Pertemuan
tak terduga adalah awal dari kisah perjalanan hatiku yang penuh liku. Hanya dalam
waktu beberapa hari semua kisah tertulis dalam diary bernama hati. Tak pernah
menyangka sebelumnya akan tercipta suasana seperti ini. Dalam pembukaan sebuah
acara kami memerankan tugas masing-masing. Dia (Bony) menjadi peserta dalam sebuah
acara dan aku (Luluk) menjadi panitia dalam acara tersebut. Hanya sebatas peserta
dan panitialah yang kami jalankan dalam acara tersebut. Tak terbayangkan akan
mendapatkan hal lebih sebagai bonus dalam kepanitiaan ini. Dalam benak hanya
terpikir bagaimana acara ini lancar dan sukses. Sebagai panitia memuaskan peserta
dan melayani dengan sepenuh hati adalah hal mutlak yang harus dilakukan panitia
untuk pesertanya.
Malam
pertama dengan suasana penuh keakraban kami lewati makan malam dengan istilah dinner bersama seluruh panitia dan peserta.
Canda tawa turut mewarnai malam usai makan malam. Tak lupa ritual anak muda
jaman sekarang yang selalu dilakukan dalam setiap kegiatan menjadi pelengkap
keakraban malam itu. Eksen di depan kamera yang biasa disebut foto-foto adalah
hal yang tak bisa dilupakan anak muda jaman sekarang terutama dalam sebuah moment tertentu. Dalam luang nya waktu
kami manfaatkan untuk saling tegur sapa, bersenda gurau dan kembali saling
mengenal, menjalin keakraban dengan peserta. Entah sebuah kebetulan ataukah
rencana Tuhan yang menjadikan aku dan Bony memperbicangkan hal dengan begitu
akrab. Padahal tidak pernah sebelumnya kami saling kenal, namun kami merasa
perbincangan ini adalah hal tepat untuk mengisi kekosongan agenda malam tersebut.
Perbincangan tak berlangsung lama, peserta kembali melanjutkan agendanya meskipun
hanya agenda yang tak terduga.
***
Pagi
buta kembali menjadi panitia yang harus siap siaga membantu peserta dalam
memulai aktivitas, termasuk membangunkan juru kunci yang tengah terlelap dalam
mimpinya untuk membuka pintu. Kesibukan panitia dalam mempersiapkan agenda
berikutnya diiringi kesibukan peserta untuk mempersiapkan diri untuk mengikuti
agenda seharian, cukup menyita waktu hingga mengabaikan perbincangan semalam. Namun
tak begitu menjadi masalah untukku karena memang aku hanya menganggap sebagai sebuah
perbincangan tak berarti dalam sebuah forum kecil antara peserta dan panitia. Dan
lupakanlah.
Agenda
berikutnya setelah menyantap makan pagi adalah mengikuti sebuah forum nasional
yang bertempat tidak jauh dari penginapan. Dengan segala persiapan yang telah
diusahakan panitia kami telah memberikan fasilitas untuk peserta dalam menempuh
perjalanan menuju lokasi. Tak lupa lagi ritual anak muda untuk berfoto-foto
dilakukan di lokasi dimana forum tersebut dilakukan. Kami panitia cukup
menghadapi dengan senyum meskipun sebenarnya pengkondisian peserta harus segera
dilakukan.
Forum
nasional berjalan sebagaimana yang telah dirancang jauh-jauh hari oleh segenap
panitia. Forum tersebut berakhir dengan segala ekspresi keceriaan dan kepuasan
tersendiri dari pihak panitia. Dan tibalah peranku kini dibutuhkan untuk
melayani peserta, membagikan makan siang adalah peranku untuk melayani peserta.
Dengan penuh senyum kubagi makan siang kepada peserta, dan tak kuduga sapaan
dari Bony menyita beberapa detik perhatianku. “Luluk mari, kamu juga makan”,
kalimat sederhana yang masih ku anggap sebagai perhatian sebagai seorang peserta
terhadap panitia. Hanya senyum yang ku sunggingkan untuk merespon kalimat tersebut,
karena akupun tersadar tidak ada jatah makan siang untuk panitia siang itu.
Perpindahan
lokasi kegiatan menuju sebuah gedung yang tak asing bagiku, tempat dimana aku
menuntut ilmu sehari-hari. Sebuah forum kecil yang kami namai diskusi menjadi
kelanjutan agenda hari itu, dan tiba saatnya sholat ashar, berhubung tepat yang
masing asing bagi peserta kami dari panitia siap untuk mengantarkannya, dan
kebetulan Bony memintaku untuk mengantarkannya. Berhubung mau tidak mau aku
harus menjadi panitia yang mau melayani peserta, aku mengantarkan gerombolan
Bony menuju Mushola dan menungguinya hingga kembali lagi dalam ruangan semula. Dalam
agenda selanjutnya adalah keliling mengenal tempat sekitar dan kembali lagi
peran panitia sangat dibutuhkan untuk ikut mendampingi peserta jalan-jalan.
Ketika
mentari telah menghilang bertukar tempat dengan rembulan yang menggantikan
cahayanya untuk menerangi kami partisipan acara yang tak kenal lelah. Makan malam
dalam suasana hangat kembali hadir dalam ruangan tersebut, suasana keakraban
penuh senda gurau kembali tercipta dalam cerahnya malam itu. Agenda selanjutnya
adalah menikmati alunan melodi yang tercipta dari jemari-jemari kreatif persembahan
anak bangsa dalam pekat malam dengan cahaya manis dari sang rembulan. Namun persembahan
tidak bisa dinikmati sampai akhir, karena peserta harus kembali ke penginapan
mengingat masih terdapat agenda yang cukup melelahkan dihari esok.
***
Dihari
terakhir kami panitia dan peserta membaur menghabiskan hari kami dalam
perjalanan wisata sederhana. Rasa bahagia tak terelakkan dalam raut muka baik
panitia maupun peserta, semua kebersamaan singkat akan berakhir dihari itu. Tapi
cukup membuat kami tenang dengan tetap menjaga komunikasi antar sesama peserta
dan panitia. Malam penuh keakraban, penuh senda gurau, dan celotehan konyol
akan hilang dalam hari perpisahan itu. Cukup berat memang berpisah dengan sahabat
yang baru saja kami temui dalam sebuah acara tak terduga ini. Namun perpisahan
kami akhiri dengan salam persahabatan, salam persaudaraan, serta senyum yang
mengiringi perpisahan ini. Lambaian tangan pertanda pasti akan bertemu lagi
dilain kesempatan kami lambaikan dari panitia kepada peserta dalam perjalanan
pulangnya.
***
Hari-hari
pasca acara telah berlalu bersama bayang-bayang kebersamaan penuh kekeluargaan
antar panitia dan peserta. Tiba-tiba sinyal komunikasiku dengan Bony berlanjut.
Entah radar apa yang mampu menghubungkan aku dengan Bony dalam sebuah komunikasi
meskipun hanya sekedar pesan singkat. Aku tak pernah mengartikan hal itu sebagai
sesuatu yang lebih, hanya berpikir kelanjutan silaturahmi pasca acara, karena
memang sesungguhnya memang tidak hanya Bony yang menghubungiku. Komunikasi bertahan
cukup singkat, hanya dalam beberapa hari saja. Namun aku masih merasa tidak ada
masalah.
Setelah
sekian lama komunikasi terputus, tiba-tiba Bony menghubungiku lagi. Lebih intesif
dalam berkomunikasi, lebih dari sekedar silaturahmi pasca acara semata. Tapi mungkin
itu hanya perasaanku saja. Namun semakin kesini semakin jelas arah dan maksud
tujuan dari komunikasi ini. Semakin lama rasa berharap ini semakin
menjadi-jadi, entah pertanda apa yang terjadi pada hati ini. Yang nyatanya
akupun tak mampu mendiskripsikan apa yang kurasakan saat ini. Aku merasa telah
terbang bersama harapan-harapan yang entah apakah itu harapan kosong atau apa. Yang
jelas akupun tak mampu menjelaskan harapan apa yang aku maksud itu. Ketika bayang
sosok Bony selalu hadir, ada hal yang aku sendiri sulit untuk menyebutnya,
namun yang jelas ada hal yang berbeda dengan diriku saat ini. Entah perbedaan apa
yang aku maksud.
Namun
semakin aku terbang bersama harapan-harapan semakin terlihat
kenyataan-kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang berada dalam imajiku selama
ini. Ketika terbang bersama harapan, kenyataan perih itu muncul hingga
menjatuhkanku menghempaskanku tanpa memikirkan betapa sakitnya jatuh dalam
kenyataan yang menyakitkan bernama kenyataan. Sempat berpikir berkali-kali jika
aku belum terbangun dari mimpiku, namun berkali-kali juga kenyataan itu
menyakinkanku bahwa ini adalah kenyataan, meski menyakitkan semua harus
kuterima. Semua perjalanan hidup pasti ada resikonya, termasuk terjerumus dalam
lubang sakit penuh pilu yang kini kurasakan. Karena dalam perjalanan pasti ada
catatan-catatan untuk dibuka kembali dimasa mendatang. Catatan yang tersimpan
rapi dalam sebuah buku harian diary bernama hati.

ciecie,,kelihatan jelas broo,,
BalasHapuskelihatan apanya?? :o
Hapus*hanya fiktif belaka
gggggooooooooooooooooooommmmmmmmmmmmbbbbbbbbbbbbbbbbaaaaaaaaaaaaaaaalllllllllllllllllllll
BalasHapusbiarriiiiinnnn :p
Hapus