MENUNGGU KEPASTIAN
Terlalu fokus aku terhanyut dalam kisah tentang Bony, hingga
aku terlupa akan sosok Sinar. Dia adalah sosok baik yang sementara waktu ini
menjadi berubah sikap terhadapku. Entah karena apa, tidak pernah ada lagi
telpon semalam suntuk untuk sekedar curhat, berbagi cerita. Hanya pesan singkat
yang sesekali masuk dalam hpku. Mungkin karena kesibukan semester ini yang
harus observasi selama sebulan di luar kota yang menjadikan sikap Sinar menjadi
berubah. Mencoba mengerti dan memaklumi dengan semua sikap Sinar, namun ada hal
yang berbeda dalam hariku, merasa kehilangan sosok yang mampu mengerti
kondisiku. Kecanggungan mulai tercipta antara aku dan Sinar, untuk sekedar
berbagi cerita tentang Bony kepada Sinar pun menjadi hal langka yang tak pernah
kami lakukan lagi. Mungkin sebuah kesalahan yang telah aku lakukan hingga
membuat Sinar perlahan menjauh dari kehidupanku, aku yang terlalu fokus kepada
Bony tanpa memperhatikan apa yang dirasakan Sinar, mungkin sebuah kesalahan
besar yang memaksa Sinar harus menjauhiku. Jika memang hal itu benar, aku akan
merasa sangat bersalah, sejenak telah melupakan tentang Sinar, aku merasa bodoh
karena terfokus pada sosok Bony yang justru melukis luka kembali, bahkan sampai
aku melupakan Sinar yang mampu memberiku bahagia tanpa melukis luka sedikitpun.
Tapi itulah kesalahan besarku, aku menyadari itu semua. Hanya kata maaf yang
mampu kuucap pada semua kebaikan Sinar, aku berharap Sinar mau kembali menjadi
sahabat berbagiku tanpa ada kecanggungan yang tercipta dalam persahabatan kami.
Semakin sadar bahwa perasaan yang tersimpan adalah perasaan
yang salah, semakin membuatku ingin menentukan langkah tegas. Aku memang
seorang wanita yang tidak tegaan, tapi ada kalanya aku harus tegas, untuk
keberlangsungan nasib hatiku ini. Aku terlalu lama telah menahan semua yang aku
rasakan. Merasa sia-sia ketika aku masih menaruh harapan tinggi pada Bony,
sedangkan Bony tak sedikitpun menggubrisku. Terlalu lelah aku harus bertahan
dengan semua rasa sayangku terhadap Bony ketika Bony justru asyik bersama
wanita lain yang bisa membuatnya bahagia tanpa membalas ketulusan sayangku.
Mendengar masukan-masukan dari beberapa argument
teman, langkah yang harus aku pilih adalah tegas. Ya, aku harus mempertegas
statusku dengan Bony, aku menginginkan kejujuran dari Bony. Akankah aku menjadi
orang yang benar-benar disayangi Bony, atau aku hanya dianggap sebagai teman
biasa tanpa ada posisi special di
hati Bony, ataukah justru aku hanya wanita yang dianggap sebagai pengganti
ketika Vani tidak ada. Dengan kata lain aku dijadikan orang kedua setelah Vani
dalam hidup Bony dan bisa dikatakan aku hanyalah pelampiasan sementaranya.
Sungguh tega jika memang seperti itu yang terjadi, namun aku tidak ingin
mempermasalahkan posisiku di hati Bony, intinya aku mempertanyakan statusku
kepada Bony. Apakah Bony merasakan sayang seperti yang aku rasakan selama ini atau
tidak? Itu adalah pertanyaan yang akan menegaskanku untuk menentukan langkah
selanjutnya. Pertanyaan yang bisa membantuku menentukan langkah, akankah aku
harus bertahan pada Bony dengan semua ketulusan sayangku, sementara selama ini
aku bertahan dalam luka yang telah digores Bony beberapa kali.
***
Terkesan tega, namun itu merupakan hal yang layak untuk aku
lakukan sebelum aku terlalu jauh menyayangi Bony. Sebelum aku benar-benar
menutup hatiku untuk kehadiran orang lain. Jujur ketika kehidupanku dihiasi
oleh kehadiran Bony, pintu hatiku sedikit selektif dalam membiarkan orang lain
memasuki hatiku. Hal ini mungkin merupakan salah satu efek dari perasaanku yang
terlalu terpaku pada sosok Bony, sosok yang entah merasakan perasaan yang sama
kepadaku atau justru tidak sama sekali. Tidak pernah ada kata yang
mengindikasikan bahwa Bony juga memendam perasaan yang sama, itu yang menjadi
keraguan tersendiri bagiku selama ini. Sebenarnya langkah apapun yang akan aku
ambil bisa saja, asalkan aku siap dengan semua resiko yang aku ambil. Kini
pertanyaannya, Apakah aku yakin bisa menerima segala resiko? Aku masih harus
berpikir panjang dengan resiko yang harus aku hadapi ketika aku tegas terhadap
Bony. Ketika aku menanyakan kepastian posisiku, dan perasaan Bony terhadapku aku
harus siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Ketika ternyata Bony
tidak memiliki perasaan yang sama denganku, aku harus siap untuk kehilangan
Bony, aku harus siap hidup tanpa kata-kata penyemangat dari Bony, aku harus
siap untuk menjauhi Bony, karena itulah yang selayaknya aku lakukan ketika Bony
memang tidak ada rasa sayang lagi kepadaku.
Namun ketika Bony tetap saja tidak memberikan kepastian akan
semua pengharapanku, dan aku hanya terkesan sebagai korban PHP (Pemberi Harapan
Palsu) aku harus siap untuk mengurangi intensitasku berkomunikasi dengan Bony,
karena itu merupakan langkah yang tepat menurutku untuk semua keadaan ketika
pengharapanku hanyalah sebuah kebohongan. Aku memang orang yang salah karena
telah menaruh harapan terlalu tinggi pada Bony, namun kembali lagi aku adalah
seorang wanita yang lebih peka dan selalu menggunakan perasaan. Ketika Bony
mengirimkan pesan singkat dengan kata-kata yang mengindikasikan sebuah
perhatian lebih dari perhatian seorang teman, akan menjadi beda arti dimata
wanita, apalagi wanita yang sensitive
sepertiku. Selalu berusaha mengartikan kata-kata itu dengan arti yang biasa
saja tak lebih dari perhatian seorang teman, namun hatiku tak bisa berbohong
bahwa kenyataannya aku mengartikan kata-kata itu dengan arti yang berbeda.
Seringkali aku berpikir, buat apa aku selalu mengartikan
kata-kata dalam pesan singkat yang belum tentu merupakan kata-kata yang serius
penuh makna. Bisa saja kata-kata itu merupakan kata-kata biasa, yang terlalu
aku artikan lebih hingga aku menaruh harapan tinggi pada Bony, dan ternyata
hanya sia-sia pada akhirnya. Seringkali aku mencoba menyadarkan diriku sendiri,
bahwa aku tidak boleh lagi menaruh harapan terlalu tinggi mengingat
bagaimanapun pengalaman adalah guru terbaik dalam mengarungi perjalanan.
Menengok apa yang telah dilakukan Bony beberapa waktu yang lalu tidak serta
merta hilang begitu saja dalam benak, meskipun aku sudah memaafkannya namun
ketakutan untuk merasakan hal yang sama tidak bisa ku pungkiri. Aku takut jika
aku harus jatuh dilubang yang sama dengan rasa sakit yang jauh lebih pilu. Maka
dari itu aku mencoba mengontrol diriku sendiri untuk tidak terlalu menaruh
harapan pada Bony, apalagi hanya dengan sapaan-sapaan dalam pesan singkat, yang
aku sendiri tidak tahu kebenarannya. Berulang kali aku meyakinkan diriku untuk
menanggapi hal itu dengan sikap yang biasa saja, namun kembali lagi aku
hanyalah wanita biasa yang memiliki perasaan dengan ke-sensitivean yang lebih.
Aku sering mengartikan apa yang dikatakan Bony lewat pesan singkat adalah
benar, namun tak bisa aku pungkiri keraguan juga selalu mengiringi setiap
keyakinanku tentang Bony.
***
Tidak pernah ada kata serius yang mengindikasikan bahwa Bony
memiliki perasaan yang sama denganku adalah sebuah pertimbangan berat yang
singgah dalam benakku, hingga aku dihadapkan dalam sebuah dilemma. Aku kembali
mengingat bahwa aku tidak boleh hanya terfokus dengan kelanjutan hubunganku
dengan Bony, aku tidak boleh egois hanya memikirkan aku dan Bony, tetapi aku
juga harus ingat bahwa dibalik kepelikan masalahku dengan Bony, ada Sinar yang
dulu selalu ada dalam langkahku, yang selalu menjadi dewan pertimbanganku dalam
menentukan sikap, dan Sinar yang selalu mendukung dalam setiap langkahku. Namun
semua itu berbalik, Sinar tidak lagi menjadi Sinar yang seperti itu, kini Sinar
tidak pernah lagi menunjukkan perhatiannya kepadaku, bahkan untuk sekedar
mendengarkan ceritaku Sinar tidak punya waktu lagi. Kesibukan studinya yang
menjadi alasan utama ketika aku meminta untuk meluangkan waktu sejenak sekedar
ingin berbagi kisah. Terasa lama sekali terdiam tenggelam tanpa menjalin
komunikasi dengan Sinar dan itu terasa sangat aneh. Sempat berpikir, apakah
Sinar merasa sakit hati dengan perlakuanku, ataukah aku punya salah terhadap
Sinar, dan banyak tanda tanya dalam benak. Namun semuanya baik-baik saja ketika
aku mengkonfirmasi hal itu kepada Sinar ketika kita berjumpa dalam sebuah acara.
“Hey, Sinar kamu datang juga?”
“Hey, iya aku datang Luk, dapat undangan tadi. Eh lama gak
ktemu yah, hehe..”
“Iya nih, kapan-kapan maen yuuk..”
“Aduh, maaf Luk, selain observasi kemarin, ada sekitar 3
bulan terakhir ini aku harus penelitian dan itu cukup memakan waktu, termasuk waktu
liburku, jadi ya gini keliatan sibuk banget, maaf yah lain kali deh..”
“Oke, santai aja. Oh ya, boleh aku ngobrol bentar sama
kamu?”
“Iya boleh, ngobrol aja”
“Kamu knapa kok akhir-akhir ini kita jadi jarang komunikasi,
jarang sapa-sapaan di sosmed, dan kamu kok jadi aneh gini sama aku? Apa aku
punya salah sama kamu? Atau ada hal yang membuat kamu jadi gak nyaman berteman
sama aku? Jika memang begitu, aku minta maaf yah..”
“Yaelah, kamu knapa e Luk, kok ngomong gitu? Biasa aja, aku
gak knapa-knapa, kamu juga gak ada salah kok, aku emang jarang komunikasi lagi
sama kamu karena kamu tau kan kalo aku lagi sibuk, kemarin aja aku harus keluar
kota, terus belum lagi dengan penelitianku, masih juga aku diamanahi untuk
menyelenggarakan acara yang lumayan besar juga, dan masih banyak lagi. Makanya
kenapa kok aku jadi jarang komunikasi sama kamu, orang pegang hp aja jarang
kok. Kamu gak perlu merasa seperti itu Luk.”
“Ya, gak gitu. Aku hanya merasa aneh dengan kamu dan sikapmu
aja kok. Kalo bener-bener gak ada apa-apa, syukur deh, hehe..”
“Halah, santai aja Luk, kalo aku tuh kalem aja orangnya,
woles gitu haha.. Oh iya aku mau cabut duluan, soalnya udah janjian sama dosen
gak enak, aku duluan ya Luk..”
“Okesip, thanks ya Sinar” senyum yang kurekahkan menandakan
leganya aku ketika tahu bahwa Sinar memang tidak marah atau bermasalah
denganku, hanya kesibukan yang memaksa Sinar untuk bersikap seperti itu. Selagi
itu masih untuk kepentingan dan kelancaran studinya, aku akan selalu mendukung
Sinar.
Ketika hubunganku dengan Sinar aku anggap baik-baik saja,
aku kembali dihadapkan dengan dilemma perasaan yang berkepanjangan. Aku harus
melakukan hal yang seperti apa, agar hubunganku dengan Sinar tidak rusak,
begitu pula dengan Bony, namun perlu digaris bawahi, hubungan dalam hal ini
adalah hubungan pertemanan. Karena aku menemukan sosok yang nyaman untuk
berbagi cerita adalah kepada Sinar. Disisi lain kepastianku dengan Bony masih
saja diselimuti oleh tanda tanya. Tidak pernah ada kata yang menyatakan
keseriusan Bony mengenai perasaannya kepadaku. Keraguanku semakin terlihat
ketika banyak tulisanku terpampang nyata dalam sosmed yang mengidikasikan
keraguan dan meminta kepastian, namun lagi-lagi tulisan itu menjadi tidak
berarti dan terabaikan begitu saja. Pada intinya sampai saat ini aku masih saja
terus menunggu kepastian dari Bony, entah apakah kepastian yang membuatku
bahagia atau justru sebaliknya. Karena aku masu terus berpegang teguh dengan
perasaanku yang aku rasakan selama ini. Karena aku yakin, ketika hatiku
berbicara akan menjadi sebuah pertanda.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar