TAK KUNJUNG PADAM
Menganggap semua baik-baik saja antara aku dan Sinar, dan
kini sedikit melupakan pembahasan tentang Sinar. Terkesan sedikit egois memang,
namun entah mengapa masalah perasaan ingin aku prioritaskan kali ini. Tidak bisa
dipungkiri bahwa perasan memiliki dampak yang cukup luas, mulai dari aktivitas
sampai dengan pikiran. Beruntung saja aku masih bisa menahan semua perasaanku
sehingga tidak memberikan pengaruh yang begitu signifikan dalam keseharianku. Sesekali
menitikkan air mata mendengar syair lagu-lagu yang dinyanyikan teman, atau
justru menangis akibat sindiran kawan mungkin menjadi akibat dari sebuah sebab
tersebut.
Ketika penantian panjang ingin mendapatkan kepastian,
akhirnya hari ini tepat dimana kepalaku terpenuhi akan semua beban pikiran, baik
beban perkuliahan maupun keorganisasian, kepastian itu datang. Bukan sebuah
kepastian yang menyenangkan, namun justru sebaliknya. Setidaknya hal itu yang
turut serta memenuhi beban pikiranku hingga rasa lelah semakin menjadi-jadi. Penat
dalam benak, lelah dalam raga, bahkan sesak dalam dada kubalut semua dengan
senyum dan tawa. Semua itu aku lakukan hanya ingin terlihat bahwa aku baik-baik
saja dihadapan kawan semua. Sakit yang kurasakan tak ingin kutunjukkan menjadi
sebuah masalah besar. Aku ingin menjadi wanita tegar yang tidak mudah rapuh
digerogoti akan lemahnya perasaan. Dan akhirnya kepastian yang diberikan Bony
adalah melepasku. Bisa diartikan bahwa Bony tidak memiliki perasaan yang sama
tehadapku. Sebuah kalimat penyataan yang menohok hati yang rapuh. Emosi meninggi
diiringi kondisi fisik yang tidak baik turut menjadikan pikiranku semakin
kacau. Berhubung aku masih berada dalam sebuah acara yang bertindak sebagai
panitia aku mencoba sabar dan lebih legowo menerima semua keputusan Bony.
mungkin Bony memiliki sebuah alasan besar yang tidak untuk diketahui oleh orang
lain termasuk aku.
Memang sebelumnya aku sudah meyakinkan diriku untuk bersiap
menerima segala keputusan yang akan diberikan Bony tentang perasaannya, toh
semua yang menyangkut perasaan tidak bisa dipaksakan termasuk memaksakan
perasaan Bony untuk sayang terhadap seorang Luluk sepertiku. Mungkin Bony lebih
memilih menyayangi Luluk yang lain yang justru lebih baik. Atau jika lebih ber-Su’udzon lagi bisa saja Bony kembali
memperbaiki hubungannya bersama Vani, yang bagaimanapun Vani adalah orang yang
bisa mengerti Bony lebih dari aku mengertinya. Mencoba berpikir positif bahwa
Bony dan Vani memang telah memiliki perasaan sayang yang jauh lebih baik untuk
dipertahankan daripada harus membalas perasaanku. Akupun sadar diri dengan
posisiku saat ini, aku bukan lagi orang yang special bagi Bony, karena memang tidak ada yang special pada diriku.
“Luluk, maafkan aku bukan bermaksud untuk tidak membalas
perasaan sayangmu, namun aku menginginkan kamu bersama lelaki lain yang lebih
tepat mendampingimu. Bukan lelaki sepertiku yang tidak pantas untukmu”.
Pernyataan itu yang membuatku terdiam, terus memandang layar
hp dalam pesan singkat itu. Aku terus berpikir mencoba menganalisis dari segala
sudut pandang, tetap saja aku tidak menemukan alasan yang bagiku benar-benar
sebuah alasan yang bisa meyakinkanku dan hatiku. Namun kembali lagi itulah
keputusan yang Bony buat, mau tidak mau aku harus menghargai semua itu. Setidaknya
dengan menghargai keputusan Bony itu aku melakukan apa yang menjadi kemauan
Bony. Semoga saja apa yang menjadi inginnya Bony itu menjadi yang terbaik bagi
Bony dan merupakan langkah yang bisa membuat Bony bahagia.
“Baik aku akan belajar dan berproses untuk tidak berharap
lagi kepadamu, tapi jangan paksa aku untuk lupa tentang kenangan kita, lupa
dengan semua yang pernah kita lukis dalam hidup kita. Tidak aku pungkiri bahwa
aku belum bisa menerima semua alasanmu itu, tapi setidaknya aku ingin
menghargai keputusanmu dan aku ingin menuruti apa yang menjadi kemauanmu. Semoga
apa yang kulalukan ini menjadi bahagiamu. Terima kasih telah mau dan berkenan
untuk mengenal Luluk.” Balasan yang kuberikan setelah melakukan perdebatan
panjang melalui pesan singkat. Bukan sebuah jalan terang yang didapatkan, namun
justru perdebatan demi perdebatan muncul dalam kalimat-kalimat yang tertulis
dalam layar hp itu. Jadi aku rasa mengalah dan menuruti apa yang menjadi
kemauan Bony adalah cara tepat untuk mengakhiri perdebatan pesan singkat itu.
***
Malam ini menjadi malam penuh kepenatan, usai menjadi
panitia sebuah acara dan masih terbebani dengan tugas yang belum terselesaikan
dalam keorganisasian, tugas kuliah dan masih tambah lagi permasalahan rumah
yang turut berkecamuk dalam benak. Belum lagi memikirkan keputusan yang
diberikan Bony semakin membuat aku menemui jalan buntu dalam pikiranku. Bukan menyelesaikan
tugas satu persatu yang kulakukan, tapi justru sebaliknya. Aku hanya terdiam
duduk dengan tatapan kosong dan perlahan air mata mengalir. Mencoba menyeka air
mata dipipi namun tetap saja tidak berhenti mengalir. Beranjak mengambil air
wudlu berdalih agar tidak terlihat sedang menangis, bersujud dihadapan Tuhan
memohon ampunan. Semoga semua yang aku hadapi saat ini menjadi sebuah cobaan
yang berhasil terlampaui. Bukan bermaksud tidak terima dengan apa yang terjadi,
namun hanya tidak paham kenapa semua terjadi begitu bersamaan, seolah tidak ada
hari lain selain hari ini. Namun kusyukuri nikmat Tuhan ini, kunikmati masa-masa
seperti ini, mungkin saja suatu saat nanti aku merindukan masa-masa penuh ujian
seperti ini.
Tuhan,
maafkan segala dosa yang sengaja ataupun tidak sengaja yang telah kuperbuat. Maafkan
segala dosa orang tuaku, serta orang-orang tedekatku.
Hamba
memohon kepada-Mu, jika apa yang terjadi hari ini adalah cara terbaik untuk
mendewasakanku, aku ikhlas menjalaninya. Tapi hamba memohon berikan kekuatan,
ketabahan, dan kesabaran yang luas bagi hamba dalam menjalani semua takdir-Mu
ini.
Semoga
Bony juga bahagia dengan semua keputusannya, mudahkan dan lancarkan segala
urusan Bony. Bahagiakan Bony bersama teman, sahabat, saudara, keluarga dan
orang terdekatnya. Jika Engkau mentakdirkan Bony bahagia bersama wanita yang
dia pilih, mudahkan urusannya dan langgengkanlah hubungan mereka. Amin. :)
***
Berproses dan belajar untuk lepas dari bayang-bayang Bony
adalah perkara yang tidak mudah. Butuh waktu dan kesiapan hati, apalagi
perasaanku terhadap Bony adalah perasaan yang tulus. Mungkin benar kata orang,
ketika salah satu pihak telah menjalani hubungan dengan ketulusan, maka
kemungkinan besar satu pihak yang lain yang akan menghancurkan ketulusan itu. Maka
alangkah baiknya jika ketulusan itu dibangun dan ditumbuhkan bersama-sama dari
kedua belah pihak yang bersangkutan. Aku tidak pernah menyesali ketulusan
perasaanku terhadap Bony, akan kujadikan sebuah pelajaran berharga, dimana aku
bisa merasakan apa yang disebut galau
dan jatuh cinta. Aku juga patut berbangga karena aku diberikan kesempatan untuk
mengenal sosok yang luar biasa seperti Bony, sosok yang berprestasi dan baik
dalam segala hal (bagiku).
‘Experience is the best
teacher’ adalah benar bagiku. Sebuah pengalaman
berharga yang mungkin sampai sekarang belum bisa hilang dalam memori. Cerita tidak
berhenti disini, semua tentang Bony tidak akan berakhir dengan judgment kali ini. Proses akan terus
berjalan, perlahan dan terus belajar untuk tetap tersenyum menghadapi mentari tanpa
rasa harap tentang Bony lagi. Tidak ada yang perlu disalahkan, karena perasaan
memang tidak pernah salah. Perasaan tumbuh begitu saja tanpa dikomando terlebih
dulu. Perasaan terus berkembang seiring waktu yang terus menunjukkan perhatian.
Dan waktu pulalah yang menyadarkan perasaan itu, bahwa tak selamanya perasaan
yang tumbuh adalah perasaan yang benar untuk orang yang benar pula.
Tidak perlu munafik dengan semua ini, pada kenyataannya aku
memang belum bisa lepas dari bayang-bayang Bony. Tidak mudah untuk menghapus
semua tentang Bony dalam waktu yang cukup singkat. Memang move on adalah perkara kemauan, apakah kemauan itu tumbuh dalam
diri atau tidak, dan ketika kemauan itu diiringi dengan usaha maka berhasillah.
Sayangnya kemauan itu belum tumbuh dalam diri ini, dan usaha yang aku
lakukanpun tidak ada alias nol besar. Bagaimana mungkin aku menumbuhkan
kemauanku untuk move on dari seorang
Bony yang begitu special bagiku, dan
bagaimana pula aku bisa terus berusaha untuk move on dan lupa tentang Bony, ketika semua yang kulakukan justru terus
teringat tentangnya. Menjadi mustahil lupa dengan Bony ketika aku masih terus
dan selalu begini.
Rasanya bodoh diri ini, ketika fakta telah nyata ada namun
perasaan ini tak kunjung padam.
***
