Minggu, 13 April 2014

TIDAK AKAN PERNAH ADA MANTAN TEMAN




TIDAK AKAN PERNAH ADA MANTAN TEMAN
Terkadang semua yang terjadi kepadaku tak seperti apa yang kuharapkan. Awalnya kau memberikan ku celah untuk ku masuk ke sudut kecil hatimu. Namun saat itu aku belum siap untuk secepat itu masuk ke dalam sudut hatimu. Perlahan-lahan aku mulai merasakan perbedaan pelakuanmu terhadapku dibanding kepada teman lain kita. kau memang tak semenarik actor kelas atas, kau juga bukanlah orang yang tenar akan kharismamu, namun aku juga tak mengerti  apa alasannya kau memiliki daya tarik tersendiri yang sulit untuk aku jelaskan.
Kau adalah sesosok lelaki yang baik dan ramah, sebut saja dia Aga. Dia adalah sesosok teman yang berkesan diwaktu perjumpaan pertama. Bukan perjumpaan pertama tapi lebih tepatnya penglihatan pertama dan hanya sekilas.Ya, aku memang tidak pernah kenal sebelumnya, namun semenjak aku telah mendaftar dan telah tercatat sebagai peserta ospek fakultas dan jurusan Ilmu pemerintahan di sebuah PTN di jogja, mulai ada yang menghubungiku lewat pesan singkat. Dengan tanpa basa-basi pesan itu berisi “hi.. km Rasya ya? Jurusan Ilmu Pemerintahan?” tak perlu ku berpikir panjang, lalu ku balas “iya, ini siapa?” dengan cepat balasan smsnya kubaca “aku Aga, Ilmu Pemerintahan juga.”, kubalas lagi “ohh, km kelas A atau B? aku kelas B “,  “aku kelas A,, yaudah salam kenal ya ”  itulah akhir dari pesan singkat kami. Namun itu tak memberikan pengaruh apa-apa bagi ku, karna aku berpikir bahwa yang namanya mahasiswa baru berkenalan adalah hal yang wajar.
Perjalanan ospek pun kami lewati dengan penuh suka cita. Ospek jurusan pun memberikan warna tersendiri bagiku untuk bisa tau wajah Aga yang telah meng- smsku waktu dulu. Dengan konsep bersenang-senang dengan sedikit sentuhan kegiatan yang intelektual mewarnai pengalaman ospek kami di jurusan Ilmu Pemerintahan. Giliran kelompok sebelah yang harus menampilkan kesenian hasil kreativitas peserta ospek. Perkenalan singkat membuatku semakin tidak jelas bagaimana sesungguhnya Aga itu, bahkan wajahnya pun aku tak begitu jelas, namun setidaknya aku memiliki perkiraan Aga itu yang mana, tapi entah salah atau benar aku pun meragukan. Aga ternyata menjadi satu kelompok dengan teman sekampungnya yaitu Farris dalam kelompok ospek fakultas sehingga kedekatannya berlanjut di ospek jurusan.
***
Ini adalah awal dari perjalananku menjadi seorang mahasiswa. Tak mengerti apa yang harus kulakukan dan menuju kelas mana aku harus masuk. Ku ikuti kemana kaki ini melangkah dan membawaku menuju sebuah kelas dengan tingkat kebisingan yang luar biasa. Aku semakin bingung tak tau aku harus bagaimana, dan aku bertanya pada seseorang didepan pintu, “kelas B dimana?” dia menjawab dengan ramah “oh di situ..” sambil menunjuk ke kelas sebelah. Aku memasuki kelas itu, namun kebingungan semakin menjadi-jadi setelah aku melihat teman-teman SMA ku yang jelas-jelas setahuku berada di kelas A. Dan tak ku sangka orang yang aku anggap sebagai Aga dan temannya itu berada di kelas itu, padahal dulu dia mengatakan dia berada di kelas A. Setelah mendengarkan penjelasan salah satu teman, ternyata pembagian kelas diacak, dan aku mulai lega namaku telah disebut dalam absen.
Jeda kuliah kosong diisi dengan kebisingan membahas pengurus kelas. Awalnya menunjuk calon ketua kelas, nama Aga, Farris, dan Edo lah yang terpilih menjadi kandidat, dan yang terpilih berdasarkan suara terbanyak adalah Edo lalu disusul Aga. Rasa bersalah dan menyesal tiba-tiba mendiami hatiku, karena tak tahu mana orangnya, aku memilih Edo, dan setelah mundur, tatapan Aga menjadi aneh dan berubah menjadi tak biasa. Namun aku mencoba cuek dengan itu karena aku pikir dia bukan Aga.
Setelah dua hari menjalani kuliah tugas makalah telah menunggu, dan kamipun tak sengaja menggerombol di Perpustakaan, hingga sore kami terus bercanda sambil memahami teman baru yang belum lama kami kenal. Dan baru aku sadar bahwa orang yang aku anggap Aga ternyata adalah Farris. Itu sungguh lucu sekali, salah dugaan hahaha. Disitulah aku tau siapa Aga, dan yang aku herankan diantara Aga dan Farris terdapat beberapa kesamaan. Mereka berasal dari kota yang sama, logat bicara yang khas juga sama, kejailan yang mirip, tinggi yang hampir sama, dan terkadang duduknya pun sering bersebelahan.
            Waktu perlahan berjalan kami lewati dengan penuh canda, tawa, kesibukan dan hal-hal iseng lainnya. Karena terbiasa bersama tak sengaja terbentuk kedekatan yang tak biasa diantara kami, bahkan sering di juluki double trio. Aneh sih tapi memang begitu. Aku, Nayla, dan Meysa sedangkan trio satunya, Aga, Farris, dan Edo. Ini terbentuk tanpa terrencana, semua mengalir begitu saja tanpa ada unsur kesengajaan. Tak terkira juga kedekatan semakin terjalin ketika kita nongkrong di Perpus, nongkrong di Taman, bahkan kerja kelompokpun selalu bersama. Ketika aku kerja kelompok dengan kelompok berbedapun mereka dengan setia menunggu bahkan sampai larut. Rasa salutku kepada mereka bertambah disaat mereka selalu menguatkan aku disaat aku goyah, ragu akan pilihanku berada di jurusan ini. Aga memang lebih banyak memberiku kata-kata semangat untuk aku tetap bertahan dengan jurusan ini, karena nasibnya yang hampir sama denganku, jadi dia paham dengan apa yang aku rasakan dengan jurusan ini. “Sulit menjalani hal yang kita sendiri belum yakin untuk menjalaninya, namun ini pilihan kita dari awal dan takdir juga telah memutuskan untuk kita berada di jurusan ini. Kita jangan mudah menyerah dan mengeluh dengan ini, kita sudah niat dari awal kuliah untuk membanggakan Orang Tua, dan mari kita bersama-sama belajar saling membantu dan saling menguatkan satu sama lain untuk kita tetap bertahan di jurusan yang mungkin memang bukan bidang kita dari awal. Tapi yakinlah ada kawan kita yang siap membantu untuk kita melangkah maju dan progresif berkarya dan berprestasi”, itulah kata-kata Aga yang tak pernah ku lupa.
            “Hey, Rasya..”
            “Hey.. ada apa??”’, “Nih aku ada buku bagus lho, mau baca?”
            “Boleh deh, coba lihat..”
            Aku asyik membaca buku kecil berisi kumpulan cerita cinta yang dipinjamkan teman sekelasku.Tak terpengaruh dengan kebisingan teman kelas yang memperdebatkan masalah yang tak penting, aku tetap terpaku pada buku itu dan berniat menyelesaikan membacanya. Bahkan melewati kuliahpun perhatianku tetap tertuju pada buku itu, dan kuliah dari dosen tak masuk sama sekali di otak ku. Namun aku senang dengan kegiatanku ini, bahkan dipergantian jam untuk pindah ruang kelaspun mataku tetap tertuju pada bacaan ku itu. Dipojok depan kelas aku menyendiri lesehan, dan masih asyik dengan bacaaanku itu, tak tahu kenapa, Aga mendekatiku juga dengan bacaannya mengenai psikologi. “Pada kesambet apaan nih mendadak pada rajin baca buku, hehe..” kata salah satu teman kelas, namun kata-kata itu hanya kami tanggapi dengan tatapan datar dan sedikit sunggingan senyum, dan kami lanjutkan membaca. Beberapa waktu kami lewati dengan saling diam dan sibuk dengan bacaan masing-masing, lalu terdengar suara riuh di kelas “Ciieee..cieee.. “, dan kamipun sadar suara riuh itu tertuju untuk kita, dan menghentikan bacaan sejenak untuk sekedar senyum-senyum gak jelas. Sampai akhirnya dia bilang ke Nayla yang tadi telah mendekat diantara duduk kami. “Tuhh, temenmu aneh,, tadi senyum-senyum sendiri sekarang nangis tuhh..” sindir Aga, yang aku sadar bahwa kata-kata itu untuk aku. Ku hentikan membaca sejenak, lalu ku jelaskan alasan ku menangis, “ehh ini tuh mengaharukan, nih kisah cinta seorang ayah ke anaknya tauukkk..” dengan lengkingan diakhir kalimat, lalu ku teruskan membaca. Tak kusangka jam kuliah telah habis, dan aku tak menyadari jika kuliah hari itu kosong. Teman-teman lain telah bergegas meninggalkan ruang kelas, dan disitu hanya tertinggal beberapa orang termasuk aku dan Aga yang masih bercakap-cakap mengenai bacaan kita. Sedikit aku menjelaskan mengenai cinta yang baru saja aku baca, sebaliknya Aga menjelaskan beberapa inti dari apa yang baru saja dia baca yaitu mengenai Psikologi. Dan ditengah asyiknya percakapan kita, tersadar bahwa ruang kelas telah sepi hanya tertinggal kita berdua. Bergegas kitapun menyusul teman-teman lain untuk istirahat melepas dahaga dan lapar. Aku, Nayla, Meysa, Edo, Farris, dan Aga makan siang dikantin fakultas, dan kitapun mendominasi keramaian kantin saat itu. Senda gurau, candaan, ledekan pun terlontar diantara kita.
            Berawal dari itu kedekatanku pada Aga semakin terlihat bahkan kadang disalah artikan oleh teman lain. Perhatian Aga semakin ditunjukkan padaku disaat kami terlibat dalam satu kepanitiaan yang mengharuskanku untuk nebeng motornya. Setelah acara selesai akupun terlihat lemas, pucat, dan kurang enak badan, Agapun tak henti memberikan perhatiannya padaku, entah itu perhatian untuk teman atau lebih, yang jelas aku mengartikan itu semua hanya perhatiannya sebagai teman biasa, layaknya dia kepada temanku lain seperti Nayla ataupun Mesya. Hari berikutnya acara turun jalan kami lakukan dan disitu kondisi ku belum sehat betul meskipun aku telah beristirahat selama dua hari. Agapun menunjukkan perhatiannya lagi padaku dengan memberikanku tumpangan motornya, dan tak mengijinkanku untuk bawa motor sendiri.
            Hari demi hari kami lewati bersama Aku, Nayla, Meysa, Edo, Farris, dan Aga dengan penuh kedekatan layaknya menemukan keluarga baru yang penuh perhatian. Termasuk perhatian Aga yang memang kuakui lebih dibanding perhatiannya kepada Nayla ataupun Meysa. Aku juga sadar akan hal itu namun aku tak mau besar kepala atau Geer dulu. Aku selalu menganggap semua itu biasa, aku dan Aga layaknya pertemananku dengan Edo, maupun Farris. Namun Nayla dan Meysa menganggapnya berbeda, mereka beranggapan aku dan Aga ada hubungan yang special yang tak diketahui olehnya. Mereka menganggap perhatian Aga yang selalu kutanggapi dengan baik merupakan indikasi bahwa diantara aku dan Aga memiliki rasa. Kedekatan kami selalu diartikan lebih oleh teman-temanku. Dan harus kuakui bahwa kedekatanku dengan Aga memang membuatku senang dan sangat mewarnai hidupku, perhatianya membuatku semakin senang bersamanya, bahkan kebaikannya kepada ku menjadikanku merasa bersalah jika aku kurang peka terhadapnya.
            Akhir-akhir ini semua yang indah antara aku dan Aga mulai memudar sendiri, entah disebabkan oleh apa akupun tak mengerti. Mungkin karena kesibukan masing-masing hingga menjadikan Aga tak punya waktu lagi untuk perhatian padaku lagi. Kebaikannya yang selau mengantarku ke parkiran karena aku takut jika pulang malam, kini tak lagi bisa kulakukan. Perhatiannya yang kadang membuatku jadi illfeel tak lagi ada, canda tawanya yang selalu menyenangkanku meski suntuk menyelimuti hati kini tak lagi tercipta, bahkan kedekatan kita pun kini telah sirna. Perubahan inilah yang tidak pernah aku harapkan sebelumnya, karena aku sadar teman sebaik Aga memang sulit untuk ku dapatkan. Namun Aga yang perlahan menjaga jarak denganku, aku tak mengerti alasannya mengapa Aga menjauh dariku. Entah karena tak mau diledek teman lain, atau entah karena memang tak mau lagi dekat denganku, atau karena dia illfeel denganku atau yang lain yang aku sendiri bingung untuk menjelaskan, karena akupun memang tak tahu kenapa Aga menjauh dariku. Jujur aku sedih, merasa kehilangan bahkan terasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup ini. Aku tak mengerti mengapa aku merasa seperti ini, aku tak paham mengapa aku harus setakut ini kehilangan Aga, tak tahu kenapa aku begitu sedih,  dan janggal dengan keadaan seperti ini.
            Tepat ditanggal 14 Februari 2013, kami mendapat kesempatan untuk sekedar berbincang di salah satu taman kampus. Hanya aku dan Aga, tak kusangka dia memberiku Coklat, Aga memang tahu kesukaanku adalah coklat, sesuntuk apapun hatiku, dengan coklat manjadikanku merasa Good Mood lagi. Bukan karena dalam rangka valentine, tapi hanya sekedar kasih coklat karena memang aku suka dengan coklat. Namun aku ragu untuk menerimanya, kupenggal kata-katanya sebelum dia lanjut mengatakan hal-hal lain. “Aga, kamu knapa kok akhir-akhir ini jadi ngejauhin aku, ngediemin aku, dan kamu jadi beda sama aku??” wajahku mulai memerah, namun Aga menjawab dengan wajah penuh ketenangan “Lhoh siapa yang jauhin kamu?, diemin kamu? Perasaan aku gak pernah deh diem, ataupun jauhin kamu,, mungkin kamu aja yang ngrasa begitu, tapi sebenernya kan enggak.. “ aku semakin tak bisa menahan sedihku, mataku telah berkaca-kaca tak mampu menahan sedihku yang memuncak disaat itu. “Ini gak mungkin hanya perasaanku saja, kamu emang berubah denganku kok, kamu sekarang cuek sama aku, ketemu aku dengan teman-teman pun kamu diemin aku, tak pernah kamu menyapaku, apa kamu sekarang benci sama aku? Atau kamu tak mau lagi berteman denganku? atau..” belum sempat aku melanjutkan kata-kataku, sontak tangan Aga meraih tubuhku dan didekapnya tubuh ini dengan penuh kehangatan. Sontak hatiku menjadi teduh dan nyaman dengan kondisi ini, namun pikiranku masing melayang-layang menerka apa arti dari apa yang dilakukan Aga padaku. Namun air mata ini tak henti mengalir justru semakin deras di pelukan Aga, beberapa menit berada dipelukannya menjadikanku sadar akan sesuatu yang sulit kuungkapkan, selain itu timbul rasa takut akan kehilangan Aga yang mulai bergejolak di hati. Setelah kulepaskan pelukan itu, aku dan Aga sama-sama terdiam dan suasana hening tercipta dengan sendiri. Suara tercipta setelah Aga mulai menjelaskan mengapa dia menjauh dariku, “Rasya, kamu jangan salah paham dulu, bukan bermaksud aku menjauh, ataupun cuek ke kamu. Aku hanya tak ingin membuatmu lebih kecewa denganku, mungkin menjauh adalah jalan terbaik agar kamu terbiasa dengan keadaan seperti ini.”Aku tak merespon dengan kata- kata apapun, aku hanya menunjukkan wajah yang kebingunan.“ Ras, mulai sekarang kamu harus terbiasa tanpa aku, kamu harus berjuang untuk cepat lulus, yaa.. maaf aku gak konsisten dengan omonganku yang dulu, maaf aku tidak bisa menjadi teman baikmu lagi, karena aku harus cepat pergi”. Wajah syok, kaget dan tak mengerti yang tercipta di suasana yang teramat asing bagiku. “Seminggu lagi waktuku yang tersisa untuk bisa berada di kampus ini bersama kawan-kawanku semua termasuk kamu, Ras.. dalam waktu dekat ini aku harus terbang ke luar negeri untuk menyusul ayahku yang telah bekerja disana, dan sekarang aku bersama keluargaku harus pindah kesana, untuk hidup dan menetap disana.” Raut mukaku semakin pucat pasi, syok, kaget dan gak menyangka ternyata ketakutanku akan menjadi kenyataan sebentar lagi. Air mataku tak terbendung lagi, tak kuasa menahan tangis, entah apa arti air mataku mengalir, yang jelas suasana hatiku kacau, sedih campur aduk hingga sulit untuk ku diskripsikan.
Dan inilah kenyataan sepahit apapun harus tetap aku rasakan, termasuk merelakan Aga untuk merajut bahagia bersama keluarganya. Aku hanyalah seorang Rasya yang tak berdaya, tak punya kuasa menahan Aga untuk tetap tinggal dan mengais ilmu di kawah yang sama denganku. Mungkin mulai saat ini aku harus bisa beradaptasi dengan segala keadaan ini, mulai sadar bahwa tidak akan ada lagi kata semangat dari kawan yang mampu menguatkan. Tak aka nada lagi perhatian yang selalu disalah artikan. Tapi apapun itu, selagi Aga bahagia aku akan tetap mendukung dan mendoakan untuk kebaikan Aga. Tak akan pernah terlupa kenangan bersama Aga, karena tidak akan pernah ada istilah mantan teman. Karena selamanya akan tetap dan selalu menjadi kawan. Terima Kasih Aga..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar