SINYAL DIBALIK PILIHAN
Ketika hatiku masih berkutat dengan keraguan, logikaku mulai
bekerja membantu perasaanku. Otakku mulai berpikir langkah apa yang harus aku
pilih. Sekian lama aku termenung dalam keraguan, sekian lama aku mengutuk
hatiku yang masih saja berkutat dalam dilema, dan sekian lama pula aku membuat
Bony dan Sinar menunggu dalam sebuah harap. Rasa bersalah memang tak
terhindarkan, namun apa boleh buat semua itu aku lakukan agar tidak ada kesalahpahaman
diantara kami semua, agar keputusanku tidak menyakiti salah satu pihak, dan
yang paling penting aku memutuskan sebuah keputusan dengan pikiran dan hati
yang tenang. Dalam keadaan tenangpun aku masih diselimuti keraguan untuk
melangkah, aku masih dihantui rasa takut, jika akan menyakiti pihak yang
bersangkutan, tapi apapun resiko itu bagaimanapun aku harus memutuskan, aku
harus berani mengambil semua konsekuensi yang harus aku terima kelak. Aku yakin
baik Sinar maupun Bony akan mampu menerima semua keputusan yang aku buat,
apapun itu. Meskipun mungkin mereka berpikir kenapa aku tega melakukan hal itu.
Tak tega rasanya menggoreskan luka kepada Sinar yang telah begitu baik. Tak tega
pula aku membohongi perasaanku sendiri, bahwa kenyataannya memang aku masih
sayang dengan Bony. Tapi demi kebaikan semuanya aku harus menentukan pilihan. Bahkan
pilihan sulit sekalipun.
***
Tepat ditanggal 14 Februari ini, tepat dimana hari yang
penuh kasih sayang, hari yang special,
dan hari yang tepat untuk mengungkapkan perasaan, bagi beberapa orang. Tak kusangka
setiba aku di rumah, ada seorang kurir yang mengetuk pintu rumahku. Dengan ragu
aku membuka pintu, ada kotak kecil yang menarik berada di tangan kurir itu,
dengan pandangan yang sedikit bingung aku bertanya;
“Maaf, mau cari siapa ya?”
“Maaf mbak, apa benar ini rumah LuLuk? Luluk Purnamasari
tepatnya?”
“Iya pak, benar saya sendiri Luluk, kalo boleh tahu ada apa
ya?”
“Oh, kebetulan mbak, ini atas nama mbak Luluk Purnamasari
mendapat kiriman dari saudara Bony. Silahkan untuk tanda bukti mbak bisa tanda
tangan disini ya.”
“Baik pak, Terima kasih”
“Iya sama-sama mbak, kalo begitu saya pamit. Selamat sore”
“Iya sore, Terima kasih pak”
Kututup kembali pintu rumah, bergegas kubawa lari kotak
kecil yang membuat hatiku semakin berdebar untuk segera membukanya. Tapi sebelum
aku membuka kotak ini, aku berpikir sejenak, ada apa dengan Bony? Kenapa Bony
mengirimkan kotak ini? Apa maksud dari kiriman ini? Ataukah Bony ingin
memperoleh simpatiku dengan melalui kiriman ini? Atau? Banyak tanda tanya di
dalam benakku, sekian menit aku hanya memandangi kotak ini, kotak yang berada
di tanganku ini ragu untuk aku buka. Aku takut jika aku membuka kotak ini ada
hal yang menyebabkan keraguan dalam menentukan keputusanku menjadi timbul lagi.
Tapi rasa penasaran ini mengalahkan semua ketakutanku, dan akhirnya aku membuka
kotak itu.
Tidak kusangka, kotak itu berisi aneka coklat yang terlihat
lezat untuk disantap, terlihat menarik, dan lucu hingga sayang jika harus memakannya.
Terselip sebuah kertas kecil bertulis tangan, sepertinya itu adalah tulisan
Bony yang indah, sebuah kartu ucapan yang dia tulis khusus untukku. Dalam kartu
ucapan itu tertulis indah sebuah kata sederhana namun penuh makna.
Teruntukmu,
Luluk
Mungkin
hari ini tepat hari Valentine, tapi aku tidak bermaksud untuk merayakannya,
hanya saja aku merasa bahwa hari ini adalah hari yang tepat untuk memberimu
coklat. Lama sekali rasanya aku tidak membuatmu tersenyum dengan sebuah coklat.
Semoga coklat itu kamu suka, dan kamu bisa tersenyum dengan coklat itu. Mungkin
aku hanya bisa melakukan itu untuk membuatmu tersenyum dengan jarak yang
memisahkan kita ini. Senyumu yang akan menenangkanku disini.
Bony
Kata itu terlihat sebuah ungkapan yang biasa bagi orang
lain, tetapi sungguh ungkapan itu adalah sebuah ungkapan yang luar biasa
bagiku, ungkapan yang tidak pernah aku lupakan, sebuah ungkapan yang penuh
makna untuk hati yang pernah terluka. Aku yakin sekali bahwa ungkapan itu
dibuat oleh Bony dengan segala ketulusannya. Bony bukan tipe orang yang mampu
menulis kata-kata tanpa sebuah ketulusan. Aku merasa bahwa Bony yang sekarang
telah berubah menjadi Bony yang sungguh-sungguh, Bony yang tidak lagi
mempermainkan perasaan. Aku merasa dibawa terbang kembali bersama ungkapan
kata-kata yang ditulis Bony. Aku merasa kini Bony telah menunjukkan kesungguhan
dan keseriusannya. Terlepas dari semua keyakinanku terhadap Bony, tetap saja
terselip ketakutan yang dulu muncul dalam benak. Aku tetap harus selalu waspada
dengan luka yang sama, aku harus lebih berhati-hati menanggapi semua yang
dilakukan Bony. Tapi jujur untuk kali ini aku merasa bahwa Bony memang
benar-benar tulus, Bony memang benar-benar serius dengan perasaannya
terhadapku. Kali ini aku percaya dan yakin bahwa tidak ada unsur negatif dalam
kiriman coklatnya kali ini.
Kutatap lekat-lekat, coklat-coklat yang menarik dan lucu
itu, senyam-senyum sendiri di kamar menjadi ekspresi yang tak bisa aku tahan. Anganku terbang bersama
kenangan-kenangan indah bersama Bony dulu. Harapku kepada Bony semakin besar. Aku
ingin mengulang masa-masa indah bersama Bony. Seketika dunia khayalku muncul,
menampung semua imajinasi-imajinasiku yang mulai kubayangkan. Semua menjadi
indah ketika imajinasiku berkerja dengan Bony yang menjadi tokoh utama, dengan
setting cerita yang mendukung dan menjadikanku semakin lama menikmati hidup
dalam khayal, hingga terlupa pada kenyataan bahwa aku harus memutuskan pilihan,
sebuah pilihan yang fair sehingga
tidak ada pihak yang merasa dirugikan ataupun merasa tersakiti. Terlalu bahagia
terbang bersama angan itu, hingga aku tak sadar berapa lama waktu yang telah
kuhabiskan hanya untuk tersenyum memandangi coklat itu, sampai-sampai tidak
mendengar pintu rumah diketuk beberapa kali.
Terkejut melihat Sinar berada dibalik pintu rumah sore itu. Dengan
senyum yang merekah Sinar menyodorkan kotak mungil yang hampir mirip dengan
kiriman Bony, namun kali ini Sinar juga membawakanku setangkai mawar merah yang
indah, wanginya yang merebak menjadikanku kehilangan kata-kata sekalipun hanya
untuk mengucapkan terima kasih kepada Sinar.
“Happy Valentine..,
ehh bukan, maksudku bukan untuk merayakan Valentine
kok, cuma lagi pengen memberi kamu itu, itung-itung buat menebus salahku,
karena semalam udah bikin kamu nangis, hehe.. maaf ya Luk”
“Ohh, iya Sinar kamu tidak perlu repot-repot memberikan ini
semua untukku, dan kamu juga tidak perlu merasa bersalah, kan semalam aku
nangis bukan karena kamu, hehe.. tapi terima kasih ya atas semua ini, gak tau
lagi aku harus bilang apa ke kamu, hehe sekali lagi terima kasih. Oh iya, Sinar
masuk dulu yuk”
“Enggak Luk, terima kasih, aku mau langsung cabut aja, aku
ditunggu temenku, biasa mau nongkrong bareng, hehe.. yaudah aku pergi dulu yah,
semoga kamu suka dengan itu”
“Iya, terima kasih banyak ya Sinar, hati-hati di jalan,
hehe..”
Kembali kututup pintu rumah, dan mulai melangkahkan kaki ku
menuju kamar, kali ini dengan perasaan yang biasa saja, entah mengapa perasaan
senangku menjadi datar, berbeda ketika menerima kiriman dari Bony. Padahal Sinar
tidak kalah tulus, tidak kalah sungguh-sungguh, bahkan Sinar memberikannya
secara langsung, dengan kata-kata yang diucapkan secara langsung pula. Tapi aku
tak memungkiri bahwa hatiku tidak sebahagia ketika menerima dari Bony, meskipun
hanya lewat pos tetapi setidaknya inilah salah satu bukti kesungguhan dan
keseriusan Bony.
Dengan perlahan mulai kubuka kotak pemberian Sinar, dan
ternyata sama berisi aneka coklat yang indah, lucu dan menarik hingga merasa
sayang untuk dimakan. Namun tidak ada kartu ucapan yang terselip diantara
coklat itu, karena mungkin ucapan sudah diungkapkan secara langsung. Meskipun coklat
pemberian Sinar jauh lebih menarik, jauh lebih indah, tetapi entah apa maksud
hati ini, aku merasa lebih senang, lebih bahagia dengan pemberian Bony, yang
mungkin lebih sederhana tapi penuh makna. Aku melihat dari kesederhanaan ini
yang justru menjadi daya tarik, justru yang lebih mengena dihati. Aku tidak
melihat dari seberapa indah atau seberapa mahal nilai pemberian, tetapi yang
aku tangkap ada keseriusan, ada ketulusan dari Bony dengan kirimannya. Berbeda
dengan pemberian Sinar, yang mungkin dengan keseriusan dan ketulusan yang sama
bahkan pemberiannya lebih bagus, tapi aku tidak merasakan hal yang special dari pemberian Sinar itu.
***
Sama sekali tidak ada maksud untuk membanding-bandingkan
pemberian Bony ataupun Sinar, tidak ada maksud untuk tidak menghargai
pemberian. Namun aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Jujur berkesan
sekali ada orang yang mau memberikan aku sesuatu yang sangat aku suka, baik itu
dari Bony maupun Sinar. Namun dengan pemberian itu, aku ingin mencari tahu
bagaimana perasaanku kepada dua orang ini. Apakah hatiku masih benar-benar
memiliki rasa sayang terhadap Bony, ataukah sudah berpaling kepada Sinar. Dengan
pemberian ini, setidaknya aku mendapatkan sinyal keputusan apa yang akan aku
pilih. Aku akan kembali kepada Bony atau memulai perjalanan baru dengan Sinar. Dengan
sinyal ini keraguan hatiku semakin mendapatkan jalan terang, jalan yang
kemungkinan akan aku ambil untuk menentukan keputusan secepatnya. Agar aku
tidak membiarkan orang lain menunggu dalam sebuah harap. Semoga sinyal ini
memberikanku kemudahan jalan, jalan yang memang terbaik untuk semuanya,
sehingga memunculkan keputusan yang bijak, keputusan yang memang terbaik untuk
semuanya. Semoga ini menjadi sinyal dibalik sebuah pilihan.
***


