Selasa, 30 Desember 2014

CATATAN AKHIR TAHUN


CATATAN AKHIR TAHUN

Selama 12 bulan berjalan mengiringi perjalanan hidup. Tahun ini adalah tahun yang luar biasa memberikan pelajaran berharga. Tahun yang memberikan gambaran nyata betapa kontrasnya perasaan bahagia dan sedih. Selama dua puluh tahun ini entah mengapa aku benar-benar merasakan kontrasnya perasaan itu baru di tahun ini. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, perasaan bahagia yang kurasakan hanyalah sekedar bahagia, iya bahagia yang biasa-biasa saja. Begitupula dengan rasa sedih, sedih yang kurasakan tahun sebelumnya hanyalah sedih yang biasa-biasa saja iya sangat biasa yang tidak bermakna apa-apa.
Tahun 2014 adalah tahun yang teramat berharga untuk dilupakan begitu saja. Tahun yang penuh pembelajaran sarat akan makna. Memang aku akui bahwa dalam setiap proses kehidupan yang terjadi dalam 2014 ini tidak kumaknai dengan sempurna, terkadang semua proses yang berjalan justru terlewat begitu saja tanpa sebuah pemaknaan yang berarti.
Menganggap setiap proses adalah pendewasaan diri, namun waktu kuabaikan begitu saja berlalu tanpa pemaknaan yang lebih berarti. Kontrasnya perasaan yang kurasakan justru yang membekas dalam memori jelang detik terakhir tahun 2014 ini. Bersama dengan kutuliskan tulisan ini, sebuah catatan sederhana dipenghujung tahun 2014 aku ingin membagikan kisah sederhana secara singkat apa yang telah aku lalui dalam kurun waktu satu tahun ini, ya di tahun 2014.
Awal tahun 2014 adalah awal yang aku lalui dengan penuh senyum, entah apakah hal itu yang disebut dengan perasaan bahagia. Bersama kawan dekat serta teman yang kumaknai lebih dari sekedar teman, pintu 2014 terbuka dengan disambut senyum yang selalu merekah. Kulalui awal tahun itu dengan penuh suka cita, berharap begitu seterusnya aku menjalani kehidupan di tahun 2014 selanjutnya. Rasa bahagia, iya rasa itu nyata terasa. Bahagia yang benar-benar berbeda, sambutan keluarga terhadap teman yang lebih dari sekedar teman membuatku merasa lega bahwa tidak ada penolakan yang kentara diperlihatkan keluargaku terhadapnya.
Bulan berikutnya masih terasa sedikit bahagia itu. Memang tidak kumaknai bulan kedua itu dengan pemaknaan yang berlebih, apalagi untuk mengabadikan setiap perjalanan kehidupan. Aku menjalaninya dengan enjoy tanpa mempedulikan apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Tak terasa bahagia yang kurasakan tidak lagi sebahagia awal bulan ditahun itu. Aku merasakan kejanggalan terjadi pada perasaanku. Iya perasaan yang salah pada teman yang membuatku bahagia di bulan lalu. Entah karena apa aku merasakan kesalahan itu, mungkin berkat kejujurannya atau karena kepoku yang tak terbendung padanya.
Bulan itu aku lalui dengan hati bimbang tak menentu, sebuah perasaan yang tidak selayaknya tercipta kupaksa hilang, enyah dari sudut hatiku. Bulan selanjutnya aku lalui hariku untuk terus dan selalu fokus pada studiku, meski tidak dipungkiri warna dalam organisasi serta perasaan turut andil dalam perjalananku. Aku menghabiskan waktuku hanya untuk kuliahku, organisasiku dan sejenak perasaanku. Tersadar bahwa perasaanku yang tumbuh dan tidak tepat itu semakin nyata ada, dan entah bagaimana caranya menghilangkan semuanya itu. Perasaanku kubiarkan menggantung sendiri tanpa kepastian yang ingin kuteguhkan. Kunikmati perjalanan hidupku semampuku dan sekuatku, ku tak ingin rapuh hanya karena kebimbangan.
Kunikmati bulan selanjutnya. Waktuku habis untuk rutinitas organisasi yang cukup menyita waktu. Tak kupaksa semua tenagaku untuk itu, sesekali pikiranku dan konsentrasiku terfokus untuk mengurusi segala bentuk perasaan yang tiba-tiba menyerbu hati. Segala macam kebimbangan memang muncul, namun seketika enyah begitu saja dengan sebuah kenyataan yang menceritakan kehadiran teman yang kuanggap lebih dari sekedar teman itu. Hadirnya mewarnai setiap lembar ceritaku. Bukan lagi kebimbangan, bukan lagi merasakan ada yang salah dalam hati dan perasaan dan bukan lagi memikirkan salah atau tidak perasaan ini terus tumbuh. Yang aku pikirkan hanyalah senyum ikhlasku untuk sebuah pertemuan, senyum bahagia yang kurasakan yang jujur itu benar-benar bahagia, benar-benar tulus ikhlas dan tak terlupakan. Iya memori itu selalu melekat erat dalam setiap kenangan hidupku ditahun ini. Inilah kebahagiaanku yang berbeda.
Selanjutnya aku mencoba meyakinkan diri, bahwa perasaan itu menjadi salah karena aku sendiri yang menyebabkan. Kesadaran itu mulai terbangun hingga akhirnya aku berpikir akan segala keegoisan dan kesenanganku semata, tanpa mempedulikan orang diluar sana yang terluka akibat ulahku. Iya ada wanita diluar sana yang terluka karena keegoisanku untuk terus dan tetap mempertahankan perasaanku yang nyata-nyata memang salah. Sebuah pembelaan diri bahwa, aku tidak mungkin memiliki perasaan yang nyatanya salah ini jika tidak diperkenankan perasaan ini terus tumbuh. Namun nyatanya perasaan ini tumbuh subur tanpa ada kecaman kuat dari pihak-pihak yang terkait. Apadaya aku menyebabkan orang lain terluka, dan aku menyadari hal itu nyata. Kuredam setiap egoku yang menguasai setiap perasaanku, aku mengalah. Aku melepaskan setiap keputusan yang diberikan temanku itu dengan keikhlasan. Hanya doa yang selalu kupanjatkan untuk semua kebaikan yang akan tercipta kelak. Sakit yang dianugerahkan Tuhan mungkin adalah salah satu cara untuk mengingatkanku yang selama ini terpuruk dengan ego. Perlahan kulepaskan setiap perasaan yang salah itu, namun disisi terdalam hati kecilku menjerit, tak ingin membohongi diri sendiri bahwa memang bukan hal itu yang sebenarnya aku rasakan. Aku tidak ingin melepas semua perasaan yang salah ini, namun diam adalah cara terbaik untuk mengekspresikan. Doa adalah lisan yang bisa kupanjatkan untuk menyampaikan perasaan itu.
Bulan Ramadhan, penuh berkah. Benar adanya, meskipun perlahan perasaan kuredam, namun tidak semudah itu perasaanku hilang, tidak semudah itu ketulusan meluruh begitu saja. Aku termenung dalam diam, bersujud memanjatkan doa untuk segala hal yang terbaik untukku dan temanku ini. Bulan penuh rahmat ini aku manfaatkan untuk terus mengalihkan fokus perasaan yang kian hari sulit untuk dibendung. Komunikasi yang terus terjaga tidak bisa mengalihkan setiap perasaan yang tulus itu. Kehadiran orang lain tak mampu mengubah perasaan ini. Entah apa yang menyebabkan semua ini terjadi, sebegitu tuluskah aku terhadap setiap perasaan ini? Tuhan yang selalu tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Maaf menjadi warna dalam bulan ini. Seolah maaf telah diobral dibulan ini, moment yang tepat untuk mengakui semua kesalahan yang telah diperbuat dan memohon maaf atas segala sikap yang salah. Moment itu pulalah yang menjadikan perasaan ini kembali bergejolak. Tidak ada rasa canggung untuk memaafkan dan memohon maaf, karena memang begitulah. Bulan ini jugalah dimanfaatkan temanku itu untuk kembali berkunjung, kembali memupuk silaturahmi, dan tidak terasa perasaan yang telah lama dengan sekuat tenaga kuredam terpupuk dengan segala sikap manisnya terhadapku. Bukan berlebihan, memang seperti itu yang kurasakan. Bahagia kembali kurasakan, iya bahagia yang benar-benar bahagia, bahagia yang berbeda.
Bulan inilah menurutku yang menorehkan kesedihan yang tak terkira. Bukan hanya masalah perasaan, kekacauan yang ada disekililingku ternyata menjadi penyebab awalnya kesedihan yang bertubi-tubi itu. Aku menjalani dengan tenang, kuikuti kemana arus kehidupan berjalan, aku menjalani dengan sepenuh hati, kunikmati setiap liku perjalanan, kunikmati pula setiap tanjakan didepan. Bulan ini kusibukkan diri dengan peringatan kemerdekaan yang aku panitiai. Warna tersendiri bagiku bekerjasama dengan kawan-kawan tak terduga sebelumnya. Mempersiapkan sebuah acara dalam organisasi kampus, menjadi panitia juga. Dan kekacauan yang terjadi dirumah, serta tugas kuliah yang tiada henti meminta perhatian, menjadi sederet tumpukan yang turut mewarnai bulan ini. Lagi-lagi aku menikmati setiap liku dan tanjakan. Aku menikmati setiap apa yang terjadi, kujadikan pengalaman dan cerita yang suatu saat nanti (termasuk kali ini) yang bisa kubagikan dengan orang lain.
Penyelenggaraan setiap acara yang kupanitiai hampir bersamaan, Alhamdulillah semua berjalan lancar, terlepas dari setiap kesalahan persiapan yang dilakukan dan beberapa kesalahan kecil yang tak berarti fatal dalam penyelenggaraannya. Perlahan dan satu persatu pikiran itu mulai reda, namun seiring redanya pikiran-pikiran yang menjadi rutinitasku, kembali aku bermasalah dengan perasaanku. Aku merasakan aku menyiksa diriku sendiri, aku menggantungkan perasaan dan ketulusan itu dengan ketidakpastian, komunikasi berhenti tanpa sebuah sebab yang pasti, entah karena apa dan untuk apa. Perlahan memahami apa yang terjadi, nyatanya akal ini tak mampu menjawab segala tanya. Akhir bulan ini, semua tanya terjawab. ‘Kesibukan’ yang tak terelakkan. Oke memahami apa yang terjadi dengan kepercayaan. Kurapikan perasaan-perasaan serta ketulusan yang sempat tercecer dengan keputusasaan.
Namun hal itu tidak berlangsung lama, Lost Contact kembali tercipta. Meskipun bukan hilang yang benar-benar hilang. Sesekali muncul dan berkali-kali hilang. Hingga pada akhirnya benar-benar hilang. Iya disitulah aku merasakan air mataku tiba-tiba mengalir tanpa komando. Inilah air mata sebuah kerinduan yang tak terjawab, kerinduan yang tulus. Entah karena alasan apa aku harus meluapkan setiap emosi dengan air mata. Aku menghadapi segala sesuatu dengan air mata, hingga kerapuhan yang menjadi kesan pada diriku saat itu. Kesedihan benar-benar menjadi sedih, ketika sadar bahwa tepat dibulan ini usiaku bertambah. Mau tidak mau tua itu pasti dan segala proses yang selama ini aku lalui berasa tidak berarti apa-apa dalam kehidupanku, nyatanya aku tidak merasakan rasa bahagia yang benar-benar bahagia, bahagia yang berbeda dan bahagia yang kurasakan pada lebaran belum lama ini. Bulan ini adalah bulan dimana aku mengakhiri usia belasanku, kemudian aku memasuki usia duapuluhan. Bukan usia yang pantas untuk bermanja-manja berfoya-foya dengan kesenangan yang ada. Ini adalah saat dimana mau tidak mau aku harus merubah setiap pola pikir dalam otakku. Kedewasaan yang harus aku pilih. Mengetahui kenyataan itu, bukan hal yang menunjukkan kedewasaan jika aku terus terpuruk dalam kesedihan meratapi hilangnya komunikasi dengan temanku itu. Usaha apa yang ingin aku upayakan selain berdoa? Selalu hanya doa yang kupanjatkan, hanya air mata untuk menyampaikan setiap kerinduan, dan hanya itu. Iya memang hanya itu. Harap yang sungguh luar biasa akhirnya tercipta, tepat menjadi orang pertama yang memberiku selamat atas bertambahnya usia. Menjadi sosok special seketika pesan singkat itu hadir di tengah mimpi yang ternyata kenyataan. Bahagia, iya inilah bahagia yang aku tunggu yang ingin kurasakan, namun hanya sekejap saja, berganti hari hal itu lenyap begitu saja. Kehadiran kawan memang tidak kalah memberikan bahagia, namun bahagianya tidak seperti yang kurasakan sebelumnya, bahagia yang benar-benar bahagia. Bahagianya kawan adalah bahagia yang sehari-hari memang kurasakan. Kembali hilang komunikasi terus berlanjut entah sampai kapan ujungnya.
Bulan selanjutnya masih sama, komunikasi tetap tidak ada. Tidak ada rutinitas yang tak terlewatkan disetiap aku membuka mata, cek hp iya selalu itu, bahkan sampai aku merasa putus asa bahwa memang tidak akan pernah ada komunikasi yang tercipta dengannya lagi. Nasihat-nasihat untuk mulai melupakan dan menghilangkan perasaan mulai santer dari kawan-kawan. Namun kembali sudut kecil hatiku menolaknya, dengan segala upaya dan kerasnya hatiku ingin mempertahankan ketulusan ini. Sebuah keyakinan besar tercipta bahwa akan ada bahagia yang direncanakan Tuhan untukku kelak. Iya akan ada, meskipun entah kapan, pasti disaat waktu yang tepat. Kunikmati setiap proses kehidupan ini. Meskipun air mata akhir-akhir ini sering mengalir tanpa sebuah alasan pasti. Tanpa alasan pasti? Pada kenyataannya hanya ada satu alasan, teman yang kuanggap lebih dari seorang teman itu, iya hanya seorang itu yang menjadi alasanku mengapa aku menjadi seperti ini. Seharusnya bukan alasan yang logis untuk apa yang telah terjadi selama ini, namun ketulusan telah mengaburkan semua kenyataan yang ada. Kututup akhir bulan ini dengan event besar yang mempertemukan kawan baru dari seluruh penjuru negeri ini. Perasaan tentang kesedihan sementara terhapuskan, betul hanya sementara. Nyatanya dalam acara itu tetap saja ada hal yang mengagetkan, lebih dari apapun. Sebuah pesan yang dititipkan dari temanku itu, iya pesan yang dititipkan. Tidak habis pikir kenapa harus dengan cara seperti itu, memang hanya pesan maaf, bukan hal itu yang kupermasalahkan. Kenapa harus orang lain yang mendengar maafmu untukku? Kenapa harus orang lain yang lebih dulu mendengar kata maaf yang seharusnya untukku? Kenapa tidak langsung kepadaku, meskipun hanya dengan tulisan? Itu jauh lebih bersahaja ketimbang harus menitipkan maaf pada orang lain. Kekagetan itu kusimpan rapi, hingga sebenarnya air mata ingin tumpah, namun aku merasa bukan waktu yang tepat untuk menumpahkan semuanya. Salah orang juga jika aku menumpahkan pada orang yang dititipinya. Tidak aku respon memang maaf itu, aku anggap semua itu hanya guyonan, mungkin aku salah bersikap seperti itu, jika iya maaf. Namun aku benar-benar tidak habis pikir dengan semua sikap itu.
Bulan terakhir ditahun 2014. Keterkejutan dengan sebuah pesan maaf terkirim pada chat, untukku. Lama kupandangi apa memang benar ini terkirim untukku, berkali-kali kubaca dan kuyakinkan diriku. Sengaja slow respon karena memang aku masih terlempar dalam ketidakpercayaan. Aku ingin memastikan aku tidak sedang bermimpi ataupun berkhayal dengan semua ini. Aku ingin memastikan diri bahwa aku tidak hanya sedang berharap tanpa kenyataan pasti yang selama ini aku lakukan hanya untuk sekedar menghibur diri. Ternyata memang benar, maaf itu tertulis untukku, tidak langsung kurespon memang, perlu waktu untuk flashback setiap kekecewaan, namun lagi-lagi perasaan dan ketulusanlah yang membuat maaf itu tercipta. Kembali komunikasi terjalin hingga kini dipenghujung tahun, meskipun tidak seramah dan sebaik biasanya, saat awal tahun aku mengenalnya. Mungkin butuh waktu untuk menyesuaikan segalanya.
Diakhir tahun ini aku hanya ingin berbagi bahwa memang tahun ini menciptakan kontras perasaan yang cukup kentara, antara bahagia yang benar-benar bahagia dan sedih yang tak terkira. Namun aku menikmati setiap proses yang telah aku lalui. Aku tidak pernah menyesal dengan setiap proses yang telah terjadi. Akan kujadikan pelajaran dan pengalaman untuk ceritaku nanti. Aku percaya bahwa bahagia akan tercipta setelah ini. Tuhan memiliki rencana yang jauh lebih indah dari sekedar apa yang kita harapkan. Tuhan memiliki cara sendiri dan waktu yang tepat untuk setiap kebahagiaan yang telah dipersiapkan. Yakin pada segenap ketulusan ini, bahwa semua akan indah pada waktunya. Yakin bahwa Bahagia itu Ada...
***
Hope for 2015
Semua akan baik-baik saja
Senyum selalu mewarnai setiap langkah
Bahagia selalu tercipta dalam perlajanan setiap proses
Bismillah For Everything :)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar