SEMUA TENTANG KESEDERHANAAN
Bahagia itu sederhana. Ya sangat sederhana, sesederhana
ketika kita lapar terus makan dan kemudian kenyang, sudah sesederhana itulah
bahagia. Tidak perlu sesuatu yang mewah untuk merasakan sebuah kata sarat makna
yang menjadi dambaan setiap manusia, yaitu bahagia. Segala upaya dilakukan
untuk memperoleh rasa bahagia tersebut. Bahkan untuk mengetahui tingkat
kebahagiaan, perasaan yang menurutku sangat abstrak itupun bisa diangkakan
dengan sebuah nama indeks kebahagiaan. Bahagia memang memberikan dampak positif
bagi diri dan mindset. Entah apa
pengaruhnya, mungkin karena kebahagiaan yang aku rasakan berkaitan dengan sosok
yang kukagumi yaitu Bony. Namun kebahagiaan bersama Bony tidak berlangsung lama
denganku, mungkin ada rasa bahagia yang ditemukan Bony pada orang lain yang
bukan bersama Luluk sepertiku. Namun bahagiaku tidak hanya kudapatkan dari
Bony, aku menciptakan kebahagiaan-kebahagiaan dari hal-hal yang sederhana.
Bercanda bersama kawan dan sahabat, menghabiskan waktu sekedar westing-time, dan hal-hal sederhana
lainnya.
Sebaliknya, sedih bisa dirasakan karena hal sederhana pula.
Sangat sederhana, ketika kebohongan tak direncana tercipta untuk orang tua,
seperti itulah sedih karena hal sederhana. Ketika rasa rindu tak terbendung,
dan tak ada kata yang bisa menggambarkan, kemudian air mata yang mewakili,
sesederhana itulah rasa sedih. Dan itulah kenyataan yang akhir-akhir ini memang
sering aku alami. Ya, aku merasa memang hanya itulah yang bisa aku lakukan
terhadap orang tuaku mengingat hubunganku dengan Bony memang tak lagi seperti
dulu. Kemudian memang hanya air mata yang selalu melukiskan rasa rindu yang
bertumpuk hingga aku tidak bisa menahannya sedirian, yang kemudian begitulah
hati merasakan rasa sedih yang tak terkira. Bony memang menjadi alasan mengapa
aku harus menyampaikan rindu dengan air mata dan hati merasakan sedih.
Ketulusan ini yang menjadi kekuatan mengapa aku tetap bertahan dengan air mata
dan rasa sedihku.
Berniat untuk tetap fight,
dan tidak ingin menunjukkan kontrasnya bahagia yang kuciptakan dan rasa sedih
yang sengaja menyambar. Namun raut wajah serta sorot mata terkadang menjadi
salah satu indera kejujuran. Namun senyum dan tawa yang kuciptakan sebagai
topeng bahagiaku menjadi andalanku menahan rasa sedih yang sering kali
menyambar, ketika memori memutarkan video kenangan yang pernah kulalui. Ya Bony,
Bony dan Bony. Hanya satu sosok yang terus membayangiku dalam setiap memori
yang menjadi kenangan bahagiaku. Jujur aku tidak pernah menyesali setiap apa
yang telah aku lewati bersama Bony. Melewati masa bahagia bersama Bony adalah
sebuah kesederhanaan yang kurindukan. Kesederhanaan yang ingin kuulang kembali
dengan senyum sebagai hiasan dalam kesederhanaan itu. Sebuah kesederhanaan yang
menjadi sebuah moment tak terlupakan
yang senyatanya terus menyingkap kembali kenangan yang terus membayangiku.
Aku juga tidak pernah menyesali rasa sedih yang tercipta
yang menyangkut sosok Bony. Aku tidak pernah menyesali setiap butir air mata
yang mengalir untuk sebuah rasa rindu yang tak terbalaskan. Sebuah ketulusan
yang terus menguatkan aku, rasa sayang pulalah yang terus menopangku dalam
kerapuhan. Sedih memang menjadi sesak
dalam dada, perih dalam hati yang senyatanya tidak mungkin bisa dipungkiri.
Sedih adalah gelombang ketika melewati sebuah perjalanan. Dan inilah jalan yang
aku pilih, memilih untuk tetap bertahan pada sebuah ketulusan dan rasa sayang,
serta bertahan dalam sebuah kenangan sederhana. Kesederhanaan yang memikat
setiap mata serta hati.
“Jodoh itu sudah ada yang mengatur, jalan itu akan ada
ketika Tuhan telah mengizinkan pada waktu yang tepat. Terus perbaiki kualitas
diri, semua akan indah pada waktunya. Mboten
pareng ngeluh nduk...” wejangan singkat dari orang tua, merupakan sebuah
suntikan penopang kerapuhan hati. Meskipun orang tuaku tidak tahu apa yang
sebenarnya terjadi antara aku dan Bony, kadang wejangan-wejangan orang tua
justru mengisyaratkanku untuk kuat menjalani perjalanan kehidupan. Mengeluh
bukan sebuah solusi, menjalani dengan ikhlas hati adalah solusi.
***
Sederhana yang mempertemukan, sederhana yang memisahkan, dan
sederhana pula yang akan menyatukan kembali jika diizinkan sang Maha Kuasa.
Pertemuan yang sederhana justru memberikan kesan yang menjadi awal sebuah rasa
ketulusan. Kesederhanaan menjadi sebuah pertemuan pula yang menjadi saksi
dimana hati tertaut pada sebuah pilihan. Kesederhanaan yang mengiringi setiap
proses yang aku dan Bony lalui. Cerita yang tercipta, semua tertulis secara
sederhana dalam hati. Dan waktulah yang menciptakan kesederhanaan diantara aku
dan Bony, maka waktu jugalah yang memusnahkan kesederhanaan diantara aku dan
Bony. Sederhana yang memisahkan aku dan Bony, ya sangat sederhana. Sesederhana
ketika pesan singkat tak berbalas selama hampir 5 bulan. Hanya karena hal
sederhana itulah bahagia terrenggut begitu saja berganti menjadi sedih. 5 bulan
bukan waktu yang singkat hanya karena sebuah alasan sederhana itu.
Kesederhanaan yang akan menyatukan kembali jika Tuhan
mengizinkan. Ini adalah sebuah harapan, bukan sebuah realita yang telah
tercipta. Hanya saja hati berbicara, ingin harapan itu lekas menjadi sebuah
realita. Hati ini ingin merasakan betapa bahagiannya dihidupkan kembali dalam
bahagia bersama Bony. Aku menginginkan sebuah kesederhanaan yang akan
menyatukan aku dan Bony, meskipun bukan sebagai sepasang yang saling berbalas
perasaan, cukup sebagai kawan yang berteman tanpa sebuah kesalahpahaman, itu
lebih dari cukup.
Semua memang tentang kesederhanaan, akupun kini menanti rasa
harap dengan sederhana. Sesederhana dengan apa yang aku lakukan dalam sebuah
penantian, yaitu hanya terus berdoa dan berdoa, memohon agar Tuhan mengizinkan
dan mempertemukan aku dan Bony kembali. Hanya untuk sekedar bertutur sapa,
memohon maaf atas segala kesalahan yang aku perbuat kepadanya. Memohon agar aku
diberikan kesabaran atas semua rasa rindu yang memang lama terpendam dan tak
tersampaikan. Memohon agar aku diberikan kekuatan ditengah kerapuhan hati, dan
memohon untuk tetap membiarkan rasa ketulusanku terhadap Bony tetap singgah
dalam hati. Jika Tuhan memang punya rencana lain, perlahan aku ingin mengikuti
setiap skenario yang telah digariskan Tuhan, tapi semua butuh proses dan waktu
yang cukup lama. Tetap kuatkan hatiku Ya Tuhan...
“Percaya rencana Tuhan jauh lebih indah dari apa yang kamu
inginkan. Terus berdoa dan berusaha untuk memperbaiki diri dan melakukan hal
positif adalah langkah tepat untuk mengalihkanmu pada rasa sedih yang
seringkali menghampiri. Luluk harus menjadi pribadi yang semakin dewasa dengan
setiap gelombang perjalanan, Oke?”
“Rindu, aku bangga memiliki kawan sepertimu. Bahagiaku kini
tercipta lewat berbagi denganmu. Terima kasih untuk kesabaranmu mendengarkan
keluh kesah, dan tangis air mata. Terima kasih telah memberiku semangat dan
nasihat yang kadang terabaikan oleh perasaan. Terima kasih untuk segalanya. You’re my best.”
“Aku yang berjanji untuk tetap mendukungmu, jalan apapun
yang kamu pilih. Dan hanya hal sederhana itulah yang bisa kulakukan.”
Kesederhanaan memang menjadi lem perekat pertemanan kami,
sederhana pulalah yang menyatukan pikiran-pikiran kami yang kadang berseberangan. Kami bersyukur atas
kesederhanaan pula pertemanan kami langgeng, dan banyak hal yang kami lalui
dengan kesederhanaan hingga menciptakan rasa bahagia. Sedih bisa kita
minimalisir dengan menciptakan bahagia atas sebuah kesederhanaan. Jika Bony
bukan pilihan Tuhan untuk menjadi pasangan yang saling berbalas perasaan yang
memiliki ambisi meraih kebahagiaan dengan kesederhanaan bersamaku, aku tetap
memohon jadikan Rindu sebagai kawan yang selalu mengiringiku berjalan meraih
kebahagiaan lain dengan kesederhanaan bersama orang lain. Jangan jadikan
pertemananku dengan Rindu mengalami hal yang sama dengan aku dan Bony. Memang
Rindu dan Bony memiliki kesamaan meskipun nyatanya berbeda. Bony adalah orang
yang kurindu, sedangkan Rindu adalah kawan yang meyadarkanku bahwa rinduku tak
mungkin berbalas. Meskipun aku tahu Rindu bukanlah wanita yang kuat, tegar dan
selalu penuh senyum, namun aku yakin dia tidak serapuh aku yang nyatanya aku
tidak bisa menahan kerapuhan dengan sikap yang sederhana.
Semua tetang kesederhanaan. Semua terlihat begitu simple, namun nyatanya hati dan perasaan
tidak sesederhana apa yang aku lakukan. Hati dan perasaan yang begitu kompleks
sulit untuk dipahami dan aku merasa telah lelah jiwa ini untuk terus mengikuti
apa yang menjadi gejolak hati. Masih dalam tahap proses untuk menyederhanakan
setiap gejolak hati dan perasaan. Semoga apa yang menjadi niat hati diberikan
kemudahan dan kelancaran untuk sebuah kesederhanaan yang bersahaja.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar