Rabu, 29 Januari 2014

SINYAL DIBALIK PILIHAN #9



SINYAL DIBALIK PILIHAN
Ketika hatiku masih berkutat dengan keraguan, logikaku mulai bekerja membantu perasaanku. Otakku mulai berpikir langkah apa yang harus aku pilih. Sekian lama aku termenung dalam keraguan, sekian lama aku mengutuk hatiku yang masih saja berkutat dalam dilema, dan sekian lama pula aku membuat Bony dan Sinar menunggu dalam sebuah harap. Rasa bersalah memang tak terhindarkan, namun apa boleh buat semua itu aku lakukan agar tidak ada kesalahpahaman diantara kami semua, agar keputusanku tidak menyakiti salah satu pihak, dan yang paling penting aku memutuskan sebuah keputusan dengan pikiran dan hati yang tenang. Dalam keadaan tenangpun aku masih diselimuti keraguan untuk melangkah, aku masih dihantui rasa takut, jika akan menyakiti pihak yang bersangkutan, tapi apapun resiko itu bagaimanapun aku harus memutuskan, aku harus berani mengambil semua konsekuensi yang harus aku terima kelak. Aku yakin baik Sinar maupun Bony akan mampu menerima semua keputusan yang aku buat, apapun itu. Meskipun mungkin mereka berpikir kenapa aku tega melakukan hal itu. Tak tega rasanya menggoreskan luka kepada Sinar yang telah begitu baik. Tak tega pula aku membohongi perasaanku sendiri, bahwa kenyataannya memang aku masih sayang dengan Bony. Tapi demi kebaikan semuanya aku harus menentukan pilihan. Bahkan pilihan sulit sekalipun.
***
Tepat ditanggal 14 Februari ini, tepat dimana hari yang penuh kasih sayang, hari yang special, dan hari yang tepat untuk mengungkapkan perasaan, bagi beberapa orang. Tak kusangka setiba aku di rumah, ada seorang kurir yang mengetuk pintu rumahku. Dengan ragu aku membuka pintu, ada kotak kecil yang menarik berada di tangan kurir itu, dengan pandangan yang sedikit bingung aku bertanya;
“Maaf, mau cari siapa ya?”
“Maaf mbak, apa benar ini rumah LuLuk? Luluk Purnamasari tepatnya?”
“Iya pak, benar saya sendiri Luluk, kalo boleh tahu ada apa ya?”
“Oh, kebetulan mbak, ini atas nama mbak Luluk Purnamasari mendapat kiriman dari saudara Bony. Silahkan untuk tanda bukti mbak bisa tanda tangan disini ya.”
“Baik pak, Terima kasih”
“Iya sama-sama mbak, kalo begitu saya pamit. Selamat sore”
“Iya sore, Terima kasih pak”
Kututup kembali pintu rumah, bergegas kubawa lari kotak kecil yang membuat hatiku semakin berdebar untuk segera membukanya. Tapi sebelum aku membuka kotak ini, aku berpikir sejenak, ada apa dengan Bony? Kenapa Bony mengirimkan kotak ini? Apa maksud dari kiriman ini? Ataukah Bony ingin memperoleh simpatiku dengan melalui kiriman ini? Atau? Banyak tanda tanya di dalam benakku, sekian menit aku hanya memandangi kotak ini, kotak yang berada di tanganku ini ragu untuk aku buka. Aku takut jika aku membuka kotak ini ada hal yang menyebabkan keraguan dalam menentukan keputusanku menjadi timbul lagi. Tapi rasa penasaran ini mengalahkan semua ketakutanku, dan akhirnya aku membuka kotak itu.
Tidak kusangka, kotak itu berisi aneka coklat yang terlihat lezat untuk disantap, terlihat menarik, dan lucu hingga sayang jika harus memakannya. Terselip sebuah kertas kecil bertulis tangan, sepertinya itu adalah tulisan Bony yang indah, sebuah kartu ucapan yang dia tulis khusus untukku. Dalam kartu ucapan itu tertulis indah sebuah kata sederhana namun penuh makna.
            Teruntukmu, Luluk
Mungkin hari ini tepat hari Valentine, tapi aku tidak bermaksud untuk merayakannya, hanya saja aku merasa bahwa hari ini adalah hari yang tepat untuk memberimu coklat. Lama sekali rasanya aku tidak membuatmu tersenyum dengan sebuah coklat. Semoga coklat itu kamu suka, dan kamu bisa tersenyum dengan coklat itu. Mungkin aku hanya bisa melakukan itu untuk membuatmu tersenyum dengan jarak yang memisahkan kita ini. Senyumu yang akan menenangkanku disini. 
Bony
Kata itu terlihat sebuah ungkapan yang biasa bagi orang lain, tetapi sungguh ungkapan itu adalah sebuah ungkapan yang luar biasa bagiku, ungkapan yang tidak pernah aku lupakan, sebuah ungkapan yang penuh makna untuk hati yang pernah terluka. Aku yakin sekali bahwa ungkapan itu dibuat oleh Bony dengan segala ketulusannya. Bony bukan tipe orang yang mampu menulis kata-kata tanpa sebuah ketulusan. Aku merasa bahwa Bony yang sekarang telah berubah menjadi Bony yang sungguh-sungguh, Bony yang tidak lagi mempermainkan perasaan. Aku merasa dibawa terbang kembali bersama ungkapan kata-kata yang ditulis Bony. Aku merasa kini Bony telah menunjukkan kesungguhan dan keseriusannya. Terlepas dari semua keyakinanku terhadap Bony, tetap saja terselip ketakutan yang dulu muncul dalam benak. Aku tetap harus selalu waspada dengan luka yang sama, aku harus lebih berhati-hati menanggapi semua yang dilakukan Bony. Tapi jujur untuk kali ini aku merasa bahwa Bony memang benar-benar tulus, Bony memang benar-benar serius dengan perasaannya terhadapku. Kali ini aku percaya dan yakin bahwa tidak ada unsur negatif dalam kiriman coklatnya kali ini.
Kutatap lekat-lekat, coklat-coklat yang menarik dan lucu itu, senyam-senyum sendiri di kamar menjadi ekspresi yang  tak bisa aku tahan. Anganku terbang bersama kenangan-kenangan indah bersama Bony dulu. Harapku kepada Bony semakin besar. Aku ingin mengulang masa-masa indah bersama Bony. Seketika dunia khayalku muncul, menampung semua imajinasi-imajinasiku yang mulai kubayangkan. Semua menjadi indah ketika imajinasiku berkerja dengan Bony yang menjadi tokoh utama, dengan setting cerita yang mendukung dan menjadikanku semakin lama menikmati hidup dalam khayal, hingga terlupa pada kenyataan bahwa aku harus memutuskan pilihan, sebuah pilihan yang fair sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan ataupun merasa tersakiti. Terlalu bahagia terbang bersama angan itu, hingga aku tak sadar berapa lama waktu yang telah kuhabiskan hanya untuk tersenyum memandangi coklat itu, sampai-sampai tidak mendengar pintu rumah diketuk beberapa kali.
Terkejut melihat Sinar berada dibalik pintu rumah sore itu. Dengan senyum yang merekah Sinar menyodorkan kotak mungil yang hampir mirip dengan kiriman Bony, namun kali ini Sinar juga membawakanku setangkai mawar merah yang indah, wanginya yang merebak menjadikanku kehilangan kata-kata sekalipun hanya untuk mengucapkan terima kasih kepada Sinar.
Happy Valentine.., ehh bukan, maksudku bukan untuk merayakan Valentine kok, cuma lagi pengen memberi kamu itu, itung-itung buat menebus salahku, karena semalam udah bikin kamu nangis, hehe.. maaf ya Luk”
“Ohh, iya Sinar kamu tidak perlu repot-repot memberikan ini semua untukku, dan kamu juga tidak perlu merasa bersalah, kan semalam aku nangis bukan karena kamu, hehe.. tapi terima kasih ya atas semua ini, gak tau lagi aku harus bilang apa ke kamu, hehe sekali lagi terima kasih. Oh iya, Sinar masuk dulu yuk”
“Enggak Luk, terima kasih, aku mau langsung cabut aja, aku ditunggu temenku, biasa mau nongkrong bareng, hehe.. yaudah aku pergi dulu yah, semoga kamu suka dengan itu”
“Iya, terima kasih banyak ya Sinar, hati-hati di jalan, hehe..”
Kembali kututup pintu rumah, dan mulai melangkahkan kaki ku menuju kamar, kali ini dengan perasaan yang biasa saja, entah mengapa perasaan senangku menjadi datar, berbeda ketika menerima kiriman dari Bony. Padahal Sinar tidak kalah tulus, tidak kalah sungguh-sungguh, bahkan Sinar memberikannya secara langsung, dengan kata-kata yang diucapkan secara langsung pula. Tapi aku tak memungkiri bahwa hatiku tidak sebahagia ketika menerima dari Bony, meskipun hanya lewat pos tetapi setidaknya inilah salah satu bukti kesungguhan dan keseriusan Bony.
Dengan perlahan mulai kubuka kotak pemberian Sinar, dan ternyata sama berisi aneka coklat yang indah, lucu dan menarik hingga merasa sayang untuk dimakan. Namun tidak ada kartu ucapan yang terselip diantara coklat itu, karena mungkin ucapan sudah diungkapkan secara langsung. Meskipun coklat pemberian Sinar jauh lebih menarik, jauh lebih indah, tetapi entah apa maksud hati ini, aku merasa lebih senang, lebih bahagia dengan pemberian Bony, yang mungkin lebih sederhana tapi penuh makna. Aku melihat dari kesederhanaan ini yang justru menjadi daya tarik, justru yang lebih mengena dihati. Aku tidak melihat dari seberapa indah atau seberapa mahal nilai pemberian, tetapi yang aku tangkap ada keseriusan, ada ketulusan dari Bony dengan kirimannya. Berbeda dengan pemberian Sinar, yang mungkin dengan keseriusan dan ketulusan yang sama bahkan pemberiannya lebih bagus, tapi aku tidak merasakan hal yang special dari pemberian Sinar itu.
***
Sama sekali tidak ada maksud untuk membanding-bandingkan pemberian Bony ataupun Sinar, tidak ada maksud untuk tidak menghargai pemberian. Namun aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Jujur berkesan sekali ada orang yang mau memberikan aku sesuatu yang sangat aku suka, baik itu dari Bony maupun Sinar. Namun dengan pemberian itu, aku ingin mencari tahu bagaimana perasaanku kepada dua orang ini. Apakah hatiku masih benar-benar memiliki rasa sayang terhadap Bony, ataukah sudah berpaling kepada Sinar. Dengan pemberian ini, setidaknya aku mendapatkan sinyal keputusan apa yang akan aku pilih. Aku akan kembali kepada Bony atau memulai perjalanan baru dengan Sinar. Dengan sinyal ini keraguan hatiku semakin mendapatkan jalan terang, jalan yang kemungkinan akan aku ambil untuk menentukan keputusan secepatnya. Agar aku tidak membiarkan orang lain menunggu dalam sebuah harap. Semoga sinyal ini memberikanku kemudahan jalan, jalan yang memang terbaik untuk semuanya, sehingga memunculkan keputusan yang bijak, keputusan yang memang terbaik untuk semuanya. Semoga ini menjadi sinyal dibalik sebuah pilihan.
***

Kamis, 23 Januari 2014

LINGKARAN SETAN HATIKU #8



LINGKARAN SETAN HATIKU
Pada titik keraguan ini aku mencoba meyakinkan hatiku. Meyakinkan bahwa apapun yang terjadi aku harus menentukan langkah, harus memberikan keputusan baik kepada Sinar maupun kepada Bony. Aku tidak ingin terkesan aku menggantungkan mereka, namun apapun keputusan yang aku ambil berharap akan menjadi keputusan yang memang terbaik untuk semuanya, untukku, Sinar, Bony dan semuanya. Berharap keputusanku nanti dapat diterima oleh semua pihak pula. Aku tak ingin tindakanku nanti akan menimbulkan sebuah masalah baru yang akan memperkeruh suasana hatiku dan hati mereka. Yang jelas aku akan merasa bersalah ketika keputusanku nanti hanya akan menjadi sebuah keputusan penghalang. Penghalangku untuk move on, penghalangku untuk tetap melangkah, penghalang hubungan komunikasiku baik dengan Sinar maupun Bony, dan penghalang bagi kelangsungan hubungan diantara kami kedepan.
Terlepas dari semua harapan yang aku inginkan itu ada hal yang tak lupa ingin kusampaikan diawal kepada mereka. Namun aku tak kuasa untuk mempertemukan keduanya untuk duduk bersama, membangun sebuah komunikasi dalam sebuah cengkrama sore. Aku merasa perlu mempertemukan Sinar dan Bony dalam waktu dekat ini. Hal itu ingin aku lakukan karena ingin memberikan pemahaman kepada Bony bahwa selama ini sosok Sinarlah yang selalu hadir menemani kesedihanku. Sinar yang berperan penting hingga aku mampu dengan lapang dada menerima semua yang dilakukan Bony. Namun aku juga perlu menunjukkan siapa Bony sebenarnya kepada Sinar. Bony yang menjadikan hatiku sakit, dan menjadikanku terjebak dalam suasana keraguan seperti ini. Sinar perlu tahu siapa Bony yang selama ini menjadi tokoh utama perbincangan dalam curahan hatiku kepada Sinar. Namun keinginan itu tak kunjung aku lakukan, aku masih takut untuk mempertemukan mereka, aku masih ingin menjaga perasaan baik Sinar maupun Bony. Tapi langkah awal yang ingin aku lakukan belum terlaksana menjadikanku semakin berada pada kebimbangan yang tak terkira. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?
***
Malam ini, malam sabtu, minggu kedua untuk bulan ini, ya bulan penuh kasih sayang bagi segelintir orang, karena bulan ini adalah bulan februari yang identik sekali dengan valentine. Entah apa makna sebenarnya dari sebuah hari valentine yang menjadi hari special bagi sebagian orang yang menjalin hubungan special. Oke kembali lagi, pada malam sabtu ini Sinar kembali melakoni rutinitasnya sebagai teman semalamku, teman telpon semalam suntuk lebih tepatnya. Sinar kembali menelponku, tapi kali ini dengan suasana yang berbeda, suasana yang agak canggung dan aneh. Entah keanehan apa yang terjadi diantara aku dan Sinar, ada hal yang sulit tergambarkan dalam sebuah kata-kata mengapa ada kecanggungan yang tidak biasa ini hadir dalam percakapanku dengan Sinar. Sapaan serta celetukan komunikatif antara dua sahabat dekat yang selalu hadir dalam percakapan kami tiba-tiba tidak tercipta sama sekali dalam percakapan telepon malam itu. Percakapan kita mendadak menjadi percakapan garing yang menjadi sangat aneh kedengarannya. Sinar yang biasanya lancar bercerita tentang ini itu, mendadak menjadi terkesan speechless, mungkin Sinar tidak punya bahan cerita yang matang yang akan diceritakan kepadaku, karena memang aku sudah tahu hal yang sebenarnya.
Selain itu aku merasa Sinar tahu bahwa Bony sosok lelaki yang pernah singgah dihatiku kini hadir kembali. Meskipun aku belum menceritakan hal itu kepada Sinar, mungkin dia tahu dari semua pernyataanku serta semua curahanku dalam sebuah sosial mediaku. Ya aku memiliki sebuah blog tempat dimana aku mencurahkan semua hal yang terjadi padaku, entah cerita itu fiksi ataupun non fiksi. Namun bukan Sinar, jika tidak mengetahui mana cerita yang fiksi mana yang non fiksi yang kutulis diblog. Karena Sinar tahu persis bagaimana tipe cerita fiksiku maupun cerita non fiksiku. Selain itu mungkin Sinar merupakan pengamat sosial media yang amat kritis, apalagi terhadap akunku, maklum selain menjadi tugasnya sebagai mahasiswa Psikologi yang harus mengamati kepribadian seseorang melalui akun sosial media, mengamati akun sosial media memang menjadi salah satu sumber informasi akurat untuk tahu apa yang sedang seseorang rasakan, terutama aku.
Mungkin dengan kembalinya Bony yang diketahui Sinar menjadikan percakapan kami menjadi aneh, penuh dengan kecanggungan. Dan ternyata pikiranku tentang hal itu benar. Tepat pada pukul 21.00 WIB malam itu tepat disaat Sinar akan mengakhiri percakapan Sinar menanyakan suatu hal. Hal yang dirasa penting bagi Sinar, dengan nada percakapan yang serius Sinar mulai menanyakan hal itu.
“Luk, bolehkah aku Tanya sesuatu?”
“Boleh, kok Tanya aja, hehe..”
“Cowok yang melukis luka dihatimu kembali hadir ya? Iya maksudku Bony sekarang hadir dikehidupanmu lagi ya? Kok kamu gak cerita lagi? Wah maen rahasia yaahh hehe..”
“Ehh bukan begitu, Sinar.. aku pengen cerita sebenarnya tapi kamu sih gak pernah ajak aku maen lagi, jadi belum sempet cerita deh, hehehe..”
“Luk, aku tahu kok kamu masih sayang sama Bony, aku tahu juga mungkin kamu belum bisa buka hati kamu untuk orang lain termasuk aku, tapi tenanglah tidak perlu kamu pikirkan aku, cukup kamu mempedulikan perasaan dan hatimu saja. Luk, jika hatimu memilih Bony karena aku tahu memang sayangmu kepada Bony memang sayang yang tulus, jadi tidak mudah bagi kamu untuk lepas dari bayang Bony dalam waktu yang singkat. Aku rela, aku akan lebih ikhlas kamu bahagia bersama orang lain yang benar-benar kamu sayang, bukan dengan aku yang belum tentu mampu menyayangimu sebesar sayangmu kepada Bony. Aku akan mundur teratur perlahan menjauh dari kehidupan hatimu bersama Bony. Tentukan langkahmu sesuai kata hatimu. Yakinlah semua akan baik-baik saja, Luk. Dan kamu tak perlu ragu untuk memilih, jika kamu akan kembali pada Bony aku akan tetap mendukungmu, bahkan aku tidak akan pernah menutup kemungkinan untuk kamu bisa curhat lagi kepadaku. Kita akan tetap menjadi sahabat selamanya, tidak pernah ada kata mantan sahabat. Hehe.. oke Luk?”
Air mata ini tak mampu tertahan lagi, hingga perlahan menetes butir demi butir membasahi pipi ini. Tak mampu mengeluarkan kata-kata yang mampu merespon pertanyaan Sinar itu. Rasa bersalah tiba-tiba datang menyelimuti keraguanku, menyelimuti semua perasaanku yang carut marut. Entah apa yang harus aku lakukan dengan pernyataan Sinar itu, hanya isak tangis yang mungkin terdengar disudut telepon. Malam semakin terdengar hening ketika percakapan tiba-tiba terhenti dengan pernyataan Sinar, dan isak tangisku yang tak tertahankan.
“Luk? Kamu nangis? Kenapa? Ayolah kamu cerita, kenapa kamu nangis gini? Apa aku salah ngomong? Atau aku melakukan kesalahan apa? Please jangan buat aku semakin merasa bersalah karena membuatmu menangis seperti ini, tapi aku juga tidak tahu alasannya kenapa kamu menangis, Luk?”
Dengan terbata-bata dan selingan isak tangis mulai aku mengeluarkan kata-kata “Enggak kok, aku nangis karena aku merasa tidak enak hati dengan kamu Sinar. Kamu sudah sangat baik sekali kepadaku, kamu selalu ada untukku baik senang maupun sedih. Tapi justru aku yang seolah tidak tahu terima kasih, aku hanya menganggapmu sebagai sahabat, ketika kamu telah memiliki perasaan yang lebih dari seorang sahabat kepadaku. Aku mohon maaf kepadamu Sinar, jika selama ini aku tidak peka dengan semua perhatianmu kepadaku, bukan bermaksud untuk mengabaikan semua perasaanmu kepadaku, hanya saja aku takut, aku takut untuk memulai. Sekalipun nanti aku memilih kembali kepada Bony, itu bukan berarti kamu tidak lebih baik, justru kamu adalah sahabat yang baik, tak pernah menemukan sahabat sepertimu Sinar. Kamu akan selalu menjadi sahabatku selamanya”
“Iya Luk, tenang saja hilangkan semua rasa bersalahmu, tidak ada yang salah dalam hal perasaan, tidak ada yang salah dalam hal hati. Sayang yang tulus itu akan muncul dengan sendirinya tanpa perlu dikomando. Aku akan turut bahagia seiring kebahagiaanmu juga, sahabat mana yang tidak bahagia ketika sahabatnya bahagia, termasuk aku sebagai sahabatmu, Luk. Sudah sekarang hapus air matamu, sudah jangan menangis lagi, senyum akan membawamu menuju hal yang lebih baik. Semoga kamu bisa segera memutuskan dan memilih keputusan yang akan kamu jalankan. Ayolah, mana senyumnya, anak manis tidak boleh cemberut begitu.. hehe”
“Hehe.. terima kasih ya Sinar, kamu memang sahabat yang pengertian sahabat yang luar biasa, doakan saja ya, aku mampu memilih keputusan yang benar-benar tepat dan terbaik untuk semuanya, hehehe..”
“Nha.. kalo senyum gitu kan jadi tambah manis, ahhaha… okedeh aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu Luluk.., yaudah ini sudah jam 21.30 WIB, waktunya tepat sekali, tepat untuk mengakhiri telpon ini hehe.. selamat tidur Luluk mimpi indah, cepet dapet pencerahan hahaha..”
“Hehe.. okedeh, selamat tidur juga Sinar”
“Oke, aku matiin yaahh.. Assalamualaikum..”
“Okesip, Waalaikumsalam..”
Tttuuutttt. Akhir dari percakapan malam itu. Rasa bersalahku kepada Sinar tak kunjung menuai jalan terang. Merasa sakit hati sendiri ketika mengingat apa yang aku lakukan kepada Sinar. Sinar yang begitu baik kepadaku. Sinar terlalu baik ketika harus menerima semua yang aku lakukan kepadanya.
***
Akan sangat bersalahnya aku ketika aku mengambil langkah dalam waktu dekat ini. Selain langkah yang aku ambil tentu langkah yang masih penuh dengan keraguan, tapi juga langkah yang hanya memikirkan satu pihak, sehingga pihak lain merasa dirugikan. Sulit memang berada dalam posisi yang seperti ini, posisi yang cukup membuatku merasa dilema dengan semuanya. Pertanyaan klasik kembali hadir, aku harus bagaimana? Selalu itu yang muncul dalam benakku. Aku ingin melangkah untuk mengakhiri masa dilema ini. Sudah cukup lama berada dititik keraguan ini. Aku ingin bangkit dari titik ini, ingin keluar dari pusaran keraguan, keluar dari zona ragu yang benar-benar membuatku berada dalam dilema.
Apa yang aku tentukan? Langkah apa yang harus aku jalankan? Aku menghargai semua yang dilakukan Sinar, tapi apa daya hatiku masih memiliki rasa sayang kepada Bony. Tapi kembali lagi hatiku masih ragu untuk memulai hubungan. Semakin pelik keraguan ini, hanya berada dalam satu lingkaran setan yang menjebakku untuk tetap berada dalam keraguan. Bagaimana caranya aku terbebas dari lingkaran itu, jika hati ini tak mau terbebas, justru hatiku sendiri yang menciptakan lingkaran yang menjebakku sendiri. Ya memang bisa dikatankan seperti itu. Lingkaran setan hatiku menjadikan semua menjadi semakin rumit, semakin sulit ditarik benang merahnya. Lagi-lagi aku menemui masalah yang tak kunjung menemui titik terang. Semuanya  karena lingkaran setan hatiku.
***

  

TITIK KERAGUAN #7



TITIK KERAGUAN
“Tanpa harus kesini, tanpa harus menemuiku, dan tanpa harus kamu meminta, aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu meminta maaf Bon. Aku tidak memiliki rasa dendam sedikitpun denganmu. Tapi jika boleh jujur, mungkin rasa sakit hatiku ini terlalu besar untuk kembali merajut hubungan denganmu secepat ini. Aku tidak bisa membohongi hatiku, sesungguhnya aku juga masih mengharapkanmu untuk kembali, tapi maaf juga kalau untuk saat ini aku belum ingin menjalin hubungan. Aku masih ragu dengan semuanya. Aku takut jika nanti aku akan terluka lagi. Belum cukup waktu untuk menjadikan hatiku kembali utuh seperti semula. Aku masih ragu untuk mengambil resiko yang cukup besar, resiko yang mengharuskan aku siap untuk terluka lagi. Jujur luka yang kemarin belum benar-benar sembuh. Tapi tenang saja, aku sudah memaafkanmu Bony”.
Mungkin hanya kata-kata itu yang mampu terucap dari bibirku. Mengungkapkan ungkapan yang berat untuk kuucap sembari menahan sesak dalam dada, mengontrol emosi agar tetap dibawah kendaliku, dan sekuat tenaga menahan air mata ini untuk tidak jatuh menetes. Aku ingin mengatakan apa yang sebenarnya aku rasakan kepada Bony, tapi aku tak kuasa untuk mengatakannya. Aku takut jika hal itu akan menyakiti Bony, yang jelas perlu berpikir dua kali ketika harus menjalin hubungan bersama Bony lagi. Meskipun tak bisa dipungkiri bahwa hati ini masih mengharapkan Bony, masih memberikan sedikit ruang untuk ditempati Bony, namun kehadiran Sinar juga menempati sebagian ruang hatiku, ruang yang memang tidak biasa di hatiku.
***
Semenjak pertemuanku dengan Bony kala itu, kini Bony yang dulu seolah hadir kembali. Bony kembali menjadi sosok yang hangat, sosok yang selalu perhatian, sosok yang selalu care denganku. Tak henti Bony mengirimkan sms sebagai wujud perhatiannya, bahkan ketika beberapa kali sms tidak aku respon, masih saja Bony memberikan perhatiannya itu. Mungkin ini merupakan upaya Bony untuk merebut kembali hati ini, hati yang sempat meragu dengan Bony. Mungkin Bony benar-benar ingin menebus semua kesalahannya kepadaku, kepada hati yang telah terlanjur terluka. Bony benar-benar ingin memulai lembar baru dalam cerita hubungan kita, namun hati kecil ku masih ragu akan kesungguhan Bony, tetapi apapun keraguan itu, aku tetap mengapresiasi usaha Bony yang merusaha meyakinkanku, meyakinkan hati ini untuk kembali percaya pada ketulusan Bony.
Keraguanku semakin memuncak ketika berkali-kali aku mendapati Bony masih saja menjalin komunikasi yang jauh lebih baik dengan Vani. Aku memang tidak melihat secara nyata, tetapi aku mengetahui semuanya dari teman dekat Bony yang mengatakan dalam sebuah komentar dalam sosial media. Secara jelas aku menangkap bahwa masih ada rasa yang tidak biasa yang dirasakan Bony kepada Vani. Selain itu dalam sosial medianya masih saja terlihat pernyataan yang mengindikasikan bahwa mereka masih memiliki komunikasi yang cukup baik, masih memiliki perasaan yang memang tidak bisa disembunyikan antara keduanya, meskipun hanya terlihat dalam pernyataan dunia maya. Namun aku cukup peka dengan pernyataan-pernyataan tersebut, aku cukup bisa mengartikan semua pernyataan itu. Bukan berarti dalam hal ini aku menjadi berpikiran negatif, tetapi aku hanya mengamati realita yang ada. Aku tak mau lagi mengulang kesalahan yang sama, tak mau lagi terjerumus dalam lubang yang sama, yang hanya sekedar percaya akan semua kata-kata dalam bualan semu Bony. Tak mau lagi hanya percaya semua wujud perhatian Bony dalam sebuah pesan singkat semata. Tak mau lagi begitu cepat memberikan keputusan yang nanti hanya akan terjadi sebuah kata penyesalan.
Terlepas dari semua itu, mungkin Bony juga tidak mengetahui kehadiran sosok Sinar yang telah menempati ruang hati ini. Kehadirannya yang mampu memberikan sebuah semangat untuk bangkit dari Bony, yang mampu membawaku melangkah mengarungi perjalanan baru tanpa Bony. Namun kembali lagi hati kecilku masih berkata keraguannya, apa yang harus aku lakukan dengan keadaan ini. Aku harus memutuskan apa dengan pilihan ini, dan aku harus bagaimana dengan semua ini. Bingung, bingung, dan bingung yang mengelilingiku dalam segala keraguanku. Memutuskan hal yang memang membuatku berada dalam sebuah dilema, disatu sisi Sinar hadir dengan cahaya penerangnya, yang menerangi hatiku dalam gelap, yang selalu membawaku menuju dunia yang lebih indah lebih berwarna dan lebih bahagia, namun untuk menjalani hubungan bersama Sinar, hati ini belum cukup yakin, hati ini masih saja berada dalam lingkar keraguannya. Disisi lain kembalinya Bony dengan cahaya lilin kecilnya yang memberikan setitik cahayanya dalam gelap hati ini. Namun tidak lupa bahwa lilin kecil itu pernah membakar hati ini, hingga luka bakarnya masih membekas jelas dihati ini. Bony yang hadir bersama memori yang mengingatkan luka lama, dengan membawa cahaya lilinnya masih saja memiliki tempat dihati ini meskipun bukan tempat yang cukup special. Karena memang sesungguhnya tidak ada yang special dihati ini. Hatiku cukup sakit untuk memberikan ruang special untuk seseorang yang mampu merebut hati ini. Meskipun luka yang ditabur Bony belum sembuh sempurna, namun rasa harapku kepada Bony masih saja belum berubah. Entah keyakinan apa yang ada pada hatiku hingga sebegitu yakinnya aku terhadap Bony, sebegitu berharapnya aku pada Bony. Namun jika untuk kembali memulai hubungan bersama Bony, tetap saja masih ada keraguan yang sulit untuk dijelaskan.
Aku memang terlihat bodoh ketika menuruti perasaan yang aku rasakan. Ketika hati ini sudah benar-benar hancur tak tentu wujudnya, masih saja aku mengharapkan Bony. Ketika hati ini telah mengalami luka yang parah masih saja aku memberikan maaf yang tulus, dan hal yang dirasa paling bodoh adalah dengan kenyataan yang ada masih saja rasa sayangku terhadap Bony belum berubah, masih sama ketika Bony masih seperti dulu. Bahkan ditengah keraguan hatiku ini aku masih sering merasa bahwa saat inilah yang aku tunggu, saat dimana Bony kembali memberikan perhatiannya, saat Bony mengakui semua salahnya, saat Bony menginginkan untuk merajut hubungan kembali. Namun ketika pikiran itu merasuki otakku yang tidak stabil, aku mulai berpikiran lain, bahwa tidak semudah itu kembali menjalin hubungan dengan Bony, mengingat semua yang terjadi pada hati ini, mengingat semua luka yang ditabur Bony. Bukan bermaksud untuk menjadikan semua itu dendam hanya saja aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, ya berkali-kali aku meyakinkan bahwa aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, kesalahan yang cukup untuk kujadikan pelajaran berharga dalam sebuah perjalanan cinta.
Aku berada pada titik dilema yang sangat membingungkan, menjadikan kebimbangan yang cukup memuncak. Seolah aku berada dipersimpangan jalan yang sulit untuk menentukan kearah mana aku harus melanjutkan perjalananku. Keraguan hati yang tak mampu ditoleransi, serta realita yang memang telah ada didepan mata, menjadikan semua bersatu menjadi satu dan menjadi tidak jelas. Mencoba untuk tenang, terdiam dipersimpangan, duduk merunduk sendiri untuk merenungkan, dan mencoba berpikir kemana sebaiknya kaki ini akan kulangkahkan. Maju bersama Sinar ataukah kembali menengok kebelakang, menunggu Bony melangkah menyusulku dan melangkah bersama kedepan dengan perjalanan baru. Ataukah aku akan duduk terdiam dipersimpangan tanpa sebuah tindakan.
***
Pelangi yang aku rindukan tak kunjung menampakkan diri, sekalipun hujan lebat telah reda. Pelangi yang akan membawa warna-warni kebahagiaan, tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Justru hujan yang mulai reda masih saja terlihat murung karena langit tak kunjung cerah, langit masih saja diselimuti dengan warna murung sang mendung. Mungkin seperti itu juga suasana hatiku saat ini. Ketika hatiku reda dari hujan air mata, karena ada Sinar, kini tetap saja hatiku diselimuti mendung dengan kembalinya Bony. Memang mendungnya hati ini sedikit memberikan warna bagi hatiku, meskipun warna penuh kekalutan warna yang justru begitu tidak kuinginkan hadir mewarnai lembar baruku. Namun biar bagaimanapun mendung ini adalah mendung yang sebenarnya aku rindukan, mendung yang tak kuharapkan mewarnai ceritaku, tetapi mendung yang kurindukan hanya untuk memastikan pertanda apa dengan hadirnya mendung itu. Akankah dengan mendung itu akan ada cerah yang akan hadir, ataukah tetap akan mendung bahkan akan ada hujan yang lebat lagi. Ya mendung yang aku rindukan adalah mendung yang menjadi pertanda. Namun sepertinya mendung itu pertanda akan ada hujan lebat lagi ketika aku masih saja berjalan keluar tanpa persiapan membawa payung.
Mendung itu terlihat dari indikasi bahwa Bony masih memiliki perasaan dengan Vani, dan jika aku memutuskan keluar dalam arti aku menjalin hubungan bersama Bony lagi maka akan terjadi hujan lebat, yaitu hujan air mata karena nanti aku yang akan tersakiti, makanya bagaimana caranya aku mempersiapkan payung itu. Sampai sekarang aku tidak punya payung yang akan melindungiku dari lebatnya hujan. Aku takut akan basah kuyup yang berakhir sakit. Ya, ada kesamaan akan turunnya hujan lebat dan menjalin hubungan dengan Bony lagi, yaitu sama-sama ada ketakutan akan sakit. Ketika kehujanan besar kemungkinan akan sakit demam, namun ketika menjalin hubungan dengan Bony akan sakit hati. Berbeda memang tingkat sakitnya, namun aku akan lebih memilih untuk sakit demam yang dengan mudah bisa disembuhkan dengan paracetamol, tapi kalau sakit hati? Entah apa yang bisa menjadi obat dari sakit hati itu, nyatanya sampai sekarang hatiku belum sembuh sempurna.
Pada intinya dibalik keraguanku untuk melangkah dan memutuskan aku harus melakukan apa, ada kekhawatiran jika nanti aku akan terluka lagi. Ada pikiran-pikiran negatifku tentang Bony akan terulang kembali. Lebih jelasnya takut tersakiti lagi. Selain itu bisa dikatakan aku sudah mulai menyukai sosok Sinar, tetapi aku juga masih menyayangi Bony. Disitu adalah titik keraguanku. Namun dalam titik keraguanku itu, aku juga belum berani memulai sebuah hubungan atas nama pacaran, ada ketakutan tersendiri untuk melakukan itu. Untuk saat ini aku akan bertahan pada titik ini, titik penuh pilihan, ya bisa disebut titik keraguan.
***