Minggu, 14 Desember 2014

TERPENJARA KENANGAN #13



TERPENJARA KENANGAN

Sudah cukup lama aku terdiam dalam ketidakpercayaan, apa yang telah Bony putuskan. Cukup lama aku memahami apa yang sebenarnya menjadi alasan dibalik kepastian yang mengiris hati ini. Bukan waktu yang sebentar untuk kembali menata hati pasca keputusan yang diberikan Bony kepadaku. Bukan hanya sesekali bahkan berkali-kali aku berkaca dan bertanya ‘Apa yang sebenarnya terjadi? Ataukah memang seorang Luluk sepertiku tidak pantas mengenal Bony? Sosok yang tidak hanya aku sayang tetapi juga sosok yang dikagumi oleh orang tuaku?’ Ahh aku terlalu berlarut dalam keadaan seperti ini, hingga tanpa sadar cukup banyak waktuku berlalu hanya untuk meratapi apa yang telah Bony lakukan terhadapku. Bukan perkara mudah memang, melupakan sosok Bony. Dia adalah satu-satunya orang yang memiliki karakter mirip dengan Bapakku, baru satu orang itu yang aku temukan benar-benar mirip dengan Bapakku, lelaki yang memang menginspirasiku. Selain itu, Bony adalah satu-satunya teman lelaki yang terus menjadi perhatian orang tuaku, selain tutur katanya yang santun, Bony selalu menunjukkan sikap yang sopan dan menghargai kedua orang tuaku. Perhatiannya tidak hanya terhadapku tetapi juga terhadap orang tuaku, kepeduliannya kepada orang tuaku dan semua perlakuan terhadap orang tuaku memang menjadi nilai tersendiri bagi orang tuaku.
Pembahasan tentang Bony sampai sekarang memang tidak berhenti dibahas oleh orang tuaku, seringkali pertanyaan tentang Bony terlontar kepadaku. Mereka memang belum tahu kondisi sebenarnya antara aku dan Bony saat ini. Orang tuaku memang belum mengetahui bahwa aku dan Bony sudah hilang komunikasi cukup lama tanpa sebuah sebab yang pasti. Yang jelas pasca keputusan yang Bony berikan kepadaku, aku dan Bony sempat menjalin komunikasi cukup intensif dan terlihat kita berteman baik-baik saja. Bahkan sempat menghabiskan waktu bersama Bony dan kawan-kawannya. Namun waktu berlalu begitu saja, tanpa alasan yang jelas dan pasti, komunikasi terhenti. Tidak ada kata terakhir, ataupun alasan yang melatarbelakangi semua ini terjadi. Aku sendiri juga belum memiliki nyali untuk berani mengatakan apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Bony. Selama ini aku terus membiarkan tanda tanya dibenak orang tuaku, aku membiarkan semua kesalahpahaman hidup disekelilingku. Tidak hanya orang tuaku namun juga kawan-kawanku. Menanggapi pertanyaan orang tua yang terkadang perlu memutar otak lebih cepat seringkali menjadi tekanan tersendiri bagiku. Kadang kebohongan demi kebohongan terlontar untuk sebuah tanya. Rasa bersalah terus membayangiku akan kebohongan itu, namun apa daya kata ‘Embuh’ tak cukup merepresentasikan apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Bony.
“Rin, gmana menurutmu, aku harus bagaimana?” pertanyaan itu yang berkali-kali aku lontarkan kepada kawanku Rindu. Dan dia selalu memberikan jawaban yang sama.
Move On girls. Kamu terlalu banyak menghabiskan waktu hanya untuk memikirkan orang yang belum tentu memikirkanmu juga. Ingat Life must go on!! Tidak semua apa yang kamu harapkan dan inginkan akan menjadi yang terbaik bagi kamu”.
“Tapi Rin, tidak mudah untuk lupa dan Move On dari Bony”.
“Aku tau, aku paham dan aku mengerti apa yang kamu rasakan saat ini. Kamu memikirkan tanggapan keluargamu kan? Kamu juga terlalu memikirkan rasa sayangmu yang sudah terlanjur tulus kepada Bony kan? Kamu juga terlalu terjebak, terpenjara oleh kenangan yang kamu lalui bersama Bony kan? Ingat, kamu juga harus ingat satu hal, bahwa kamu dan Bony sudah Lost Contact. Bony secara tidak langsung ingin melupakanmu, menghapus namamu dan menghapus semua tentangmu dengan mengakhiri komunikasi denganmu. Bony bahagia bersama Vani yang nyatanya bisa membuat Bony lupa tentangmu. STOP galau Please!! Lupakan sejenak permasalahan tentang orang tuamu, setelah berjalannya waktu dan kamu sudah dipertemukan dengan lelaki yang pas, baru kamu jelaskan yang sebenarnya pada orang tuamu”.
“Tidak semudah itu Rin, aku tau Bony sudah melupakanku, aku juga sadar aku hanya terjebak kenangan tentang Bony. Tetapi aku juga tidak bisa memungkiri bahwa aku belum bisa lupa tentang Bony, aku belum bisa lepas dari bayang-bayang Bony. Intinya aku masih sayang sama Bony”.
“Aku hanya berkapasitas sebagai kawanmu Luk, jadi apapun langkah yang akan kamu pilih dan jalani aku serahkan pada kamu. Aku juga tidak ada hak untuk memaksamu, aku hanya memberikan masukan kepadamu dan aku hanya ingin menyadarkanmu bahwa Bony tidak se-perfect bayangan dan ekspektasimu. Semoga air matamu tidak terlalu sia-sia hanya untuk menangisi lelaki macam Bony”.
“Rin... maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk tidak mengikuti saranmu, hanya saja...”
“Aku paham Luk, semua memang butuh waktu, enjoy your life. Mungkin ini memang jalan yang harus kamu lalui, maka nikmatilah. Aku akan selalu menemani perjalananmu, apapun jalan yang kamu pilih”.
Tidak ada hal yang bisa aku lakukan kecuali menangis. Ya, menangis menjadi kebiasaan yang pasti dihafalkan oleh kawanku Rindu, ketika pagi-pagi dikampus mataku terlihat membengkak. Bisa ditebak bahwa rinduku kepada Bony tiba-tiba melanda dan hatiku tak kuasa menahan apa yang kurasa, yang akhirnya hanya kulampiaskan dengan air mata. Sudah menjadi hal biasa bagiku menyampaikan rindu dengan air mata, meskipun aku tau bahwa Bony tidak akan pernah merasakan apa yang aku rasakan. Aku berkali-kali berkaca diri, memantasan diri, dan memang benar aku bukanlah orang yang pantas untuk Bony. Bony terlalu sempurna hanya untuk bersama seorang Luluk sepertiku, tapi apa daya kekuatan dan gejolak perasaan yang tak bisa dikontrol hingga sebuah ketulusanpun tidak mampu dilunturkan dengan sebuah kenyataan.
Memahami bergulirnya waktu, berharap akan ada penjelasan yang mampu diterima logika dan perasaan. Bukan dengan sebuah tindakan, karena aku merasa apa yang aku lakukan hanyalah sia-sia. Mencoba mengikuti permainan apa yang sedang Bony rancang, atau tetap menikmati berjalannya skenario Tuhan tentang apa yang harus aku jalani dalam sebuah perjalanan. Keyakinan bahwa akan ada waktu dimana kebahagiaan pasti menghampiri, setidaknya menjadi jeratan harapan yang terus menahanku untuk tetap bertahan pada sebuah ketulusan. Benar, ketulusan perasaanku terhadap Bony yang memang sulit untuk kuhilangkan.
Tiada harap yang paling kuharapkan saat ini, hanya ingin sebuah kata penjelasan dari Bony tentang apa yang terjadi. Jika memang titik kesalahan ada pada diriku, bicaralah. Akan kuusahakan untuk terus memperbaiki kualitas diriku, aku tidak mengharap lebih untuk kau balas perasaan ini, aku hanya ingin tau apa yang menyebabkan semua ini terjadi, agar aku memiliki alasan yang cukup kuat untuk menjelaskan kepada orang tuaku. Jika aku menjadi orang yang tidak peka, maafkanlah. Inilah aku dengan segala kekuranganku, semoga seiring berjalannya waktulah yang akan mendewasakanku menghadapi semuanya.
Aku percaya bahwa Bony adalah orang yang baik, orang yang tidak pantas mendapatkan hujatan dan makian hanya karena suatu hal yang tidak kuketahui alasan dan penyebabnya. Bukan karena disebabkan perasaanku terhadap Bony, hanya saja ini adalah sebuah keyakinan. Namun ketika kenyataan telah menunjukkan yang sebenarnya, aku menerima dengan lapang. Mungkin ini adalah jalan kita, jalan Bony untuk membangun bahagianya bersama orang yang dia sayangi (mungkin itu Vani) dan inilah jalanku yang tetap menikmati kesendirianku. Belajar memahami waktu, belajar memahami proses pendewasaan diri, dan belajar menghargai apa yang terjadi dalam sebuah kehidupan ini. And Back on the track.
***
Kenangan. Bukan masalah indah dan pilu, kenangan adalah apa yang telah dilalui dengan atau tanpa orang yang kita sayang. Pernah menjalani sebuah perjalanan bersama orang tersayang bukan berarti apa yang aku jalani tanpa orang tersayang tidak disebut kenangan. Jauh sebelum mengenal orang tersayang aku hidup sendiri, bersama teman, kawan dan sahabat. Aku merasakan bahagia dan menjalani perjalanan tentu menyisakan kenangan. Ketika mulai mengenal sosok yang tersayang kenangan menjadi sebuah bayang yang tak mudah untuk dihilangkan. Entah karena dengan sebuah ketulusan atau memang karena sayang yang mulai berbeda kadar. Aku sendiri tidak paham. Yang jelas, kenangan terkadang menjebakku menjadi pribadi yang rapuh. Pribadi yang tidak sekokoh dulu, saat aku belum mengenal orang tersayang (Bony).
“Luluk yang sekarang adalah wanita yang rapuh, mudah sekali menangis karena perasaan, tidak setegar dulu.” Kalimat yang cukup menyadarkanku. Semua itu terlontar dari kawan-kawan yang memang mengikuti perjalanan hidupku terutama perjalanan perasaan dan hatiku.
Tanpa kusadari setelah apa yang menimpaku itu, aku telah terpenjara oleh sebuah kenangan yang cukup lama. Aku terpenjara oleh sebuah harap, yang justru mengurungku untuk terbang bebas. Aku terlalu berlarut mengikuti alur hati yang terombang-ambing oleh keadaan. Labil akan perasaan yang menjadikan diri menjadi berantakan. Bukan masalah perasaan, tetapi sebuah perubahan yang harusnya sebuah pendewasaan. Namun kerapuhan hati bukan sebuah indikasi pendewasaan.
Entah apalagi yang harus aku tulis dalam kisah ini, yang jelas untuk saat ini aku lelah untuk terus dan selalu memahami perasaan dan hati ini. Aku lelah mengikuti perasaan ini, aku bosan hidup dibawah kontrol perasaan yang tidak menentu. Terjebak dalam sebuah harapan sudah terlewatkan dan kini aku kembali terjebak dalam penjara, ya terpenjara dalam sebuah kenangan. Dan aku hanya ingin menikmati kesendirian ini dalam sebuah penjara kenangan.
***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar