Jumat, 10 Januari 2014

SINAR KENYAMANAN #5


SINAR KENYAMANAN
Aku melewati hari-hariku bersama Sinar, menghabiskan hari-hari weekend bersama Sinar. Semakin aku mengenal Sinar, semakin jelas bahwa Sinar memang lelaki baik yang selalu care terhadapku. Sinar merupakan lelaki yang mampu mengerti kondisi hatiku dikala itu. Sinar mampu menetralisir kondisi hatiku yang carut marut tak menentu, hatiku memang masih labil pada waktu itu. Sinar selalu mengajakku hangout sekedar untuk melepas penat tugas kuliah dan penat menata serpihan hati yang tak kunjung kembali seperti semula. Sinar dan aku memang berbeda universitas, namun itu tak menjadi kendala, Sinar selalu meyakinkanku bahwa tak selamanya jarak dekat akan menjadi kunci langgengnya suatu hubungan, termasuk hubungan pertemanan kami. Justru dengan terpisahkannya jarak itu, kita jadikan alasan untuk meluangkan waktu sekedar untuk bertemu tatap muka, dan saling curhat. Kedekatanku pada Sinar berawal dari saling curhat, sehingga Sinar mampu memahami, mengerti, dan mampu menetralisir kondisi hatiku. Maklumlah Sinar adalah mahasiswa jurusan psikologi di salah satu universitas swasta di jogja, maka hal yang wajar ketika Sinar mampu memahami keadaan hatiku dan memberikan solusi tentang permasalahanku, dan juga memahami perasaanku. Terlepas dari itu semua, nyatanya tak selamanya mahasiswa psikologi mampu memahami kondisi hatinya sendiri, maka tak jarang Sinar curhat kepadaku. Sering kali sinar menelponku malam-malam hanya untuk berbagi kisah yang tengah dirasakan Sinar. Sinar selalu menelponku setiap seminggu sekali pada malam sabtu sekitar pukul 20.00 WIB dan itu selalu berakhir sekitar pukul 21.30 WIB. Itu menjadi sebuah rutinitas yang tak pernah terlupa selama dua bulan terakhir ini. Sinar selalu merangkum perjalanan hatinya selama seminggu dalam 1,5 jam cerita pada malam sabtu itu. Dan aku hanya bisa menanggapi dan mendengarkannya, terkadang justru sinar sendiri yang memberi solusi pada permasalahannya, hanya saja Sinar selalu meminta pertimbanganku untuk melangkah. Dan entah mengapa selalu solusi itu merupakan solusi yang memang terbaik, solusi yang selalu aku setujui karena memang merupakan solusi yang mampu dijangkau logika dan perasaan.
Malam sabtu dalam telepon selalu menjadi waktu Sinar untuk berceloteh tentang perasaannya. Dan aku selalu meminta Sinar untuk meluangkan waktu setiap dua minggu sekali pada malam minggu, untuk sekedar jalan-jalan berbagi ceritaku kepada Sinar. Dan setiap apa yang menjadi permintaanku pasti selalu dituruti oleh Sinar. Bahkan terkadang dia rela membatalkan janjinya dengan teman-temannya ketika aku meminta untuk jalan. Pernah suatu ketika aku tiba-tiba membatalkan janji jalan malam minggu, padahal Sinar telah membatalkan janjinya pada teman-temannya, namun tidak pernah ada kata marah dari Sinar, itu yang membuatku semakin merasa bahwa Sinar adalah lelaki yang dikirim Tuhan untuk menjadi teman berbagi kisahku. Sinar rela mengorbankan waktunya untuk sekedar menemaniku mendengarkan kisah yang tidak penting untuk diceritakan, namun entah mengapa aku selalu merasa bahwa ada hal yang membuatku ingin selalu berbagi kisah dengan Sinar. Sinar adalah teman berbagi cerita yang nyaman, yang mampu memberikan solusi yang bisa diterima tak hanya dengan akal namun juga perasaan. Sinar merupakan tempat berbagi yang selalu memberikan kenyamanan yang berbeda.
Pada suatu siang dibawah panas terik matahari ban motor yang menemani perjalananku menuju kampus tiba-tiba kempes ditengah jalan, rasa kepanikanku semakin tak terkendali ketika kutengok sekeliling tak ada satupun bengkel yang ada. Terlintas nama Sinar yang harus aku hubungi pertama kali, berniat untuk meminta tolong. Dengan secepat kilat Sinar tiba dilokasi dan bergegas mengambil alih penguasaan motorku, dipinjamkannya motornya untuk aku kuliah agar tidak terlambat. Padahal Sinar rela meninggalkan 2 sks kuliahnya hanya untuk menolongku, justru dia merasa tidak rela ketika aku yang kehilangan 2 sksku, tapi Sinar yang mengorbankannya demi menolongku. Kejadian itu semakin meyakinkanku bahwa Sinar memang lelaki yang baik kepadaku.
Lupakan kisah ban kempes itu, yang jelas Sinar selalu memberikan perhatian yang lebih padaku, selalu care, selalu melindungiku, dan selalu ingin membuatku tersenyum, hingga Sinar selalu mampu memahami gaya bahasaku ketika sedang Badmood. Hal yang dilakukan Sinar ketika aku Badmood adalah selalu memberikanku coklat, meskipun harus dititipkan kepada Ibu ketika aku tidak di rumah. Sampai-sampai Ibu merasa heran kenapa ada lelaki sebaik Sinar, begitu baiknya Sinar kepadaku sampai sering kali Ibu berkata pada Sinar yang intinya menitipkanku pada Sinar, Ibu menaruh kepercayaan yang tinggi pada Sinar, sehingga jika keluar malam bersama Sinar semua aman.
Begitu banyak waktu yang telah kuhabiskan bersama Sinar, canda tawa tak pernah lepas dari hari-hari kami. Sudah cukup banyak lembaran-lembaran ceritaku tertulis kisah dengan Sinar sebagai aktornya. Kenyamanan bersama Sinar semakin tercipta, nyaman menjadi seorang teman bahkan sahabat dekat. Sinar mampu menghapus nama Bony dalam ingatan, meskipun tak bisa dipungkiri masih ada sisa kenangan tentang Bony. Hatiku perlahan telah kembali menjadi lebih baik, luka yang dulu menganga perih kini mulai tertutup dan perlahan membaik meskipun bekasnya masih ada. Namun setidaknya dengan hadirnya Sinar mampu menjadikan semuanya menjadi lebih baik, termasuk hati ini.
Aku merasa ada hal berbeda dari perhatian Sinar padaku saat malam minggu kali ini. Banyak kejanggalan yang dibuat Sinar, mulai dari dia terlambat menjemputku, arah tujuan yang tiba-tiba berubah dari rencana awal, Sinar yang sibuk sendiri dengan Hpnya, ketidak fokusan dia mengendarai motor, dan sikap cueknya sepanjang perjalanan hingga tiba di lokasi. Begitu Sinar bertemu dengan teman-temannya, Sinar asyik bersama temannya seolah dia lupa ada aku disitu. Romantisnya suasana lokasi justru menjadi biasa bagiku ketika suasana hati terlanjur memanas dengan ulah Sinar. Ketika aku sedang asyik menggerutu, suasana hening tercipta, karena hanya ada aku dan Sinar dalam meja itu.
“Luk, kamu kenapa kok cemberut?, kamu marah karena aku telat jemput?, aku minta maaf yaa..”
“gakpapa kok”
“Luk, kok jadi cuek gitu? Kamu Badmood?
“Sinar kalau kamu tau aku badmood, please jangan jejali aku pertanyaan yang semakin membuatku Badmood, pulang aja yukk..”
“Luluk, bentar aku mau ngomong dulu sama kamu, aku minta maaf, aku bener-bener gak tau kenapa kamu jadi seperti  ini?”
“Sudahlah, yuk kita pulang, aku udah males disini” bergegas meninggalkan Sinar, tapi Sinar meraih tanganku dan menahanku untuk tetap berdiri disini dan ada hal yang tak terduga segerombolan teman-temanya mendatangi kita dengan senandung lagu yang indah, dengan membawa mawar yang kemudian diikat dalam pita merah yang terlihat semakin cantik dalam genggaman tangan Sinar. Kemudian ada ungkapan tak terduga, Sinar ingin mengakui perasaan hatinya.
“Luk, aku memang sengaja buatmu Badmood hari ini, karena ketika kamu Badmood coklat menjadi obatnya, maka kini kubawakan coklat special, kuharap kamu terima bersama ungkapan perasaanku ini. Dulu aku pernah bercerita bahwa aku menyukai wanita yang berada didekatku, dan itu adalah kamu. Aku menyukaimu Luk, aku menyayangimu, entah kenapa aku bisa berkata seperti itu, yang jelas hatiku mengatakan hal itu. Aku menginginkanmu untuk menjadi semangat baruku dalam menyusuri perjalanan asmaraku, dan aku akan membantumu menata serpihan hatimu yang sempat hancur, tapi aku tidak bisa janji bahwa aku tidak akan menjadikan hatimu menjadi serpihan lagi, namun aku akan berusaha untuk tidak melukis luka yang akan menjadikan serpihan hatimu semakin berantakan. Aku mohon terima coklat dan mawar ini bersama ungkapan perasaanku ini”.
Tiba-tiba suasana hening tercipta. Aku berdiri dalam diam menatap lekat-lekat pandangan mata Sinar. Ada keseriusan yang ditunjukkan Sinar, sorot ketulusan terpancar jelas hingga hati ini sama sekali tidak tega untuk mengeluarkan sepatah kata, takut jika akan mengecewakannya. Namun aku tak memungkiri bahwa ada keraguan dalam hati ini untuk melangkah memulai sebuah hubungan baru. Aku merasa bahwa hati ini belum siap untuk menerima segala resiko yang harus aku ambil ketika aku menentukan langkah untuk memulai sebuah komitmen. Ketakutan jika hanya akan melukis luka pada ketulusan Sinar tak mampu kuredam.
“Sinar, bukan berarti aku menolakmu, bukan berarti aku tidak memiliki perasaan yang sama denganmu. Hanya saja aku masih ragu untuk memulai hubungan baru, aku takut jika nanti aku akan mengecewakanmu. Aku butuh waktu untuk menyiapkan hati ini untuk memantapkan hati untuk kembali memulai sebuah hubungan, agar kesiapanku untuk menerima segala resiko kedepan lebih matang. Aku memohon maaf jika aku belum bisa menentukan sekarang, maaf”.
“Iya Luk, aku paham dengan apa yang kamu maksud, aku ngerti dengan apa yang kamu rasakan saat ini, aku menerima alasanmu. Dan aku akan menunggu sampai jawaban itu hadir dari hatimu dengan ketulusan”. Senyum Sinar yang kini terkembang merekah, sedikit membuatku lega. Semakin membuatku kagum akan sosok Sinar yang memang baik, dia mampu memposisikan dirinya dalam keadaanku, sehingga dia mampu melakukan tepat seperti yang aku inginkan, dan itulah Sinar.
Suasana hening pecah berubah menjadi penuh dengan riuh canda tawa, terlihat dengan jelas teman-teman Sinar yang mencoba menghibur Sinar. Ada sedikit gurat kecewa yang aku tangkap dari raut wajahnya, namun senyum dan tawa bahagia yang selalu ditunjukkan padaku. Malam semakin menunjukkan kepekatan langitnya, hingga memaksa kami untuk memberhentikan acara nongkrong kami, namun setidaknya akan lebih baik candaan ini diakhiri. Aku bisa melihat bagaimana Sinar ingin segera mengakhiri dan mengantarkanku pulang, mungkin Sinar melihat keraguan hatiku menjadi kata halus dari penolakanku, namun tidak seperti itu sebenarnya.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar