Senin, 16 Desember 2013

DIARY HARIAN BERNAMA HATI #1

DIARY HARIAN BERNAMA HATI

Pertemuan tak terduga adalah awal dari kisah perjalanan hatiku yang penuh liku. Hanya dalam waktu beberapa hari semua kisah tertulis dalam diary bernama hati. Tak pernah menyangka sebelumnya akan tercipta suasana seperti ini. Dalam pembukaan sebuah acara kami memerankan tugas masing-masing. Dia (Bony) menjadi peserta dalam sebuah acara dan aku (Luluk) menjadi panitia dalam acara tersebut. Hanya sebatas peserta dan panitialah yang kami jalankan dalam acara tersebut. Tak terbayangkan akan mendapatkan hal lebih sebagai bonus dalam kepanitiaan ini. Dalam benak hanya terpikir bagaimana acara ini lancar dan sukses. Sebagai panitia memuaskan peserta dan melayani dengan sepenuh hati adalah hal mutlak yang harus dilakukan panitia untuk pesertanya.
Malam pertama dengan suasana penuh keakraban kami lewati makan malam dengan istilah dinner bersama seluruh panitia dan peserta. Canda tawa turut mewarnai malam usai makan malam. Tak lupa ritual anak muda jaman sekarang yang selalu dilakukan dalam setiap kegiatan menjadi pelengkap keakraban malam itu. Eksen di depan kamera yang biasa disebut foto-foto adalah hal yang tak bisa dilupakan anak muda jaman sekarang terutama dalam sebuah moment tertentu. Dalam luang nya waktu kami manfaatkan untuk saling tegur sapa, bersenda gurau dan kembali saling mengenal, menjalin keakraban dengan peserta. Entah sebuah kebetulan ataukah rencana Tuhan yang menjadikan aku dan Bony memperbicangkan hal dengan begitu akrab. Padahal tidak pernah sebelumnya kami saling kenal, namun kami merasa perbincangan ini adalah hal tepat untuk mengisi kekosongan agenda malam tersebut. Perbincangan tak berlangsung lama, peserta kembali melanjutkan agendanya meskipun hanya agenda yang tak terduga.
***
Pagi buta kembali menjadi panitia yang harus siap siaga membantu peserta dalam memulai aktivitas, termasuk membangunkan juru kunci yang tengah terlelap dalam mimpinya untuk membuka pintu. Kesibukan panitia dalam mempersiapkan agenda berikutnya diiringi kesibukan peserta untuk mempersiapkan diri untuk mengikuti agenda seharian, cukup menyita waktu hingga mengabaikan perbincangan semalam. Namun tak begitu menjadi masalah untukku karena memang aku hanya menganggap sebagai sebuah perbincangan tak berarti dalam sebuah forum kecil antara peserta dan panitia. Dan lupakanlah.
Agenda berikutnya setelah menyantap makan pagi adalah mengikuti sebuah forum nasional yang bertempat tidak jauh dari penginapan. Dengan segala persiapan yang telah diusahakan panitia kami telah memberikan fasilitas untuk peserta dalam menempuh perjalanan menuju lokasi. Tak lupa lagi ritual anak muda untuk berfoto-foto dilakukan di lokasi dimana forum tersebut dilakukan. Kami panitia cukup menghadapi dengan senyum meskipun sebenarnya pengkondisian peserta harus segera dilakukan.
Forum nasional berjalan sebagaimana yang telah dirancang jauh-jauh hari oleh segenap panitia. Forum tersebut berakhir dengan segala ekspresi keceriaan dan kepuasan tersendiri dari pihak panitia. Dan tibalah peranku kini dibutuhkan untuk melayani peserta, membagikan makan siang adalah peranku untuk melayani peserta. Dengan penuh senyum kubagi makan siang kepada peserta, dan tak kuduga sapaan dari Bony menyita beberapa detik perhatianku. “Luluk mari, kamu juga makan”, kalimat sederhana yang masih ku anggap sebagai perhatian sebagai seorang peserta terhadap panitia. Hanya senyum yang ku sunggingkan untuk merespon kalimat tersebut, karena akupun tersadar tidak ada jatah makan siang untuk panitia siang itu.
Perpindahan lokasi kegiatan menuju sebuah gedung yang tak asing bagiku, tempat dimana aku menuntut ilmu sehari-hari. Sebuah forum kecil yang kami namai diskusi menjadi kelanjutan agenda hari itu, dan tiba saatnya sholat ashar, berhubung tepat yang masing asing bagi peserta kami dari panitia siap untuk mengantarkannya, dan kebetulan Bony memintaku untuk mengantarkannya. Berhubung mau tidak mau aku harus menjadi panitia yang mau melayani peserta, aku mengantarkan gerombolan Bony menuju Mushola dan menungguinya hingga kembali lagi dalam ruangan semula. Dalam agenda selanjutnya adalah keliling mengenal tempat sekitar dan kembali lagi peran panitia sangat dibutuhkan untuk ikut mendampingi peserta jalan-jalan.
Ketika mentari telah menghilang bertukar tempat dengan rembulan yang menggantikan cahayanya untuk menerangi kami partisipan acara yang tak kenal lelah. Makan malam dalam suasana hangat kembali hadir dalam ruangan tersebut, suasana keakraban penuh senda gurau kembali tercipta dalam cerahnya malam itu. Agenda selanjutnya adalah menikmati alunan melodi yang tercipta dari jemari-jemari kreatif persembahan anak bangsa dalam pekat malam dengan cahaya manis dari sang rembulan. Namun persembahan tidak bisa dinikmati sampai akhir, karena peserta harus kembali ke penginapan mengingat masih terdapat agenda yang cukup melelahkan dihari esok.
***
Dihari terakhir kami panitia dan peserta membaur menghabiskan hari kami dalam perjalanan wisata sederhana. Rasa bahagia tak terelakkan dalam raut muka baik panitia maupun peserta, semua kebersamaan singkat akan berakhir dihari itu. Tapi cukup membuat kami tenang dengan tetap menjaga komunikasi antar sesama peserta dan panitia. Malam penuh keakraban, penuh senda gurau, dan celotehan konyol akan hilang dalam hari perpisahan itu. Cukup berat memang berpisah dengan sahabat yang baru saja kami temui dalam sebuah acara tak terduga ini. Namun perpisahan kami akhiri dengan salam persahabatan, salam persaudaraan, serta senyum yang mengiringi perpisahan ini. Lambaian tangan pertanda pasti akan bertemu lagi dilain kesempatan kami lambaikan dari panitia kepada peserta dalam perjalanan pulangnya.
***
Hari-hari pasca acara telah berlalu bersama bayang-bayang kebersamaan penuh kekeluargaan antar panitia dan peserta. Tiba-tiba sinyal komunikasiku dengan Bony berlanjut. Entah radar apa yang mampu menghubungkan aku dengan Bony dalam sebuah komunikasi meskipun hanya sekedar pesan singkat. Aku tak pernah mengartikan hal itu sebagai sesuatu yang lebih, hanya berpikir kelanjutan silaturahmi pasca acara, karena memang sesungguhnya memang tidak hanya Bony yang menghubungiku. Komunikasi bertahan cukup singkat, hanya dalam beberapa hari saja. Namun aku masih merasa tidak ada masalah.
Setelah sekian lama komunikasi terputus, tiba-tiba Bony menghubungiku lagi. Lebih intesif dalam berkomunikasi, lebih dari sekedar silaturahmi pasca acara semata. Tapi mungkin itu hanya perasaanku saja. Namun semakin kesini semakin jelas arah dan maksud tujuan dari komunikasi ini. Semakin lama rasa berharap ini semakin menjadi-jadi, entah pertanda apa yang terjadi pada hati ini. Yang nyatanya akupun tak mampu mendiskripsikan apa yang kurasakan saat ini. Aku merasa telah terbang bersama harapan-harapan yang entah apakah itu harapan kosong atau apa. Yang jelas akupun tak mampu menjelaskan harapan apa yang aku maksud itu. Ketika bayang sosok Bony selalu hadir, ada hal yang aku sendiri sulit untuk menyebutnya, namun yang jelas ada hal yang berbeda dengan diriku saat ini. Entah perbedaan apa yang aku maksud.

Namun semakin aku terbang bersama harapan-harapan semakin terlihat kenyataan-kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang berada dalam imajiku selama ini. Ketika terbang bersama harapan, kenyataan perih itu muncul hingga menjatuhkanku menghempaskanku tanpa memikirkan betapa sakitnya jatuh dalam kenyataan yang menyakitkan bernama kenyataan. Sempat berpikir berkali-kali jika aku belum terbangun dari mimpiku, namun berkali-kali juga kenyataan itu menyakinkanku bahwa ini adalah kenyataan, meski menyakitkan semua harus kuterima. Semua perjalanan hidup pasti ada resikonya, termasuk terjerumus dalam lubang sakit penuh pilu yang kini kurasakan. Karena dalam perjalanan pasti ada catatan-catatan untuk dibuka kembali dimasa mendatang. Catatan yang tersimpan rapi dalam sebuah buku harian diary bernama hati. 

4 komentar:

  1. ciecie,,kelihatan jelas broo,,

    BalasHapus
  2. gggggooooooooooooooooooommmmmmmmmmmmbbbbbbbbbbbbbbbbaaaaaaaaaaaaaaaalllllllllllllllllllll

    BalasHapus