Rabu, 02 April 2014

TEKAD YANG SAMA UNTUK BANGKIT DARI LUKA



TEKAD YANG SAMA UNTUK BANGKIT DARI LUKA
Entah apa yang menyatukan kita dalam takdir ini. Yang jelas tidak ada unsure kesengajaan dalam bertemunya kami berdua dalam satu jurusan bahkan satu kelas. Kita dipertemukan menjadi teman yang  memang biasa saja awalnya. Kita dipertemukan secara kebetulan dalam sebuah organisasi dikala SMA. Pertemanan berlanjut tanpa kedekatan special. Ya, aku dan temanku ini hanya berteman layaknya berteman dengan kawan-kawan lainnya, tidak ada kedekatan yang lebih. Sebut saja Rara. Ya, Nini (aku) dan Rara berteman sejak SMA. Dan takdir juga mempertemukan kita dalam studi lanjut kita di perguruan tinggi yang sama, dengan fakultas yang sama, jurusan yang sama bahkan kelas yang sama. Kedekatan kami berlanjut tidak hanya sekedar teman biasa saja. Banyak kesamaan dari kami yang terungkap seiring kedekatan kami. Tepat dihari ulang tahunku yang ke 18, kami mendapat sebuah kebahagiaan yang sama yaitu berhasil lolos mendapatkan beasiswa yang sama. Hal ini kami jadikan suatu perekat dalam hubungan pertemanan kami. Selain itu banyak nasib yang memihak kami yang sama pula. Pada saat pendaftaran ogranisasi kampus kami mendaftar divisi yang sama, tapi ternyata kita dialihkan kedivisi lain yang sama-sama tidak kita inginkan, rasa kecewa yang sama yang kami derita, saling menggerutu, dan saling mengungkapkan kekecewaan kami dengan saling mengutuk keadaan. Bahkan kesamaan tidak berhenti disitu saja, kami merasa memiliki kesamaan nasib dalam hal asmara. Kami sama-sama merasa menjadi korban PHP. Tapi mungkin itu hanya perasaanku saja. Yang jelas kata galau menjadi kata-kata setiap hari yang selalu terucap oleh Rara. Entah mungkin Rara yang terlalu berharap lebih ataukah ini hanya keGe-eran Rara, atau apa, aku juga tidak begitu paham, tidak tahu persis apa yang sesungguhnya Rara rasakan. Yang jelas Rara menjadi penggemar rahasia seorang cowok yang menurutku cowok itu nothing special. Tapi ya begitulah Rara, sebelum mengetahui hal buruknya, tak berhenti Rara menjadi penggemarnya. Bahkan dalam sehari Rara harus bertemu dengan cowok itu, jika tidak bertemu Rara merasa ada yang kurang dalam menjalani harinya. Bahkan yang aku tidak habis piker adalah ketika Rara rela nongkrong di kampus sampai sore hanya sekedar untuk melihat cowok itu. Bagiku hal itu merupakan sebuah hal konyol yang dilakukan Rara, dan aku juga tak habis piker, kenapa aku mau menemani Rara nongkrong tanpa tujuan, hanya untuk menemani Rara menunggu cowok itu lewat di depan mata Rara. Yah namanya juga teman senasib, ketika nasib Rara harus menunggu cowok pujaannya lewat meskipun harus menunggu hingga sore, akupun ikut merasakannya.
Mungkin Rara merasa minder ketika sosok lelaki pujaannya ternyata mengidamkan wanita lain yang menurut Rara jelas lebih baik disbanding dirinya. Namun sebagai teman, aku hanya bisa mendukung apa yang ingin Rara lakukan. Sebelumnya telah banyak hal yang dilakukan Rara agar supaya Rara bisa lebih tahu dan lebih dekat dengan lelaki itu. Dari mulai stalking FB, maupun Twitter hingga mengikuti kegiatan yang juga diikuti lelaki pujaan Rara tersebut. Namun semakin banyak upaya yang dilakukan Rara, sebagai usaha mendekatkan diri dengan lekaki itu, semakin banyak pula fakta yang terungkap yang hanya menjadikan Rara semakin ciut nyalinya. Semakin waktu terus bergulir, Rara merasa tidak ada gunanya masih mengharapkan lelaki yang jelas-jelas tidak mengharapkannya. Rara tersadar bahwa apa yang dilakukannya selama ini sia-sia tak ada gunanya. Hingga Rara memiliki keyakinan kuat untuk mulai Move on dari semua hal konyol itu. Rara ingin bangun dari mimpi-mimpi yang selama ini menjebaknya dalam lubang kegalauan yang selalu mewarnai hari Rara. Rara tidak ingin terbang dalam segala harap yang hanya ada dalam dunia khayal yang setiap hari asyik dikhayalkan dengan tokoh-tokoh imajinatif yang semakin menggantungkan harapan Rara untuk terbang semakin tinggi. Dan kini Rara bertekad, berkeyakinan teguh bahwa Rara akan menghentikan khayalannya dengan diiringi kata Move on untuk melengkapi kebangkitan Rara dari kegalauan.
***
Persamaan kisah asmaraku dengan Rara hampir mirip, namun mungkin bedanya aku bukan lagi sebagai penggemar rahasia, namun berteman dekat, kedekatan aku dan lelaki itu jelas terlihat berbeda, hingga menimbulkan persepsi lain bagi kawan-kawan yang lain. Entah kedekatan seperti apa yang disalah artikan oleh teman-teman lain itu. Yang jelas aku tidak menyadari bahwa kedekatanku dengan lelaki itu merupakan kedekatan yang dianggap special oleh teman-teman lain. Mungkin aku kurang peka dan aku sadar aku bukan orang yang baik untuknya, jadi aku tidak pernah merasa Ge-er dengan segala perhatian yang ditunjukkan kepadaku. Tapi entah apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan lelaki itu. Sebut saja Aan, dia adalah lelaki yang aku maksud. Aku dan Aan memang dekat, baik di kampus maupun dalam komunikasi. Terkadang sesekali Aan menelponku untuk sekedar menghabiskan bonus dengan sharing masalah yang Aan hadapi. Sebagai teman aku hanya bisa mendengarkan, menanggapi semampuku dan mungkin memberikan sedikit masukan meskipun masukan yang mungkin kurang bijak. Oke lupakan masalah telpon-menelpon. Terlepas dari kedekatan kami yang sering telpon-telponan, aku dan Aan juga dekat di dalam kelas, sampai-sampai banyak yang mengira ada hubungan special antara aku dan Aan, tetapi sesungguhnya kami hanyalah sebatas teman saja.
Ketika waktu semakin berlalu, Aan semakin dekat denganku, tetapi mungkin itu hanya salah persepsiku dan itu hanya perasaanku, ataukah itu hanya kege-eranku saja. Namun hatiku semakin yakin bahwa ada hal yang berbeda dalam kedekatan aku dan Aan. Aku merasa ada perhatian yang lebih dari Aan untukku, tapi mungkin itu hanya salah mengartikanku saja. Aku mulai memiliki perasaan yang aneh terhadap Aan, aku mulai berharap lebih kepada Aan, tetapi aku selalu meyakinkan hatiku bahwa Aan adalah teman biasa, dan aku tidak mau berharap lebih pada Aan. Namun aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri ketika hati kecil ini berbicara. Rasa harapku pada Aan semakin memuncak ketika banyak hal yang telah kita lalui bersama Aan dan teman-teman.
Namun ada hal yang cukup membuat hatiku sakit, yaitu ketika aku tahu bahwa Aan telah resmi menjalin hubungan dengan wanita lain. Wanita yang merupakan teman sendiri. Syok, sakit, perih dan entah kata apa lagi yang mampu menggambarkan bagaimana keadaan hatiku saat itu. Terlalu sakit jika mengingat semua yang dilakukan Aan untukku. Tapi kembali lagi, aku menyalahkan diriku sendiri, mungkin aku terlalu ge-er, aku terlalu menaruh harapan yang lebih pada Aan, yang jelas Aan hanya menganggapku hanyalah sebatas teman biasa, tidak lebih. Mungkin sakit ini merupakan kesalahanku juga hingga membuatku menjatuhkan diri dalam lubang kepiluan ini. Aku sering menganggapku ini sebagai korban PHP, tapi mungkin bisa jadi ini karena kege-eranku sendiri saja. Sakit yang kugores sendiri dan aku harus bisa mengobatinya sendiri pula. Diamku kepada Aan bukan berarti aku sakit hati atau sebagainya seperti yang ada dipikiran teman-teman. Aku diam karenan memang Aan melakukan hal itu kepadaku, sedangkan aku bukanlah tipe orang yang mau memulai duluan. Jika Aan diam maka aku juga melakukan hal itu kepadanya, dan diam ini berlangsung cukup lama, hingga akhirnya aku emmantapkan diriku untuk Move on.
Ya aku melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Rara. Kita sama-sama ingin bangkit dari luka ataupun baying-bayang perharapan. Kami ingin terlepas dari cerita dalam khayalan dengan tokoh itu. Kami ingin membuat cerita dalam dunia khayal dengan tokoh-tokoh, dengan peran yang baru dan dengan alur yang baru. Alur yang menceritakan kebangkitan kita dari keterpurukan itu, kami tidak ingin larut dalam kesedihan. Kami tidak ingin stuck diam dalam kata galau. Kami ingin Move on, bergerak untuk menjadi lebih baik. Berjalan bersama waktu yang akan menunjukkan cahaya terang, cahaya kebahagiaan yang akan membawa kita pada kisah asmara yang lebih baik. Yakin bahwa Tuhan akan memberikan keputusan yang baik dan terbaik untuk umat-NYA, dan itu termasuk KITA.
***
So Move on Guys

Tidak ada komentar:

Posting Komentar