Masih
dalam cerita tentang Bony. Belum sembuh luka yang ku derita (Luluk) atas apa
yang dilakukan Bony kepadaku, kembali Bony muncul dengan perubahan drastis
hingga aku pun tak menyangka mengapa Bony menjadi seperti itu. Namun begitu
besar ketertarikanku kepada Bony untuk
saling mengenal lebih jauh tak menghiraukan perubahan itu. Aku telah mencoba bersikap biasa dengan Bony,
namun keakraban semakin terjalin dalam komunikasi akhir-akhir ini.
Bony
muncul dengan sikap baiknya dengan sikap care yang ditunjukkannya menjadikanku
semakin tak mengerti apa yang harus kulakukan. Inginku perlahan mundur teratur,
menjalin hubungan hanya sebatas teman biasa, namun gejolak hati ini tak bisa
kupadamkan. Niat untuk menganggap perhatian Bony hanya sebatas perhatian teman
seketika runtuh dengan keakraban yang semakin terjalin. Perlahan suasana hatiku
kembali seperti semula, tetap bersama harapan yang mungkin itu hanya harapan
kosong, yang suatu saat nanti akan memberi luka yang lebih dalam. Namun entah
mengapa ada keyakinan tersendiri yang aku rasakan, entah keyakinan apa akupun
tak mampu mengungkapkannya.
Berjalannya
hari semakin memberi kejelasan bahwa Bony memberikan sinyal-sinyal hatinya
telah terbuka untukku. Namun sekali lagi aku meyakinkan diriku untuk tidak
terlalu mengharap lebih dari seorang Bony. Aku sadar diri betapa banyak sekali
kekurangan pada diriku yang membuatku tak pantas bersanding dengn Bony dengan
segala kelebihannya.
***
Ketika
malam menampakkan sinar terang dari rembulan yang cukup indah, bersanding
dengan beberapa kerlip bintang yang turut menghiasi indahnya langit ciptaan
Tuhan, Bony menghubungiku melalui telepon. Dengan hati berdebar kuangkat
telepon dan percakapan dimulai.
“halo,
Assalamualaikum..” sapaku dengan degup jantung yang kencang.
“waalaikumsalam.. lagi apa Luk?”
“lagi
santai hehe, kenapa kok tumben telepon??”
“enggak
lagi pengen denger suaramu aja, haha..”
…
Banyak
percakapan telah kami perbincangkan, yang tidak ada arah dan tujuannya. Dalam
sela perbincangan kami, ada beberapa penyataan yang cukup mencengangkanku
“Luk,
aku boleh jujur ke kamu gak?”
“yaa
jujur aja to, kan jujur itu baik, hehe..”
“sebenernya
aku memendam rasa suka ke kamu, hanya saja kemarin masih ada hal yang belum
terselesaikan, sehingga aku belum bisa mengungkapkan hal ini ke kamu, dan
sekarang kesempatan itu hadir, dan aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
Aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh dalam sebuah hubungan yang sering
dibilang pacaran. Dan malam ini aku ingin mendengar jawaban dari kamu, maukah
kamu jadi pacarku?..”
Seketika
suasana hening tercipta, ada sesuatu yang menusuk dihati yang entah itu apa.
Aku sendiri juga tidak mengerti mengapa aku seperti ini. Bukankah ini yang
selama ini aku harapkan, bukankah ini yang selama ini aku nanti, tapi mengapa
justru timbul keraguan dalam hati ini?, mengapa justru disaat Bony telah
menyatakan, keraguan ini muncul? Aku tak mengerti aku harus bersikap seperti
apa.. yang jelas aku bingung.
“Luluk??
Kok diem, kenapa? Kamu ragu? Kamu belum bisa menjawab sekarang?,, atau…”
“hah
enggak kok, iya aku mau menjadi pacarmu, hehe..”
Entah
setan apa yang telah merasuk dalam tubuh ini hingga mulut ini tak terkontrol
sampai memberikan respon yang aku sendiri juga belum yakin. Tapi tak apa,
perjalanan masih panjang, aku ingin mencoba menjalani perjalanan ini
perlahan-lahan, siapa tau ada kecocokan yang aku temukan pada diri Bony.
“oke
terima kasih Luk, sudah menerimaku menjadi pacarmu,, yaudah kita lanjutkan
perbincangan kita kapan-kapan yaa hehe sudah malam, sana kamu tidur, hehe..
Assalamualaikum..”
“ohh
iya, sama-sama… waalaikumsalam..”
***
Waktu
telah berlalu, moment yang terjadi semalam seolah belalu tanpa kesan berarti
dalam perjalanan hidupku, dilema menghantui malam pengantar tidurku. Namun
berkali-kali aku meyakinkan hatiku semua akan baik-baik saja, yakin bahwa Tuhan
akan memberikan kebahagiaan dan keindahan pada waktunya tiba. Hari-hari kini kujalani dengan
komunikasi cukup lancar dan lebih intensif. Setiap malam minggu Bony selalu
menelponku, maklum hubungan kami terpisahkan jarak. Namun kami senang menjalani
ini. Perlahan kenyamanan tumbuh dalam hati ini, entah nyaman dalam arti apa yang
jelas aku senang, aku bahagia dan terpenting aku nyaman dengan keadaan yang seperti
ini. Tak ingin rasanya aku beranjak dari zona kenyamanan ini. Aku ingin
menikmati nyaman ini lebih lama lagi, aku ingin merealisasikan harapan-harapan
yang selama ini membawaku terbang dalam zona kenyamanan ini.
Hari
demi hari berlalu dengan penuh kenyamanan yang aku ciptakan bersama Bony. Tak jarang
Bony memberikan perhatian lebih hingga membuatku semakin merasa kenyamanan ini semakin
kuat. Minggu-minggu kami lalui dengan beberapa kali pertemuan, menghabiskan waktu
hanya untuk berbincang-bincang tanpa tujuan jelas, Bony merelakan waktu dan
materinya hanya untuk sekedar bertemu dan berbincang denganku. Merasa special
jika Bony melakukan hal itu hanya untuk bertemu denganku, padahal jarak kami
cukup memakan waktu sekitar 3jam perjalanan kereta. Namun hal itu tak
dijadikannya halangan untuk Quality time kami berdua. Selama sebulan kami
menjalani hubungan ini untuk saling mengenal lebih dalam, saling memberi
perhatian, dan saling menunjukkan kepedulian. Hal ini semakin mebuatku nyaman
bersama Bony, merasa bahwa Bony adalah orang yang tepat, orang yang selama ini
aku nanti. Tak sia-sia rasanya berusaha meyakinkan hati yang sempat dilema.
***
Namun
Tuhan berkehendak lain, realita memaksaku untuk beranjak dari zona kenyamanan
ini. Kenyamanan yang baru aku rasakan dalam sebulan ini sirna ketika sebuah
fakta terungkap. Hanya karena media social yang seharusnya mendekatkan hubungan
aku dan Bony yang terpisah jarak, tetapi justru menjadi batu kerikil dalam
hubungan kami. Kerikil itu kecil namun tajam jika mengenai hati. Kerikil itu
adalah seorang teman lama Bony, yaitu Vani. Dia adalah sosok idaman pria,
cantik: secara kasat mata Vani memiliki paras yang cantik, pintar terbukti
kuliah di universitas ternama, dan solehah. Dan hadirnya Vani dalam hubungan
kami cukup membuat hubungan kami memanas. Aku yang mulai curiga dengan hubungan
antara Vani dan Bony, karena terdapat beberapa kejanggalan dengan Bony. Mulai dari
salah sebut nama di sms, sering chattingan, sering online, dan jarang
berkomunikasi dengan aku. Awalnya aku berpikiran positif kepada Bony, mungkin
kesibukan yang membuat dia jarang berkomunikasi denganku. Tapi setelah semua
itu jelas terlihat di social media, seketika hati ini perih seperti tergores pecahan
kaca dan tersiram air garam. Tidak begitu menyakitkan tapi perih. Penjelasan dari
Bony tak cukup meyakinkan aku. Hati ini sudah terlanjur perih, sudah terlanjur
kecewa. Kenyamanan yang telah kurajut seketika pudar berubah menjadi kekecewaan.
Tak menyangka Bony tega melakukan hal itu lagi. Salah apa yang aku lakukan
hingga membuat Bony tega melakukan ini padaku. Aku sadar aku memang manusia
penuh dengan keterbatasan, aku memang bukan wanita yang cantik secara fisik, aku
bukan sosok yang solehah seperti Vani, aku juga bukan orang yang pintar, yang mampu
menyeimbangkan perasaan dan rasionalitas. Nyatanya aku tidak mampu menghapus rasa
sayangku kepada Bony meskipun telah dua kali Bony memberikan luka dihati ini. Perasaanku
tak bisa menyesuaikan dengan realitas yang terjadi. Entah apa yang kurasa saat
ini, yang jelas apa yang kurasa saat ini hanya mampu kudeskripsikan dengan air
mata. Rasa sakit yang dulu belum sepenuhnya sembuh kini harus merasakan luka
ditempat yang sama lagi.
Ketika
kenyamanan perlahan terlindas dengan kekecewaan yang dalam, maka kekecewaan itu
telah terpatri dalam hati ini. Tidak mudah untuk menghapus kecewa yang telah
kau goreskan tak hanya sekali. Tak menyangka sayangku yang tulus kau balas
dengan goresan luka yang sama ditempat yang sama. Tak pernahkah kau sadar
betapa perihnya hati ini ketika sayang ini kau khianati. Tak pernahkah kau sadar
kau telah melukai hati yang menyayangimu. Entah ungkapan apa yang ingin aku katakan,
yang jelas kau telah menggoreskan luka ditempat yang sama, yaitu hati.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar