Minggu, 15 Desember 2013

PERLU TANGIS UNTUK TERSENYUM

PERLU TANGIS UNTUK TERSENYUM
Aku adalah Maya, anak yang terlahir dari Rahim seorang wanita special dalam hidup. Wanita tegar yang mampu menghidupiku selama belasan tahun dengan tulang punggungnya sendiri, dengan tekad demi putrinya. Aku memang satu- satunya alasan dalam benaknya untuk terus bertahan dalam gerusan kejamnya dunia.
Caci maki serta cibiran tak henti mengalir untuknya mengiringi perjalanan hidupnya selama ini. Penderitaan Ibu memang tak berhenti pada beban hidup yang harus dipikul selama ini sendirian. Beban mental yang selama ini hanya tertahan dalam sunggingan senyum yang selalu beliau rekahkan dalam balutan wajah mungilnya.
Tak kenal lelah untuk berjuang demi aku, meski banyak yang harus dikorbankan untuk kenikmatan orang lain. Malam disulap siang, waktu dimana Ibu harus bertaruh malu merelakan raga dan martabatnya untuk sesuap nasi sarapan pagiku.  Membiarkan kesuciannya direnggut pria hidung belang hanya dengan beberapa lembar bernilai rupiah. Namun itu satu-satunya pekerjaan yang dianggap Ibu yang bisa beliau lakukan, dalam rangka pemenuhan hidupku dan hidupnya sendiri.
Menyakitkan memang setelah realita mengungkapkan bahwa aku terlahir tanpa identitas ayah yang jelas. Aku adalah korban kenakalan pria tak bertanggung jawab yang memberikan beban pada Ibu.
Pil pahit kehidupan harus Ibu telan kembali. Beban hidup atas aku belum kunjung menemui solusi, kembali Ibu harus merasakan derita ketika cacian menghantui hidupnya, mengiringi langkah kaki kemana Ibu melangkah. Tak tega hati ini melihat realita berbicara, ingin rasanya membungkam dunia untuk memberikan penjelasan bahwa Ibuku tak seperti yang kalian nilai, Ibuku tak sekotor yang kalian lihat dan Ibuku tak sehina yang kalian pandang.
Cercaan tak hanya untuk Ibu tetapi akupun harus mendengar kata- kata yang menyakitkan dari beberapa kawanku sekolah. Ingin rasanya berteriak sekeras- kerasnya untuk mereka, agar membuka mata melihat realita kehidupan yang kejam, tak hanya tersenyum lebar menikmati berlimpah rupiah di gedongan indah, karena terlahir dari keluarga kaya. Namun Ibu selalu menahanku dan selalu mengatakan, “Maya, cacian orang diluar sana jadikan itu cambukan untuk kamu sukses, jangan ikuti jejak kelam Ibumu. Ibu yakin putriku akan membawa Ibu keluar dari lubang hitam yang menjerumuskan ini, Ibu hanya menunggu waktu itu tiba”; ketika butir- butir pesan itu terucap hanya air mata yang bisa menjadi respon. Tak sepatah kata mampu memberikan jawaban akan pesan itu. Namun aku bertekad tak akan aku biarkan Ibu tenggelam dalam lubang hitam ini untuk waktu yang lebih lama lagi.
Rupiah hasil kerja keras Ibu mengantarkanku menjadi sarjana muda. Tekad bulat dan ketangguhan menghadapi tantangan, menjadi motivasiku untuk segera bangkit dalam keterpurukan hidup yang selama ini membebani Ibu. Kata- kata mutiara Ibu yang selalu terucap dalam setiap langkah perjuanganku menjadi sebuah motto hidup yang harus segera aku wujudkan. Tak ingin mengecewakan bidadari utusan Tuhan yang rela mempertaruhkan jiwa raganya untuk seorang anak malang tanpa pertanggungjawaban seperti aku ini. Seolah ingin membalas semua yang telah beliau berikan, namun aku sadar tak ada materi yang bernilai rupiah tinggi, apapun wujudnya yang mampu menggantikan seluruh pengorbanan Ibu untukku. Hanya kata terima kasih yang mampu terucap ketika langkah kaki mendampingiku menjadi seorang sarjana muda dengan predikat cumlaude. Sujud syukur dalam kaki beliau menjadi ungkapan mengharukan dalam panggung penghargaan waktu itu. Air mata tak henti mengalir mengiringi kebahagiaan yang menghampiri.
Dalam bahagia kelulusan, terselip bahagia ganda ketika aku diterima sebagai PNS, telah banyak planning dalam benak untuk merancang kebahagiaan dimasa mendatang. Bangkit dari keterpurukan hidup dan meninggalkan lubang hitam penuh jejak kelam telah terwujud. Kami mencoba merajut bahagia dalam sebuah istana mungil hasil jerih payah kami berdua.

Tak selamanya apa yang dilihat kasat mata adalah benar, tak selamanya melakukan perbuatan salah adalah kotor. Karena hidup tak selalu mulus perlu jalan kelam untuk menuju terang. Perlu cacian untuk menjadi cambukan. Dan perlu tangis untuk tersenyum.

2 komentar: