TEKAD YANG SAMA UNTUK
BANGKIT DARI LUKA
Entah apa yang menyatukan kita dalam takdir ini. Yang jelas tidak
ada unsure kesengajaan dalam bertemunya kami berdua dalam satu jurusan bahkan
satu kelas. Kita dipertemukan menjadi teman yang memang biasa saja awalnya. Kita dipertemukan
secara kebetulan dalam sebuah organisasi dikala SMA. Pertemanan berlanjut tanpa
kedekatan special. Ya, aku dan temanku ini hanya berteman layaknya berteman
dengan kawan-kawan lainnya, tidak ada kedekatan yang lebih. Sebut saja Rara.
Ya, Nini (aku) dan Rara berteman sejak SMA. Dan takdir juga mempertemukan kita
dalam studi lanjut kita di perguruan tinggi yang sama, dengan fakultas yang
sama, jurusan yang sama bahkan kelas yang sama. Kedekatan kami berlanjut tidak
hanya sekedar teman biasa saja. Banyak kesamaan dari kami yang terungkap seiring
kedekatan kami. Tepat dihari ulang tahunku yang ke 18, kami mendapat sebuah
kebahagiaan yang sama yaitu berhasil lolos mendapatkan beasiswa yang sama. Hal
ini kami jadikan suatu perekat dalam hubungan pertemanan kami. Selain itu
banyak nasib yang memihak kami yang sama pula. Pada saat pendaftaran ogranisasi
kampus kami mendaftar divisi yang sama, tapi ternyata kita dialihkan kedivisi
lain yang sama-sama tidak kita inginkan, rasa kecewa yang sama yang kami
derita, saling menggerutu, dan saling mengungkapkan kekecewaan kami dengan
saling mengutuk keadaan. Bahkan kesamaan tidak berhenti disitu saja, kami
merasa memiliki kesamaan nasib dalam hal asmara. Kami sama-sama merasa menjadi
korban PHP. Tapi mungkin itu hanya perasaanku saja. Yang jelas kata galau
menjadi kata-kata setiap hari yang selalu terucap oleh Rara. Entah mungkin Rara
yang terlalu berharap lebih ataukah ini hanya keGe-eran Rara, atau apa, aku
juga tidak begitu paham, tidak tahu persis apa yang sesungguhnya Rara rasakan.
Yang jelas Rara menjadi penggemar rahasia seorang cowok yang menurutku cowok
itu nothing special. Tapi ya
begitulah Rara, sebelum mengetahui hal buruknya, tak berhenti Rara menjadi
penggemarnya. Bahkan dalam sehari Rara harus bertemu dengan cowok itu, jika
tidak bertemu Rara merasa ada yang kurang dalam menjalani harinya. Bahkan yang
aku tidak habis piker adalah ketika Rara rela nongkrong di kampus sampai sore
hanya sekedar untuk melihat cowok itu. Bagiku hal itu merupakan sebuah hal
konyol yang dilakukan Rara, dan aku juga tak habis piker, kenapa aku mau
menemani Rara nongkrong tanpa tujuan, hanya untuk menemani Rara menunggu cowok
itu lewat di depan mata Rara. Yah namanya juga teman senasib, ketika nasib Rara
harus menunggu cowok pujaannya lewat meskipun harus menunggu hingga sore,
akupun ikut merasakannya.
Mungkin Rara merasa minder ketika sosok lelaki pujaannya
ternyata mengidamkan wanita lain yang menurut Rara jelas lebih baik disbanding
dirinya. Namun sebagai teman, aku hanya bisa mendukung apa yang ingin Rara
lakukan. Sebelumnya telah banyak hal yang dilakukan Rara agar supaya Rara bisa
lebih tahu dan lebih dekat dengan lelaki itu. Dari mulai stalking FB, maupun
Twitter hingga mengikuti kegiatan yang juga diikuti lelaki pujaan Rara
tersebut. Namun semakin banyak upaya yang dilakukan Rara, sebagai usaha
mendekatkan diri dengan lekaki itu, semakin banyak pula fakta yang terungkap
yang hanya menjadikan Rara semakin ciut nyalinya. Semakin waktu terus bergulir,
Rara merasa tidak ada gunanya masih mengharapkan lelaki yang jelas-jelas tidak
mengharapkannya. Rara tersadar bahwa apa yang dilakukannya selama ini sia-sia
tak ada gunanya. Hingga Rara memiliki keyakinan kuat untuk mulai Move on dari
semua hal konyol itu. Rara ingin bangun dari mimpi-mimpi yang selama ini
menjebaknya dalam lubang kegalauan yang selalu mewarnai hari Rara. Rara tidak
ingin terbang dalam segala harap yang hanya ada dalam dunia khayal yang setiap
hari asyik dikhayalkan dengan tokoh-tokoh imajinatif yang semakin
menggantungkan harapan Rara untuk terbang semakin tinggi. Dan kini Rara
bertekad, berkeyakinan teguh bahwa Rara akan menghentikan khayalannya dengan
diiringi kata Move on untuk melengkapi kebangkitan Rara dari kegalauan.
***
Persamaan kisah asmaraku dengan Rara hampir mirip, namun
mungkin bedanya aku bukan lagi sebagai penggemar rahasia, namun berteman dekat,
kedekatan aku dan lelaki itu jelas terlihat berbeda, hingga menimbulkan
persepsi lain bagi kawan-kawan yang lain. Entah kedekatan seperti apa yang
disalah artikan oleh teman-teman lain itu. Yang jelas aku tidak menyadari bahwa
kedekatanku dengan lelaki itu merupakan kedekatan yang dianggap special oleh teman-teman lain. Mungkin
aku kurang peka dan aku sadar aku bukan orang yang baik untuknya, jadi aku
tidak pernah merasa Ge-er dengan segala perhatian yang ditunjukkan kepadaku.
Tapi entah apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan lelaki itu. Sebut saja
Aan, dia adalah lelaki yang aku maksud. Aku dan Aan memang dekat, baik di
kampus maupun dalam komunikasi. Terkadang sesekali Aan menelponku untuk sekedar
menghabiskan bonus dengan sharing
masalah yang Aan hadapi. Sebagai teman aku hanya bisa mendengarkan, menanggapi
semampuku dan mungkin memberikan sedikit masukan meskipun masukan yang mungkin
kurang bijak. Oke lupakan masalah telpon-menelpon. Terlepas dari kedekatan kami
yang sering telpon-telponan, aku dan Aan juga dekat di dalam kelas,
sampai-sampai banyak yang mengira ada hubungan special antara aku dan Aan,
tetapi sesungguhnya kami hanyalah sebatas teman saja.
Ketika waktu semakin berlalu, Aan semakin dekat denganku,
tetapi mungkin itu hanya salah persepsiku dan itu hanya perasaanku, ataukah itu
hanya kege-eranku saja. Namun hatiku semakin yakin bahwa ada hal yang berbeda dalam
kedekatan aku dan Aan. Aku merasa ada perhatian yang lebih dari Aan untukku,
tapi mungkin itu hanya salah mengartikanku saja. Aku mulai memiliki perasaan
yang aneh terhadap Aan, aku mulai berharap lebih kepada Aan, tetapi aku selalu
meyakinkan hatiku bahwa Aan adalah teman biasa, dan aku tidak mau berharap
lebih pada Aan. Namun aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri ketika hati
kecil ini berbicara. Rasa harapku pada Aan semakin memuncak ketika banyak hal
yang telah kita lalui bersama Aan dan teman-teman.
Namun ada hal yang cukup membuat hatiku sakit, yaitu ketika
aku tahu bahwa Aan telah resmi menjalin hubungan dengan wanita lain. Wanita
yang merupakan teman sendiri. Syok, sakit, perih dan entah kata apa lagi yang
mampu menggambarkan bagaimana keadaan hatiku saat itu. Terlalu sakit jika
mengingat semua yang dilakukan Aan untukku. Tapi kembali lagi, aku menyalahkan
diriku sendiri, mungkin aku terlalu ge-er, aku terlalu menaruh harapan yang
lebih pada Aan, yang jelas Aan hanya menganggapku hanyalah sebatas teman biasa,
tidak lebih. Mungkin sakit ini merupakan kesalahanku juga hingga membuatku menjatuhkan
diri dalam lubang kepiluan ini. Aku sering menganggapku ini sebagai korban PHP,
tapi mungkin bisa jadi ini karena kege-eranku sendiri saja. Sakit yang kugores
sendiri dan aku harus bisa mengobatinya sendiri pula. Diamku kepada Aan bukan
berarti aku sakit hati atau sebagainya seperti yang ada dipikiran teman-teman.
Aku diam karenan memang Aan melakukan hal itu kepadaku, sedangkan aku bukanlah
tipe orang yang mau memulai duluan. Jika Aan diam maka aku juga melakukan hal
itu kepadanya, dan diam ini berlangsung cukup lama, hingga akhirnya aku
emmantapkan diriku untuk Move on.
Ya aku melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan
Rara. Kita sama-sama ingin bangkit dari luka ataupun baying-bayang perharapan.
Kami ingin terlepas dari cerita dalam khayalan dengan tokoh itu. Kami ingin
membuat cerita dalam dunia khayal dengan tokoh-tokoh, dengan peran yang baru
dan dengan alur yang baru. Alur yang menceritakan kebangkitan kita dari
keterpurukan itu, kami tidak ingin larut dalam kesedihan. Kami tidak ingin stuck diam dalam kata galau. Kami ingin
Move on, bergerak untuk menjadi lebih baik. Berjalan bersama waktu yang akan
menunjukkan cahaya terang, cahaya kebahagiaan yang akan membawa kita pada kisah
asmara yang lebih baik. Yakin bahwa Tuhan akan memberikan keputusan yang baik
dan terbaik untuk umat-NYA, dan itu termasuk KITA.
***
So Move on Guys
Tidak ada komentar:
Posting Komentar