TITIK KERAGUAN
“Tanpa harus kesini, tanpa harus menemuiku, dan tanpa harus
kamu meminta, aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu meminta maaf Bon. Aku
tidak memiliki rasa dendam sedikitpun denganmu. Tapi jika boleh jujur, mungkin
rasa sakit hatiku ini terlalu besar untuk kembali merajut hubungan denganmu
secepat ini. Aku tidak bisa membohongi hatiku, sesungguhnya aku juga masih
mengharapkanmu untuk kembali, tapi maaf juga kalau untuk saat ini aku belum
ingin menjalin hubungan. Aku masih ragu dengan semuanya. Aku takut jika nanti
aku akan terluka lagi. Belum cukup waktu untuk menjadikan hatiku kembali utuh
seperti semula. Aku masih ragu untuk mengambil resiko yang cukup besar, resiko
yang mengharuskan aku siap untuk terluka lagi. Jujur luka yang kemarin belum
benar-benar sembuh. Tapi tenang saja, aku sudah memaafkanmu Bony”.
Mungkin hanya kata-kata itu yang mampu terucap dari bibirku.
Mengungkapkan ungkapan yang berat untuk kuucap sembari menahan sesak dalam
dada, mengontrol emosi agar tetap dibawah kendaliku, dan sekuat tenaga menahan
air mata ini untuk tidak jatuh menetes. Aku ingin mengatakan apa yang
sebenarnya aku rasakan kepada Bony, tapi aku tak kuasa untuk mengatakannya. Aku
takut jika hal itu akan menyakiti Bony, yang jelas perlu berpikir dua kali
ketika harus menjalin hubungan bersama Bony lagi. Meskipun tak bisa dipungkiri
bahwa hati ini masih mengharapkan Bony, masih memberikan sedikit ruang untuk
ditempati Bony, namun kehadiran Sinar juga menempati sebagian ruang hatiku, ruang
yang memang tidak biasa di hatiku.
***
Semenjak pertemuanku dengan Bony kala itu, kini Bony yang
dulu seolah hadir kembali. Bony kembali menjadi sosok yang hangat, sosok yang
selalu perhatian, sosok yang selalu care
denganku. Tak henti Bony mengirimkan sms
sebagai wujud perhatiannya, bahkan ketika beberapa kali sms tidak aku respon, masih saja Bony memberikan perhatiannya itu.
Mungkin ini merupakan upaya Bony untuk merebut kembali hati ini, hati yang
sempat meragu dengan Bony. Mungkin Bony benar-benar ingin menebus semua
kesalahannya kepadaku, kepada hati yang telah terlanjur terluka. Bony benar-benar
ingin memulai lembar baru dalam cerita hubungan kita, namun hati kecil ku masih
ragu akan kesungguhan Bony, tetapi apapun keraguan itu, aku tetap mengapresiasi
usaha Bony yang merusaha meyakinkanku, meyakinkan hati ini untuk kembali
percaya pada ketulusan Bony.
Keraguanku semakin memuncak ketika berkali-kali aku
mendapati Bony masih saja menjalin komunikasi yang jauh lebih baik dengan Vani.
Aku memang tidak melihat secara nyata, tetapi aku mengetahui semuanya dari
teman dekat Bony yang mengatakan dalam sebuah komentar dalam sosial media. Secara
jelas aku menangkap bahwa masih ada rasa yang tidak biasa yang dirasakan Bony
kepada Vani. Selain itu dalam sosial medianya masih saja terlihat pernyataan
yang mengindikasikan bahwa mereka masih memiliki komunikasi yang cukup baik,
masih memiliki perasaan yang memang tidak bisa disembunyikan antara keduanya,
meskipun hanya terlihat dalam pernyataan dunia maya. Namun aku cukup peka
dengan pernyataan-pernyataan tersebut, aku cukup bisa mengartikan semua
pernyataan itu. Bukan berarti dalam hal ini aku menjadi berpikiran negatif,
tetapi aku hanya mengamati realita yang ada. Aku tak mau lagi mengulang
kesalahan yang sama, tak mau lagi terjerumus dalam lubang yang sama, yang hanya
sekedar percaya akan semua kata-kata dalam bualan semu Bony. Tak mau lagi hanya
percaya semua wujud perhatian Bony dalam sebuah pesan singkat semata. Tak mau
lagi begitu cepat memberikan keputusan yang nanti hanya akan terjadi sebuah
kata penyesalan.
Terlepas dari semua itu, mungkin Bony juga tidak mengetahui
kehadiran sosok Sinar yang telah menempati ruang hati ini. Kehadirannya yang
mampu memberikan sebuah semangat untuk bangkit dari Bony, yang mampu membawaku
melangkah mengarungi perjalanan baru tanpa Bony. Namun kembali lagi hati
kecilku masih berkata keraguannya, apa yang harus aku lakukan dengan keadaan
ini. Aku harus memutuskan apa dengan pilihan ini, dan aku harus bagaimana
dengan semua ini. Bingung, bingung, dan bingung yang mengelilingiku dalam
segala keraguanku. Memutuskan hal yang memang membuatku berada dalam sebuah dilema,
disatu sisi Sinar hadir dengan cahaya penerangnya, yang menerangi hatiku dalam
gelap, yang selalu membawaku menuju dunia yang lebih indah lebih berwarna dan lebih
bahagia, namun untuk menjalani hubungan bersama Sinar, hati ini belum cukup
yakin, hati ini masih saja berada dalam lingkar keraguannya. Disisi lain
kembalinya Bony dengan cahaya lilin kecilnya yang memberikan setitik cahayanya
dalam gelap hati ini. Namun tidak lupa bahwa lilin kecil itu pernah membakar
hati ini, hingga luka bakarnya masih membekas jelas dihati ini. Bony yang hadir
bersama memori yang mengingatkan luka lama, dengan membawa cahaya lilinnya
masih saja memiliki tempat dihati ini meskipun bukan tempat yang cukup special. Karena memang sesungguhnya
tidak ada yang special dihati ini.
Hatiku cukup sakit untuk memberikan ruang special
untuk seseorang yang mampu merebut hati ini. Meskipun luka yang ditabur
Bony belum sembuh sempurna, namun rasa harapku kepada Bony masih saja belum
berubah. Entah keyakinan apa yang ada pada hatiku hingga sebegitu yakinnya aku
terhadap Bony, sebegitu berharapnya aku pada Bony. Namun jika untuk kembali
memulai hubungan bersama Bony, tetap saja masih ada keraguan yang sulit untuk
dijelaskan.
Aku memang terlihat bodoh ketika menuruti perasaan yang aku
rasakan. Ketika hati ini sudah benar-benar hancur tak tentu wujudnya, masih
saja aku mengharapkan Bony. Ketika hati ini telah mengalami luka yang parah
masih saja aku memberikan maaf yang tulus, dan hal yang dirasa paling bodoh
adalah dengan kenyataan yang ada masih saja rasa sayangku terhadap Bony belum
berubah, masih sama ketika Bony masih seperti dulu. Bahkan ditengah keraguan
hatiku ini aku masih sering merasa bahwa saat inilah yang aku tunggu, saat
dimana Bony kembali memberikan perhatiannya, saat Bony mengakui semua salahnya,
saat Bony menginginkan untuk merajut hubungan kembali. Namun ketika pikiran itu
merasuki otakku yang tidak stabil, aku mulai berpikiran lain, bahwa tidak
semudah itu kembali menjalin hubungan dengan Bony, mengingat semua yang terjadi
pada hati ini, mengingat semua luka yang ditabur Bony. Bukan bermaksud untuk
menjadikan semua itu dendam hanya saja aku tak ingin mengulangi kesalahan yang
sama, ya berkali-kali aku meyakinkan bahwa aku tidak ingin mengulangi kesalahan
yang sama, kesalahan yang cukup untuk kujadikan pelajaran berharga dalam sebuah
perjalanan cinta.
Aku berada pada titik dilema yang sangat membingungkan,
menjadikan kebimbangan yang cukup memuncak. Seolah aku berada dipersimpangan
jalan yang sulit untuk menentukan kearah mana aku harus melanjutkan
perjalananku. Keraguan hati yang tak mampu ditoleransi, serta realita yang
memang telah ada didepan mata, menjadikan semua bersatu menjadi satu dan
menjadi tidak jelas. Mencoba untuk tenang, terdiam dipersimpangan, duduk
merunduk sendiri untuk merenungkan, dan mencoba berpikir kemana sebaiknya kaki
ini akan kulangkahkan. Maju bersama Sinar ataukah kembali menengok kebelakang,
menunggu Bony melangkah menyusulku dan melangkah bersama kedepan dengan
perjalanan baru. Ataukah aku akan duduk terdiam dipersimpangan tanpa sebuah
tindakan.
***
Pelangi yang aku rindukan tak kunjung menampakkan diri,
sekalipun hujan lebat telah reda. Pelangi yang akan membawa warna-warni
kebahagiaan, tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Justru hujan yang mulai
reda masih saja terlihat murung karena langit tak kunjung cerah, langit masih
saja diselimuti dengan warna murung sang mendung. Mungkin seperti itu juga
suasana hatiku saat ini. Ketika hatiku reda dari hujan air mata, karena ada
Sinar, kini tetap saja hatiku diselimuti mendung dengan kembalinya Bony. Memang
mendungnya hati ini sedikit memberikan warna bagi hatiku, meskipun warna penuh
kekalutan warna yang justru begitu tidak kuinginkan hadir mewarnai lembar
baruku. Namun biar bagaimanapun mendung ini adalah mendung yang sebenarnya aku
rindukan, mendung yang tak kuharapkan mewarnai ceritaku, tetapi mendung yang
kurindukan hanya untuk memastikan pertanda apa dengan hadirnya mendung itu. Akankah
dengan mendung itu akan ada cerah yang akan hadir, ataukah tetap akan mendung
bahkan akan ada hujan yang lebat lagi. Ya mendung yang aku rindukan adalah
mendung yang menjadi pertanda. Namun sepertinya mendung itu pertanda akan ada
hujan lebat lagi ketika aku masih saja berjalan keluar tanpa persiapan membawa payung.
Mendung itu terlihat dari indikasi bahwa Bony masih memiliki
perasaan dengan Vani, dan jika aku memutuskan keluar dalam arti aku menjalin
hubungan bersama Bony lagi maka akan terjadi hujan lebat, yaitu hujan air mata
karena nanti aku yang akan tersakiti, makanya bagaimana caranya aku
mempersiapkan payung itu. Sampai sekarang aku tidak punya payung yang akan
melindungiku dari lebatnya hujan. Aku takut akan basah kuyup yang berakhir
sakit. Ya, ada kesamaan akan turunnya hujan lebat dan menjalin hubungan dengan
Bony lagi, yaitu sama-sama ada ketakutan akan sakit. Ketika kehujanan besar
kemungkinan akan sakit demam, namun ketika menjalin hubungan dengan Bony akan
sakit hati. Berbeda memang tingkat sakitnya, namun aku akan lebih memilih untuk
sakit demam yang dengan mudah bisa disembuhkan dengan paracetamol, tapi kalau sakit hati? Entah apa yang bisa menjadi
obat dari sakit hati itu, nyatanya sampai sekarang hatiku belum sembuh
sempurna.
Pada intinya dibalik keraguanku untuk melangkah dan
memutuskan aku harus melakukan apa, ada kekhawatiran jika nanti aku akan
terluka lagi. Ada pikiran-pikiran negatifku tentang Bony akan terulang kembali.
Lebih jelasnya takut tersakiti lagi. Selain itu bisa dikatakan aku sudah mulai
menyukai sosok Sinar, tetapi aku juga masih menyayangi Bony. Disitu adalah
titik keraguanku. Namun dalam titik keraguanku itu, aku juga belum berani
memulai sebuah hubungan atas nama pacaran, ada ketakutan tersendiri untuk
melakukan itu. Untuk saat ini aku akan bertahan pada titik ini, titik penuh
pilihan, ya bisa disebut titik keraguan.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar