Kamis, 19 Desember 2013

GORESAN LUKA DITEMPAT YANG SAMA #2

GORESAN LUKA DITEMPAT YANG SAMA

Masih dalam cerita tentang Bony. Belum sembuh luka yang ku derita (Luluk) atas apa yang dilakukan Bony kepadaku, kembali Bony muncul dengan perubahan drastis hingga aku pun tak menyangka mengapa Bony menjadi seperti itu. Namun begitu besar ketertarikanku  kepada Bony untuk saling mengenal lebih jauh tak menghiraukan perubahan itu. Aku  telah mencoba bersikap biasa dengan Bony, namun keakraban semakin terjalin dalam komunikasi akhir-akhir ini.
Bony muncul dengan sikap baiknya dengan sikap care yang ditunjukkannya menjadikanku semakin tak mengerti apa yang harus kulakukan. Inginku perlahan mundur teratur, menjalin hubungan hanya sebatas teman biasa, namun gejolak hati ini tak bisa kupadamkan. Niat untuk menganggap perhatian Bony hanya sebatas perhatian teman seketika runtuh dengan keakraban yang semakin terjalin. Perlahan suasana hatiku kembali seperti semula, tetap bersama harapan yang mungkin itu hanya harapan kosong, yang suatu saat nanti akan memberi luka yang lebih dalam. Namun entah mengapa ada keyakinan tersendiri yang aku rasakan, entah keyakinan apa akupun tak mampu mengungkapkannya.
Berjalannya hari semakin memberi kejelasan bahwa Bony memberikan sinyal-sinyal hatinya telah terbuka untukku. Namun sekali lagi aku meyakinkan diriku untuk tidak terlalu mengharap lebih dari seorang Bony. Aku sadar diri betapa banyak sekali kekurangan pada diriku yang membuatku tak pantas bersanding dengn Bony dengan segala kelebihannya.
***
Ketika malam menampakkan sinar terang dari rembulan yang cukup indah, bersanding dengan beberapa kerlip bintang yang turut menghiasi indahnya langit ciptaan Tuhan, Bony menghubungiku melalui telepon. Dengan hati berdebar kuangkat telepon dan percakapan dimulai.
“halo, Assalamualaikum..” sapaku dengan degup jantung yang kencang.
 “waalaikumsalam.. lagi apa Luk?”
“lagi santai hehe, kenapa kok tumben telepon??”
“enggak lagi pengen denger suaramu aja, haha..”
Banyak percakapan telah kami perbincangkan, yang tidak ada arah dan tujuannya. Dalam sela perbincangan kami, ada beberapa penyataan yang cukup mencengangkanku
“Luk, aku boleh jujur ke kamu gak?”
“yaa jujur aja to, kan jujur itu baik, hehe..”
“sebenernya aku memendam rasa suka ke kamu, hanya saja kemarin masih ada hal yang belum terselesaikan, sehingga aku belum bisa mengungkapkan hal ini ke kamu, dan sekarang kesempatan itu hadir, dan aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh dalam sebuah hubungan yang sering dibilang pacaran. Dan malam ini aku ingin mendengar jawaban dari kamu, maukah kamu jadi pacarku?..”
Seketika suasana hening tercipta, ada sesuatu yang menusuk dihati yang entah itu apa. Aku sendiri juga tidak mengerti mengapa aku seperti ini. Bukankah ini yang selama ini aku harapkan, bukankah ini yang selama ini aku nanti, tapi mengapa justru timbul keraguan dalam hati ini?, mengapa justru disaat Bony telah menyatakan, keraguan ini muncul? Aku tak mengerti aku harus bersikap seperti apa.. yang jelas aku bingung.
“Luluk?? Kok diem, kenapa? Kamu ragu? Kamu belum bisa menjawab sekarang?,, atau…”
“hah enggak kok, iya aku mau menjadi pacarmu, hehe..”
Entah setan apa yang telah merasuk dalam tubuh ini hingga mulut ini tak terkontrol sampai memberikan respon yang aku sendiri juga belum yakin. Tapi tak apa, perjalanan masih panjang, aku ingin mencoba menjalani perjalanan ini perlahan-lahan, siapa tau ada kecocokan yang aku temukan pada diri Bony.
“oke terima kasih Luk, sudah menerimaku menjadi pacarmu,, yaudah kita lanjutkan perbincangan kita kapan-kapan yaa hehe sudah malam, sana kamu tidur, hehe.. Assalamualaikum..”
“ohh iya, sama-sama… waalaikumsalam..”
***
Waktu telah berlalu, moment yang terjadi semalam seolah belalu tanpa kesan berarti dalam perjalanan hidupku, dilema menghantui malam pengantar tidurku. Namun berkali-kali aku meyakinkan hatiku semua akan baik-baik saja, yakin bahwa Tuhan akan memberikan kebahagiaan dan keindahan pada  waktunya tiba. Hari-hari kini kujalani dengan komunikasi cukup lancar dan lebih intensif. Setiap malam minggu Bony selalu menelponku, maklum hubungan kami terpisahkan jarak. Namun kami senang menjalani ini. Perlahan kenyamanan tumbuh dalam hati ini, entah nyaman dalam arti apa yang jelas aku senang, aku bahagia dan terpenting aku nyaman dengan keadaan yang seperti ini. Tak ingin rasanya aku beranjak dari zona kenyamanan ini. Aku ingin menikmati nyaman ini lebih lama lagi, aku ingin merealisasikan harapan-harapan yang selama ini membawaku terbang dalam zona kenyamanan ini.
Hari demi hari berlalu dengan penuh kenyamanan yang aku ciptakan bersama Bony. Tak jarang Bony memberikan perhatian lebih hingga membuatku semakin merasa kenyamanan ini semakin kuat. Minggu-minggu kami lalui dengan beberapa kali pertemuan, menghabiskan waktu hanya untuk berbincang-bincang tanpa tujuan jelas, Bony merelakan waktu dan materinya hanya untuk sekedar bertemu dan berbincang denganku. Merasa special jika Bony melakukan hal itu hanya untuk bertemu denganku, padahal jarak kami cukup memakan waktu sekitar 3jam perjalanan kereta. Namun hal itu tak dijadikannya halangan untuk Quality time kami berdua. Selama sebulan kami menjalani hubungan ini untuk saling mengenal lebih dalam, saling memberi perhatian, dan saling menunjukkan kepedulian. Hal ini semakin mebuatku nyaman bersama Bony, merasa bahwa Bony adalah orang yang tepat, orang yang selama ini aku nanti. Tak sia-sia rasanya berusaha meyakinkan hati yang sempat dilema.
***
Namun Tuhan berkehendak lain, realita memaksaku untuk beranjak dari zona kenyamanan ini. Kenyamanan yang baru aku rasakan dalam sebulan ini sirna ketika sebuah fakta terungkap. Hanya karena media social yang seharusnya mendekatkan hubungan aku dan Bony yang terpisah jarak, tetapi justru menjadi batu kerikil dalam hubungan kami. Kerikil itu kecil namun tajam jika mengenai hati. Kerikil itu adalah seorang teman lama Bony, yaitu Vani. Dia adalah sosok idaman pria, cantik: secara kasat mata Vani memiliki paras yang cantik, pintar terbukti kuliah di universitas ternama, dan solehah. Dan hadirnya Vani dalam hubungan kami cukup membuat hubungan kami memanas. Aku yang mulai curiga dengan hubungan antara Vani dan Bony, karena terdapat beberapa kejanggalan dengan Bony. Mulai dari salah sebut nama di sms, sering chattingan, sering online, dan jarang berkomunikasi dengan aku. Awalnya aku berpikiran positif kepada Bony, mungkin kesibukan yang membuat dia jarang berkomunikasi denganku. Tapi setelah semua itu jelas terlihat di social media, seketika hati ini perih seperti tergores pecahan kaca dan tersiram air garam. Tidak begitu menyakitkan tapi perih. Penjelasan dari Bony tak cukup meyakinkan aku. Hati ini sudah terlanjur perih, sudah terlanjur kecewa. Kenyamanan yang telah kurajut seketika pudar berubah menjadi kekecewaan. Tak menyangka Bony tega melakukan hal itu lagi. Salah apa yang aku lakukan hingga membuat Bony tega melakukan ini padaku. Aku sadar aku memang manusia penuh dengan keterbatasan, aku memang bukan wanita yang cantik secara fisik, aku bukan sosok yang solehah seperti Vani, aku juga bukan orang yang pintar, yang mampu menyeimbangkan perasaan dan rasionalitas. Nyatanya aku tidak mampu menghapus rasa sayangku kepada Bony meskipun telah dua kali Bony memberikan luka dihati ini. Perasaanku tak bisa menyesuaikan dengan realitas yang terjadi. Entah apa yang kurasa saat ini, yang jelas apa yang kurasa saat ini hanya mampu kudeskripsikan dengan air mata. Rasa sakit yang dulu belum sepenuhnya sembuh kini harus merasakan luka ditempat yang sama lagi.
Ketika kenyamanan perlahan terlindas dengan kekecewaan yang dalam, maka kekecewaan itu telah terpatri dalam hati ini. Tidak mudah untuk menghapus kecewa yang telah kau goreskan tak hanya sekali. Tak menyangka sayangku yang tulus kau balas dengan goresan luka yang sama ditempat yang sama. Tak pernahkah kau sadar betapa perihnya hati ini ketika sayang ini kau khianati. Tak pernahkah kau sadar kau telah melukai hati yang menyayangimu. Entah ungkapan apa yang ingin aku katakan, yang jelas kau telah menggoreskan luka ditempat yang sama, yaitu hati.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar