Aku
adalah Maya, anak yang terlahir dari Rahim seorang wanita special dalam hidup.
Wanita tegar yang mampu menghidupiku selama belasan tahun dengan tulang
punggungnya sendiri, dengan tekad demi putrinya. Aku memang satu- satunya
alasan dalam benaknya untuk terus bertahan dalam gerusan kejamnya dunia.
Caci
maki serta cibiran tak henti mengalir untuknya mengiringi perjalanan hidupnya
selama ini. Penderitaan Ibu memang tak berhenti pada beban hidup yang harus
dipikul selama ini sendirian. Beban mental yang selama ini hanya tertahan dalam
sunggingan senyum yang selalu beliau rekahkan dalam balutan wajah mungilnya.
Tak
kenal lelah untuk berjuang demi aku, meski banyak yang harus dikorbankan untuk
kenikmatan orang lain. Malam disulap siang, waktu dimana Ibu harus bertaruh
malu merelakan raga dan martabatnya untuk sesuap nasi sarapan pagiku. Membiarkan kesuciannya direnggut pria hidung
belang hanya dengan beberapa lembar bernilai rupiah. Namun itu satu-satunya
pekerjaan yang dianggap Ibu yang bisa beliau lakukan, dalam rangka pemenuhan
hidupku dan hidupnya sendiri.
Menyakitkan
memang setelah realita mengungkapkan bahwa aku terlahir tanpa identitas ayah
yang jelas. Aku adalah korban kenakalan pria tak bertanggung jawab yang memberikan
beban pada Ibu.
Pil
pahit kehidupan harus Ibu telan kembali. Beban hidup atas aku belum kunjung
menemui solusi, kembali Ibu harus merasakan derita ketika cacian menghantui
hidupnya, mengiringi langkah kaki kemana Ibu melangkah. Tak tega hati ini melihat
realita berbicara, ingin rasanya membungkam dunia untuk memberikan penjelasan
bahwa Ibuku tak seperti yang kalian nilai, Ibuku tak sekotor yang kalian lihat
dan Ibuku tak sehina yang kalian pandang.
Cercaan
tak hanya untuk Ibu tetapi akupun harus mendengar kata- kata yang menyakitkan
dari beberapa kawanku sekolah. Ingin rasanya berteriak sekeras- kerasnya untuk
mereka, agar membuka mata melihat realita kehidupan yang kejam, tak hanya
tersenyum lebar menikmati berlimpah rupiah di gedongan indah, karena terlahir
dari keluarga kaya. Namun Ibu selalu menahanku dan selalu mengatakan, “Maya,
cacian orang diluar sana jadikan itu cambukan untuk kamu sukses, jangan ikuti
jejak kelam Ibumu. Ibu yakin putriku akan membawa Ibu keluar dari lubang hitam
yang menjerumuskan ini, Ibu hanya menunggu waktu itu tiba”; ketika butir- butir
pesan itu terucap hanya air mata yang bisa menjadi respon. Tak sepatah kata
mampu memberikan jawaban akan pesan itu. Namun aku bertekad tak akan aku
biarkan Ibu tenggelam dalam lubang hitam ini untuk waktu yang lebih lama lagi.
Rupiah
hasil kerja keras Ibu mengantarkanku menjadi sarjana muda. Tekad bulat dan
ketangguhan menghadapi tantangan, menjadi motivasiku untuk segera bangkit dalam
keterpurukan hidup yang selama ini membebani Ibu. Kata- kata mutiara Ibu yang
selalu terucap dalam setiap langkah perjuanganku menjadi sebuah motto hidup
yang harus segera aku wujudkan. Tak ingin mengecewakan bidadari utusan Tuhan
yang rela mempertaruhkan jiwa raganya untuk seorang anak malang tanpa pertanggungjawaban
seperti aku ini. Seolah ingin membalas semua yang telah beliau berikan, namun
aku sadar tak ada materi yang bernilai rupiah tinggi, apapun wujudnya yang
mampu menggantikan seluruh pengorbanan Ibu untukku. Hanya kata terima kasih
yang mampu terucap ketika langkah kaki mendampingiku menjadi seorang sarjana
muda dengan predikat cumlaude. Sujud
syukur dalam kaki beliau menjadi ungkapan mengharukan dalam panggung
penghargaan waktu itu. Air mata tak henti mengalir mengiringi kebahagiaan yang
menghampiri.
Dalam
bahagia kelulusan, terselip bahagia ganda ketika aku diterima sebagai PNS, telah
banyak planning dalam benak untuk
merancang kebahagiaan dimasa mendatang. Bangkit dari keterpurukan hidup dan
meninggalkan lubang hitam penuh jejak kelam telah terwujud. Kami mencoba
merajut bahagia dalam sebuah istana mungil hasil jerih payah kami berdua.
Tak
selamanya apa yang dilihat kasat mata adalah benar, tak selamanya melakukan
perbuatan salah adalah kotor. Karena hidup tak selalu mulus perlu jalan kelam
untuk menuju terang. Perlu cacian untuk menjadi cambukan. Dan perlu tangis
untuk tersenyum.

menyentuh,,, :D
BalasHapushalah koe kii ra tulus :p
BalasHapus