Sabtu, 29 Maret 2014

MENUNGGU KEPASTIAN #11



MENUNGGU KEPASTIAN

Terlalu fokus aku terhanyut dalam kisah tentang Bony, hingga aku terlupa akan sosok Sinar. Dia adalah sosok baik yang sementara waktu ini menjadi berubah sikap terhadapku. Entah karena apa, tidak pernah ada lagi telpon semalam suntuk untuk sekedar curhat, berbagi cerita. Hanya pesan singkat yang sesekali masuk dalam hpku. Mungkin karena kesibukan semester ini yang harus observasi selama sebulan di luar kota yang menjadikan sikap Sinar menjadi berubah. Mencoba mengerti dan memaklumi dengan semua sikap Sinar, namun ada hal yang berbeda dalam hariku, merasa kehilangan sosok yang mampu mengerti kondisiku. Kecanggungan mulai tercipta antara aku dan Sinar, untuk sekedar berbagi cerita tentang Bony kepada Sinar pun menjadi hal langka yang tak pernah kami lakukan lagi. Mungkin sebuah kesalahan yang telah aku lakukan hingga membuat Sinar perlahan menjauh dari kehidupanku, aku yang terlalu fokus kepada Bony tanpa memperhatikan apa yang dirasakan Sinar, mungkin sebuah kesalahan besar yang memaksa Sinar harus menjauhiku. Jika memang hal itu benar, aku akan merasa sangat bersalah, sejenak telah melupakan tentang Sinar, aku merasa bodoh karena terfokus pada sosok Bony yang justru melukis luka kembali, bahkan sampai aku melupakan Sinar yang mampu memberiku bahagia tanpa melukis luka sedikitpun. Tapi itulah kesalahan besarku, aku menyadari itu semua. Hanya kata maaf yang mampu kuucap pada semua kebaikan Sinar, aku berharap Sinar mau kembali menjadi sahabat berbagiku tanpa ada kecanggungan yang tercipta dalam persahabatan kami.
Semakin sadar bahwa perasaan yang tersimpan adalah perasaan yang salah, semakin membuatku ingin menentukan langkah tegas. Aku memang seorang wanita yang tidak tegaan, tapi ada kalanya aku harus tegas, untuk keberlangsungan nasib hatiku ini. Aku terlalu lama telah menahan semua yang aku rasakan. Merasa sia-sia ketika aku masih menaruh harapan tinggi pada Bony, sedangkan Bony tak sedikitpun menggubrisku. Terlalu lelah aku harus bertahan dengan semua rasa sayangku terhadap Bony ketika Bony justru asyik bersama wanita lain yang bisa membuatnya bahagia tanpa membalas ketulusan sayangku. Mendengar masukan-masukan dari beberapa argument teman, langkah yang harus aku pilih adalah tegas. Ya, aku harus mempertegas statusku dengan Bony, aku menginginkan kejujuran dari Bony. Akankah aku menjadi orang yang benar-benar disayangi Bony, atau aku hanya dianggap sebagai teman biasa tanpa ada posisi special di hati Bony, ataukah justru aku hanya wanita yang dianggap sebagai pengganti ketika Vani tidak ada. Dengan kata lain aku dijadikan orang kedua setelah Vani dalam hidup Bony dan bisa dikatakan aku hanyalah pelampiasan sementaranya. Sungguh tega jika memang seperti itu yang terjadi, namun aku tidak ingin mempermasalahkan posisiku di hati Bony, intinya aku mempertanyakan statusku kepada Bony. Apakah Bony merasakan sayang seperti yang aku rasakan selama ini atau tidak? Itu adalah pertanyaan yang akan menegaskanku untuk menentukan langkah selanjutnya. Pertanyaan yang bisa membantuku menentukan langkah, akankah aku harus bertahan pada Bony dengan semua ketulusan sayangku, sementara selama ini aku bertahan dalam luka yang telah digores Bony beberapa kali.
***
Terkesan tega, namun itu merupakan hal yang layak untuk aku lakukan sebelum aku terlalu jauh menyayangi Bony. Sebelum aku benar-benar menutup hatiku untuk kehadiran orang lain. Jujur ketika kehidupanku dihiasi oleh kehadiran Bony, pintu hatiku sedikit selektif dalam membiarkan orang lain memasuki hatiku. Hal ini mungkin merupakan salah satu efek dari perasaanku yang terlalu terpaku pada sosok Bony, sosok yang entah merasakan perasaan yang sama kepadaku atau justru tidak sama sekali. Tidak pernah ada kata yang mengindikasikan bahwa Bony juga memendam perasaan yang sama, itu yang menjadi keraguan tersendiri bagiku selama ini. Sebenarnya langkah apapun yang akan aku ambil bisa saja, asalkan aku siap dengan semua resiko yang aku ambil. Kini pertanyaannya, Apakah aku yakin bisa menerima segala resiko? Aku masih harus berpikir panjang dengan resiko yang harus aku hadapi ketika aku tegas terhadap Bony. Ketika aku menanyakan kepastian posisiku, dan perasaan Bony terhadapku aku harus siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Ketika ternyata Bony tidak memiliki perasaan yang sama denganku, aku harus siap untuk kehilangan Bony, aku harus siap hidup tanpa kata-kata penyemangat dari Bony, aku harus siap untuk menjauhi Bony, karena itulah yang selayaknya aku lakukan ketika Bony memang tidak ada rasa sayang lagi kepadaku.
Namun ketika Bony tetap saja tidak memberikan kepastian akan semua pengharapanku, dan aku hanya terkesan sebagai korban PHP (Pemberi Harapan Palsu) aku harus siap untuk mengurangi intensitasku berkomunikasi dengan Bony, karena itu merupakan langkah yang tepat menurutku untuk semua keadaan ketika pengharapanku hanyalah sebuah kebohongan. Aku memang orang yang salah karena telah menaruh harapan terlalu tinggi pada Bony, namun kembali lagi aku adalah seorang wanita yang lebih peka dan selalu menggunakan perasaan. Ketika Bony mengirimkan pesan singkat dengan kata-kata yang mengindikasikan sebuah perhatian lebih dari perhatian seorang teman, akan menjadi beda arti dimata wanita, apalagi wanita yang sensitive sepertiku. Selalu berusaha mengartikan kata-kata itu dengan arti yang biasa saja tak lebih dari perhatian seorang teman, namun hatiku tak bisa berbohong bahwa kenyataannya aku mengartikan kata-kata itu dengan arti yang berbeda.
Seringkali aku berpikir, buat apa aku selalu mengartikan kata-kata dalam pesan singkat yang belum tentu merupakan kata-kata yang serius penuh makna. Bisa saja kata-kata itu merupakan kata-kata biasa, yang terlalu aku artikan lebih hingga aku menaruh harapan tinggi pada Bony, dan ternyata hanya sia-sia pada akhirnya. Seringkali aku mencoba menyadarkan diriku sendiri, bahwa aku tidak boleh lagi menaruh harapan terlalu tinggi mengingat bagaimanapun pengalaman adalah guru terbaik dalam mengarungi perjalanan. Menengok apa yang telah dilakukan Bony beberapa waktu yang lalu tidak serta merta hilang begitu saja dalam benak, meskipun aku sudah memaafkannya namun ketakutan untuk merasakan hal yang sama tidak bisa ku pungkiri. Aku takut jika aku harus jatuh dilubang yang sama dengan rasa sakit yang jauh lebih pilu. Maka dari itu aku mencoba mengontrol diriku sendiri untuk tidak terlalu menaruh harapan pada Bony, apalagi hanya dengan sapaan-sapaan dalam pesan singkat, yang aku sendiri tidak tahu kebenarannya. Berulang kali aku meyakinkan diriku untuk menanggapi hal itu dengan sikap yang biasa saja, namun kembali lagi aku hanyalah wanita biasa yang memiliki perasaan dengan ke-sensitivean yang lebih. Aku sering mengartikan apa yang dikatakan Bony lewat pesan singkat adalah benar, namun tak bisa aku pungkiri keraguan juga selalu mengiringi setiap keyakinanku tentang Bony.
***
Tidak pernah ada kata serius yang mengindikasikan bahwa Bony memiliki perasaan yang sama denganku adalah sebuah pertimbangan berat yang singgah dalam benakku, hingga aku dihadapkan dalam sebuah dilemma. Aku kembali mengingat bahwa aku tidak boleh hanya terfokus dengan kelanjutan hubunganku dengan Bony, aku tidak boleh egois hanya memikirkan aku dan Bony, tetapi aku juga harus ingat bahwa dibalik kepelikan masalahku dengan Bony, ada Sinar yang dulu selalu ada dalam langkahku, yang selalu menjadi dewan pertimbanganku dalam menentukan sikap, dan Sinar yang selalu mendukung dalam setiap langkahku. Namun semua itu berbalik, Sinar tidak lagi menjadi Sinar yang seperti itu, kini Sinar tidak pernah lagi menunjukkan perhatiannya kepadaku, bahkan untuk sekedar mendengarkan ceritaku Sinar tidak punya waktu lagi. Kesibukan studinya yang menjadi alasan utama ketika aku meminta untuk meluangkan waktu sejenak sekedar ingin berbagi kisah. Terasa lama sekali terdiam tenggelam tanpa menjalin komunikasi dengan Sinar dan itu terasa sangat aneh. Sempat berpikir, apakah Sinar merasa sakit hati dengan perlakuanku, ataukah aku punya salah terhadap Sinar, dan banyak tanda tanya dalam benak. Namun semuanya baik-baik saja ketika aku mengkonfirmasi hal itu kepada Sinar ketika kita berjumpa dalam sebuah acara.
“Hey, Sinar kamu datang juga?”
“Hey, iya aku datang Luk, dapat undangan tadi. Eh lama gak ktemu yah, hehe..”
“Iya nih, kapan-kapan maen yuuk..”
“Aduh, maaf Luk, selain observasi kemarin, ada sekitar 3 bulan terakhir ini aku harus penelitian dan itu cukup memakan waktu, termasuk waktu liburku, jadi ya gini keliatan sibuk banget, maaf yah lain kali deh..”
“Oke, santai aja. Oh ya, boleh aku ngobrol bentar sama kamu?”
“Iya boleh, ngobrol aja”
“Kamu knapa kok akhir-akhir ini kita jadi jarang komunikasi, jarang sapa-sapaan di sosmed, dan kamu kok jadi aneh gini sama aku? Apa aku punya salah sama kamu? Atau ada hal yang membuat kamu jadi gak nyaman berteman sama aku? Jika memang begitu, aku minta maaf yah..”
“Yaelah, kamu knapa e Luk, kok ngomong gitu? Biasa aja, aku gak knapa-knapa, kamu juga gak ada salah kok, aku emang jarang komunikasi lagi sama kamu karena kamu tau kan kalo aku lagi sibuk, kemarin aja aku harus keluar kota, terus belum lagi dengan penelitianku, masih juga aku diamanahi untuk menyelenggarakan acara yang lumayan besar juga, dan masih banyak lagi. Makanya kenapa kok aku jadi jarang komunikasi sama kamu, orang pegang hp aja jarang kok. Kamu gak perlu merasa seperti itu Luk.”
“Ya, gak gitu. Aku hanya merasa aneh dengan kamu dan sikapmu aja kok. Kalo bener-bener gak ada apa-apa, syukur deh, hehe..”
“Halah, santai aja Luk, kalo aku tuh kalem aja orangnya, woles gitu haha.. Oh iya aku mau cabut duluan, soalnya udah janjian sama dosen gak enak, aku duluan ya Luk..”
“Okesip, thanks ya Sinar” senyum yang kurekahkan menandakan leganya aku ketika tahu bahwa Sinar memang tidak marah atau bermasalah denganku, hanya kesibukan yang memaksa Sinar untuk bersikap seperti itu. Selagi itu masih untuk kepentingan dan kelancaran studinya, aku akan selalu mendukung Sinar.
Ketika hubunganku dengan Sinar aku anggap baik-baik saja, aku kembali dihadapkan dengan dilemma perasaan yang berkepanjangan. Aku harus melakukan hal yang seperti apa, agar hubunganku dengan Sinar tidak rusak, begitu pula dengan Bony, namun perlu digaris bawahi, hubungan dalam hal ini adalah hubungan pertemanan. Karena aku menemukan sosok yang nyaman untuk berbagi cerita adalah kepada Sinar. Disisi lain kepastianku dengan Bony masih saja diselimuti oleh tanda tanya. Tidak pernah ada kata yang menyatakan keseriusan Bony mengenai perasaannya kepadaku. Keraguanku semakin terlihat ketika banyak tulisanku terpampang nyata dalam sosmed yang mengidikasikan keraguan dan meminta kepastian, namun lagi-lagi tulisan itu menjadi tidak berarti dan terabaikan begitu saja. Pada intinya sampai saat ini aku masih saja terus menunggu kepastian dari Bony, entah apakah kepastian yang membuatku bahagia atau justru sebaliknya. Karena aku masu terus berpegang teguh dengan perasaanku yang aku rasakan selama ini. Karena aku yakin, ketika hatiku berbicara akan menjadi sebuah pertanda.
***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar