Kamis, 25 Desember 2014

SEMUA TENTANG KESEDERHANAAN #14



SEMUA TENTANG KESEDERHANAAN

Bahagia itu sederhana. Ya sangat sederhana, sesederhana ketika kita lapar terus makan dan kemudian kenyang, sudah sesederhana itulah bahagia. Tidak perlu sesuatu yang mewah untuk merasakan sebuah kata sarat makna yang menjadi dambaan setiap manusia, yaitu bahagia. Segala upaya dilakukan untuk memperoleh rasa bahagia tersebut. Bahkan untuk mengetahui tingkat kebahagiaan, perasaan yang menurutku sangat abstrak itupun bisa diangkakan dengan sebuah nama indeks kebahagiaan. Bahagia memang memberikan dampak positif bagi diri dan mindset. Entah apa pengaruhnya, mungkin karena kebahagiaan yang aku rasakan berkaitan dengan sosok yang kukagumi yaitu Bony. Namun kebahagiaan bersama Bony tidak berlangsung lama denganku, mungkin ada rasa bahagia yang ditemukan Bony pada orang lain yang bukan bersama Luluk sepertiku. Namun bahagiaku tidak hanya kudapatkan dari Bony, aku menciptakan kebahagiaan-kebahagiaan dari hal-hal yang sederhana. Bercanda bersama kawan dan sahabat, menghabiskan waktu sekedar westing-time, dan hal-hal sederhana lainnya.
Sebaliknya, sedih bisa dirasakan karena hal sederhana pula. Sangat sederhana, ketika kebohongan tak direncana tercipta untuk orang tua, seperti itulah sedih karena hal sederhana. Ketika rasa rindu tak terbendung, dan tak ada kata yang bisa menggambarkan, kemudian air mata yang mewakili, sesederhana itulah rasa sedih. Dan itulah kenyataan yang akhir-akhir ini memang sering aku alami. Ya, aku merasa memang hanya itulah yang bisa aku lakukan terhadap orang tuaku mengingat hubunganku dengan Bony memang tak lagi seperti dulu. Kemudian memang hanya air mata yang selalu melukiskan rasa rindu yang bertumpuk hingga aku tidak bisa menahannya sedirian, yang kemudian begitulah hati merasakan rasa sedih yang tak terkira. Bony memang menjadi alasan mengapa aku harus menyampaikan rindu dengan air mata dan hati merasakan sedih. Ketulusan ini yang menjadi kekuatan mengapa aku tetap bertahan dengan air mata dan rasa sedihku.
Berniat untuk tetap fight, dan tidak ingin menunjukkan kontrasnya bahagia yang kuciptakan dan rasa sedih yang sengaja menyambar. Namun raut wajah serta sorot mata terkadang menjadi salah satu indera kejujuran. Namun senyum dan tawa yang kuciptakan sebagai topeng bahagiaku menjadi andalanku menahan rasa sedih yang sering kali menyambar, ketika memori memutarkan video kenangan yang pernah kulalui. Ya Bony, Bony dan Bony. Hanya satu sosok yang terus membayangiku dalam setiap memori yang menjadi kenangan bahagiaku. Jujur aku tidak pernah menyesali setiap apa yang telah aku lewati bersama Bony. Melewati masa bahagia bersama Bony adalah sebuah kesederhanaan yang kurindukan. Kesederhanaan yang ingin kuulang kembali dengan senyum sebagai hiasan dalam kesederhanaan itu. Sebuah kesederhanaan yang menjadi sebuah moment tak terlupakan yang senyatanya terus menyingkap kembali kenangan yang terus membayangiku.
Aku juga tidak pernah menyesali rasa sedih yang tercipta yang menyangkut sosok Bony. Aku tidak pernah menyesali setiap butir air mata yang mengalir untuk sebuah rasa rindu yang tak terbalaskan. Sebuah ketulusan yang terus menguatkan aku, rasa sayang pulalah yang terus menopangku dalam kerapuhan.  Sedih memang menjadi sesak dalam dada, perih dalam hati yang senyatanya tidak mungkin bisa dipungkiri. Sedih adalah gelombang ketika melewati sebuah perjalanan. Dan inilah jalan yang aku pilih, memilih untuk tetap bertahan pada sebuah ketulusan dan rasa sayang, serta bertahan dalam sebuah kenangan sederhana. Kesederhanaan yang memikat setiap mata serta hati.
“Jodoh itu sudah ada yang mengatur, jalan itu akan ada ketika Tuhan telah mengizinkan pada waktu yang tepat. Terus perbaiki kualitas diri, semua akan indah pada waktunya. Mboten pareng ngeluh nduk...” wejangan singkat dari orang tua, merupakan sebuah suntikan penopang kerapuhan hati. Meskipun orang tuaku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Bony, kadang wejangan-wejangan orang tua justru mengisyaratkanku untuk kuat menjalani perjalanan kehidupan. Mengeluh bukan sebuah solusi, menjalani dengan ikhlas hati adalah solusi.
***
Sederhana yang mempertemukan, sederhana yang memisahkan, dan sederhana pula yang akan menyatukan kembali jika diizinkan sang Maha Kuasa. Pertemuan yang sederhana justru memberikan kesan yang menjadi awal sebuah rasa ketulusan. Kesederhanaan menjadi sebuah pertemuan pula yang menjadi saksi dimana hati tertaut pada sebuah pilihan. Kesederhanaan yang mengiringi setiap proses yang aku dan Bony lalui. Cerita yang tercipta, semua tertulis secara sederhana dalam hati. Dan waktulah yang menciptakan kesederhanaan diantara aku dan Bony, maka waktu jugalah yang memusnahkan kesederhanaan diantara aku dan Bony. Sederhana yang memisahkan aku dan Bony, ya sangat sederhana. Sesederhana ketika pesan singkat tak berbalas selama hampir 5 bulan. Hanya karena hal sederhana itulah bahagia terrenggut begitu saja berganti menjadi sedih. 5 bulan bukan waktu yang singkat hanya karena sebuah alasan sederhana itu.
Kesederhanaan yang akan menyatukan kembali jika Tuhan mengizinkan. Ini adalah sebuah harapan, bukan sebuah realita yang telah tercipta. Hanya saja hati berbicara, ingin harapan itu lekas menjadi sebuah realita. Hati ini ingin merasakan betapa bahagiannya dihidupkan kembali dalam bahagia bersama Bony. Aku menginginkan sebuah kesederhanaan yang akan menyatukan aku dan Bony, meskipun bukan sebagai sepasang yang saling berbalas perasaan, cukup sebagai kawan yang berteman tanpa sebuah kesalahpahaman, itu lebih dari cukup.
Semua memang tentang kesederhanaan, akupun kini menanti rasa harap dengan sederhana. Sesederhana dengan apa yang aku lakukan dalam sebuah penantian, yaitu hanya terus berdoa dan berdoa, memohon agar Tuhan mengizinkan dan mempertemukan aku dan Bony kembali. Hanya untuk sekedar bertutur sapa, memohon maaf atas segala kesalahan yang aku perbuat kepadanya. Memohon agar aku diberikan kesabaran atas semua rasa rindu yang memang lama terpendam dan tak tersampaikan. Memohon agar aku diberikan kekuatan ditengah kerapuhan hati, dan memohon untuk tetap membiarkan rasa ketulusanku terhadap Bony tetap singgah dalam hati. Jika Tuhan memang punya rencana lain, perlahan aku ingin mengikuti setiap skenario yang telah digariskan Tuhan, tapi semua butuh proses dan waktu yang cukup lama. Tetap kuatkan hatiku Ya Tuhan...
“Percaya rencana Tuhan jauh lebih indah dari apa yang kamu inginkan. Terus berdoa dan berusaha untuk memperbaiki diri dan melakukan hal positif adalah langkah tepat untuk mengalihkanmu pada rasa sedih yang seringkali menghampiri. Luluk harus menjadi pribadi yang semakin dewasa dengan setiap gelombang perjalanan, Oke?”
“Rindu, aku bangga memiliki kawan sepertimu. Bahagiaku kini tercipta lewat berbagi denganmu. Terima kasih untuk kesabaranmu mendengarkan keluh kesah, dan tangis air mata. Terima kasih telah memberiku semangat dan nasihat yang kadang terabaikan oleh perasaan. Terima kasih untuk segalanya. You’re my best.”
“Aku yang berjanji untuk tetap mendukungmu, jalan apapun yang kamu pilih. Dan hanya hal sederhana itulah yang bisa kulakukan.”
Kesederhanaan memang menjadi lem perekat pertemanan kami, sederhana pulalah yang menyatukan pikiran-pikiran kami yang kadang  berseberangan. Kami bersyukur atas kesederhanaan pula pertemanan kami langgeng, dan banyak hal yang kami lalui dengan kesederhanaan hingga menciptakan rasa bahagia. Sedih bisa kita minimalisir dengan menciptakan bahagia atas sebuah kesederhanaan. Jika Bony bukan pilihan Tuhan untuk menjadi pasangan yang saling berbalas perasaan yang memiliki ambisi meraih kebahagiaan dengan kesederhanaan bersamaku, aku tetap memohon jadikan Rindu sebagai kawan yang selalu mengiringiku berjalan meraih kebahagiaan lain dengan kesederhanaan bersama orang lain. Jangan jadikan pertemananku dengan Rindu mengalami hal yang sama dengan aku dan Bony. Memang Rindu dan Bony memiliki kesamaan meskipun nyatanya berbeda. Bony adalah orang yang kurindu, sedangkan Rindu adalah kawan yang meyadarkanku bahwa rinduku tak mungkin berbalas. Meskipun aku tahu Rindu bukanlah wanita yang kuat, tegar dan selalu penuh senyum, namun aku yakin dia tidak serapuh aku yang nyatanya aku tidak bisa menahan kerapuhan dengan sikap yang sederhana.
Semua tetang kesederhanaan. Semua terlihat begitu simple, namun nyatanya hati dan perasaan tidak sesederhana apa yang aku lakukan. Hati dan perasaan yang begitu kompleks sulit untuk dipahami dan aku merasa telah lelah jiwa ini untuk terus mengikuti apa yang menjadi gejolak hati. Masih dalam tahap proses untuk menyederhanakan setiap gejolak hati dan perasaan. Semoga apa yang menjadi niat hati diberikan kemudahan dan kelancaran untuk sebuah kesederhanaan yang bersahaja.
***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar