Minggu, 13 April 2014

TIDAK AKAN PERNAH ADA MANTAN TEMAN




TIDAK AKAN PERNAH ADA MANTAN TEMAN
Terkadang semua yang terjadi kepadaku tak seperti apa yang kuharapkan. Awalnya kau memberikan ku celah untuk ku masuk ke sudut kecil hatimu. Namun saat itu aku belum siap untuk secepat itu masuk ke dalam sudut hatimu. Perlahan-lahan aku mulai merasakan perbedaan pelakuanmu terhadapku dibanding kepada teman lain kita. kau memang tak semenarik actor kelas atas, kau juga bukanlah orang yang tenar akan kharismamu, namun aku juga tak mengerti  apa alasannya kau memiliki daya tarik tersendiri yang sulit untuk aku jelaskan.
Kau adalah sesosok lelaki yang baik dan ramah, sebut saja dia Aga. Dia adalah sesosok teman yang berkesan diwaktu perjumpaan pertama. Bukan perjumpaan pertama tapi lebih tepatnya penglihatan pertama dan hanya sekilas.Ya, aku memang tidak pernah kenal sebelumnya, namun semenjak aku telah mendaftar dan telah tercatat sebagai peserta ospek fakultas dan jurusan Ilmu pemerintahan di sebuah PTN di jogja, mulai ada yang menghubungiku lewat pesan singkat. Dengan tanpa basa-basi pesan itu berisi “hi.. km Rasya ya? Jurusan Ilmu Pemerintahan?” tak perlu ku berpikir panjang, lalu ku balas “iya, ini siapa?” dengan cepat balasan smsnya kubaca “aku Aga, Ilmu Pemerintahan juga.”, kubalas lagi “ohh, km kelas A atau B? aku kelas B “,  “aku kelas A,, yaudah salam kenal ya ”  itulah akhir dari pesan singkat kami. Namun itu tak memberikan pengaruh apa-apa bagi ku, karna aku berpikir bahwa yang namanya mahasiswa baru berkenalan adalah hal yang wajar.
Perjalanan ospek pun kami lewati dengan penuh suka cita. Ospek jurusan pun memberikan warna tersendiri bagiku untuk bisa tau wajah Aga yang telah meng- smsku waktu dulu. Dengan konsep bersenang-senang dengan sedikit sentuhan kegiatan yang intelektual mewarnai pengalaman ospek kami di jurusan Ilmu Pemerintahan. Giliran kelompok sebelah yang harus menampilkan kesenian hasil kreativitas peserta ospek. Perkenalan singkat membuatku semakin tidak jelas bagaimana sesungguhnya Aga itu, bahkan wajahnya pun aku tak begitu jelas, namun setidaknya aku memiliki perkiraan Aga itu yang mana, tapi entah salah atau benar aku pun meragukan. Aga ternyata menjadi satu kelompok dengan teman sekampungnya yaitu Farris dalam kelompok ospek fakultas sehingga kedekatannya berlanjut di ospek jurusan.
***
Ini adalah awal dari perjalananku menjadi seorang mahasiswa. Tak mengerti apa yang harus kulakukan dan menuju kelas mana aku harus masuk. Ku ikuti kemana kaki ini melangkah dan membawaku menuju sebuah kelas dengan tingkat kebisingan yang luar biasa. Aku semakin bingung tak tau aku harus bagaimana, dan aku bertanya pada seseorang didepan pintu, “kelas B dimana?” dia menjawab dengan ramah “oh di situ..” sambil menunjuk ke kelas sebelah. Aku memasuki kelas itu, namun kebingungan semakin menjadi-jadi setelah aku melihat teman-teman SMA ku yang jelas-jelas setahuku berada di kelas A. Dan tak ku sangka orang yang aku anggap sebagai Aga dan temannya itu berada di kelas itu, padahal dulu dia mengatakan dia berada di kelas A. Setelah mendengarkan penjelasan salah satu teman, ternyata pembagian kelas diacak, dan aku mulai lega namaku telah disebut dalam absen.
Jeda kuliah kosong diisi dengan kebisingan membahas pengurus kelas. Awalnya menunjuk calon ketua kelas, nama Aga, Farris, dan Edo lah yang terpilih menjadi kandidat, dan yang terpilih berdasarkan suara terbanyak adalah Edo lalu disusul Aga. Rasa bersalah dan menyesal tiba-tiba mendiami hatiku, karena tak tahu mana orangnya, aku memilih Edo, dan setelah mundur, tatapan Aga menjadi aneh dan berubah menjadi tak biasa. Namun aku mencoba cuek dengan itu karena aku pikir dia bukan Aga.
Setelah dua hari menjalani kuliah tugas makalah telah menunggu, dan kamipun tak sengaja menggerombol di Perpustakaan, hingga sore kami terus bercanda sambil memahami teman baru yang belum lama kami kenal. Dan baru aku sadar bahwa orang yang aku anggap Aga ternyata adalah Farris. Itu sungguh lucu sekali, salah dugaan hahaha. Disitulah aku tau siapa Aga, dan yang aku herankan diantara Aga dan Farris terdapat beberapa kesamaan. Mereka berasal dari kota yang sama, logat bicara yang khas juga sama, kejailan yang mirip, tinggi yang hampir sama, dan terkadang duduknya pun sering bersebelahan.
            Waktu perlahan berjalan kami lewati dengan penuh canda, tawa, kesibukan dan hal-hal iseng lainnya. Karena terbiasa bersama tak sengaja terbentuk kedekatan yang tak biasa diantara kami, bahkan sering di juluki double trio. Aneh sih tapi memang begitu. Aku, Nayla, dan Meysa sedangkan trio satunya, Aga, Farris, dan Edo. Ini terbentuk tanpa terrencana, semua mengalir begitu saja tanpa ada unsur kesengajaan. Tak terkira juga kedekatan semakin terjalin ketika kita nongkrong di Perpus, nongkrong di Taman, bahkan kerja kelompokpun selalu bersama. Ketika aku kerja kelompok dengan kelompok berbedapun mereka dengan setia menunggu bahkan sampai larut. Rasa salutku kepada mereka bertambah disaat mereka selalu menguatkan aku disaat aku goyah, ragu akan pilihanku berada di jurusan ini. Aga memang lebih banyak memberiku kata-kata semangat untuk aku tetap bertahan dengan jurusan ini, karena nasibnya yang hampir sama denganku, jadi dia paham dengan apa yang aku rasakan dengan jurusan ini. “Sulit menjalani hal yang kita sendiri belum yakin untuk menjalaninya, namun ini pilihan kita dari awal dan takdir juga telah memutuskan untuk kita berada di jurusan ini. Kita jangan mudah menyerah dan mengeluh dengan ini, kita sudah niat dari awal kuliah untuk membanggakan Orang Tua, dan mari kita bersama-sama belajar saling membantu dan saling menguatkan satu sama lain untuk kita tetap bertahan di jurusan yang mungkin memang bukan bidang kita dari awal. Tapi yakinlah ada kawan kita yang siap membantu untuk kita melangkah maju dan progresif berkarya dan berprestasi”, itulah kata-kata Aga yang tak pernah ku lupa.
            “Hey, Rasya..”
            “Hey.. ada apa??”’, “Nih aku ada buku bagus lho, mau baca?”
            “Boleh deh, coba lihat..”
            Aku asyik membaca buku kecil berisi kumpulan cerita cinta yang dipinjamkan teman sekelasku.Tak terpengaruh dengan kebisingan teman kelas yang memperdebatkan masalah yang tak penting, aku tetap terpaku pada buku itu dan berniat menyelesaikan membacanya. Bahkan melewati kuliahpun perhatianku tetap tertuju pada buku itu, dan kuliah dari dosen tak masuk sama sekali di otak ku. Namun aku senang dengan kegiatanku ini, bahkan dipergantian jam untuk pindah ruang kelaspun mataku tetap tertuju pada bacaan ku itu. Dipojok depan kelas aku menyendiri lesehan, dan masih asyik dengan bacaaanku itu, tak tahu kenapa, Aga mendekatiku juga dengan bacaannya mengenai psikologi. “Pada kesambet apaan nih mendadak pada rajin baca buku, hehe..” kata salah satu teman kelas, namun kata-kata itu hanya kami tanggapi dengan tatapan datar dan sedikit sunggingan senyum, dan kami lanjutkan membaca. Beberapa waktu kami lewati dengan saling diam dan sibuk dengan bacaan masing-masing, lalu terdengar suara riuh di kelas “Ciieee..cieee.. “, dan kamipun sadar suara riuh itu tertuju untuk kita, dan menghentikan bacaan sejenak untuk sekedar senyum-senyum gak jelas. Sampai akhirnya dia bilang ke Nayla yang tadi telah mendekat diantara duduk kami. “Tuhh, temenmu aneh,, tadi senyum-senyum sendiri sekarang nangis tuhh..” sindir Aga, yang aku sadar bahwa kata-kata itu untuk aku. Ku hentikan membaca sejenak, lalu ku jelaskan alasan ku menangis, “ehh ini tuh mengaharukan, nih kisah cinta seorang ayah ke anaknya tauukkk..” dengan lengkingan diakhir kalimat, lalu ku teruskan membaca. Tak kusangka jam kuliah telah habis, dan aku tak menyadari jika kuliah hari itu kosong. Teman-teman lain telah bergegas meninggalkan ruang kelas, dan disitu hanya tertinggal beberapa orang termasuk aku dan Aga yang masih bercakap-cakap mengenai bacaan kita. Sedikit aku menjelaskan mengenai cinta yang baru saja aku baca, sebaliknya Aga menjelaskan beberapa inti dari apa yang baru saja dia baca yaitu mengenai Psikologi. Dan ditengah asyiknya percakapan kita, tersadar bahwa ruang kelas telah sepi hanya tertinggal kita berdua. Bergegas kitapun menyusul teman-teman lain untuk istirahat melepas dahaga dan lapar. Aku, Nayla, Meysa, Edo, Farris, dan Aga makan siang dikantin fakultas, dan kitapun mendominasi keramaian kantin saat itu. Senda gurau, candaan, ledekan pun terlontar diantara kita.
            Berawal dari itu kedekatanku pada Aga semakin terlihat bahkan kadang disalah artikan oleh teman lain. Perhatian Aga semakin ditunjukkan padaku disaat kami terlibat dalam satu kepanitiaan yang mengharuskanku untuk nebeng motornya. Setelah acara selesai akupun terlihat lemas, pucat, dan kurang enak badan, Agapun tak henti memberikan perhatiannya padaku, entah itu perhatian untuk teman atau lebih, yang jelas aku mengartikan itu semua hanya perhatiannya sebagai teman biasa, layaknya dia kepada temanku lain seperti Nayla ataupun Mesya. Hari berikutnya acara turun jalan kami lakukan dan disitu kondisi ku belum sehat betul meskipun aku telah beristirahat selama dua hari. Agapun menunjukkan perhatiannya lagi padaku dengan memberikanku tumpangan motornya, dan tak mengijinkanku untuk bawa motor sendiri.
            Hari demi hari kami lewati bersama Aku, Nayla, Meysa, Edo, Farris, dan Aga dengan penuh kedekatan layaknya menemukan keluarga baru yang penuh perhatian. Termasuk perhatian Aga yang memang kuakui lebih dibanding perhatiannya kepada Nayla ataupun Meysa. Aku juga sadar akan hal itu namun aku tak mau besar kepala atau Geer dulu. Aku selalu menganggap semua itu biasa, aku dan Aga layaknya pertemananku dengan Edo, maupun Farris. Namun Nayla dan Meysa menganggapnya berbeda, mereka beranggapan aku dan Aga ada hubungan yang special yang tak diketahui olehnya. Mereka menganggap perhatian Aga yang selalu kutanggapi dengan baik merupakan indikasi bahwa diantara aku dan Aga memiliki rasa. Kedekatan kami selalu diartikan lebih oleh teman-temanku. Dan harus kuakui bahwa kedekatanku dengan Aga memang membuatku senang dan sangat mewarnai hidupku, perhatianya membuatku semakin senang bersamanya, bahkan kebaikannya kepada ku menjadikanku merasa bersalah jika aku kurang peka terhadapnya.
            Akhir-akhir ini semua yang indah antara aku dan Aga mulai memudar sendiri, entah disebabkan oleh apa akupun tak mengerti. Mungkin karena kesibukan masing-masing hingga menjadikan Aga tak punya waktu lagi untuk perhatian padaku lagi. Kebaikannya yang selau mengantarku ke parkiran karena aku takut jika pulang malam, kini tak lagi bisa kulakukan. Perhatiannya yang kadang membuatku jadi illfeel tak lagi ada, canda tawanya yang selalu menyenangkanku meski suntuk menyelimuti hati kini tak lagi tercipta, bahkan kedekatan kita pun kini telah sirna. Perubahan inilah yang tidak pernah aku harapkan sebelumnya, karena aku sadar teman sebaik Aga memang sulit untuk ku dapatkan. Namun Aga yang perlahan menjaga jarak denganku, aku tak mengerti alasannya mengapa Aga menjauh dariku. Entah karena tak mau diledek teman lain, atau entah karena memang tak mau lagi dekat denganku, atau karena dia illfeel denganku atau yang lain yang aku sendiri bingung untuk menjelaskan, karena akupun memang tak tahu kenapa Aga menjauh dariku. Jujur aku sedih, merasa kehilangan bahkan terasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup ini. Aku tak mengerti mengapa aku merasa seperti ini, aku tak paham mengapa aku harus setakut ini kehilangan Aga, tak tahu kenapa aku begitu sedih,  dan janggal dengan keadaan seperti ini.
            Tepat ditanggal 14 Februari 2013, kami mendapat kesempatan untuk sekedar berbincang di salah satu taman kampus. Hanya aku dan Aga, tak kusangka dia memberiku Coklat, Aga memang tahu kesukaanku adalah coklat, sesuntuk apapun hatiku, dengan coklat manjadikanku merasa Good Mood lagi. Bukan karena dalam rangka valentine, tapi hanya sekedar kasih coklat karena memang aku suka dengan coklat. Namun aku ragu untuk menerimanya, kupenggal kata-katanya sebelum dia lanjut mengatakan hal-hal lain. “Aga, kamu knapa kok akhir-akhir ini jadi ngejauhin aku, ngediemin aku, dan kamu jadi beda sama aku??” wajahku mulai memerah, namun Aga menjawab dengan wajah penuh ketenangan “Lhoh siapa yang jauhin kamu?, diemin kamu? Perasaan aku gak pernah deh diem, ataupun jauhin kamu,, mungkin kamu aja yang ngrasa begitu, tapi sebenernya kan enggak.. “ aku semakin tak bisa menahan sedihku, mataku telah berkaca-kaca tak mampu menahan sedihku yang memuncak disaat itu. “Ini gak mungkin hanya perasaanku saja, kamu emang berubah denganku kok, kamu sekarang cuek sama aku, ketemu aku dengan teman-teman pun kamu diemin aku, tak pernah kamu menyapaku, apa kamu sekarang benci sama aku? Atau kamu tak mau lagi berteman denganku? atau..” belum sempat aku melanjutkan kata-kataku, sontak tangan Aga meraih tubuhku dan didekapnya tubuh ini dengan penuh kehangatan. Sontak hatiku menjadi teduh dan nyaman dengan kondisi ini, namun pikiranku masing melayang-layang menerka apa arti dari apa yang dilakukan Aga padaku. Namun air mata ini tak henti mengalir justru semakin deras di pelukan Aga, beberapa menit berada dipelukannya menjadikanku sadar akan sesuatu yang sulit kuungkapkan, selain itu timbul rasa takut akan kehilangan Aga yang mulai bergejolak di hati. Setelah kulepaskan pelukan itu, aku dan Aga sama-sama terdiam dan suasana hening tercipta dengan sendiri. Suara tercipta setelah Aga mulai menjelaskan mengapa dia menjauh dariku, “Rasya, kamu jangan salah paham dulu, bukan bermaksud aku menjauh, ataupun cuek ke kamu. Aku hanya tak ingin membuatmu lebih kecewa denganku, mungkin menjauh adalah jalan terbaik agar kamu terbiasa dengan keadaan seperti ini.”Aku tak merespon dengan kata- kata apapun, aku hanya menunjukkan wajah yang kebingunan.“ Ras, mulai sekarang kamu harus terbiasa tanpa aku, kamu harus berjuang untuk cepat lulus, yaa.. maaf aku gak konsisten dengan omonganku yang dulu, maaf aku tidak bisa menjadi teman baikmu lagi, karena aku harus cepat pergi”. Wajah syok, kaget dan tak mengerti yang tercipta di suasana yang teramat asing bagiku. “Seminggu lagi waktuku yang tersisa untuk bisa berada di kampus ini bersama kawan-kawanku semua termasuk kamu, Ras.. dalam waktu dekat ini aku harus terbang ke luar negeri untuk menyusul ayahku yang telah bekerja disana, dan sekarang aku bersama keluargaku harus pindah kesana, untuk hidup dan menetap disana.” Raut mukaku semakin pucat pasi, syok, kaget dan gak menyangka ternyata ketakutanku akan menjadi kenyataan sebentar lagi. Air mataku tak terbendung lagi, tak kuasa menahan tangis, entah apa arti air mataku mengalir, yang jelas suasana hatiku kacau, sedih campur aduk hingga sulit untuk ku diskripsikan.
Dan inilah kenyataan sepahit apapun harus tetap aku rasakan, termasuk merelakan Aga untuk merajut bahagia bersama keluarganya. Aku hanyalah seorang Rasya yang tak berdaya, tak punya kuasa menahan Aga untuk tetap tinggal dan mengais ilmu di kawah yang sama denganku. Mungkin mulai saat ini aku harus bisa beradaptasi dengan segala keadaan ini, mulai sadar bahwa tidak akan ada lagi kata semangat dari kawan yang mampu menguatkan. Tak aka nada lagi perhatian yang selalu disalah artikan. Tapi apapun itu, selagi Aga bahagia aku akan tetap mendukung dan mendoakan untuk kebaikan Aga. Tak akan pernah terlupa kenangan bersama Aga, karena tidak akan pernah ada istilah mantan teman. Karena selamanya akan tetap dan selalu menjadi kawan. Terima Kasih Aga..


Rabu, 02 April 2014

TEKAD YANG SAMA UNTUK BANGKIT DARI LUKA



TEKAD YANG SAMA UNTUK BANGKIT DARI LUKA
Entah apa yang menyatukan kita dalam takdir ini. Yang jelas tidak ada unsure kesengajaan dalam bertemunya kami berdua dalam satu jurusan bahkan satu kelas. Kita dipertemukan menjadi teman yang  memang biasa saja awalnya. Kita dipertemukan secara kebetulan dalam sebuah organisasi dikala SMA. Pertemanan berlanjut tanpa kedekatan special. Ya, aku dan temanku ini hanya berteman layaknya berteman dengan kawan-kawan lainnya, tidak ada kedekatan yang lebih. Sebut saja Rara. Ya, Nini (aku) dan Rara berteman sejak SMA. Dan takdir juga mempertemukan kita dalam studi lanjut kita di perguruan tinggi yang sama, dengan fakultas yang sama, jurusan yang sama bahkan kelas yang sama. Kedekatan kami berlanjut tidak hanya sekedar teman biasa saja. Banyak kesamaan dari kami yang terungkap seiring kedekatan kami. Tepat dihari ulang tahunku yang ke 18, kami mendapat sebuah kebahagiaan yang sama yaitu berhasil lolos mendapatkan beasiswa yang sama. Hal ini kami jadikan suatu perekat dalam hubungan pertemanan kami. Selain itu banyak nasib yang memihak kami yang sama pula. Pada saat pendaftaran ogranisasi kampus kami mendaftar divisi yang sama, tapi ternyata kita dialihkan kedivisi lain yang sama-sama tidak kita inginkan, rasa kecewa yang sama yang kami derita, saling menggerutu, dan saling mengungkapkan kekecewaan kami dengan saling mengutuk keadaan. Bahkan kesamaan tidak berhenti disitu saja, kami merasa memiliki kesamaan nasib dalam hal asmara. Kami sama-sama merasa menjadi korban PHP. Tapi mungkin itu hanya perasaanku saja. Yang jelas kata galau menjadi kata-kata setiap hari yang selalu terucap oleh Rara. Entah mungkin Rara yang terlalu berharap lebih ataukah ini hanya keGe-eran Rara, atau apa, aku juga tidak begitu paham, tidak tahu persis apa yang sesungguhnya Rara rasakan. Yang jelas Rara menjadi penggemar rahasia seorang cowok yang menurutku cowok itu nothing special. Tapi ya begitulah Rara, sebelum mengetahui hal buruknya, tak berhenti Rara menjadi penggemarnya. Bahkan dalam sehari Rara harus bertemu dengan cowok itu, jika tidak bertemu Rara merasa ada yang kurang dalam menjalani harinya. Bahkan yang aku tidak habis piker adalah ketika Rara rela nongkrong di kampus sampai sore hanya sekedar untuk melihat cowok itu. Bagiku hal itu merupakan sebuah hal konyol yang dilakukan Rara, dan aku juga tak habis piker, kenapa aku mau menemani Rara nongkrong tanpa tujuan, hanya untuk menemani Rara menunggu cowok itu lewat di depan mata Rara. Yah namanya juga teman senasib, ketika nasib Rara harus menunggu cowok pujaannya lewat meskipun harus menunggu hingga sore, akupun ikut merasakannya.
Mungkin Rara merasa minder ketika sosok lelaki pujaannya ternyata mengidamkan wanita lain yang menurut Rara jelas lebih baik disbanding dirinya. Namun sebagai teman, aku hanya bisa mendukung apa yang ingin Rara lakukan. Sebelumnya telah banyak hal yang dilakukan Rara agar supaya Rara bisa lebih tahu dan lebih dekat dengan lelaki itu. Dari mulai stalking FB, maupun Twitter hingga mengikuti kegiatan yang juga diikuti lelaki pujaan Rara tersebut. Namun semakin banyak upaya yang dilakukan Rara, sebagai usaha mendekatkan diri dengan lekaki itu, semakin banyak pula fakta yang terungkap yang hanya menjadikan Rara semakin ciut nyalinya. Semakin waktu terus bergulir, Rara merasa tidak ada gunanya masih mengharapkan lelaki yang jelas-jelas tidak mengharapkannya. Rara tersadar bahwa apa yang dilakukannya selama ini sia-sia tak ada gunanya. Hingga Rara memiliki keyakinan kuat untuk mulai Move on dari semua hal konyol itu. Rara ingin bangun dari mimpi-mimpi yang selama ini menjebaknya dalam lubang kegalauan yang selalu mewarnai hari Rara. Rara tidak ingin terbang dalam segala harap yang hanya ada dalam dunia khayal yang setiap hari asyik dikhayalkan dengan tokoh-tokoh imajinatif yang semakin menggantungkan harapan Rara untuk terbang semakin tinggi. Dan kini Rara bertekad, berkeyakinan teguh bahwa Rara akan menghentikan khayalannya dengan diiringi kata Move on untuk melengkapi kebangkitan Rara dari kegalauan.
***
Persamaan kisah asmaraku dengan Rara hampir mirip, namun mungkin bedanya aku bukan lagi sebagai penggemar rahasia, namun berteman dekat, kedekatan aku dan lelaki itu jelas terlihat berbeda, hingga menimbulkan persepsi lain bagi kawan-kawan yang lain. Entah kedekatan seperti apa yang disalah artikan oleh teman-teman lain itu. Yang jelas aku tidak menyadari bahwa kedekatanku dengan lelaki itu merupakan kedekatan yang dianggap special oleh teman-teman lain. Mungkin aku kurang peka dan aku sadar aku bukan orang yang baik untuknya, jadi aku tidak pernah merasa Ge-er dengan segala perhatian yang ditunjukkan kepadaku. Tapi entah apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan lelaki itu. Sebut saja Aan, dia adalah lelaki yang aku maksud. Aku dan Aan memang dekat, baik di kampus maupun dalam komunikasi. Terkadang sesekali Aan menelponku untuk sekedar menghabiskan bonus dengan sharing masalah yang Aan hadapi. Sebagai teman aku hanya bisa mendengarkan, menanggapi semampuku dan mungkin memberikan sedikit masukan meskipun masukan yang mungkin kurang bijak. Oke lupakan masalah telpon-menelpon. Terlepas dari kedekatan kami yang sering telpon-telponan, aku dan Aan juga dekat di dalam kelas, sampai-sampai banyak yang mengira ada hubungan special antara aku dan Aan, tetapi sesungguhnya kami hanyalah sebatas teman saja.
Ketika waktu semakin berlalu, Aan semakin dekat denganku, tetapi mungkin itu hanya salah persepsiku dan itu hanya perasaanku, ataukah itu hanya kege-eranku saja. Namun hatiku semakin yakin bahwa ada hal yang berbeda dalam kedekatan aku dan Aan. Aku merasa ada perhatian yang lebih dari Aan untukku, tapi mungkin itu hanya salah mengartikanku saja. Aku mulai memiliki perasaan yang aneh terhadap Aan, aku mulai berharap lebih kepada Aan, tetapi aku selalu meyakinkan hatiku bahwa Aan adalah teman biasa, dan aku tidak mau berharap lebih pada Aan. Namun aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri ketika hati kecil ini berbicara. Rasa harapku pada Aan semakin memuncak ketika banyak hal yang telah kita lalui bersama Aan dan teman-teman.
Namun ada hal yang cukup membuat hatiku sakit, yaitu ketika aku tahu bahwa Aan telah resmi menjalin hubungan dengan wanita lain. Wanita yang merupakan teman sendiri. Syok, sakit, perih dan entah kata apa lagi yang mampu menggambarkan bagaimana keadaan hatiku saat itu. Terlalu sakit jika mengingat semua yang dilakukan Aan untukku. Tapi kembali lagi, aku menyalahkan diriku sendiri, mungkin aku terlalu ge-er, aku terlalu menaruh harapan yang lebih pada Aan, yang jelas Aan hanya menganggapku hanyalah sebatas teman biasa, tidak lebih. Mungkin sakit ini merupakan kesalahanku juga hingga membuatku menjatuhkan diri dalam lubang kepiluan ini. Aku sering menganggapku ini sebagai korban PHP, tapi mungkin bisa jadi ini karena kege-eranku sendiri saja. Sakit yang kugores sendiri dan aku harus bisa mengobatinya sendiri pula. Diamku kepada Aan bukan berarti aku sakit hati atau sebagainya seperti yang ada dipikiran teman-teman. Aku diam karenan memang Aan melakukan hal itu kepadaku, sedangkan aku bukanlah tipe orang yang mau memulai duluan. Jika Aan diam maka aku juga melakukan hal itu kepadanya, dan diam ini berlangsung cukup lama, hingga akhirnya aku emmantapkan diriku untuk Move on.
Ya aku melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Rara. Kita sama-sama ingin bangkit dari luka ataupun baying-bayang perharapan. Kami ingin terlepas dari cerita dalam khayalan dengan tokoh itu. Kami ingin membuat cerita dalam dunia khayal dengan tokoh-tokoh, dengan peran yang baru dan dengan alur yang baru. Alur yang menceritakan kebangkitan kita dari keterpurukan itu, kami tidak ingin larut dalam kesedihan. Kami tidak ingin stuck diam dalam kata galau. Kami ingin Move on, bergerak untuk menjadi lebih baik. Berjalan bersama waktu yang akan menunjukkan cahaya terang, cahaya kebahagiaan yang akan membawa kita pada kisah asmara yang lebih baik. Yakin bahwa Tuhan akan memberikan keputusan yang baik dan terbaik untuk umat-NYA, dan itu termasuk KITA.
***
So Move on Guys

TITIK BENING DALAM KATA-KATA



TITIK BENING DALAM KATA-KATA
Dalam malam sunyi, hati diselimuti rasa gundah yang tiba-tiba melanda, hingga perasaan inipun menjadi tidak terkontrol. Terlalu mendramatisir keadaan, terlalu memperkeruh suasana hingga hati ini menjadi carut marut entah bagaimana lagi cara mendiskripsikannya. Sudah cukup bingung memahami apa yang terjadi pada diriku sebenarnya. Entah bagaimana aku bisa berbagi cerita dengan orang lain untuk setidaknya mengurangi beban, jika aku sendiri tidak bisa memahami bagaimana sesungguhnya perasaan ini, apa yang aku rasakan terlalu keruh untuk dengan mudah dicari titik beningnya.
Ketika perasaan ini menjadi semakin keruh entah ada saja hal yang melengkapi kekeruhan hati ini. Suasana hati yang kini semakin abu-abu menjadi semakin hitam mengeruh ketika muncul sebuah realita yang cukup menyakitkan, realita yang mampu dijangkau logika, tapi saying aku menjangkau realita itu dengan perasaan, hingga membuat sakit hati ini tak tertahankan. Aku sendiri tak mampu menerima kenyataan itu. Realita itu terlalu menyakitkan untuk kuterima dalam cerita hidupku. Realita itu cukup membuat hati ini sakit hingga membuka luka lama yang perlahan telah menuju sembuh. Realita itu mengungkap bahwa tak selamanya ego yang menguasai diriku adalah hal yang baik dalam penentuan perjalanan hidupku. Aku terlalu mengabaikan suara hati kecilku. Ketika hati kecilku turut ambil suara dalam penentuan perjalanan hidupku, mungkin egoku lebih menguasai dibandingkan suara hati kecilku. Egoku tak mampu terkalahkan dengan suara hati kecilku yang sesungguhnya suara itulah argument yang tepat untuk aku menentukan langkah. Namun apa daya egoku telah menguasai logika, hingga perasaan tak diberikan kesempatan untuk turut andil dalam penentuan perjalanan yang akan kutempuh. Ketika semua sudah terjadi seperti ini, yang ada hanyalah penyesalan diakhir, yang bisa kulakukan. Karena memang hanya itu yang patut aku lakukan, karena apalagi yang harus aku lakukan kalau tidak menyesal?. Ya, penyesalan memang selalu datang diakhir, tetapi tidakkah aku berpikir sebelumnya bahwa ketika aku salah menentukan langkah, akan ada penyesalan yang diwarnai dengan kekecewaan dan itu harusnya telah aku cegah dari awal.
Namun kini semuanya telah terjadi, penyesalan dan kekecewaan tak terbendung lagi, dan akupun bingung bagaimana menentukan langkah selanjutnya yang harus aku ambil, jika arahku melangkah kini masih saja sempoyongan, masih berada dalam pengaruh kontrol penyesalan dan kekecewaan. Ketika penyesalan dan kekecewaan masih mempengaruhi langkahku hadirlah penopang langkah yang setidaknya membantuku untuk melangkah lebih tegak, melangkah lebih baik, lebih punya tujuan, kemana aku harus melangkah. Karena akan ada orang-orang dibalik layar yang akan membantuku melangkah menjadi pribadi yang lebih dewasa, yang mampu menentukan pilihan, menentukan langkah dengan tujuan yang pasti. Setidaknya dengan hadirnya kata-kata yang mampu membangkitkanku dalam rasa penyesalan dan kekecewaan membuat aku sadar bahwa akan sia-sia aku terpuruk dalam sebuah keadaan yang aku buat sendiri yang sesungguhnya akupun tidak ingin berada dalam keadaan yang seperti ini. Sia-sia meratapi semua yang terjadi jika tidak ada solusi yang dihasilkan dengan terus menerus menyesal dan merasa kecewa. Sia-sia menghabiskan waktuku hanya dalam penyesalan dan kekecewaan yang tak berarti.
Dan kata-kata yang menjadi cambukanku untuk menjadi pribadi yang kuat, menjadi pribadi yang selalu kuat dan semangat dalam menyusuri perjalanan hidup akan selalu teringat dalam memori ini. Meskipun hanya sebuah kata-kata namun kata-kata itu memiliki kekuatan yang mampu memberikan suntikan semangat hingga sedikit mampu mengubah mindset-ku menjadi lebih terarah yang bisa aku gunakan sebagai pijakanku untuk melangkah dalam menyusuri jalanan hidup, hingga menuju satu tujuan pasti.
Terima kasih telah menghadirkan kata-kata itu, terima kasih telah merangkai huruf menjadi kata-kata dalam sebuah ungkapan yang mampu memberikan titik bening dalam keruhnya suasana perasaanku. Thanks a lot J
***
Terima kasih untuk anda yang merasa memberikan kata-kata dalam sebuah ungkapan untuk suntikan semangat.