untuk memastikan pertanda apa dengan hadirnya mendung itu. Akankah dengan mendung itu akan ada cerah yang akan hadir, ataukah tetap akan mendung bahkan akan ada hujan yang lebat lagi. Ya mendung yang aku rindukan adalah mendung yang menjadi pertanda. Namun sepertinya mendung itu pertanda akan ada hujan lebat lagi ketika aku masih saja berjalan keluar tanpa persiapan membawa payung.
Mendung itu terlihat dari indikasi bahwa Bony masih memiliki perasaan dengan Vani, dan jika aku memutuskan keluar dalam arti aku menjalin hubungan bersama Bony lagi maka akan terjadi hujan lebat, yaitu hujan air mata karena nanti aku yang akan tersakiti, makanya bagaimana caranya aku mempersiapkan payung itu. Sampai sekarang aku tidak punya payung yang akan melindungiku dari lebatnya hujan. Aku takut akan basah kuyup yang berakhir sakit. Ya, ada kesamaan akan turunnya hujan lebat dan menjalin hubungan dengan Bony lagi, yaitu sama-sama ada ketakutan akan sakit. Ketika kehujanan besar kemungkinan akan sakit demam, namun ketika menjalin hubungan dengan Bony akan sakit hati. Berbeda memang tingkat sakitnya, namun aku akan lebih memilih untuk sakit demam yang dengan mudah bisa disembuhkan dengan paracetamol, tapi kalau sakit hati? Entah apa yang bisa menjadi obat dari sakit hati itu, nyatanya sampai sekarang hatiku belum sembuh sempurna.
Pada intinya dibalik keraguanku untuk melangkah dan memutuskan aku harus melakukan apa, ada kekhawatiran jika nanti aku akan terluka lagi. Ada pikiran-pikiran negatifku tentang Bony akan terulang kembali. Lebih jelasnya takut tersakiti lagi. Selain itu bisa dikatakan aku sudah mulai menyukai sosok Sinar, tetapi aku juga masih menyayangi Bony. Disitu adalah titik keraguanku. Namun dalam titik keraguanku itu, aku juga belum berani memulai sebuah hubungan atas nama pacaran, ada ketakutan tersendiri untuk melakukan itu. Untuk saat ini aku akan bertahan pada titik ini, titik penuh pilihan, ya bisa disebut titik keraguan.
***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar