TIDAK
AKAN PERNAH ADA MANTAN TEMAN
Terkadang semua yang terjadi
kepadaku tak seperti apa yang kuharapkan. Awalnya kau memberikan ku celah untuk
ku masuk ke sudut kecil hatimu. Namun saat itu aku belum siap untuk secepat itu
masuk ke dalam sudut hatimu. Perlahan-lahan aku mulai merasakan perbedaan
pelakuanmu terhadapku dibanding kepada teman lain kita. kau memang tak
semenarik actor kelas atas, kau juga bukanlah orang yang tenar akan kharismamu,
namun aku juga tak mengerti apa alasannya
kau memiliki daya tarik tersendiri yang sulit untuk aku jelaskan.
Kau adalah sesosok lelaki
yang baik dan ramah, sebut saja dia Aga. Dia adalah sesosok teman yang berkesan
diwaktu perjumpaan pertama. Bukan perjumpaan pertama tapi lebih tepatnya
penglihatan pertama dan hanya sekilas.Ya, aku memang tidak pernah kenal
sebelumnya, namun semenjak aku telah mendaftar dan telah tercatat sebagai
peserta ospek fakultas dan jurusan Ilmu pemerintahan di sebuah PTN di jogja,
mulai ada yang menghubungiku lewat pesan singkat. Dengan tanpa basa-basi pesan
itu berisi “hi.. km Rasya ya? Jurusan Ilmu Pemerintahan?” tak perlu ku berpikir
panjang, lalu ku balas “iya, ini siapa?” dengan cepat balasan smsnya kubaca
“aku Aga, Ilmu Pemerintahan juga.”, kubalas lagi “ohh, km kelas A atau B? aku
kelas B “, “aku kelas A,, yaudah salam
kenal ya ” itulah akhir dari pesan
singkat kami. Namun itu tak memberikan pengaruh apa-apa bagi ku, karna aku
berpikir bahwa yang namanya mahasiswa baru berkenalan adalah hal yang wajar.
Perjalanan ospek pun kami lewati
dengan penuh suka cita. Ospek jurusan pun memberikan warna tersendiri bagiku
untuk bisa tau wajah Aga yang telah meng- smsku waktu dulu. Dengan konsep
bersenang-senang dengan sedikit sentuhan kegiatan yang intelektual mewarnai
pengalaman ospek kami di jurusan Ilmu Pemerintahan. Giliran kelompok sebelah
yang harus menampilkan kesenian hasil kreativitas peserta ospek. Perkenalan
singkat membuatku semakin tidak jelas bagaimana sesungguhnya Aga itu, bahkan
wajahnya pun aku tak begitu jelas, namun setidaknya aku memiliki perkiraan Aga
itu yang mana, tapi entah salah atau benar aku pun meragukan. Aga ternyata
menjadi satu kelompok dengan teman sekampungnya yaitu Farris dalam kelompok
ospek fakultas sehingga kedekatannya berlanjut di ospek jurusan.
***
Ini adalah awal dari
perjalananku menjadi seorang mahasiswa. Tak mengerti apa yang harus kulakukan
dan menuju kelas mana aku harus masuk. Ku ikuti kemana kaki ini melangkah dan
membawaku menuju sebuah kelas dengan tingkat kebisingan yang luar biasa. Aku
semakin bingung tak tau aku harus bagaimana, dan aku bertanya pada seseorang
didepan pintu, “kelas B dimana?” dia menjawab dengan ramah “oh di situ..”
sambil menunjuk ke kelas sebelah. Aku memasuki kelas itu, namun kebingungan
semakin menjadi-jadi setelah aku melihat teman-teman SMA ku yang jelas-jelas
setahuku berada di kelas A. Dan tak ku sangka orang yang aku anggap sebagai Aga
dan temannya itu berada di kelas itu, padahal dulu dia mengatakan dia berada di
kelas A. Setelah mendengarkan penjelasan salah satu teman, ternyata pembagian
kelas diacak, dan aku mulai lega namaku telah disebut dalam absen.
Jeda kuliah kosong diisi
dengan kebisingan membahas pengurus kelas. Awalnya menunjuk calon ketua kelas,
nama Aga, Farris, dan Edo lah yang terpilih menjadi kandidat, dan yang terpilih
berdasarkan suara terbanyak adalah Edo lalu disusul Aga. Rasa bersalah dan
menyesal tiba-tiba mendiami hatiku, karena tak tahu mana orangnya, aku memilih
Edo, dan setelah mundur, tatapan Aga menjadi aneh dan berubah menjadi tak
biasa. Namun aku mencoba cuek dengan itu karena aku pikir dia bukan Aga.
Setelah dua hari menjalani
kuliah tugas makalah telah menunggu, dan kamipun tak sengaja menggerombol di
Perpustakaan, hingga sore kami terus bercanda sambil memahami teman baru yang
belum lama kami kenal. Dan baru aku sadar bahwa orang yang aku anggap Aga
ternyata adalah Farris. Itu sungguh lucu sekali, salah dugaan hahaha. Disitulah
aku tau siapa Aga, dan yang aku herankan diantara Aga dan Farris terdapat
beberapa kesamaan. Mereka berasal dari kota yang sama, logat bicara yang khas
juga sama, kejailan yang mirip, tinggi yang hampir sama, dan terkadang duduknya
pun sering bersebelahan.
Waktu perlahan berjalan kami lewati dengan penuh canda,
tawa, kesibukan dan hal-hal iseng lainnya. Karena terbiasa bersama tak sengaja
terbentuk kedekatan yang tak biasa diantara kami, bahkan sering di juluki double trio. Aneh sih tapi memang
begitu. Aku, Nayla, dan Meysa sedangkan trio satunya, Aga, Farris, dan Edo. Ini
terbentuk tanpa terrencana, semua mengalir begitu saja tanpa ada unsur
kesengajaan. Tak terkira juga kedekatan semakin terjalin ketika kita nongkrong
di Perpus, nongkrong di Taman, bahkan kerja kelompokpun selalu bersama. Ketika
aku kerja kelompok dengan kelompok berbedapun mereka dengan setia menunggu
bahkan sampai larut. Rasa salutku kepada mereka bertambah disaat mereka selalu
menguatkan aku disaat aku goyah, ragu akan pilihanku berada di jurusan ini. Aga
memang lebih banyak memberiku kata-kata semangat untuk aku tetap bertahan
dengan jurusan ini, karena nasibnya yang hampir sama denganku, jadi dia paham
dengan apa yang aku rasakan dengan jurusan ini. “Sulit menjalani hal yang kita
sendiri belum yakin untuk menjalaninya, namun ini pilihan kita dari awal dan
takdir juga telah memutuskan untuk kita berada di jurusan ini. Kita jangan
mudah menyerah dan mengeluh dengan ini, kita sudah niat dari awal kuliah untuk
membanggakan Orang Tua, dan mari kita bersama-sama belajar saling membantu dan
saling menguatkan satu sama lain untuk kita tetap bertahan di jurusan yang
mungkin memang bukan bidang kita dari awal. Tapi yakinlah ada kawan kita yang
siap membantu untuk kita melangkah maju dan progresif berkarya dan
berprestasi”, itulah kata-kata Aga yang tak pernah ku lupa.
“Hey, Rasya..”
“Hey.. ada apa??”’, “Nih aku ada buku bagus lho, mau
baca?”
“Boleh deh, coba lihat..”
Aku asyik membaca buku kecil berisi kumpulan cerita cinta
yang dipinjamkan teman sekelasku.Tak terpengaruh dengan kebisingan teman kelas
yang memperdebatkan masalah yang tak penting, aku tetap terpaku pada buku itu
dan berniat menyelesaikan membacanya. Bahkan melewati kuliahpun perhatianku
tetap tertuju pada buku itu, dan kuliah dari dosen tak masuk sama sekali di
otak ku. Namun aku senang dengan kegiatanku ini, bahkan dipergantian jam untuk
pindah ruang kelaspun mataku tetap tertuju pada bacaan ku itu. Dipojok depan
kelas aku menyendiri lesehan, dan masih asyik dengan bacaaanku itu, tak tahu
kenapa, Aga mendekatiku juga dengan bacaannya mengenai psikologi. “Pada
kesambet apaan nih mendadak pada rajin baca buku, hehe..” kata salah satu teman
kelas, namun kata-kata itu hanya kami tanggapi dengan tatapan datar dan sedikit
sunggingan senyum, dan kami lanjutkan membaca. Beberapa waktu kami lewati
dengan saling diam dan sibuk dengan bacaan masing-masing, lalu terdengar suara
riuh di kelas “Ciieee..cieee.. “, dan kamipun sadar suara riuh itu tertuju
untuk kita, dan menghentikan bacaan sejenak untuk sekedar senyum-senyum gak
jelas. Sampai akhirnya dia bilang ke Nayla yang tadi telah mendekat diantara
duduk kami. “Tuhh, temenmu aneh,, tadi senyum-senyum sendiri sekarang nangis
tuhh..” sindir Aga, yang aku sadar bahwa kata-kata itu untuk aku. Ku hentikan
membaca sejenak, lalu ku jelaskan alasan ku menangis, “ehh ini tuh mengaharukan,
nih kisah cinta seorang ayah ke anaknya tauukkk..” dengan lengkingan diakhir
kalimat, lalu ku teruskan membaca. Tak kusangka jam kuliah telah habis, dan aku
tak menyadari jika kuliah hari itu kosong. Teman-teman lain telah bergegas meninggalkan
ruang kelas, dan disitu hanya tertinggal beberapa orang termasuk aku dan Aga
yang masih bercakap-cakap mengenai bacaan kita. Sedikit aku menjelaskan
mengenai cinta yang baru saja aku baca, sebaliknya Aga menjelaskan beberapa
inti dari apa yang baru saja dia baca yaitu mengenai Psikologi. Dan ditengah
asyiknya percakapan kita, tersadar bahwa ruang kelas telah sepi hanya
tertinggal kita berdua. Bergegas kitapun menyusul teman-teman lain untuk
istirahat melepas dahaga dan lapar. Aku, Nayla, Meysa, Edo, Farris, dan Aga
makan siang dikantin fakultas, dan kitapun mendominasi keramaian kantin saat
itu. Senda gurau, candaan, ledekan pun terlontar diantara kita.
Berawal dari itu kedekatanku pada Aga semakin terlihat
bahkan kadang disalah artikan oleh teman lain. Perhatian Aga semakin
ditunjukkan padaku disaat kami terlibat dalam satu kepanitiaan yang
mengharuskanku untuk nebeng motornya. Setelah acara selesai akupun
terlihat lemas, pucat, dan kurang enak badan, Agapun tak henti memberikan
perhatiannya padaku, entah itu perhatian untuk teman atau lebih, yang jelas aku
mengartikan itu semua hanya perhatiannya sebagai teman biasa, layaknya dia
kepada temanku lain seperti Nayla ataupun Mesya. Hari berikutnya acara turun
jalan kami lakukan dan disitu kondisi ku belum sehat betul meskipun aku telah
beristirahat selama dua hari. Agapun menunjukkan perhatiannya lagi padaku
dengan memberikanku tumpangan motornya, dan tak mengijinkanku untuk bawa motor
sendiri.
Hari demi hari kami lewati bersama Aku, Nayla, Meysa, Edo,
Farris, dan Aga dengan penuh kedekatan layaknya menemukan keluarga baru yang
penuh perhatian. Termasuk perhatian Aga yang memang kuakui lebih dibanding
perhatiannya kepada Nayla ataupun Meysa. Aku juga sadar akan hal itu namun aku
tak mau besar kepala atau Geer dulu. Aku selalu menganggap semua itu
biasa, aku dan Aga layaknya pertemananku dengan Edo, maupun Farris. Namun Nayla
dan Meysa menganggapnya berbeda, mereka beranggapan aku dan Aga ada hubungan
yang special yang tak diketahui
olehnya. Mereka menganggap perhatian Aga yang selalu kutanggapi dengan baik
merupakan indikasi bahwa diantara aku dan Aga memiliki rasa. Kedekatan kami
selalu diartikan lebih oleh teman-temanku. Dan harus kuakui bahwa kedekatanku
dengan Aga memang membuatku senang dan sangat mewarnai hidupku, perhatianya
membuatku semakin senang bersamanya, bahkan kebaikannya kepada ku menjadikanku
merasa bersalah jika aku kurang peka terhadapnya.
Akhir-akhir ini semua yang indah antara aku dan Aga mulai
memudar sendiri, entah disebabkan oleh apa akupun tak mengerti. Mungkin karena
kesibukan masing-masing hingga menjadikan Aga tak punya waktu lagi untuk
perhatian padaku lagi. Kebaikannya yang selau mengantarku ke parkiran karena
aku takut jika pulang malam, kini tak lagi bisa kulakukan. Perhatiannya yang
kadang membuatku jadi illfeel tak
lagi ada, canda tawanya yang selalu menyenangkanku meski suntuk menyelimuti
hati kini tak lagi tercipta, bahkan kedekatan kita pun kini telah sirna. Perubahan
inilah yang tidak pernah aku harapkan sebelumnya, karena aku sadar teman sebaik
Aga memang sulit untuk ku dapatkan. Namun Aga yang perlahan menjaga jarak
denganku, aku tak mengerti alasannya mengapa Aga menjauh dariku. Entah karena
tak mau diledek teman lain, atau entah karena memang tak mau lagi dekat
denganku, atau karena dia illfeel
denganku atau yang lain yang aku sendiri bingung untuk menjelaskan, karena
akupun memang tak tahu kenapa Aga menjauh dariku. Jujur aku sedih, merasa
kehilangan bahkan terasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup ini. Aku tak
mengerti mengapa aku merasa seperti ini, aku tak paham mengapa aku harus
setakut ini kehilangan Aga, tak tahu kenapa aku begitu sedih, dan janggal dengan keadaan seperti ini.
Tepat ditanggal 14 Februari 2013, kami mendapat
kesempatan untuk sekedar berbincang di salah satu taman kampus. Hanya aku dan Aga,
tak kusangka dia memberiku Coklat, Aga memang tahu kesukaanku adalah coklat,
sesuntuk apapun hatiku, dengan coklat manjadikanku merasa Good Mood
lagi. Bukan karena dalam rangka valentine,
tapi hanya sekedar kasih coklat karena memang aku suka dengan coklat. Namun aku
ragu untuk menerimanya, kupenggal kata-katanya sebelum dia lanjut mengatakan
hal-hal lain. “Aga, kamu knapa kok akhir-akhir ini jadi ngejauhin aku,
ngediemin aku, dan kamu jadi beda sama aku??” wajahku mulai memerah, namun Aga
menjawab dengan wajah penuh ketenangan “Lhoh siapa yang jauhin kamu?, diemin
kamu? Perasaan aku gak pernah deh diem, ataupun jauhin kamu,, mungkin kamu aja
yang ngrasa begitu, tapi sebenernya kan enggak.. “ aku semakin tak bisa menahan
sedihku, mataku telah berkaca-kaca tak mampu menahan sedihku yang memuncak
disaat itu. “Ini gak mungkin hanya perasaanku saja, kamu emang berubah denganku
kok, kamu sekarang cuek sama aku, ketemu aku dengan teman-teman pun kamu diemin
aku, tak pernah kamu menyapaku, apa kamu sekarang benci sama aku? Atau kamu tak
mau lagi berteman denganku? atau..” belum sempat aku melanjutkan kata-kataku,
sontak tangan Aga meraih tubuhku dan didekapnya tubuh ini dengan penuh
kehangatan. Sontak hatiku menjadi teduh dan nyaman dengan kondisi ini, namun
pikiranku masing melayang-layang menerka apa arti dari apa yang dilakukan Aga
padaku. Namun air mata ini tak henti mengalir justru semakin deras di pelukan Aga,
beberapa menit berada dipelukannya menjadikanku sadar akan sesuatu yang sulit
kuungkapkan, selain itu timbul rasa takut akan kehilangan Aga yang mulai
bergejolak di hati. Setelah kulepaskan pelukan itu, aku dan Aga sama-sama
terdiam dan suasana hening tercipta dengan sendiri. Suara tercipta setelah Aga
mulai menjelaskan mengapa dia menjauh dariku, “Rasya, kamu jangan salah paham
dulu, bukan bermaksud aku menjauh, ataupun cuek ke kamu. Aku hanya tak ingin
membuatmu lebih kecewa denganku, mungkin menjauh adalah jalan terbaik agar kamu
terbiasa dengan keadaan seperti ini.”Aku tak merespon dengan kata- kata apapun,
aku hanya menunjukkan wajah yang kebingunan.“ Ras, mulai sekarang kamu harus
terbiasa tanpa aku, kamu harus berjuang untuk cepat lulus, yaa.. maaf aku gak
konsisten dengan omonganku yang dulu, maaf aku tidak bisa menjadi teman baikmu
lagi, karena aku harus cepat pergi”. Wajah syok, kaget dan tak mengerti yang
tercipta di suasana yang teramat asing bagiku. “Seminggu lagi waktuku yang
tersisa untuk bisa berada di kampus ini bersama kawan-kawanku semua termasuk
kamu, Ras.. dalam waktu dekat ini aku harus terbang ke luar negeri untuk
menyusul ayahku yang telah bekerja disana, dan sekarang aku bersama keluargaku
harus pindah kesana, untuk hidup dan menetap disana.” Raut mukaku semakin pucat
pasi, syok, kaget dan gak menyangka ternyata ketakutanku akan menjadi kenyataan
sebentar lagi. Air mataku tak terbendung lagi, tak kuasa menahan tangis, entah apa arti air mataku mengalir, yang jelas suasana hatiku
kacau, sedih campur aduk hingga sulit untuk ku diskripsikan.
Dan inilah kenyataan sepahit
apapun harus tetap aku rasakan, termasuk merelakan Aga untuk merajut bahagia
bersama keluarganya. Aku hanyalah seorang Rasya yang tak berdaya, tak punya
kuasa menahan Aga untuk tetap tinggal dan mengais ilmu di kawah yang sama
denganku. Mungkin mulai saat ini aku harus bisa beradaptasi dengan segala
keadaan ini, mulai sadar bahwa tidak akan ada lagi kata semangat dari kawan
yang mampu menguatkan. Tak aka nada lagi perhatian yang selalu disalah artikan.
Tapi apapun itu, selagi Aga bahagia aku akan tetap mendukung dan mendoakan
untuk kebaikan Aga. Tak akan pernah terlupa kenangan bersama Aga, karena tidak
akan pernah ada istilah mantan teman. Karena selamanya akan tetap dan selalu menjadi
kawan. Terima Kasih Aga..
