Jumat, 20 Desember 2013

LUKA YANG SEMAKIN DALAM #3

LUKA YANG SEMAKIN DALAM

Entah apa yang ada dalam pikiran Bony, mungkin menyakiti hatiku ini adalah misi yang akan diberikan untukku, tanpa mempedulikan seberapa besar sayangku untuk Bony. Mungkin Bony cukup puas dengan apa yang Bony lakukan untuk ku. Dalam keadaan seperti ini aku tak mengerti kenapa perasaanku tak berubah sedikitpun terhadap Bony, entah apa yang ada pada diri Bony hingga membuat rasa sayang ini tak kunjung pudar meskipun penuh dengan pengkhianatan. Aku sadar awal kehadiran memang tidak tepat, Bony masih menjalin hubungan dengan Vani, yang dibilang hanya teman. Namun keraguanku semakin kuat, dan setelah aku mencari tahu dari beberapa sumber, memang benar jika Vani adalah bukan sekedar teman lama, tetapi mantan kekasihnya. Kini kebersamaan Bony bersama Vani jauh lebih dekat dibandingkan dulu saat Bony baru mengenalku. Keakraban terjalin lebih intensif dibandingkan denganku. Bahkan dalam sebuah acara secara khusus Vani hadir dalam acara tersebut, untuk membantu mensukseskan acara yang dipanitiai Bony, dengan berpartisipasi menjadi peserta. Sungguh sakit hati ini ketika harus melihat realita dibalik bualan-bulanan semu dari Bony. Entah aku harus menyebut apa hubungan yang kami jalani ini. Belum ada kata resmi putus, namun tidak pernah ada komunikasi diantara kami lagi, tidak pernah ada perhatian yang diberikan Bony untukku lagi. Mungkin Bony telah sibuk membenahi hubungan lamanya bersama Vani yang jelas memiliki kelebihan yang lebih dibanding aku. Aku menerima realita ini meski tak bisa membohongi hati kalau ternyata perih melihat senyum bahagia Bony berada disamping Vani. Meskipun itu kutahu hanya lewat dunia maya. Namun semuanya sudah jelas tak perlu ada penjelasan aku sudah mampu mengartikan semua ini. Bagi Bony aku hanya diposisikan sebagai pengganti dikala Vani sibuk dengan kesibukannya. Aku hanya diperlukan untuk memberi perhatian kepada Bony ketika hal itu tidak didapatkannya dari Vani. Berkaca dari luka yang lalu, ternyata semua itu benar, dan entah aku sudah menyadari itu, tapi mengapa perasaan ini tidak berubah. Ada sebuah keyakinan yang aku sendiri tidak bisa mendiskripsikan dalam sebuah kata-kata. Hanya perasaan ini yang bisa merasakan keyakinan itu. Betapa bodohnya aku masih saja mempertahankan perasaan ketika realita tak mampu dijangkau logika. Air mata ini yang mampu melukiskan betapa perih hati ini ketika semua yang dilakukan Bony termampang nyata dalam sebuah dunia maya.
***
Andai aku bisa memutar kembali waktu, ingin aku percaya pada awal keraguanku saat menerima Bony sebagai pacarku. Mungkin egoku yang lebih menguasai perasaanku hingga kini aku terjerumus dalam lubang perih yang sama. Dengan luka yang sama oleh orang yang sama. Begitukah seorang Bony yang sesungguhnya?, dibalik segala kelebihan Bony yang selama ini ada di depan mataku, ada hal yang tak terduga. Kenapa Bony tega melakukan hal ini kepadaku? Apa maksud dari semua ini? Bukankah Bony yang mengawali adanya hubungan ini? Bukankah Bony yang menyatakan ketertarikannya padaku diawal kita berkomunikasi? Apa arti semua ini? Jika hanya luka yang kau beri selama ini.
Mungkin sekarang ketika Vani datang dalam kehidupan Bony, aku menjadi tiada artinya lagi bagi Bony. Aku hanya sebagai pelengkap hidup yang suatu saat dibuang karena sudah ada yang lain. Dan saat dimana aku dibuang karena sudah ada yang lain adalah saat ini saat dimana Vani hadir kembali mewarnai hidup Bony, mungkin dengan warna yang lebih indah hingga Bony lupa akan diriku. Berkali-kali aku menguatkan hati ini, untuk selalu tegar, untuk selalu kuat dalam menjalani ini, namun berkali-kali juga hati ini menangis berkali-kali juga mata ini tak mampu menahan aliran air mata yang menggambarkan aku yang sebenarnya. Sungguh ingin sekali rasanya kau mengungkapkan hal ini pada Bony, aku ingin mengatakan betapa perihnya hati ini pada Bony. Aku hanya ingin sebuah kepastian, jika memang Bony tidak bisa membalas sayangku untuknya aku rela, tapi aku ingin memohon kepada Bony untuk memberi kepastian ini semua. Aku rela jika aku harus melepaskan Bony kembali dalam pelukan Vani, asalkan Bony tetap bahagia. Aku akan lebih rela mebiarkan sayang ini tumbuh tak berbalas dihati ini tanpa ada pengkhianatan dibalik semua ini.
Aku memang orang yang tak pandai mengkondisikan hati, namun bagaimana caranya aku bisa mengkondisikan hatiku agar stabil jika banyak hal yang membuat hati ini menjadi tidak stabil. Banyak luka yang tergores dihati ini namun, bukannya disembuhkan tapi justru semakin disakiti. Bony yang hadir kembali dengan sikap yang lebih baik, aku pikir mampu menyembuhkan luka yang ia goreskan dulu, namun nyatanya bukannya disembuhkan tapi justru dia goreskan kembali luka yang lebih sakit, lebih perih di hati ini. Mungkin kehadiranku ini salah bagi Bony, kehadiranku justru memberikan pengaruh negatif bagi Bony, tapi jika memang begitu kenapa Bony memberikan respon dan perhatian lebih kepadaku? Andai aku bisa tahu apa yang sebenarnya ada dihati Bony, bagaimana perasaannya terhadapku, dan banyak pertanyaan yang ingin aku lontarkan kepada Bony, namun sekali lagi hanya air mata yang tak henti mengalir bersama tanda tanya ini.
Hari-hari kulewati dengan segala sepinya hati, namun kucoba tersenyum meskipun dibalik senyuman aku menyimpan luka yang dalam. Bahkan pelukis luka hatinya pun tak memiliki kepekaan akan hal ini. Aku bukanlah tipe orang yang bersikap murung ketika menghadapi masalah dihadapan teman-teman. Canda tawa teman-teman mampu membuatku tertawa lepas, sehingga setidaknya mampu mengurangi sedikit beban hati ini. Kulewati hari-hari ini dengan canda bersama teman, penuh dengan keceriaan. Dan perlahan kucoba lupakan apa yang telah kualami saat ini. Tidak ada yang tahu apa yang kurasa saat ini, hanya aku, dan perasaanku yang tahu apa yang kurasa saat ini. Aku menyimpan sakit ini dengan rapi.
***
Tanpa menunggu kata resmi putus dari Bony, aku anggap semua hubungan ini sudah menjadi bagian dari masa lalu. Aku ingin menata hatiku kembali yang telah pecah berkeping-keping. Aku ingin mengobati hatiku yang terluka. Aku bosan menahan rasa sakit dan perih ini. Aku lelah menanti harapan kosong dari Bony. Aku ingin terbang bersama harapan-harapan baru. Aku ingin menggapai semua harapan bersama orang yang mampu menyayangi aku dengan tulus bukan dengan penkhianatan. Aku ingin merajut harapan itu kembali dengan orang yang mampu meyakinkan aku bahwa dia mampu menyembuhkan luka ku. Mampu menutup luka, mampu menata kembali kepingan hati ini dan mampu membiarkan hati ini menikmati bahagia yang nyata bukan bahagia semu yang hanya meninggalkan luka dihati.
Teruntuk Bony, terima kasih atas semua yang kau beri padaku. Terima kasih telah menyempatkan diri untuk memberi perhatian yang lebih untukku, terima kasih untuk semua hal yang telah kau berikan untukku. Terima kasih juga untuk semua goresan luka yang kau lukis dihatiku. Aku tak membencimu, aku hanya berterima kasih, karena dengan goresan luka ini semakin membuka mataku bagaimana kamu yang sebenarnya, Bony dengan segala kelebihannya yang mampu memberikan kecewa dan luka yang tak terkira. Aku tidak akan membencimu karena aku tidak bisa membohongi diriku bahwa sesungguhnya perasaan ini belum berubah, sayang ini masih tulus untukmu, namun aku akan lebih rela sayang ini tak terbalas jika hanya akan menimbulkan luka yang semakin dalam. Thanks a lot for All.
Aku ingin terbang dengan harapan-harapan baru bersama orang yang memang mau tulus padaku bukan dengan bualan-bualan semu. Bualan yang hanya melukis luka, bualan yang hanya memberi harap semata, namun berbeda dengan realita yang senyatanya. Selamat berbahagia bersama orang yang kau pilih, jangan lagi kau melukis luka ditempat yang sama kepada orang yang berbeda. Asal kamu tau goresan luka ini aku selalu terpatri ditempat yang bernama hati.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar