Jumat, 25 Juli 2014

TAK KUNJUNG PADAM #12



TAK KUNJUNG PADAM

Menganggap semua baik-baik saja antara aku dan Sinar, dan kini sedikit melupakan pembahasan tentang Sinar. Terkesan sedikit egois memang, namun entah mengapa masalah perasaan ingin aku prioritaskan kali ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa perasan memiliki dampak yang cukup luas, mulai dari aktivitas sampai dengan pikiran. Beruntung saja aku masih bisa menahan semua perasaanku sehingga tidak memberikan pengaruh yang begitu signifikan dalam keseharianku. Sesekali menitikkan air mata mendengar syair lagu-lagu yang dinyanyikan teman, atau justru menangis akibat sindiran kawan mungkin menjadi akibat dari sebuah sebab tersebut.
Ketika penantian panjang ingin mendapatkan kepastian, akhirnya hari ini tepat dimana kepalaku terpenuhi akan semua beban pikiran, baik beban perkuliahan maupun keorganisasian, kepastian itu datang. Bukan sebuah kepastian yang menyenangkan, namun justru sebaliknya. Setidaknya hal itu yang turut serta memenuhi beban pikiranku hingga rasa lelah semakin menjadi-jadi. Penat dalam benak, lelah dalam raga, bahkan sesak dalam dada kubalut semua dengan senyum dan tawa. Semua itu aku lakukan hanya ingin terlihat bahwa aku baik-baik saja dihadapan kawan semua. Sakit yang kurasakan tak ingin kutunjukkan menjadi sebuah masalah besar. Aku ingin menjadi wanita tegar yang tidak mudah rapuh digerogoti akan lemahnya perasaan. Dan akhirnya kepastian yang diberikan Bony adalah melepasku. Bisa diartikan bahwa Bony tidak memiliki perasaan yang sama tehadapku. Sebuah kalimat penyataan yang menohok hati yang rapuh. Emosi meninggi diiringi kondisi fisik yang tidak baik turut menjadikan pikiranku semakin kacau. Berhubung aku masih berada dalam sebuah acara yang bertindak sebagai panitia aku mencoba sabar dan lebih legowo menerima semua keputusan Bony. mungkin Bony memiliki sebuah alasan besar yang tidak untuk diketahui oleh orang lain termasuk aku.
Memang sebelumnya aku sudah meyakinkan diriku untuk bersiap menerima segala keputusan yang akan diberikan Bony tentang perasaannya, toh semua yang menyangkut perasaan tidak bisa dipaksakan termasuk memaksakan perasaan Bony untuk sayang terhadap seorang Luluk sepertiku. Mungkin Bony lebih memilih menyayangi Luluk yang lain yang justru lebih baik. Atau jika lebih ber-Su’udzon lagi bisa saja Bony kembali memperbaiki hubungannya bersama Vani, yang bagaimanapun Vani adalah orang yang bisa mengerti Bony lebih dari aku mengertinya. Mencoba berpikir positif bahwa Bony dan Vani memang telah memiliki perasaan sayang yang jauh lebih baik untuk dipertahankan daripada harus membalas perasaanku. Akupun sadar diri dengan posisiku saat ini, aku bukan lagi orang yang special bagi Bony, karena memang tidak ada yang special pada diriku.
“Luluk, maafkan aku bukan bermaksud untuk tidak membalas perasaan sayangmu, namun aku menginginkan kamu bersama lelaki lain yang lebih tepat mendampingimu. Bukan lelaki sepertiku yang tidak pantas untukmu”.
Pernyataan itu yang membuatku terdiam, terus memandang layar hp dalam pesan singkat itu. Aku terus berpikir mencoba menganalisis dari segala sudut pandang, tetap saja aku tidak menemukan alasan yang bagiku benar-benar sebuah alasan yang bisa meyakinkanku dan hatiku. Namun kembali lagi itulah keputusan yang Bony buat, mau tidak mau aku harus menghargai semua itu. Setidaknya dengan menghargai keputusan Bony itu aku melakukan apa yang menjadi kemauan Bony. Semoga saja apa yang menjadi inginnya Bony itu menjadi yang terbaik bagi Bony dan merupakan langkah yang bisa membuat Bony bahagia.
“Baik aku akan belajar dan berproses untuk tidak berharap lagi kepadamu, tapi jangan paksa aku untuk lupa tentang kenangan kita, lupa dengan semua yang pernah kita lukis dalam hidup kita. Tidak aku pungkiri bahwa aku belum bisa menerima semua alasanmu itu, tapi setidaknya aku ingin menghargai keputusanmu dan aku ingin menuruti apa yang menjadi kemauanmu. Semoga apa yang kulalukan ini menjadi bahagiamu. Terima kasih telah mau dan berkenan untuk mengenal Luluk.” Balasan yang kuberikan setelah melakukan perdebatan panjang melalui pesan singkat. Bukan sebuah jalan terang yang didapatkan, namun justru perdebatan demi perdebatan muncul dalam kalimat-kalimat yang tertulis dalam layar hp itu. Jadi aku rasa mengalah dan menuruti apa yang menjadi kemauan Bony adalah cara tepat untuk mengakhiri perdebatan pesan singkat itu.
***
Malam ini menjadi malam penuh kepenatan, usai menjadi panitia sebuah acara dan masih terbebani dengan tugas yang belum terselesaikan dalam keorganisasian, tugas kuliah dan masih tambah lagi permasalahan rumah yang turut berkecamuk dalam benak. Belum lagi memikirkan keputusan yang diberikan Bony semakin membuat aku menemui jalan buntu dalam pikiranku. Bukan menyelesaikan tugas satu persatu yang kulakukan, tapi justru sebaliknya. Aku hanya terdiam duduk dengan tatapan kosong dan perlahan air mata mengalir. Mencoba menyeka air mata dipipi namun tetap saja tidak berhenti mengalir. Beranjak mengambil air wudlu berdalih agar tidak terlihat sedang menangis, bersujud dihadapan Tuhan memohon ampunan. Semoga semua yang aku hadapi saat ini menjadi sebuah cobaan yang berhasil terlampaui. Bukan bermaksud tidak terima dengan apa yang terjadi, namun hanya tidak paham kenapa semua terjadi begitu bersamaan, seolah tidak ada hari lain selain hari ini. Namun kusyukuri nikmat Tuhan ini, kunikmati masa-masa seperti ini, mungkin saja suatu saat nanti aku merindukan masa-masa penuh ujian seperti ini. 

Tuhan, maafkan segala dosa yang sengaja ataupun tidak sengaja yang telah kuperbuat. Maafkan segala dosa orang tuaku, serta orang-orang tedekatku.
Hamba memohon kepada-Mu, jika apa yang terjadi hari ini adalah cara terbaik untuk mendewasakanku, aku ikhlas menjalaninya. Tapi hamba memohon berikan kekuatan, ketabahan, dan kesabaran yang luas bagi hamba dalam menjalani semua takdir-Mu ini.
Semoga Bony juga bahagia dengan semua keputusannya, mudahkan dan lancarkan segala urusan Bony. Bahagiakan Bony bersama teman, sahabat, saudara, keluarga dan orang terdekatnya. Jika Engkau mentakdirkan Bony bahagia bersama wanita yang dia pilih, mudahkan urusannya dan langgengkanlah hubungan mereka. Amin. :)
***
Berproses dan belajar untuk lepas dari bayang-bayang Bony adalah perkara yang tidak mudah. Butuh waktu dan kesiapan hati, apalagi perasaanku terhadap Bony adalah perasaan yang tulus. Mungkin benar kata orang, ketika salah satu pihak telah menjalani hubungan dengan ketulusan, maka kemungkinan besar satu pihak yang lain yang akan menghancurkan ketulusan itu. Maka alangkah baiknya jika ketulusan itu dibangun dan ditumbuhkan bersama-sama dari kedua belah pihak yang bersangkutan. Aku tidak pernah menyesali ketulusan perasaanku terhadap Bony, akan kujadikan sebuah pelajaran berharga, dimana aku bisa merasakan  apa yang disebut galau dan jatuh cinta. Aku juga patut berbangga karena aku diberikan kesempatan untuk mengenal sosok yang luar biasa seperti Bony, sosok yang berprestasi dan baik dalam segala hal (bagiku).
‘Experience is the best teacher’ adalah benar bagiku. Sebuah pengalaman berharga yang mungkin sampai sekarang belum bisa hilang dalam memori. Cerita tidak berhenti disini, semua tentang Bony tidak akan berakhir dengan judgment kali ini. Proses akan terus berjalan, perlahan dan terus belajar untuk tetap tersenyum menghadapi mentari tanpa rasa harap tentang Bony lagi. Tidak ada yang perlu disalahkan, karena perasaan memang tidak pernah salah. Perasaan tumbuh begitu saja tanpa dikomando terlebih dulu. Perasaan terus berkembang seiring waktu yang terus menunjukkan perhatian. Dan waktu pulalah yang menyadarkan perasaan itu, bahwa tak selamanya perasaan yang tumbuh adalah perasaan yang benar untuk orang yang benar pula.
Tidak perlu munafik dengan semua ini, pada kenyataannya aku memang belum bisa lepas dari bayang-bayang Bony. Tidak mudah untuk menghapus semua tentang Bony dalam waktu yang cukup singkat. Memang move on adalah perkara kemauan, apakah kemauan itu tumbuh dalam diri atau tidak, dan ketika kemauan itu diiringi dengan usaha maka berhasillah. Sayangnya kemauan itu belum tumbuh dalam diri ini, dan usaha yang aku lakukanpun tidak ada alias nol besar. Bagaimana mungkin aku menumbuhkan kemauanku untuk move on dari seorang Bony yang begitu special bagiku, dan bagaimana pula aku bisa terus berusaha untuk move on dan lupa tentang Bony, ketika semua yang kulakukan justru terus teringat tentangnya. Menjadi mustahil lupa dengan Bony ketika aku masih terus dan selalu begini.
Rasanya bodoh diri ini, ketika fakta telah nyata ada namun perasaan ini tak kunjung padam.
***