TERPENJARA KENANGAN
Sudah cukup lama aku terdiam dalam ketidakpercayaan, apa
yang telah Bony putuskan. Cukup lama aku memahami apa yang sebenarnya menjadi
alasan dibalik kepastian yang mengiris hati ini. Bukan waktu yang sebentar
untuk kembali menata hati pasca keputusan yang diberikan Bony kepadaku. Bukan hanya
sesekali bahkan berkali-kali aku berkaca dan bertanya ‘Apa yang sebenarnya
terjadi? Ataukah memang seorang Luluk sepertiku tidak pantas mengenal Bony? Sosok
yang tidak hanya aku sayang tetapi juga sosok yang dikagumi oleh orang tuaku?’
Ahh aku terlalu berlarut dalam keadaan seperti ini, hingga tanpa sadar cukup
banyak waktuku berlalu hanya untuk meratapi apa yang telah Bony lakukan
terhadapku. Bukan perkara mudah memang, melupakan sosok Bony. Dia adalah
satu-satunya orang yang memiliki karakter mirip dengan Bapakku, baru satu orang
itu yang aku temukan benar-benar mirip dengan Bapakku, lelaki yang memang
menginspirasiku. Selain itu, Bony adalah satu-satunya teman lelaki yang terus
menjadi perhatian orang tuaku, selain tutur katanya yang santun, Bony selalu
menunjukkan sikap yang sopan dan menghargai kedua orang tuaku. Perhatiannya tidak
hanya terhadapku tetapi juga terhadap orang tuaku, kepeduliannya kepada orang
tuaku dan semua perlakuan terhadap orang tuaku memang menjadi nilai tersendiri
bagi orang tuaku.
Pembahasan tentang Bony sampai sekarang memang tidak
berhenti dibahas oleh orang tuaku, seringkali pertanyaan tentang Bony terlontar
kepadaku. Mereka memang belum tahu kondisi sebenarnya antara aku dan Bony saat
ini. Orang tuaku memang belum mengetahui bahwa aku dan Bony sudah hilang
komunikasi cukup lama tanpa sebuah sebab yang pasti. Yang jelas pasca keputusan
yang Bony berikan kepadaku, aku dan Bony sempat menjalin komunikasi cukup
intensif dan terlihat kita berteman baik-baik saja. Bahkan sempat menghabiskan
waktu bersama Bony dan kawan-kawannya. Namun waktu berlalu begitu saja, tanpa
alasan yang jelas dan pasti, komunikasi terhenti. Tidak ada kata terakhir,
ataupun alasan yang melatarbelakangi semua ini terjadi. Aku sendiri juga belum
memiliki nyali untuk berani mengatakan apa yang sebenarnya terjadi antara aku
dan Bony. Selama ini aku terus membiarkan tanda tanya dibenak orang tuaku, aku
membiarkan semua kesalahpahaman hidup disekelilingku. Tidak hanya orang tuaku
namun juga kawan-kawanku. Menanggapi pertanyaan orang tua yang terkadang perlu
memutar otak lebih cepat seringkali menjadi tekanan tersendiri bagiku. Kadang kebohongan
demi kebohongan terlontar untuk sebuah tanya. Rasa bersalah terus membayangiku
akan kebohongan itu, namun apa daya kata ‘Embuh’ tak cukup merepresentasikan
apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Bony.
“Rin, gmana menurutmu, aku harus bagaimana?” pertanyaan itu
yang berkali-kali aku lontarkan kepada kawanku Rindu. Dan dia selalu memberikan
jawaban yang sama.
“Move On girls. Kamu
terlalu banyak menghabiskan waktu hanya untuk memikirkan orang yang belum tentu
memikirkanmu juga. Ingat Life must go on!!
Tidak semua apa yang kamu harapkan dan inginkan akan menjadi yang terbaik bagi
kamu”.
“Tapi Rin, tidak mudah untuk lupa dan Move On dari Bony”.
“Aku tau, aku paham dan aku mengerti apa yang kamu rasakan
saat ini. Kamu memikirkan tanggapan keluargamu kan? Kamu juga terlalu
memikirkan rasa sayangmu yang sudah terlanjur tulus kepada Bony kan? Kamu juga
terlalu terjebak, terpenjara oleh kenangan yang kamu lalui bersama Bony kan? Ingat,
kamu juga harus ingat satu hal, bahwa kamu dan Bony sudah Lost Contact. Bony secara tidak langsung ingin melupakanmu,
menghapus namamu dan menghapus semua tentangmu dengan mengakhiri komunikasi
denganmu. Bony bahagia bersama Vani yang nyatanya bisa membuat Bony lupa
tentangmu. STOP galau Please!! Lupakan
sejenak permasalahan tentang orang tuamu, setelah berjalannya waktu dan kamu
sudah dipertemukan dengan lelaki yang pas, baru kamu jelaskan yang sebenarnya
pada orang tuamu”.
“Tidak semudah itu Rin, aku tau Bony sudah melupakanku, aku
juga sadar aku hanya terjebak kenangan tentang Bony. Tetapi aku juga tidak bisa
memungkiri bahwa aku belum bisa lupa tentang Bony, aku belum bisa lepas dari
bayang-bayang Bony. Intinya aku masih sayang sama Bony”.
“Aku hanya berkapasitas sebagai kawanmu Luk, jadi apapun
langkah yang akan kamu pilih dan jalani aku serahkan pada kamu. Aku juga tidak
ada hak untuk memaksamu, aku hanya memberikan masukan kepadamu dan aku hanya
ingin menyadarkanmu bahwa Bony tidak se-perfect
bayangan dan ekspektasimu. Semoga air matamu tidak terlalu sia-sia hanya untuk
menangisi lelaki macam Bony”.
“Rin... maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk tidak
mengikuti saranmu, hanya saja...”
“Aku paham Luk, semua memang butuh waktu, enjoy your life. Mungkin ini memang
jalan yang harus kamu lalui, maka nikmatilah. Aku akan selalu menemani
perjalananmu, apapun jalan yang kamu pilih”.
Tidak ada hal yang bisa aku lakukan kecuali menangis. Ya,
menangis menjadi kebiasaan yang pasti dihafalkan oleh kawanku Rindu, ketika
pagi-pagi dikampus mataku terlihat membengkak. Bisa ditebak bahwa rinduku
kepada Bony tiba-tiba melanda dan hatiku tak kuasa menahan apa yang kurasa,
yang akhirnya hanya kulampiaskan dengan air mata. Sudah menjadi hal biasa
bagiku menyampaikan rindu dengan air mata, meskipun aku tau bahwa Bony tidak
akan pernah merasakan apa yang aku rasakan. Aku berkali-kali berkaca diri,
memantasan diri, dan memang benar aku bukanlah orang yang pantas untuk Bony.
Bony terlalu sempurna hanya untuk bersama seorang Luluk sepertiku, tapi apa
daya kekuatan dan gejolak perasaan yang tak bisa dikontrol hingga sebuah ketulusanpun
tidak mampu dilunturkan dengan sebuah kenyataan.
Memahami bergulirnya waktu, berharap akan ada penjelasan
yang mampu diterima logika dan perasaan. Bukan dengan sebuah tindakan, karena
aku merasa apa yang aku lakukan hanyalah sia-sia. Mencoba mengikuti permainan
apa yang sedang Bony rancang, atau tetap menikmati berjalannya skenario Tuhan
tentang apa yang harus aku jalani dalam sebuah perjalanan. Keyakinan bahwa akan
ada waktu dimana kebahagiaan pasti menghampiri, setidaknya menjadi jeratan
harapan yang terus menahanku untuk tetap bertahan pada sebuah ketulusan. Benar,
ketulusan perasaanku terhadap Bony yang memang sulit untuk kuhilangkan.
Tiada harap yang paling kuharapkan saat ini, hanya ingin
sebuah kata penjelasan dari Bony tentang apa yang terjadi. Jika memang titik
kesalahan ada pada diriku, bicaralah. Akan kuusahakan untuk terus memperbaiki
kualitas diriku, aku tidak mengharap lebih untuk kau balas perasaan ini, aku
hanya ingin tau apa yang menyebabkan semua ini terjadi, agar aku memiliki
alasan yang cukup kuat untuk menjelaskan kepada orang tuaku. Jika aku menjadi
orang yang tidak peka, maafkanlah. Inilah aku dengan segala kekuranganku, semoga
seiring berjalannya waktulah yang akan mendewasakanku menghadapi semuanya.
Aku percaya bahwa Bony adalah orang yang baik, orang yang
tidak pantas mendapatkan hujatan dan makian hanya karena suatu hal yang tidak
kuketahui alasan dan penyebabnya. Bukan karena disebabkan perasaanku terhadap
Bony, hanya saja ini adalah sebuah keyakinan. Namun ketika kenyataan telah menunjukkan
yang sebenarnya, aku menerima dengan lapang. Mungkin ini adalah jalan kita,
jalan Bony untuk membangun bahagianya bersama orang yang dia sayangi (mungkin
itu Vani) dan inilah jalanku yang tetap menikmati kesendirianku. Belajar memahami
waktu, belajar memahami proses pendewasaan diri, dan belajar menghargai apa
yang terjadi dalam sebuah kehidupan ini. And
Back on the track.
***
Kenangan. Bukan masalah indah dan pilu, kenangan adalah apa
yang telah dilalui dengan atau tanpa orang yang kita sayang. Pernah menjalani
sebuah perjalanan bersama orang tersayang bukan berarti apa yang aku jalani
tanpa orang tersayang tidak disebut kenangan. Jauh sebelum mengenal orang
tersayang aku hidup sendiri, bersama teman, kawan dan sahabat. Aku merasakan
bahagia dan menjalani perjalanan tentu menyisakan kenangan. Ketika mulai
mengenal sosok yang tersayang kenangan menjadi sebuah bayang yang tak mudah
untuk dihilangkan. Entah karena dengan sebuah ketulusan atau memang karena
sayang yang mulai berbeda kadar. Aku sendiri tidak paham. Yang jelas, kenangan
terkadang menjebakku menjadi pribadi yang rapuh. Pribadi yang tidak sekokoh
dulu, saat aku belum mengenal orang tersayang (Bony).
“Luluk yang sekarang adalah wanita yang rapuh, mudah sekali
menangis karena perasaan, tidak setegar dulu.” Kalimat yang cukup
menyadarkanku. Semua itu terlontar dari kawan-kawan yang memang mengikuti
perjalanan hidupku terutama perjalanan perasaan dan hatiku.
Tanpa kusadari setelah apa yang menimpaku itu, aku telah
terpenjara oleh sebuah kenangan yang cukup lama. Aku terpenjara oleh sebuah
harap, yang justru mengurungku untuk terbang bebas. Aku terlalu berlarut
mengikuti alur hati yang terombang-ambing oleh keadaan. Labil akan perasaan
yang menjadikan diri menjadi berantakan. Bukan masalah perasaan, tetapi sebuah
perubahan yang harusnya sebuah pendewasaan. Namun kerapuhan hati bukan sebuah
indikasi pendewasaan.
Entah apalagi yang harus aku tulis dalam kisah ini, yang
jelas untuk saat ini aku lelah untuk terus dan selalu memahami perasaan dan
hati ini. Aku lelah mengikuti perasaan ini, aku bosan hidup dibawah kontrol
perasaan yang tidak menentu. Terjebak dalam sebuah harapan sudah terlewatkan
dan kini aku kembali terjebak dalam penjara, ya terpenjara dalam sebuah
kenangan. Dan aku hanya ingin menikmati kesendirian ini dalam sebuah penjara kenangan.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar