SINAR KENYAMANAN
Aku melewati hari-hariku bersama Sinar, menghabiskan
hari-hari weekend bersama Sinar. Semakin aku mengenal Sinar, semakin jelas
bahwa Sinar memang lelaki baik yang selalu care
terhadapku. Sinar merupakan lelaki yang mampu mengerti kondisi hatiku
dikala itu. Sinar mampu menetralisir kondisi hatiku yang carut marut tak
menentu, hatiku memang masih labil pada waktu itu. Sinar selalu mengajakku hangout sekedar untuk melepas penat
tugas kuliah dan penat menata serpihan hati yang tak kunjung kembali seperti
semula. Sinar dan aku memang berbeda universitas, namun itu tak menjadi
kendala, Sinar selalu meyakinkanku bahwa tak selamanya jarak dekat akan menjadi
kunci langgengnya suatu hubungan, termasuk hubungan pertemanan kami. Justru
dengan terpisahkannya jarak itu, kita jadikan alasan untuk meluangkan waktu
sekedar untuk bertemu tatap muka, dan saling curhat. Kedekatanku pada Sinar berawal
dari saling curhat, sehingga Sinar mampu memahami, mengerti, dan mampu
menetralisir kondisi hatiku. Maklumlah Sinar adalah mahasiswa jurusan psikologi
di salah satu universitas swasta di jogja, maka hal yang wajar ketika Sinar
mampu memahami keadaan hatiku dan memberikan solusi tentang permasalahanku, dan
juga memahami perasaanku. Terlepas dari itu semua, nyatanya tak selamanya
mahasiswa psikologi mampu memahami kondisi hatinya sendiri, maka tak jarang
Sinar curhat kepadaku. Sering kali sinar menelponku malam-malam hanya untuk
berbagi kisah yang tengah dirasakan Sinar. Sinar selalu menelponku setiap
seminggu sekali pada malam sabtu sekitar pukul 20.00 WIB dan itu selalu
berakhir sekitar pukul 21.30 WIB. Itu menjadi sebuah rutinitas yang tak pernah
terlupa selama dua bulan terakhir ini. Sinar selalu merangkum perjalanan
hatinya selama seminggu dalam 1,5 jam cerita pada malam sabtu itu. Dan aku
hanya bisa menanggapi dan mendengarkannya, terkadang justru sinar sendiri yang
memberi solusi pada permasalahannya, hanya saja Sinar selalu meminta
pertimbanganku untuk melangkah. Dan entah mengapa selalu solusi itu merupakan
solusi yang memang terbaik, solusi yang selalu aku setujui karena memang
merupakan solusi yang mampu dijangkau logika dan perasaan.
Malam sabtu dalam telepon selalu menjadi waktu Sinar untuk
berceloteh tentang perasaannya. Dan aku selalu meminta Sinar untuk meluangkan
waktu setiap dua minggu sekali pada malam minggu, untuk sekedar jalan-jalan
berbagi ceritaku kepada Sinar. Dan setiap apa yang menjadi permintaanku pasti
selalu dituruti oleh Sinar. Bahkan terkadang dia rela membatalkan janjinya
dengan teman-temannya ketika aku meminta untuk jalan. Pernah suatu ketika aku
tiba-tiba membatalkan janji jalan malam minggu, padahal Sinar telah membatalkan
janjinya pada teman-temannya, namun tidak pernah ada kata marah dari Sinar, itu
yang membuatku semakin merasa bahwa Sinar adalah lelaki yang dikirim Tuhan
untuk menjadi teman berbagi kisahku. Sinar rela mengorbankan waktunya untuk
sekedar menemaniku mendengarkan kisah yang tidak penting untuk diceritakan,
namun entah mengapa aku selalu merasa bahwa ada hal yang membuatku ingin selalu
berbagi kisah dengan Sinar. Sinar adalah teman berbagi cerita yang nyaman, yang
mampu memberikan solusi yang bisa diterima tak hanya dengan akal namun juga
perasaan. Sinar merupakan tempat berbagi yang selalu memberikan kenyamanan yang
berbeda.
Pada suatu siang dibawah panas terik matahari ban motor yang
menemani perjalananku menuju kampus tiba-tiba kempes ditengah jalan, rasa kepanikanku
semakin tak terkendali ketika kutengok sekeliling tak ada satupun bengkel yang
ada. Terlintas nama Sinar yang harus aku hubungi pertama kali, berniat untuk
meminta tolong. Dengan secepat kilat Sinar tiba dilokasi dan bergegas mengambil
alih penguasaan motorku, dipinjamkannya motornya untuk aku kuliah agar tidak
terlambat. Padahal Sinar rela meninggalkan 2 sks kuliahnya hanya untuk
menolongku, justru dia merasa tidak rela ketika aku yang kehilangan 2 sksku,
tapi Sinar yang mengorbankannya demi menolongku. Kejadian itu semakin
meyakinkanku bahwa Sinar memang lelaki yang baik kepadaku.
Lupakan kisah ban kempes itu, yang jelas Sinar selalu
memberikan perhatian yang lebih padaku, selalu care, selalu melindungiku, dan selalu ingin membuatku tersenyum,
hingga Sinar selalu mampu memahami gaya bahasaku ketika sedang Badmood. Hal
yang dilakukan Sinar ketika aku Badmood adalah selalu memberikanku coklat,
meskipun harus dititipkan kepada Ibu ketika aku tidak di rumah. Sampai-sampai
Ibu merasa heran kenapa ada lelaki sebaik Sinar, begitu baiknya Sinar kepadaku
sampai sering kali Ibu berkata pada Sinar yang intinya menitipkanku pada Sinar,
Ibu menaruh kepercayaan yang tinggi pada Sinar, sehingga jika keluar malam
bersama Sinar semua aman.
Begitu banyak waktu yang telah kuhabiskan bersama Sinar,
canda tawa tak pernah lepas dari hari-hari kami. Sudah cukup banyak
lembaran-lembaran ceritaku tertulis kisah dengan Sinar sebagai aktornya.
Kenyamanan bersama Sinar semakin tercipta, nyaman menjadi seorang teman bahkan
sahabat dekat. Sinar mampu menghapus nama Bony dalam ingatan, meskipun tak bisa
dipungkiri masih ada sisa kenangan tentang Bony. Hatiku perlahan telah kembali
menjadi lebih baik, luka yang dulu menganga perih kini mulai tertutup dan
perlahan membaik meskipun bekasnya masih ada. Namun setidaknya dengan hadirnya
Sinar mampu menjadikan semuanya menjadi lebih baik, termasuk hati ini.
Aku merasa ada hal berbeda dari perhatian Sinar padaku saat
malam minggu kali ini. Banyak kejanggalan yang dibuat Sinar, mulai dari dia terlambat
menjemputku, arah tujuan yang tiba-tiba berubah dari rencana awal, Sinar yang
sibuk sendiri dengan Hpnya, ketidak fokusan dia mengendarai motor, dan sikap
cueknya sepanjang perjalanan hingga tiba di lokasi. Begitu Sinar bertemu dengan
teman-temannya, Sinar asyik bersama temannya seolah dia lupa ada aku disitu.
Romantisnya suasana lokasi justru menjadi biasa bagiku ketika suasana hati
terlanjur memanas dengan ulah Sinar. Ketika aku sedang asyik menggerutu,
suasana hening tercipta, karena hanya ada aku dan Sinar dalam meja itu.
“Luk, kamu kenapa kok cemberut?, kamu marah karena aku telat
jemput?, aku minta maaf yaa..”
“gakpapa kok”
“Luk, kok jadi cuek gitu? Kamu Badmood?
“Sinar kalau kamu tau aku badmood, please jangan jejali aku
pertanyaan yang semakin membuatku Badmood, pulang aja yukk..”
“Luluk, bentar aku mau ngomong dulu sama kamu, aku minta
maaf, aku bener-bener gak tau kenapa kamu jadi seperti ini?”
“Sudahlah, yuk kita pulang, aku udah males disini” bergegas
meninggalkan Sinar, tapi Sinar meraih tanganku dan menahanku untuk tetap
berdiri disini dan ada hal yang tak terduga segerombolan teman-temanya
mendatangi kita dengan senandung lagu yang indah, dengan membawa mawar yang
kemudian diikat dalam pita merah yang terlihat semakin cantik dalam genggaman
tangan Sinar. Kemudian ada ungkapan tak terduga, Sinar ingin mengakui perasaan
hatinya.
“Luk, aku memang sengaja buatmu Badmood hari ini, karena
ketika kamu Badmood coklat menjadi obatnya, maka kini kubawakan coklat special,
kuharap kamu terima bersama ungkapan perasaanku ini. Dulu aku pernah bercerita
bahwa aku menyukai wanita yang berada didekatku, dan itu adalah kamu. Aku
menyukaimu Luk, aku menyayangimu, entah kenapa aku bisa berkata seperti itu,
yang jelas hatiku mengatakan hal itu. Aku menginginkanmu untuk menjadi semangat
baruku dalam menyusuri perjalanan asmaraku, dan aku akan membantumu menata
serpihan hatimu yang sempat hancur, tapi aku tidak bisa janji bahwa aku tidak
akan menjadikan hatimu menjadi serpihan lagi, namun aku akan berusaha untuk
tidak melukis luka yang akan menjadikan serpihan hatimu semakin berantakan. Aku
mohon terima coklat dan mawar ini bersama ungkapan perasaanku ini”.
Tiba-tiba suasana hening tercipta. Aku berdiri dalam diam
menatap lekat-lekat pandangan mata Sinar. Ada keseriusan yang ditunjukkan
Sinar, sorot ketulusan terpancar jelas hingga hati ini sama sekali tidak tega
untuk mengeluarkan sepatah kata, takut jika akan mengecewakannya. Namun aku tak
memungkiri bahwa ada keraguan dalam hati ini untuk melangkah memulai sebuah
hubungan baru. Aku merasa bahwa hati ini belum siap untuk menerima segala
resiko yang harus aku ambil ketika aku menentukan langkah untuk memulai sebuah
komitmen. Ketakutan jika hanya akan melukis luka pada ketulusan Sinar tak mampu
kuredam.
“Sinar, bukan berarti aku menolakmu, bukan berarti aku tidak
memiliki perasaan yang sama denganmu. Hanya saja aku masih ragu untuk memulai
hubungan baru, aku takut jika nanti aku akan mengecewakanmu. Aku butuh waktu
untuk menyiapkan hati ini untuk memantapkan hati untuk kembali memulai sebuah
hubungan, agar kesiapanku untuk menerima segala resiko kedepan lebih matang. Aku
memohon maaf jika aku belum bisa menentukan sekarang, maaf”.
“Iya Luk, aku paham dengan apa yang kamu maksud, aku ngerti
dengan apa yang kamu rasakan saat ini, aku menerima alasanmu. Dan aku akan
menunggu sampai jawaban itu hadir dari hatimu dengan ketulusan”. Senyum Sinar yang
kini terkembang merekah, sedikit membuatku lega. Semakin membuatku kagum akan
sosok Sinar yang memang baik, dia mampu memposisikan dirinya dalam keadaanku,
sehingga dia mampu melakukan tepat seperti yang aku inginkan, dan itulah Sinar.
Suasana hening pecah berubah menjadi penuh dengan riuh canda
tawa, terlihat dengan jelas teman-teman Sinar yang mencoba menghibur Sinar. Ada
sedikit gurat kecewa yang aku tangkap dari raut wajahnya, namun senyum dan tawa
bahagia yang selalu ditunjukkan padaku. Malam semakin menunjukkan kepekatan
langitnya, hingga memaksa kami untuk memberhentikan acara nongkrong kami, namun
setidaknya akan lebih baik candaan ini diakhiri. Aku bisa melihat bagaimana
Sinar ingin segera mengakhiri dan mengantarkanku pulang, mungkin Sinar melihat
keraguan hatiku menjadi kata halus dari penolakanku, namun tidak seperti itu
sebenarnya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar